Menepis Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 21 July 2017

“DUAAARRARRR”
“DUAAARRRRRR”
Hujan kali ini lebih deras daripada yang biasanya. Suara petir yang baru saja spontan membuatnya kaget. Nunik menoleh ke jendela yang sedari tadi sempat ditutupi dengan gorden yang berwarna kuning keemasan. Deras sekali hujan kali ini, batin Nunik.

Dia melihat sekelilingnya, tampak barang-barang sudah tersusun dengan rapi meskipun ada beberapa barang yang belum disusunnya pula. Hari ini adalah hari libur sekolah, dimana semua siswa yang bersekolah di manapun tentunya merasa sangat bahagia dengan pengumuman tersebut. Televisi belum dinyalakan sama sekali, tentu saja hal itu tidak dia lakukan karena takut perihal petir yang bisa menyambar begitu saja kalau ada barang elektronik yang sedang dalam keadaan menyala. Keluarganya belum pulang juga. Bapaknya yang bekerja di sebuah perusahaan yang ternama, sedangkan ibunya hanya seorang desainer baju yang sedang pergi mendatangi client-nya. Sedangkan, dua adiknya kini sedang berada di sekolah. Mengingat hujannya selama ini, tentu saja waktu untuk adiknya berangkat menuju rumahnya kini terasa sangat lama. Dan Nunik… Sebenarnya dia sudah kerja. Kebetulan sekali hari ini dia libur karena mendapatkan kesempatan cuti dari bosnya.

Sekarang, perempuan yang berambut hitam lebat hanya bisa menatap air hujan yang turun dari atas tiap detik. Waktu berharga yang tak ingin dia lewatkan. Dia merasakan harmoni dan nyaman sekali.
‘Hujan itu adalah anugerah. Dimana sesuatu yang belum tentu bisa kamu dapatkan, tapi dengan hujan itu semuanya menjadi serba gampang. Mengapa demikian? Tentu saja. Bagaimana mungkin engkau bisa menciptakan hujan dalam waktu yang sangat singkat, bahkan harus membuat petir lah, kilat lah. Apakah mungkin kau bisa membuat semuanya? Kalau bisa, bolehkah aku melihat secara langsung prosesnya? Kalaupun berhasil, kau tak akan bisa melakukannya murni 100% karena caranya yang tentunya pasti berbelit, bukan?’

‘Mari kita sejenak merenungkan apa yang ada dalam hidup. Hujan. Mungkin bagi setiap orang, hujan adalah sesuatu yang menjengkelkan dengan mengatakan “ah… mengapa muncul hujan seperti ini? hanya bisa menganggu pekerjaanku saja” atau bahkan dengan mengatakan “lebih baik cuaca panas saja… untuk apa kalau hanya ada cuaca hujan seperti ini”.’ ‘Menurut aku, kalian mungkin sebaiknya memaafkan hujan yang selalu muncul disaat yang tak menentu, bahkan disaat kalian mendapatkan sebuah keberuntungan hidup dan tiba-tiba muncul hujan.’

‘Hujan mungkin susah juga untuk ditepis. Melawan hujan hanya membuat engkau merasa tak ada artinya. Apa yang kau lakukan itu hanya sia-sia. Kau hanya berlari sejauh mungkin ketika hujan deras dan meneriakkan semua kekesalan yang terpendam dalam hati. Ibarat seseorang yang berusaha menahan duri yang menusuk sangat dalam di kulitnya namun tanpa ada rasa sakit atau darah yang berceceran karena terbiasa menghadapinya. Ketika sudah masanya, dalam kurun waktu yang sangat lama mungkin… orang itu berusaha melepaskan semua sakitnya itu. Tapi apa gunanya engkau mengikuti kegiatan seperti itu? Berusahalah bangkit jadi lebih baik meskipun dirimu terasa sangat buruk.’

‘Oh ya, pendapat aku… hujan adalah sesuatu yang patut disyukuri. Aku terkadang kesal juga dengan hujan. Mengapa dia enak sekali menurunkan air-airnya sedangkan banyak orang yang mengeluhkannya? Hmm.. Kalau boleh aku bilang, kamu itu tidak pernah putus asa gitu deh, jan… hujan… Sedangkan aku? Aku dikeluhkan oleh banyak orang saja sudah membuatku menyerah layaknya orang yang tak pantas dikasihani. Maafkan manusia yang ada di muka bumi ini wahai hujan… Apabila aku sering mengeluhkanmu, janganlah engkau memberikan suatu sangsi yang berat. Aku juga memaafkanmu hujan… yang terkadang selalu menunjukkan diri disaat yang kurang tepat, yang terkadang membawa kelebihan air bahkan terjadi bencana yang ada di sekitar, yeah meskipun aku sadar juga bahwa itu merupakan kesalahan manusia juga. Dan yang lainnya juga. Semuanya dengan mudahnya aku maafkan. Karena, dalam diriku tidak tertanam sifat pendendam… Aku tulus menghadapi semuanya yang ada. Aku kan sabar menepismu dengan memaafkanmu, oh… wahai hujan…’

Pikiran itu yang membayangi Nunik. Buku tulis harian beserta pulpen menemaninya dan perempuan cantik itu segera menuliskan apa yang tertumpah dalam pikirannya. Melankolis sekali dia, yang hanya melihat hujan sudah langsung membuat perumpamaan kritis yang bahkan orang lain belum tentu mengkritisinya pula. Dari kejauhan, pintu rumahnya digedor secara halus dan ada salam dari luar. Dia sudah menebak suara itu, suara keluargaku!
Dengan segera dia langsung membuka pintu depan sambil membalas salam balik. Hujan yang sedari berjalan dengan mulusnya tiba-tiba saja berhenti ditemani pelangi yang bersinar terang. Membuat hatinya tersenyum meskipun memandangnya dari jauh.

‘Aku menyadari satu hal… Dengan kita memaafkan hujan yang interpretasinya berupa tanpa adanya keluhan, bersyukur akan kehadirannya, dan juga memanfaatkan hujan ternyata bisa membuat hati kita bisa tersenyum. Ditambah lagi dengan kehadiran pelangi, membuatku tersenyum lebih lebar lagi.’

Sekian 🙂

Cerpen Karangan: Desita Putri Ramadani
Facebook: desita.putrir[-at-]facebook.com
Hallo semuanya
Kenalkan, nama aku Desita Putri Ramadani. Kelas XI IPS. Suka belajar hal baru. Sempat ada keinginan untuk bisa menulis cerita, tapi sebagai latihan… ya aku belajar bikin cerpen satu demi satu. Ini pertama kalinya aku ngepost cerpenku. Semoga kalian menikmatinya ya. Kritik dan saran aku perlukan banget dalam proses cerpenku dari segi penulisan dan bahasa. Mohon dibantu ya kawan 😉

Oh ya.. Untuk bisa berkenalan lebih lanjut, bisa langsung ke fb aku aja ya..
Email bisa juga sih, tapi jarang aku buka, hehe.
FB: Desita Putri R / desita.putrir[-at-]facebook.com
Email: desput22[-at-]gmail.com

Salam kenal yah semuanya 🙂

Cerpen Menepis Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Hujan

Oleh:
“kulihat kau senyum-senyum terus, apa yang membuatmu bahagia?” celetuk temanku, “hujan” jawabku singkat. “hujan, kau ini semakin hari semakin aneh saja” tegasnya. “banyak anugerah yang turun bersama hujan, kau

Keseharian di Kantor

Oleh:
Printer berbunyi nyaring meramaikan suasana pagi yang sepi di kantor. Secarik kertas HVS ukuran F4 keluar perlahan dari dalam mesin itu. Pamela baru saja print out laporan stock periode

Tanpa Kata

Oleh:
Hujan di sore itu, menggerus hati yang tenang, membangkitkan kenangan dalam awang-awang, menunjukkan sesuatu yang hilang. Di hari dimana aku berkumpul dengan mereka yang juga memiliki tujuan yang sama,

Berawal Dari Lab, Aku Memahamimu

Oleh:
Pagi ini terasa berat untuk beranjak dari tempat tidur karena aku tahu, hari ini perkuliahan ditiadakan (meliburkan diri efek saran dari dosennya). Tapi tetap saja aku harus beranjak karena

Ini Kisahku

Oleh:
Semua orang pasti punya sahabat. Begitu juga denganku. Ini kisahku dengan sahabatku. Kisahku yang penuh dengan canda tawa juga kesedihan. Semua kulalui dengan mereka. Ya mereka, sahabat-sahabatku. “Sasa! Buruan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *