Marno

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 8 December 2017

Sabtu malam, jadwalnya biasa ngumpul sama kawan, nyari warung kopi atau kadang ngafe rakyat, yang harganya terjangkau lah buat kantong kuli, disitu pesan seperti biasa, dilanjutin bercengkrama seperti biasa, kadang ada yang habis rok*k seperti biasa, semua terlihat sehat seperti biasa, hingga sampai mataku terpaku pada sosok wanita yang duduk tepat berhadapan dengan tempat dudukku, dia sungguh ayu, dia dengan pria, mungkin pacarnya, atau sudah menikah dan masih hobi bermalam sabtu di luar.

Sejenak kuamati lamat-lamat, dan semakin dalam pandanganku merujuk pada wanita itu, ah, dia kukenal, orang itu sungguh aku kenal, sekumpulan kenangan tiba-tiba memenuhi otak, seketika romanku pucat, keringat dingin pun menyembul dan meluncur lirih bersamaan dengan posisiku yang bergeser bersembunyi di antara punggung kawan, namun, oh, matanya bertemu mataku, dia mencoba menimang-nimang, sebelum kau temukan jawaban ragumu, sudah kusembunyikan wajahku dengan beralih posisi memunggungi kalian, kenangan itu kembali membuncah, aku tidak ingin kenangan itu merusak hubunganmu dengan pria di depanmu begitu juga aku.

Kenangan-kenangan itu berdatangan berduyun-duyun membuatku semakin memaku pada pelungguhanku, dan tiba-tiba ada tepukan lembut pada pundakku, ah, aku kenal sentuhan ini, tangan ini, aku dulu pernah merasakannya berkali-kali, tapi oh, kenapa kau harus mengenaliku dan malah menghampiriku, semoga bukan, semoga hanya mimpi, aku pun menoleh dengan dengan tetap terlihat tegar namun tetap kaku, ah benar, itu dirimu.

“ah benar, ternyata itu memang sampean, mas marno.”
“eh, iya, kalila, lama gak ketemu, makin cantik aja, gimana kabar?” tentunya saja kabarmu baik bersama pria itu, dan ah, ayumu sungguh memesona malam ini, dan jari lentikmu juga tak berubah, tetap indah, namun itu akan berakhir jika kau buka mulut malam ini.

Mataku terpaku pada matamu, ingin kusampaikan jangan, namun nasi sudah menjadi bubur.

“oh iya, ini uang untuk mengganti hair-dryermu yang pernah kupinjam, dirusakkan sama adik, sori ya, dan kapan sampean ke salonku lagi, udah lama gak ngecat kuku barengan lagi udah hampir tiga bulan, kangen sama jari-jari mas marno…”

Dan mataku seakan mati di dalam matamu, kalila…

Cerpen Karangan: Muhammad Nur Wachid
nama pena Mun Jin, masih bersekolah di STAIN Kediri jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, asli Blitar

Cerpen Marno merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Surat Untuknya

Oleh:
Ia berdiri di sana, sedang berbicara dengan seorang pelayan yang hendak mengantar pesanan. Tubuhnya tinggi, tegap, dan yang pasti, menawan. Baiklah, ini mudah. Aku hanya perlu mendekatinya dan menyerahkan

Kesaksian Pilu

Oleh:
Hari minggu pagi yang cukup sepi di sekitar komplek rumahku Sementara siang ini sangat mendung, terasa dingin lembap udara hari ini, melihat langit sepertinya hujan akan turun. Dan 5

Tatapan Pertama, Benarkah?

Oleh:
Hujan turun membasahi pelataran. Udara dingin dari tadi terus menusuk. Menembus kulit. Aku menikmati hujan sore ini di depan toko, berteduh di sana. Aku baru saja pulang dari kantor

Rindu Di Balik Hujan

Oleh:
Rintik hujan mewakili rindunya pada seseorang. Pikirannya terbang jauh menembus awan gelap. Termenung di balik jendela menatap tiap tetes air yang jatuh membasahi bumi. Sudah lama ia tidak bertemu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *