Indahnya Kebersamaan?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 17 March 2019

Padlan menarik selembar amplop putih dari dalam laci dan menimang-nimangnya di tangannnya. “Amplopnya diisi berapa Git?” Setengah berteriak dia bertanya pada Sigit, teman sekantor dan sekontrakannya, yang sejak setengah jam terakhir sibuk dengan kumis dan rambut dan pomade dan saat ini sedang mematut-matut hasilnya di depan cermin.

“Sekarang tanggal berapa?” Sigit balas bertanya.
“Dua puluh.”
“Udah masuk akhir bulan berarti, lima puluh ribu aja.” Dia menata kembali bagian kanan atas rambutnya, merapikan sebagian, mengacaknya kembali, dan merapikannya lagi, lalu tersenyum, akhirnya puas dengan penampilannya. Dia berbalik hendak keluar kamar dan langsung tersentak kaget karena Padlan tiba-tiba muncul tepat di belakangnya.

“Ada bedanya apa, amplop akhir bulan sama amplop awal bulan?”
“Kalau awal bulan seratus ribu.” Jawab Sigit pendek. Sudah hampir satu tahun mereka tinggal sekontrakan, tapi tetap saja dia tidak bisa terbiasa dengan kebiasaan Padlan yang suka menyelonong muncul secara tiba-tiba seperti itu.
“Karena awal bulan hari gajian?” Padlan kembali bertanya.
“Begitulah.”
“Lah, orang-orang yang gajiannya akhir bulan gimana? Pegawai bank atau semacamnya itu?”

Sigit bergumam sambil mengusap-usap dagunya, “norma dan aturan masyarakat mengikat semua orang yang menjadi bagiannya tanpa terkecuali.”
“Maksudnya?”
“Mereka juga isi lima puluh ribu.”
“Enak buat mereka.”
“Yah, makanya pegawai bank rajin datang ke nikahan,” komentar Sigit asal. Kemudian dia mengangkat kedua alis matanya sambil memandangi penampilan Padlan dengan tatapan menghakimi. “Kau yakin mau pakai itu?”
“Itu yang mana?” Balas Padlan keberatan, tapi mau tidak mau juga ikut memandangi dirinya sendiri, yang memakai kaus polo berwarnya hijau cerah, celana panjang hitam, dan sepatu basket.
“Ya semuanya. Kita ini mau ke resepsi bro, bukan ke sirkus.” Sekonyong-konyong terbayang oleh Sigit deretan antrian di depan meja resepsionis, kumpulan pengunjung, panggung dan kostum dan pertunjukan, sirkus dan resepsi pernikahan ternyata banyak miripnya juga, pikirnya.

Sigit lalu berjalan menuju kamar Padlan, dan dengan gerakan jari dia mengisyaratkan pada teman sekontrakannya itu agar mengikutinya. Dengan langkah tidak bersemangat Padlan ikut beranjak, dia tidak merasa ada yang salah dengan pakaian ataupun sepatunya. Dia justru berpikir kalau Sigit yang terlalu pesolek. Dia hanya memandangi dengan tidak sabar saat Sigit sibuk memilah-milah isi lemari pakaiannya, menarik sebuah kemeja putih yang rapi terlipat lalu membentangnya diatas tempat tidur, lalu mengambil kemeja lain yang juga masih rapi terlipat, dan membentangnya di atas kemeja yang sebelumnya.

Sigit terus lanjut mencari-cari, menyisir helai demi helai, membolak-balik lipatan demi lipatan, lalu berbalik kearah Padlan dengan kening berkerut dan bertanya dengan nada tidak percaya, “kau cuma punya dua lembar kemeja?”

Padlan tersenyum bangga. Bukan karena dia merasa bangga, tapi dia tahu kalau itu akan membuat temannya kesal.

Sigit mendadak merasa kesal. Akhirnya dia hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil menatap lirih ke arah sepasang kemeja di atas tempat tidur tersebut. Terbersit di pikirannya untuk menyerah dan membiarkan saja tampilan Padlan, yang baginya terlihat seperti bapak-bapak pensiunan yang suka main basket, dan berangkat menuju kondangan dengan hati riang—tapi dia tidak bisa! Ada standar tertentu yang harus dipenuhi dalam berpenampilan, terutama saat tampil di depan umum, dan kegagalan untuk memenuhi standar itu akan menimbulkan dampak jangka panjang yang buruk bagi kehidupan. Setidaknya itulah yang dia percayai. Sigit terdiam beberapa saat, lalu melangkah cepat menuju kamarnya. “Pakai kemeja yang putih—” terdengar dia setengah berteriak berkata dari dalam sana.

Padlan melenguh malas mendengarnya. Tapi akhirnya dia lepas juga kaus polonya, menggantinya dengan kemeja putih sesuai permintaan. Dia tidak merasa ada yang berubah, hanya rasa tidak nyaman yang familiar yang memang selalu dia rasakan setiap kali mengenakan kemeja. Sambil menunggu Sigit kembali, pria berbadan gempal itu memungut dua kemeja lain dari atas tempat tidur dan melipatnya kembali rapi-rapi ke dalam lemari. Kaus polo yang tidak jadi dipakai lalu dipasangi hanger dan digantung pada palang kayu yang terpasang dibagian lain lemarinya. Dia tidak suka kamarnya berantakan.

Tidak lama kemudian Sigit masuk dengan sebuah sweater rajut berkerah V berwarna merah marun dan sepatu yang biasa dipakai Padlan ke kantor, sepasang pantofel berwarna coklat tua. Sigit mengangguk kearah Padlan, yang disambut Padlan dengan keluhan nafas dan gerakan-gerakan gontai. Setelah selesai memakai sweater dan sepatunya, Padlan digiring menuju depan cermin di kamar Sigit (di kamar Padlan tidak ada cermin), dan melihat pantulan dirinya di sana, Padlan terheran-heran tidak percaya.

Yang pertama dia sadari adalah rasa tidak nyaman di kemejanya sekarang menghilang sama sekali. Kemejanya tidak lagi terasa begitu formal dan kerah kakunya tidak lagi terasa mengekang di leher. Warna merah marun sweater itu juga terlihat cocok dengannya, membuat wajahnya terlihat sehat bersemu. Dan entah kenapa dia merasa seperti bertambah pintar, seolah IQ nya terangkat naik beberapa poin.

“Tidak perlu berterima kasih,” kata Sigit bangga.
Padlan mengangguk, lalu kembali menatap ke dalam cermin.

“Oh, dan sepatumu juga habis digosok plus disemir. Makanya terlihat lebih berkilau dari biasa. Kalau-kalau kau tidak menyadarinya.”
Padlan mendadak merasa kesal. “Hamba menyadarinya, terima kasih banyak Tuan Sigit,” balasnya datar.
Sigit kembali tersenyum bangga lalu mengecek jam tangannya, jemputan mereka masih belum datang.

“Memang harus seperti ini, walaupun cuma ke kondangan?” tanya Padlan, yang sekarang sudah selesai memandangi cermin.
“Begitulah.”
“Karena ada standar tertentu yang harus dipenuhi dalam berpenampilan, terutama saat tampil di depan umum, dan kegagalan untuk memenuhi standar itu akan menimbulkan dampak jangka panjang yang buruk bagi kehidupan.” Padlan bergumam pelan.
“Ah, ya, begitulah,” kata Sigit gugup. Dia terkejut mendengar gumaman temannya itu, yang sama persis dengan apa yang tadi dia pikirkan, seakan isi pikirannya dicopy-paste huruf demi huruf. “Dan juga alasan lain,” tambahnya kemudian setelah menenangkan diri.
“Alasan lain?”
“Perempuan.” Jawab Gugun dengan suara baritonnya yang mampat dan bergaung seolah datang dari sumur tua di kaki bukit, yang menyelonong muncul begitu saja di belakang Sigit, membuat pria klimis itu tersentak kaget dengan mulut terbuka dan teriakan tertahan di tenggorokan.

“Ooo, per-em-pu-an…” Padlan menyilangkan tangannya didepan dada.
“Pe-rem-pu-an,” koreksi Gugun sembari mengangguk mantap. “Selalu ada perempuan cantik dan lajang di acara pernikahan. Temannya mempelai wanita, tamu-tamu undangan, penanti tamu, saudarinya mempelai pria—”

“Jadi dapat pinjaman mobil?” Tanya Sigit cepat, baru saja berhasil mengatur nafasnya kembali.
Gugun mengeluarkan kunci mobil dari dalam kantong dan memutar-mutarnya di jari telunjuknya. “Amplop, ada?”
“Masih ada dua amplop kosong di laci meja kamar,” kata Padlan sambil menunjuk ke arah kamarnya dengan isyarat jempol.
“Nein, no, tidak,” tanggap Sigit, dan segera saja merasa konyol, dia hanya mengulang tiga kata dengan arti sama. “Amplop punya kau tadi mana?”

Dari kantong belakang celananya Padlan merogoh sebuah amplop putih, yang sudah berisi selembar uang lima puluh ribu, dan mengulurkannya kepada Sigit. Sigit lalu menarik selembar uang lima puluh ribu dari dompetnya dan menyisipkannya kedalam amplop tersebut. Gugun merogok kantong samping celananya, mengeluarkan lima lembar sepuluh ribuan yang sudah kusam dan mengulurkannya kearah Sigit, yang langsung berkelebat menebas tangan Gugun, membuat lembar-lembar uang itu berhamburan di udara, lalu jatuh berserakan di lantai. Padlan mendecak-decakkan lidahnya sambil geleng-geleng kepala, lalu memungut uang yang berserakan d iatas lantai itu dan memasukkannya ke dalam kantongnya. Sebagai gantinya dia menarik selembar uang lima puluh ribu dari dalam dompet, lalu menyelipkannya di saku depan kemeja Gugun, dengan berlagak layaknya agen 007 memberi tip kepada pelayan hotel, yang membuat dua orang temannya saling pandang keheranan.

Selesai mengemas amplop, Sigit lalu menulis ‘Dari Trio Pegawai Magang’ di bagian depan amplop dan mengembalikannya kepada Padlan, yang lantas berkomentar, “Padahal tiga amplop lima puluh ribu dan satu amplop seratus lima puluh ribu nilainya sama persis.”
“Tapi satu amplop seratus lima puluh lebih bergengsi dari tiga amplop lima puluh,” timbrung Gugun.
“Ya, karena yang dinilai bukanlah banyak amplopnya, tetapi jumlah yang dikandungnya. Dengan menggabungkan uang, kita tidak cuma menambah gengsi tapi juga sekalian bisa menghemat amplop,” kata Padlan sambil mengusap dagunya, “mungkin inilah yang dimaksud dengan indahnya kebersamaan…”

Pria gempal bersweater merah marun itupun melangkah keluar kamar menuju pintu depan, yang segera diiringi oleh Gugun dan gelak tawanya yang bergema, meninggalkan Sigit melongo hampa sendirian.

Cerpen Karangan: Abdul Hafez Mubarak

Cerpen Indahnya Kebersamaan? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Akan Ada Pelangi Setelah Hujan

Oleh:
Namaku Nadira Naumi Putri, mama memanggilku dengan sebutan naumi. Dan aku tidak memiliki saudara di keluarga karena kebetulan aku adalah anak tunggal. Entah mengapa aku menyukai hujan bahkan benar-benar

Pendengar

Oleh:
Hujan turun begitu deras. Sampailah di sebuah tempat yang beratap, hingga tak lagi ada butiran air hujan yang jatuh di atas kerudungku. Segera berjalan agak cepat, menghiraukan pemandangan tak

Bus Hitam Kursi Nomor Tiga

Oleh:
Hari ini tiba waktunya punggungku harus menempel di kursi penumpang bus selama tiga jam. Ya, dihitung juga dengan berhentinya kira-kira segitulah, kalau lebih ya disimpan saja. Ah lupakan. Aku

Karena Loncat Tali

Oleh:
Hari ini aku duduk termenung di teras rumahku, aku memikirkan nasibku yang hingga sekarang belum mendapatkan pekerjaan. Saat ku termenung sendiri, kulihat tiga anak kecil berlari hilir mudik tepat

Cinderella?

Oleh:
Hari ini hari Minggu, itu berarti aku harus siap-siap pergi ke gereja. Hari ini aku pakai baju apa yah? Minggu lalu aku pakai jaket hitam dengan dalaman abu-abu dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *