Lovely Mangki (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 4 January 2017

Pagi ini, sekali lagi setelah berkali kali mamaku disakiti. Fisik maupun perasaan, langsung maupun tidak, mamaku disakitin lagi!.
Dasar kau GILA!!
Terkadang memuji-muji mamaku, terkadang menjelek-jelekkannya! Apa maumu! Suatu kesalahan aku ikut dengan orang gila sepertimu!.
Tapi, apa yang bisa aku buat? Diam dan menangis! Menerima semua cemoohan itu!.
Musik! Ya seni itu yang bisa menghiburku. Tapi tidak kali ini! Aku benar-benar merasa stres! Ingin mati saja!. Aku lupa dengan segalanya!.
Tapi, aku teringat kembali. Bahwa aku hidup untuk mama, aku berdiri, kuat dan dengan semangat menunggu yang membara adalah untuk mama. Mamaku yang terkadang menjengkelkan, membuat hati panas, namun juga alasanku tetap hidup. Ya! Aku harus menjernihkan pikiran untuk ketenangan jiwaku, hatiku, juga prinsip “hidup untuk mamaku!”.

Langsung aku mandi untuk membersihkan pikiran, serta badanku. Mencari udara segar.. Dan! Ya! Aku ingat dengan sebuah nama “Syadillah Rizki”. Seseorang yang tak sekedar aku kagumi. Aku ingin mencari rumahnya, tapi mulai dari mana kah?. Ah! Trans! Setelah SD, belok ke kiri. I met Rantika, my classmate. I talked with her, but it was short. I continued search his home. Dari rumah Rantika, aku mesti lurus (modus cari rumahnya si Nunung).

Setelah sebentar aku berjalan, hm.. Udara yang sangat sejuk, kebun pohon karet. Karet-karet yang menetes belum menjadi padat, sehingga bau menyengat seperti biasanya tak muncul. I taked some pictures there. Then, melanjutkan perjalanan.

Tak lama kemudian, aku menemukan dua buah rumah yang berseberangan. Beberapa orang yang melakukan aktivitas. Dan,
Seseorang berkaos hitam, dan training biru sedang menoreh sebuah pohon karet. Aku sangat mengenal postur tubuh itu. Kak Rizki!!

Lagi-lagi ketika aku dengerin lagu flashlight oleh Jessie J, dan lagi-lagi ketika aku melihatnya, tepat pada lirik “I got all I need when I got you and I”. Memang, mungkin aku akan merasa bahagia, cukup dan mendapat semua yang kubutuhkan ketika aku telah mendapatkannya.

Di hari Minggu seperti ini, dia seorang laki-laki Sekolah Menengah Atas, mau membantu mamanya. Menoreh pohon karet. Semoga jiwa serta sifatnya seperti yang ia lakukan. Seperti yang tampak dari luar.

Aku lanjutkan perjalanan. Ya! I got Nunung’s house. Tapi, tak ada yang tau rumah Kak Rizki. Akhirnya aku kembali.
Ketika perjalanan kembali, dekat dari tempat Kak Rizki menoreh tadi, ada seorang cewek. Yang kelihatannya masih muda, tapi penampilannya seperti orang tua. Ternyata, kakak dari Rantika.

Aku main di sebuah anak sungai sebentar. Lalu, aku berlanjut. Aku mencari-cari wajah itu, tak nampak kembali. Apa dia sudah pulang?. Ya aku hanya bisa pasrah. Lalu, aku bertemu dua anak kecil, sedang bersepeda hanya di sekitar area itu saja. Mereka putih, imut, dan lucu. Dan otakku langsung merangsang dan menanggap! Jangan-jangan mereka adik kak Rizki. Dan Yap! They are! Tak jauh beda dari muka sang kakak. Aku ingin berkenalan lebih jauh lagi, dan aku rasa ini adalah jalan Tuhan. Tapi, mereka sedikit lebih susah untuk didekati. Dan aku sedikit ragu.

Akhirnya, setelah aku ingat perlakuan Chantry, aku menjadi semangat. Dan, setelah aku pikir-pikir, agar nantinya aku tak perlu berkata “Harusnya aku tadi…” Ya! Aku akan dekati mereka, dengan niat yang tulus menjadi seorang teman. Lagi pula, aku masih butuh hiburan dan seorang teman.

Setelah aku memberanikan diri, kami pun berkenalan. Mereka bernama Lutfianindita (Dita) dan Lutfi aditia (Upi / Lutfi / Adit). Mereka cuek, seperti kakaknya. Aku jadi bingung mau ngomong apa. Apalagi si Upi, dia nggak mau ngomong sama sekali. Dita menggunakan bahasa Banjar lagi. Aku hanya sedikit mengerti. Tapi, setelah kami lebih dekat, mereka ternyata anak-anak yang lucu, baik, cerdas, ceria, suka bernyanyi, apalagi ngobrol. Tak ada hentinya kami mengobrol, tertawa, bercanda. Apalagi si Upi, walaupun aku sedikit tau dia ngomong apa, tapi aku sangat terhibur. Dia ngomong dengan bahasa Banjar, dan sedikit belum faseh karena memang masih berumur 4 tahun, tapi dia sangat senang berbicara dan sangat menghiburku. Aku merasa mereka seperti adikku sendiri. Aku menjadi sayang kepada mereka. Tapi, aku harus selalu menjaga niatku bahwa aku tulus.

Dalam tengah-tengah bercandaan kami, kak Rizki pulang. Dan tak lama kemudian dia kembali. Si Dita dan Upi bilang “Tuh, udah bulikan” (“Tuh, sudah kembali”) dan keempat mata mereka mengarah padaku. Padahal aku tidak menantikannya. Aku jadi malu sendiri, dan takut kak Rizki berfikir aku menunggunya dan aku nggak tulus pada Dita dan Adit. Tapi biarlah, yang terpenting adalah niat masing-masing.

Kemudian dia melompat, dan melewati kami. Dia bilang “Awas, kenna gugur” (“Awas, nanti jatuh”) sambil menunjuk ke arah bawah karena memang kami duduk di tengah-tengah sebuah jembatan kayu yang mulai rapuh. Hihihi… Kakak yang perhatian.

Lalu, kami bermain di sebuah pondok. Lalu bermain air, bermain sepeda, dan berkejar-kejaran. Mereka sangat aktif!. Terakhir, kami pun kembali bermain di tengah jalan yang telah diaspal yang merupakan tempat pertama kali kami bercakap.

Sekitar pukul kurang lebih 10.30, mama mereka pun kembali. Dan ternyata, kak Rizki sudah duduk di jembatan kami tadi, mungkin sudah lama dia di situ. Aku jadi berfikir, apa saja yang sudah aku lakukan? Apakah aku bertingkah aneh-aneh dan memalukan? Aku jadi parno. Tapi kemudian aku berfikir untuk menjadi percaya diri!. Dan ya, fikiran-fikiran menyebalkan itu pun hilang.

Mereka pun pulang, aku pun. Tapi aku, Aura, Dita dan Lutfi masih bersama. Mereka berdua dengan bersepeda dan mama mereka berjalan. Kakak mereka mengantar seorang ibu muda. Di tengah perjalanan, kak Rizki menggoda Dita, dan dia tertawa! Aku senang bisa melihat kak Rizki tertawa kembali.

Cerpen Karangan: Ariesya Putri
Facebook: Ariesya Putri (Aries P R J)
Lahir Madiun 18 Februari 2001. Siswi di Sman 1 Tambang Ulang, Pelaihari, Kalsel. Aku ingin kembali ke Jawa, tempat yang nyaman. Aku rindu kasur MU dan kamar ku. Aku rindu kebebasanku. Aku rindu segalanya yang tercukupi. Tolong jemput aku Ma. Aku rindu.

Cerpen Lovely Mangki (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sosok

Oleh:
“Sekali lagi makasih ya salepnya, sebenernya gak apa-apa sih gak pake itu juga.” ujarnya sambil menunjukkan deretan gigi bersihnya. “Siang mbak, tumben banget keliatan, sibuk banget pasti!” Pak satpam

Kue Brownies Rasa Bedak

Oleh:
Hai namaku Keirasyta Inesia Mufidah!! Biasa dipanggil Mufi, tapi keluargaku memanggilku sih Rasyta, tapi kalian semua panggil aku Mufi saja… Aku bersekolah di MI (Madrasah Ibtidaiyah) NUR-ISLAMIATULLAH. Kelas 6-Hamzah

Cinta Hujan

Oleh:
“kulihat kau senyum-senyum terus, apa yang membuatmu bahagia?” celetuk temanku, “hujan” jawabku singkat. “hujan, kau ini semakin hari semakin aneh saja” tegasnya. “banyak anugerah yang turun bersama hujan, kau

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *