Kenyamanan Yang Sesaat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 29 September 2016

Aku melangkahkan kaki dengan tenang. Di tengah keramaian orang orang yang berlalu lalang. Sambil menggendong tas berwarna abu abu, aku terus berjalan menuju tempat yang sudah terbayang di kepala.
“Hati hati donk kalo jalan!” omelan seperti itu sudah sering aku dengar. Padahal, mereka yang menabrak tapi mereka sendiri yang menggerutu. Rasanya wajar, di tempat seramai ini orang orang berkata kesal seperti itu. Tak ada yang harus disalahkan, karena memang ini di keramaian. Apapun bisa terjadi secara tiba tiba. Saling berdesakan, kaki terinjak, sampai kehilangan sesuatu itu sudah menjadi rutinitas di tempat ini. Hal yang kusuka dari tempat seperti ini adalah, kebisingan. Mungkin akan terdengar aneh. Tetapi bagiku suara orang orang yang saling berbenturan satu sama lain jauh lebih indah, daripada ocehan bising para pejabat yang penuh buih buih dusta.

Akhirnya aku sampai di tempat yang kutuju. Yakni sebuah tempat yang dipenuhi deretan kursi. Apa kau tahu namanya? Ya. Tempat untuk menunggu kendaraan umum terpanjang di dunia yang telah banyak membantu transportasi umat manusia. Setengah jam lebih aku duduk disana. Sambil memandangi orang orang yang berlalu lalang, kesana dan kemari. Entah ada berapa jumlah semua manusia di tempat ini. Mungkin lebih dari seratus.

“Sendirian aja?” seseorang mendekat dan bertanya dengan sekonyong konyong. Aku menoleh lalu tersenyum sambil menjawab.
“Enggak. Banyakan kok” orang itu tersenyum lebar kemudian ikut duduk. Tangannya yang putih bersih terulur ke arahku. Dengan ramah ia berkata.
“Boleh kenalan. Namaku Dino tapi bukan Dinosaurus ya” aku lantas tersenyum sambil menyambut uluran tangannya.
“Namaku Tio. Bisa aja nih” kami pun bersalaman dalam beberapa detik seperti pada kegiatan handshake eventnya JKT48. Laki laki bernama Dino itu memiliki perawakan cukup tinggi dan tegap juga berisi. Kulitnya putih bersih, rambut hitam pekat, dan bola mata yang putih beriris hitam. Satu lagi. Hidungnya juga mancung. Tampak bersih tanpa komedo. Sekilas ia terlihat seperti artis k-pop. Hanya saja ia berlogat Jawa.

Rasanya sudah hampir sejam lebih aku duduk ditemani Dino, orang yang baru kukenal. Kami bahkan sudah akrab layaknya sepasang sahabat. Sejujurnya aku bukanlah tipe orang yang suka berbasa basi apalagi banyak bercerita. Tetapi, baru kali ini aku banyak mengeluarkan kata kata. Dan itu semua karena Dino. Laki laki ramah yang memiliki tutur kata hangat. Mungkin karena kehangatannya itulah yang mampu melelehkan kekakuan dalam diriku ini.

“Aduh. Kok lama ya” keluh Dino seraya melirik arloji antik yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Aku memandanginya sejenak. Ada sesuatu yang membuatku nyaman saat di dekatnya. Padahal kami sama sama kaum adam. Bahkan sudah sering aku berjumpa dengan lelaki lain. Tetapi, belum ada yang seperti Dino. Pandangan matanya amat meneduhkan. Dan ucapannya selalu terdengar menentramkan. Serta senyumannya, manis dan lugu. Sekelebat, aku merasa iri pada sosok Dino yang seolah sempurna di mataku.
“Beruntungnya perempuan disana yang kelak memilikimu, Dino” gumamku dalam hati.
“Eh. Malah melamun. Kenapa? Ngantuk?” dia tersenyum ketika melihat ekspresiku yang kelu. Dia pun kembali membicarakan suatu hal yang menurutku menarik. Sudah kubilang kan, perkataanya yang hangat itu selalu membuatku mencair dan ikut terhanyut.

“Wah.. Kereta jurusanmu udah datang tuh” ujarnya sambil menepuk pundakku. Aku melongo ke arah kereta yang mengkilat, lalu tersenyum simpul.
“Oh. Eu. Kalo gitu. Aku. Pamit dulu. Oh iya. Makasih banyak ya udah nemenin. Jadi gak bosen nunggu deh” aku berucap dengan terbata bata dan terburu buru. Antara takut ketinggalan kereta, juga.. Takut berpisah dengan Dino. Ya. Perasaanku seketika menjadi berat. Aku enggan pamit terlalu cepat dengan orang sehebat Dino. Tetapi, tempat tujuan utamaku sudah menanti dan berkata “Ayo kesini!”. Aku sungguh dilema.
“Ya udah. Hati hati ya. Makasih juga udah mau ngobrol ngobrol. Semoga di lain waktu dan tempat kita bisa bertemu lagi. Oh iya, salam ya buat keluarga kamu” dia lalu berdiri dan mengajak bersalaman. Aku lantas menyambut uluran tangannya itu untuk yang kedua kalinya. Namun kali ini untuk perpisahan.
“Iya..” balasku singkat karena aku sudah kehabisan kata kata dan itu membuatku sangat sedih. Aku pun berjalan perlahan mendekati pintu kereta dan menjauhi raga lelaki tegap berwatak ramah yang kutahu bernama Dino. Saat kutengok ke belakang dia melambaikan tangan seraya tersenyum manis. Kemudian ia pun turut berjalan ke arah lain. Aku yang sudah berada di dalam kereta masih terpaku memandang Dino untuk yang terakhir kalinya. Benar. Yang terakhir. Kulihat raganya perlahan menembus orang orang. Lalu memudar. Dan menghilang. Aku menghela nafas, tanpa tersadar air mata ini telah menetes. Aku tersenyum simpul lantas memasang headset ke telinga lalu memutar musik asal asalan. Di saat itu, batinku bergumam pilu.

“Mungkin. Ini. Yang disebut dengan Kenyamanan. Walau hanya sesaat”

Cerpen Karangan: Fauzi Maulana
Facebook: www.facebook.com/fauzimaulana.sukidakara

Cerpen Kenyamanan Yang Sesaat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hitam

Oleh:
Hembusannya kian sunyi, membisu di pelataran desa yang penuh dedaunan jatuh, angin bisu. Kini jalan-jalan desa berwarna hitam, merata dengan bebatuan kecil yang berada di dalamnya persis seperti brownies

First Experience

Oleh:
Kita mungkin sering mendengar istilah ini “BELAJAR DARI PENGALAMAN” meskipun seringkali didengar tapi ini sangat sulit untuk dilakukan lebih lagi dikalangan anak remaja its so hard right. yang menjadi

Sang Romeo Salma

Oleh:
Siang itu, hujan turun begitu deras. Sederas air mata yang jatuh dari pelupuk mataku, sepuluh menit lalu, mungkin? …hhh, dengan tegar, aku menarik napas dalam-dalam sambil memejamkan mata. Kunikmati

Masalah Yang Harus Disyukuri

Oleh:
Di suatu malam yang ramai di sebuah coffe shop ada sekumpulan anak perempuan dan beberapa laki-laki, dengan berbagai macam cerita tentang kehidupan mereka masing-masing. “Gimana masalah lo sama nyokap

Border

Oleh:
“Masuk!,” kata Felly saat ia mendengar ada ketukan pintu. “Sibuk lo?,” tanya seseorang saat ia telah memasuki ruangan Felly. “Lo! Tumben ke sini? Ada apaan?,” tanya Felly dengan segera

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *