Kamu Dan Roti Buayaku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 15 August 2016

“Bos, pesenan roti nambah lagi nih bos” ujar lelaki berambut cepak kepada atasannya itu
“Alhamdulillah rezeki kita berarti. Emang nih bulan kayanya lagi rame bener buat orang nikahan” sahut Ramli sang pemilik toko roti buaya (roti khas betawi) sambil menepuk pundak karyawannya itu
“Maklum bos kan penutupan mau bulan puasa”
“Bisa jadi Guh” bicaranya kepada teguh karyawannya
“Ngomong-ngomong bos kapan mau nikah? Nggak bosen apa bos sendirian terus” Teguh melirik bosnya dengan tatapan jahil
“Belum ketemu jodohnya aja Guh. Nanti kalau udah waktunya juga pasti gua bakalan nikah, santai bro”
“Nunggu apalagi sih bos. Bos udah mapan, punya toko roti, punya kontrakan lumayan banyak umur juga udah nggak muda kan bos. Mau sampai kapan nunggu bos. Apa perlu saya kenalin cewek lagi nih”
“Kaga usah Guh makasih. Udah sekarang loe kerja lagi sana. Jangan kebanyakan nasehatin gua macem mamah lodeh loe”
“Ya ilah mamah dedeh kali bos” Teguh pun melanjutkan pekerjaannya sebagai kasir di toko itu

Lelaki berperawakan tinggi, berkacamata dan berkulit sawo matang itu bernama Ramli ramadhan. Dia berusia 30 tahun dan mempunyai sebuah toko roti buaya, roti yang biasa dipesan untuk acara pernikahan ala betawi. Dia juga memiliki usaha sampingan yaitu dia mempunyai 10 kontrakan yang berada tak jauh dari rumahnya. Di balik kemampanannya itu dia masih single. Dia masih belum menemukan jodonya. Makanya tak jarang dia sering diledeki karyawannya yang ingin melihatnya menikah.
Dia juga terkenal ramah dan akrab terhadap karyawannya. Dia mempunyai 6 karyawan yang terdiri dari 3 perempuan dan 3 laki-laki. Para karyawan tak sungkan bila ingin sekedar bercanda kepadanya karena Ramli mengkondisikan karyawannya selayaknya teman. Jadi mereka merasa dihargai bila bekerja di sana. Mereka pulalah yang selalu mengenalkan Ramli kepada seorang wanita, tapi tak ada yang berhasil membuatnya tertarik. Terakhir kalinya Ramli sempat dikenalkan dengan seorang wanita bernama Dara. Dia hampir tertarik dengan wanita itu tapi sayangnya ternyata wanita itu sudah mempunyai seorang tunangan. Dia harus terkena imbasnya dia dituduh selingkuh dengan wanita itu dan membuatnya mendapat teror dari tunangan wanita itu. Tapi kini semuanya sudah berakhir dan itu cukup membuatnya trauma.

“Jal, besok jangan lupa loe kirim tuh roti buaya sepasang ya ke alamat ini. Jangan sampai telat karena mau dibawa sama rombongan pengantinnya sekitar jam 9 pagi jadi loe harus sampai sana sekitar jam 8 lah ya. Oke bro” perintahnya kepada Rizal karyawannya sambil memberikan kertas yang bertuliskan alamat pemesan roti buaya itu
“Oke bos, siapppp!!!” Rizal terkenal sebagai karyawan yang santai dan juga dekat dengan bosnya itu

Ramli tampak asyik menyantap nasi uduk dengan ditemani Teguh seorang karyawannya itu. Mereka tak membatasi diri saling makan di satu meja dengannya. Telepon kantor pun berbunyi tanpa henti dan membuat acara sarapan pagi mereka terganggu.
“Buaya bakery pagi” Teguh mengangkat telepon yang berada di sampingnya itu
“Hei mas mana nih roti buaya pesanan saya. Kan saya bilang jangan sampai telat kok nih malah telat banget sih. Saya nggak mau acara nikahan ini gagal karena roti buaya yang saya pesan itu nggak kunjung datang. Saya minta mas segera kirim pesanan saya itu kalau nggak mas saya tuntut” dari ujung telepon terdengar suara seorang wanita yang sedang marah-marah karena pesanan rotinya belum datang juga. Belum juga Teguh menjawab ucapannya nada telepon pun sudah terputus.

Teguh pun langsung menceritakan kejadian itu kepada Ramli, “Ya ampun tuh Rizal kemana sih kok belum sampai juga” bicara Ramli kesal. Dia pun langsung mengecek roti buaya yang sudah disediakannya di show case semalam dan benar saja roti itu masih berada disana. Ternyata Rizal belum mengambilnya. Ramli pun segera bertanya kepada karyawannya mereka berkata kalau sampai kini Rizal belum sampai toko.
“Ya udah bos biar saya aja yang ngirim” Teguh menawarkan bantuannya
“Tapi loe tahu jalan nggak soalnya paling nggak nih roti harus setengah jam sampai sana” bicaranya panik
Teguh refleks mengaruk rambutnya dan berkata, “nggak bos hehe”
“Ya ilah tong sama aja bohong dong. Ya udah biar gua aja yang nganterin. Nanti kalau Rizal udah datang bilangin gua mau ngomong empat mata sama dia”

Ramli segera memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Dia mencari jalan tikus untuk menghindari macet. Dia berusaha mengejar waktu karena roti yang harus dia kirim harus sampai jam 9 pagi. Sementara dia baru jalan jam 8.25 pagi. Dengan cepatnya akhirnya dia sampai juga meskipun telat satu menit.

“Permisi mba. Saya mau mengantarkan roti pesanan mba Indah” masih dengan nafas terengah-engah Ramli mengampiri seorang wanita berambut ikal yang berada di depan pintu
“Ya ampun gimana sih mas kenapa bisa telat. Hampir aja acara nikahan ini gagal gara-gara nih roti” wanita itu langsung memarahinya
“Maaf mba…” belum selseai Ramli menjelaskan perkara ini wanita itu terus saja menyerocos dengan bawelnya
“Nggak professional banget sih nih toko. Bikin konsumen kecewa aja tau nggak. Harusnya punya planing dong mas jangan nggak karuan kaya gini. Sampaikan ya sama bosnya kalau saya KECEWA sekali. Nggak lagi-lagi saya mesen roti di toko mas” dan wanita itu langsung meninggalkannya masuk ke dalam rumah
“Itu sejenis maklum apa sih. Galak banget nyerocos terus kaya knalpot bocor” desisnya masih dengan kebinggungan sehabis mendengarkan ucapan wanita itu

Sesampainya di toko Ramli segera memanggil Rizal yang ketika itu sedang bercanda dengan karyawan lain. Ramli tampak kesal dengan sikap Rizal yang tak professional. Dia segera menginterograsinya dan Rizal pun langsung menjawab pertanyaan bosnya. Dia beralasan kalau tadi dia terlambat bangun pagi dan terjebak macet makanya dia tak bisa sampai toko pagi-pagi sekali. Tapi tak sepatutnya dia tak bertanggung jawab terhadap pekerjaanya itu. Bukannya merasa bersalah dia malah terkesan mengabaikan tanggung jawabnya itu. Ramli pun memberi sangsi kepada Rizal untuk membuat roti sisa pesanan pelanggan yang harus dia selesaikan malam ini agar ada efek jera dan agar dia mempunyai tanggung jawab terhadap pekerjaaanya itu.

Ramli merupakan anak sulung di keluarganya. Dia mempunyai seorang adik perempuan yang selisih 3 tahun darinya. Dan adiknya sudah memiliki kekasih dan berniat melangkah ke jenjang yang lebih serius tapi sayangnya niatnya harus terganjal karena kakaknya masih belum menikah. Dan menurut adat di keluarga mereka tidak baik untuk melangkahi seorang kakak jika ingin menikah. Tak jarang adiknya pun menyuruh Rizal untuk segera menikah terlebih dahulu.
“Bang si Dahlia gimana, cocok kaga bang?” bicara Puput adik perempuannya menghampiri Ramli yang sedang membereskan sajadah sehabis sholat isya
“Kaga Put. Sampai saat ini gua belum nemu juga wanita sholeha idaman gua”
“Ya ampun bang sampai kapan abang milih keburu tua nanti. Aye juga kan bang mau nikah”
“Kalau loe mau nikah ya udah nikah aja ngapain loe repot nungguin gua. Emang gua layangan loe tungguin”
“Au ah amat dah bang. Ya kan katanya pamali kalau aye ngelangkahin abang yang belum nikah. Gimana dah?” Puput tampak sewot
“Ya udah dah bodo amat. Gua mau ngopi bikinin gua kopi dong neng” ujarnya tak mau ambil pusing
‘Ogah!” protes Puput kesal dan langsung menekuk mukanya sambil berjalan ke luar kamar
“Kaya bocah alay loe dikit-dikit marah. Imut kaga bikin gumoh iya” Ramli balas memprotes tingkah adiknya itu
Karena matanya terasa mengantuk dia memutuskan untuk membuat kopi. Ada pekerjaan yang harus dia kerjakan malam ini.

Di dapur dia bertemu dengan ibunya, “eh ibu belum tidur?” ujarnya. Ibunya menjawab, “belum, loe ngapain disini?”. Sambil membuat kopi dia menjawabnya dan sampai akhirnya ibunya memberitahukannya kalau sabtu ini mereka ada acara penikahan keluarga yang harus mereka hadiri. Dengan santainya Ramli memastikan kalau dia bisa ikut datang tapi ada persyaratan yang tidak bisa dia kabulkan. Ibunya meminta agar dia membawa seorang pendamping di acara pernikahan keluarganya itu. “Kamu bisa kan bang” tanya ibu yang membuatnya bingung. Dia menjawab sambil mengaruk kepalanya, “Insya Allah bu”.

Cerpen Karangan: Retno Shanty
Blog: retnoshanty.blogspot.com

Cerpen Kamu Dan Roti Buayaku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Marno

Oleh:
Sabtu malam, jadwalnya biasa ngumpul sama kawan, nyari warung kopi atau kadang ngafe rakyat, yang harganya terjangkau lah buat kantong kuli, disitu pesan seperti biasa, dilanjutin bercengkrama seperti biasa,

Terlambat

Oleh:
Kabut tebal menyelimuti pagi ini, matahari mulai memancarkan sinarnya yang hangat membuat pagiku ini kujalankan penuh dengan semangat. Semangat untuk belajar dan bertemu dengan teman-temanku di sekolah. Setiap pagi

Anugerah Terindah

Oleh:
Langkahku semakin pelan, jarak jalanku pun semakin pendek. Aku benar-benar ragu. Hatiku memaksaku untuk terus berjalan, sementara otakku menyuruhku memutar badan. Ketidakkorelasian ini membuatku semakin bimbang. Aku benar-benar merasa

Teman Baru

Oleh:
Aku siswi kelas 2 SMK di daerah DKI Jakarta. Dan hari ini tepat UAS semester genap. Hitungan hari lagi aku sudah menjadi anak kelas 12 alias kelas 3 SMK.

Sebuah Kelapa

Oleh:
Hilanglah bintang dalam sapaan fajar. Embun-embun terlihat mulai bermunculan. Burung-burung merpati pun satu-persatu mulai terbang meninggalkan sarangnya, embusan angin pun lenyap dalam helaian nafas yang menghirup kesegaran aromanya. Terlihat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *