Keliru Itu Kurang Ajar

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 24 August 2016

Pagi itu awal bulan juli, aku dan Ripin temanku baru saja tiba di Malang setelah berjam-jam meringkuk dalam bus cepat (Penjor) yang menghantar kami dari pulau Dewata ke kota itu. Sebetulnya tak ada sesuatu yang luar biasa yang ingin kugapai di sana selain hanya menemani Ripin untuk mengambil ijazah di tempat kuliahnya setelah ia menyelasaikan S1.

Pertama kali jauh dari rumah, aku merasa dunia seakan mau berakhir karena diserang rasa rindu. Hawa yang menikam kulitku pagi itu mengguncang kerinduan pada kota dinginku tercinta, Ruteng-Flores.

Sekilas aku melihat deretan rumah-rumah warga di tempat baru ini sangat asing, tapi mirip dengan yang kulihat di pulau Dewata saat kami singgah sebentar setelah terapung berjam-jam di atas laut, di dalam perut kapal penumpang Tilong Kabila. Aku sempat berpikir, jangan-jangan kami belum beranjak dari Bali. Tapi tidak. Bagaimana pun, aku tetap percaya pada Ripin temanku yang sudah makan garam mengenai perjalanan itu.

Sempat pula ku bergumam sendiri setelah melihat sekeliling kos yang terletak dekat kali itu “Eh kupikir di sini tak ada bambunya, padahal ada. Eh mirip sekali seperti di Flores deh, meski tak sama.”

“Istirahat dulu kalau capek. Nanti sebentar jam 09:00 baru kita ke kampus,” terdengar suara Ripin bersamaan dengan bunyi cipratan air yang menyirami lantai dari kamar mandi.

Segera aku berbaring di atas kasur yang tergeletak di samping meja belajar yang biasa digunakannya semasa kuliah. Aku berbaring sebentar tapi khayalan mengusir nyenyakku. Aku terbang jauh bersama khayalanku: mengkhayal punya mobil pribadi, menghayal punya motor Harley Davidson, mengkhayal punya pesawat pribadi untuk mengelilingi Indonesia dan lain sebagainya. Pikiranku melantur ke mana-mana.

Setelah selesai berdandan, Ripin muncul dengan dua gelas kopi dan sebungkus Gudang Garam Filter. Yang begini, banyak orang bilang pria punya selera, karena selain nikmatnya asap itu rasa ngantuk pun bisa lari pontang-panting dia buat.

Segelas kopi dengan beberapa batang rok*k pagi itu mengganti sarapan pagi. Tak lama kemudian setelah kopi dalam gelasku hampir habis, tiba-tiba Ripin memaksaku untuk segera memadamkan api rok*k di tanganku.

“Ya sudahlah sana. Kau basuh muka sudah supaya kita langsung berangkat. Kemarin janjiannya jam 09:00, biar tidak terlambat”

Aku lalu menghabiskan kopi di dalam gelas itu lalu meraih gayung yang berisi sabun dan masuk kamar mandi.

Setelah aku melihat penampilan Ripin yang sedikit wibawa dari biasanya, aku pun berusaha tampil semenarik mungkin supaya bisa masuk bersamanya ke kampus itu. Kami lalu berangkat dengan motor Mio punya pemilik kos yang telah disewa untuk dipakai sehari.

Tak tahu kenapa saat kami tiba di gerbang kampus, Ripin tak mengajakku masuk. Aku dihantarnya melewati kampus itu ke sebuah taman kecil nan asing. Di sana, terdapat banyak orang, dari yang kecil hingga dewasa termasuk mahasiswa dan mahasiswi.

“Kau tunggu di sini ya, kira-kira selama 15 menit. Setelah itu baru kita jalan-jalan, mungkin ke Batu, ke Alun-alun atau ke Pasar Besar.”

Demikian ia menyebut sederetan tempat-tempat asing yang belum pernah kudengar sebelumnya seraya menyodorkan dua batang rok*k dari saku bajunya lalu berbalik arah dan melesat pergi.

Di taman itu aku sedikit gerogi dan tentu saja merasa asing. Aku melihat banyak mata yang mencuri pandang. Aku tak tahu apa alasannya. Aku bergumam “mungkinkah rambut kriting ini sudah keterlaluan atau jangan-jangan ada hal yang lebih aneh dari segala yang aneh yang mereka lihat padaku?”

“Mas, bareng-bareng di sini yuk.”

Aku menangkap suara itu muncul persis dari belakangku, dari antara kerumunan mahasiswa yang mondar-mandir di tempat itu. Perlahan, aku berbalik dan berharap sekiranya sapaan itu tidak dialamatkan ke orang lain. Dari kedai kopi, ia melambaikan tangannya untuk meyakinkannku bahwa memang benar aku yang dimaksudnya.

“Ayo, nggak usah malu.”

Aku menangkap jelas suara gadis berkulit sawo matang yang lagi bersantai di kedai itu. Ini benar-benar pengalaman langka, gumamku. Gerogiku luntur seketika. Aku menjadi sedikit percaya diri, namun bukan karena bisa bercerita dengan seorang cewek yang parasnya seindah mawar merah yang baru merekah, tapi terutama karena keberaniannya membuka ruang diskusi di tengah hiruk pikuk orang-orang di tempat itu dan melumpuhkan rasa gerogiku di tempat baru itu.

Kemudian, aku beranjak perlahan dari tempatku berdiri ke kedai itu. Belum sempat dipersilahkan duduk, ia menyiramiku dengan pertanyaan.

“Dari Manado ya mas?”
“Ah enggak kok” jawabku tersipu dengan nada suara yang hampir saja tidak keluar semua dari tenggorokan.
“kalau gitu, bole tau ngga, asalnya dari mana?”
“Aku dari Flores” jawabku singkat.
“Masa sih. Lho, kok kulitnya putih?” Pertanyaan yang terakhir ini membuatku tersedak. Sambil terus menunduk aku bertanya-tanya, “memangnya, warna kulit orang Flores itu telah disematkan jadi satu warna apa?”

Belum sempat kujawab, kemudian ia membuka pertanyaan baru.

“Ya udahlah. Kuliah ya mas di Malang?”, sebelum menjawab pertanyaan ini, hampir saja lidaku tergelincir antara menjawab engga atau tidak, karena di tempatku jarang menggunakan kata enggak. Beruntung masih bisa dikontrol. Eh dari pada pusing lebih baik begini saja caranya:

“Belum! Aku hanya jalan-jalan saja, mumpung diberi kesempatan mengunjungi kota Malang. Kebetulan sekali, kemarin temanku mengajak ke sini.” Demikian aku menjawab panjang lebar dengan dialek dari tempat asalku.

Eh tiba-tiba:
“Bicaranya resmi banget sih bang. Santai aja. Aku senang kok punya teman baru. Udah kerasan ya, di sini?”

Kali ini, aku semakin heran “Eh orang ini maunya apa? Dari tadi main-gila terus. Kenapa dia mengaitkan diriku dengan kekerasan?”

Sementara aku termenung mencari jawaban, tiba-tiba, Ripin membunyikan klakson panjang dan memanggil. Aku lalu meninggalkan tempat itu sebelum menuntaskan pertanyaan itu. Tapi, aku berusaha menjawabnya sekaligus menutupi perbincangan itu meski sedikit mengalih ke topik lain.
“Maaf ya, nanti aja baru lanjut, seandainya ada kesempatan. Soalnya hari ini kami terlalu sibuk”.

Aku lalu meninggalkan tempat itu. Aku tak memperhatikan lagi jika ia mengangguk, menggeleng atau mengernyit setelah mendengar jawabanku yang sedikit serampangan itu.

“kau hebat e, cepat sekali bergaul dengan orang baru.”
“Ae hebat apa? Cewek di sana, aneh benar. Masa ia mengaitkan kita dengan kekerasan. Ah… bandel benar!”

“Apa…? Memangnya dia bilang apa sampai terjadi begini jalan ceritanya?”
“Ia tanya ‘udah kerasan di sini?’ Memangnya kita lahir hanya untuk bikin kacau saja kah?”

“Adu Tuhan. Itu pertanyaan paling sopan dari seorang kenalan baru, lagi pula di lingkungan mahasiswa. Itu bukan kekerasan seperti yang kau paham. Mengerti? Tapi maksud pertanyaan itu sebenarnya mau mengetahui kalau kau sudah betah tinggal di sini atau belum. Itu saja. Tidak lebih.”

Demikian Ripin menjelaskan secara singkat tanpa bertele-tele. Ia memang satu-satunya dari sekian sahabatku yang jarang tersenyum apalagi tertawa, mungkin karena sudah terbiasa memecahkan masalah rumit saat kuliah. Sehingga, ia mengupas kulit persoalan itu dan menunjukan isi yang sebenarnya yang harus dikunya. Dan, aku pun menutup mulut.

Aku memahami dengan baik ternyata itu benar-benar salah paham. Keliru itu memang kurang ajar betul: Ia bisa menghantar orang pada jurang kebencian, perpecahan, perkelahian dan tentu saja kehancuran. Ah, lebih baik aku menjunjung tinggi aktivitas bertanya sebelum terjebak dalam perangkap kekeliruan.

Untung aku masih punya sahabat baik seperti Ripin yang tahu banyak hal tantang tempat itu serta memberi penjelasan secara cuma-cuma. Kalau tidak, keliru itu bisa saja menghantar aku ke ruang berjeruji besi. Peristiwa salah paham itu membuatku hanya menangkap wajah ceria si cewek itu namun aku lupa mengenal namanya.

Keliru… kau memang kurang ajar betul! Aku akan belajar lebih giat lagi untuk mencekik dirimu dari ruang hidupku.

Cerpen Karangan: Afri Deo
Facebook: Deo Afrian
Ruteng, Manggarai, Flores
Alumnus Tourisme High School Sadar Wisata Ruteng

Cerpen Keliru Itu Kurang Ajar merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Orang Baru

Oleh:
Aku berjalan menyusurui gang sempit yang hanya bisa dilalui oleh satu buah sepedah motor. Disini suasana cukup nyaman. Penduduknya hidup saling akur dan tentram. Tidak ada pembeda antara warga

Rindu Di Balik Hujan

Oleh:
Rintik hujan mewakili rindunya pada seseorang. Pikirannya terbang jauh menembus awan gelap. Termenung di balik jendela menatap tiap tetes air yang jatuh membasahi bumi. Sudah lama ia tidak bertemu

Asal Kamu Tahu

Oleh:
Bicara soal perhatian, aku ini memang orang yang sangat perhatian, bahkan untuk hal yang sebenarnya tidak perlu aku perhatikan sekalipun. Seperti semut yang sedang membuat lubang di tanah misalnya.

Sosok

Oleh:
“Sekali lagi makasih ya salepnya, sebenernya gak apa-apa sih gak pake itu juga.” ujarnya sambil menunjukkan deretan gigi bersihnya. “Siang mbak, tumben banget keliatan, sibuk banget pasti!” Pak satpam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *