Greg

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 14 January 2020

Gregory berdiri di depan pintu kamarnya sambil merapikan kemejanya.
“Bagaimana penampilanku, Jon?” tanya Greg ke Jonathan yang sedang sibuk membalas chat dari pacarnya di ruang TV. Jon kemudian melihat ke arah Greg yang memakai kemeja hitam. Dahinya membentuk guratan kebingungan.
“Kau mau ke pemakaman atau apa?”
“Tentu saja aku mau menemui Bella. Kau kira apa?”
“Carilah kemeja berwarna lain.”
“…”
“Berwarna biru muda mungkin.”
“Baiklah.”

Greg kembali ke kamarnya. Membuka lemari. Mencari kemeja biru muda yang dimaksud. Beberapa saat mencari Greg teringat bahwa dia telah membuangnya beberapa waktu lalu. Kemeja pemberian Bella tahun lalu saat Greg berulang tahun ke-25.

Greg kembali berdiri di depan kamarnya hanya mengenakan singlet putih. Menatap ke arah Jon yang masih membalas chat pacarnya yang katanya mengaggumi karya Stephen King. Entah karya yang mana.
“Aku sudah membuangnya, Jon.”
“Apa?” Jon menatap pemuda berambut hitam bergelombang itu.
“Kemeja biru.”
“Warna abu-abu?”
“…” Greg menggeleng.
“Warna apa yang kau punya?” tanya Jon sambil membenahi letak kacamatanya.
“Hitam, kuning, hijau, merah muda…“
“MERAH MUDA?? Untuk apa kau punya warna itu?”
“Entahlah… Aku lupa untuk apa membelinya.”
“…”

“…”
“Bagaimana kalau polo shirt?” tanya sekaligus saran Jon.
“Biru tua?”
“Ya… Warna itu saja.”

Greg menuju lemarinya. Mengambil sebuah polo shirt kemudian memakainya. Setelah memakainya, dia berbalik badan. Melihat pantulan dirinya di cermin. Sinar matahari menuju siang masuk melalu jendela kamarnya. Terasa hangat. Greg kemudian mengambil parfum, lalu menyemprotkannya ke sekujur pakaiannya.

“Kau yakin ingin melakukan ini?” tanya Jon dari luar kamar.
“Apa?” tanya Greg yang tidak begitu mendengar ucapan Jon.
“KAU YAKIN INGIN MELAKUKAN INI?”
“Tentu saja.” Jawab Greg sambil mencari sisir di lemari kecil di samping ranjangnya.
“Bagaimana nanti perasaan Bella?”
“Kurasa dia akan baik-baik saja.” Jawab Greg santai sambil menyisir rambutnya ke arah samping.
“Kau yakin?”
“Entahlah…”

Greg kemudian keluar dari kamarnya, melewati ruang TV menuju pintu depan. Jon memandang Greg dengan iba. Bukan karena peampilannya. Tapi keputusan Yang diambilnya hari ini.
Bagaimana bisa? Hanya Tuhan dan Greg Yang mengetahuinya. Ini pilihan hidupnya.

Greg mengambil sepatu kets merah dengan sol berwarna putih, memasukannya ke kaki, kemudian mengikat talinya.
Greg menoleh ke arah Jon. Matanya menatap Jon dengan tajam, namun terlihat rapuh dari dalam. Remuk. Runyam. Jon tahu, dalam diri Greg ada keraguan. Seperti keraguan yang timbul setelah sekian lama berlayar di laut lepas, namun tidak menemukan tepian. Setelah sekian lama mendaki, namun tidak menemukan puncak. Setelah melewati semua itu, dia ingin berhenti. Hanya berhenti.

“Aku pergi, Jon.”
“Ya… Semoga itu pilihan terbaikmu.”
“Semoga saja.”

Greg melangkah keluar. Langkahnya mantap. Seketika dia telah berdiri di depan rumahnya. Memasukan tangannya ke dalam saku jinsnya. Cuaca bersahabat hari itu, namun tangannya terasa dingin.
Dalam tenang, Greg menatap jalanan yang biasa lalui. Tapi, hari ini, jalan tersebut terlihat berbeda. Terlihat ujungnya. Terlihat akhirnya.

Cerpen Karangan: Momonsan

Cerpen Greg merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Berawal Dari Lab, Aku Memahamimu

Oleh:
Pagi ini terasa berat untuk beranjak dari tempat tidur karena aku tahu, hari ini perkuliahan ditiadakan (meliburkan diri efek saran dari dosennya). Tapi tetap saja aku harus beranjak karena

Indah

Oleh:
Sudut mata yang masih terpejam terbangun dengan suara adzan yang merdu lantunan adzan yang indah dan hembusan angin yang segar seolah bahwa serasa hati hampa, pikiran tenang dan ikhlas

Motor Matic Rosa

Oleh:
Rosa mengamuk. Pecahan gelas dan piring berserakan di lantai. Berlarian saling menjauhi. Tak tentu arah. Semacam mozaik yang minta untuk dirangkai ulang. Tapi lebih sulit ketimbang merangkai puzzle, mainan

Akan Ada Pelangi Setelah Hujan

Oleh:
Namaku Nadira Naumi Putri, mama memanggilku dengan sebutan naumi. Dan aku tidak memiliki saudara di keluarga karena kebetulan aku adalah anak tunggal. Entah mengapa aku menyukai hujan bahkan benar-benar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *