Dare to Have Friend

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 27 October 2016

Suara buku tersibak mendominasi ruangan. Bahkan, suara langkah kaki orang-orang di luar tak bisa kudengar. Pikiranku benar-benar terfokus pada dunia lain, dunia di dalam buku. Sampai bunyi lonceng di atas pintu membuyarkan pikiranku.

“Maaf, aku butuh roti tawa polos 1, roti isi selai stroberi 1, dan isi selai srikaya 1.” Seorang laki-laki yang usianya tampak lebih tua beberapa tahun dariku bicara tanpa menatapku, tetapi menatap kertas kecil yang kuduga adalah daftar belanja.

Aku tertegun sejenak, lalu menyadari bahwa tugasku sekarang adalah mengambilkan barang permintaannya. Secepat angin aku bergerak ke rak-rak kaca transparan tempat roti-roti toko kami dipajang. Setelah selesai aku membungkusnya dalam plastik dan menyerahkan padanya.
“Semuanya jadi 17 ribu,” ucapku dengan volume suara kecil. Sungguh aku tidak tahu kenapa seketika pita suaraku seolah terhambat sesuatu.
Aku mematung, mengharapkan orang di depanku menyerahkan uang pembayarannya. Namun sepertinya dia juga melamun, dengan masih menatap daftar belanjaannya.

“Tuan, semuanya…”
“Oh, Raphael! Selamat datang!” Nenek tiba-tiba muncul dari balik pintu dapur. Aku dan orang “aneh” itu sama-sama kaget mendengar sapaan nenek.

Seketika di hadapanku, orang itu tampak akrab dengan nenekku. Ia seperti berbincang-bincang sedikit tentang keadaannya dan juga keluarganya. Tidak banyak yang kudengar sampai akhirnya nenek mengambil plastik roti di hadapanku dan menyerahkannya pada orang yang dipanggil “Raphael” itu. Raphael juga langsung menyerahkan uang pada nenek kemudian pergi dengan senyuman.

“Maggie, kau ini kenapa malah diam saja tadi?” Nenek mulai memarahiku. “Kalau kau belum tahu, itu Raphael, cucu keluarga Grassom tempat biasa kau berkunjung membeli wol,” Ucap nenek dengan lembut, sepertinya dia tidak marah. “Dia hanya lebih tua beberapa tahun darimu, mungkin kalian bisa berteman,” sambungnya sambil menepuk bahuku dan tersenyum.
Aku menundukkan kepalaku. “Tidak semudah itu menemukan orang yang mau dekat dan berteman denganku, nek,” jawabku.
Nenekku mengangkat kepalaku dengan tangannya yang lembut. Matanya yang masih bersinar menatapku, lalu berkata “Siapa bilang begitu? Nenek mengenalnya sejak kecil. Walau dia tidak besar di sini, nenek tahu di dalam hatinya ada kebaikan.” Pandangan nenek beralih ke jendela besar toko. “Nenek juga dulu dekat dengan kakeknya. Dia orang baik dan dari pandangan matanya nenek bisa mengetahuinya,” sambungnya.
Kepalaku kembali menunduk. “Menurut nenek begitu?” tanyaku untuk menghilangkan perasaan takut dan gugupku.
“Selalu ada pertama kali untuk segala hal, jangan takut,” Kata nenek sambil tersenyum. “Kau tak berencana untuk selalu sendirian bukan? Kau perlu seorang teman,” lanjut nenek sebelum ia beranjak pergi kembali ke dapur.

Aku merenungkan perkataan nenek. Memang tidak baik kalau aku terus mengurung diri di tempat ini saja. Perkataan nenek tidak pernah salah, aku yakin itu. Kurasa besok aku akan pergi menemuinya dan meminta maaf atas kejadian hari ini. Sesuatu yang aneh tidak selalu jahat.

Cerpen Karangan: Sindy Sintya
Blog: thesparkleofstar.blogspot.com

Cerpen Dare to Have Friend merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Asal Kamu Tahu

Oleh:
Bicara soal perhatian, aku ini memang orang yang sangat perhatian, bahkan untuk hal yang sebenarnya tidak perlu aku perhatikan sekalipun. Seperti semut yang sedang membuat lubang di tanah misalnya.

1 Jam Bersama Ben

Oleh:
Sudah 3 hari aku pindah ke tanah kelahiran ayah. Greenstone, desa kecil di pinggir kota Wiltford. Tepat di depan rumah kami ada rumah tua yang ingin sekali aku kunjungi.

Bukan Kisah Insomnia Biasa

Oleh:
Ini kisahku, aku adalah seseorang yang akhir-akhir ini merasa tidak enak dengan diri ini karena menderita sebuah gangguan kesehatan. Ahh, mungkin gangguan kesehatan ini bukanlah separah penderita kanker, penderita

Beneran Dajavu

Oleh:
Pagi hari yang sangat dingin. Kurebahkan tubuhku di kasur yang empuk. Rasanya malas sekali unuk bergerak. Untuk menyapa mentari saja lewat jendela kamar rasanya sangat enggan. Aahhh aku hanya

I Love You, Kaka

Oleh:
Cindy menghembuskan napas, mencoba menetralisir degup jantung yang sedari tadi membuatnya gugup. Perlahan, dia menaiki satu per satu anak tangga. Semakin dia melangkah, degup jantungnya semakin kencang. Ingin rasanya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *