Potato Chips

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 17 March 2019

Pertama kali Aku mengetahui kalau potato chips itu rasanya enak adalah pada saat Aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Seperti halnya sekarang ini, pada waktu itu pun potato chips dijual dalam tiga ukuran kemasan: kecil, sedang, dan besar. Dengan menyisihkan sebagian dari uang jajan harian yang kudapat, Aku bisa membeli kemasan kecil. Dan pada waktu itu, Aku beranggapan kalau kemasan besar adalah makanan bagi orang dewasa, yang berharga super mahal dan tidak mungkin bisa dibeli oleh bocah seusiaku. Namun pada suatu hari, saat liburan sekolah dan orangtuaku membawaku jalan-jalan ke ibukota, Aku melihat seorang anak, agaknya seusia denganku, duduk di taman dengan sebungkus potato chips di tangan. Kemasan besar. Bungkusnya tampak kebesaran dibandingkan dengan tubuh anak itu, yang sedikit lebih kecil dariku. Setiap kali dia merogoh kedalamnya untuk mengambil sepotong potato chips, tangannya akan tenggelam sampai lewat siku. Bisa memakan potato chips ukuran besar dengan santai, mungkin dia anak gubernur, pikirku.

Lama kemudian, mungkin saat Aku SMP atau SMA, tapi yang pasti saat itu Aku sudah memperoleh uang jajan mingguan. Juga waktu itu Aku sudah berhenti membeli potato chips. Apa alasannya Aku sendiri tidak lagi ingat, paling hanya sesuatu yang tidak penting. Pada suatu hari saat pulang sekolah, Aku kebetulan singgah di toko swalayan tempat dulu biasa membeli potato chips. Tanpa bermaksud, kakiku melangkah menuju deretan rak makanan ringan. Berdiri di depan rak tersebut, Aku tersadar berapa banyak Aku telah tumbuh tinggi. Potato chips kemasan besar, dulu terasa begitu jauh bahkan dengan melompatpun tidak bisa kujangkau, sekarang berada tepat di hadapanku. Aku pun mengambilnya, seutas senyum simpul muncul di wajahku.

Sampai di kasir, Aku sedikit kaget mengetahui kalau harga potato chips ukuran besar ternyata tidaklah semahal yang pernah kukira. Bahkan jika dibandingkan, harganya tidak terpaut jauh dengan harga kemasan kecil, dua kali lipat pun tidak sampai. Kalau dulu Aku menyisihkan uang jajan beberapa hari lagi, pikirku, Aku sudah punya cukup uang untuk membeli kemasan besar. Dengan perasaan sedikit dongkol, Aku berjalan pulang ditengah terik musim kemarau.

Aku masuk rumah berusaha tanpa membuat suara, dan langsung lega begitu mengetahui kalau kakak perempuanku belum pulang. Walau setahuku dia bukanlah penggemar potato chips, tapi tetap saja, membiarkannya melihatku membawa bungkusan dari toko swalayan adalah suatu hal yang sebaiknya dihindari. Dengan langkah ringan Aku masuk ke kamar, lalu kututup pintunya.
Setelah berganti pakaian, kubuka sebuah novel yang baru separuh kubaca dan kubentangkan di atas meja belajar. Dari dalam kantong plastik swalayan kukeluarkan potato chips ukuran besar itu, dan kutarik terbuka bungkusnya. Potato chips itu terbuka dengan bunyi ‘poff’.

Kuintip ke dalam kemasannya, dan menemukan kalau sekitar tiga perempat dari isi kemasan itu hanyalah udara hampa. Hanya ada sedikit potato chip, berhimpit ketakutan di dasar kemasan seperti anak SD pada hari imunisasi. Mungkin inilah kenapa harga kemasan kecil dengan kemasan besar tidak terpaut jauh, pikirku. Aku merasa telah dikhianati.
Tapi tidak ada yang bisa kulakukan. Dengan sehela nafas kuambil sepotong dan kugigit patah lalu kukunyah dengan cepat. Rasanya sama persis dengan yang kuingat. Lalu lanjut mengunyah potato chips itu sepotong demi sepotong. Juga mengemutnya seperti yang dulu sering kulakukan, merasakan kerenyahannya melebur di lidahku, mengirim bumbunya mengaliri rongga mulut sampai tenggorokan. Aku tersenyum, bungkus nostalgia dalam hatiku terbuka dengan bunyi ‘poff’.

Setelah beberapa waktu, Aku mulai merasakan perih di lidah dan sekitaran mulut. Perutku juga terasa kenyang, bahkan agak mulas. Apa Aku makan terlalu cepat terlalu banyak? Tapi kuintip ke dalam bungkusan, potato chips itu bahkan belum berkurang separuhnya. Kuambil sepotong lagi dan kutimang-timang sesaat, lalu Aku menyadari kalau ukuran potato chips ini lebih besar dan bundar dari yang biasanya kumakan dulu. Potato chips dulu biasa kubeli isinya kecil-kecil dan pecah-pecah. Dan juga, walau hanya terisi seperempatnya, ukuran kemasan yang lebih lebar tentu membuat jumlah potato chips di dalamnya juga lebih banyak. Terlambat menyadari hal remeh seperti itu, Aku tiba-tiba merasa bodoh.

Cahaya matahari siang menerpa membentuk siluet segi empat diatas lantai saat Aku membuka pintu dapur. Sehembus angin membawa sehelai daun dari pohon yang jauh, melayang-layang sampai membentur jendela kaca dengan ketukan pelan. Aku meraih keatas rak dapur, tempat dimana ibuku biasa menyimpan karet gelang, lalu mengikatkannya pada bungkusan potato chips yang masih tersisa separuhnya itu. Aku menarik pintu kulkas terbuka, dan seketika Aku teringat pada anak kecil di taman kota waktu itu. Aku tidak tahu apakah dia benar-benar anaknya gubernur atau bukan, tapi satu hal yang bisa kupastikan, kenyataan kalau dia bisa memakan potato chips ukuran besar dengan santai, dia pasti benar-benar menyukai potato chips.

Cerpen Karangan: Abdul Hafez Mubarak

Cerpen Potato Chips merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


First Time

Oleh:
Sekolah menunggu bemo lewat tapi bemo seakan enggan ada yang lewat di depan sekolahnya, semua ini karena lina teman sebangku sekaligus sahabat Dinda yang meminta ditemani karena sedang menunggu

Pendengar

Oleh:
Hujan turun begitu deras. Sampailah di sebuah tempat yang beratap, hingga tak lagi ada butiran air hujan yang jatuh di atas kerudungku. Segera berjalan agak cepat, menghiraukan pemandangan tak

Kamu Dan Roti Buayaku

Oleh:
“Bos, pesenan roti nambah lagi nih bos” ujar lelaki berambut cepak kepada atasannya itu “Alhamdulillah rezeki kita berarti. Emang nih bulan kayanya lagi rame bener buat orang nikahan” sahut

The Meeting

Oleh:
Hmm… Kota Malang. Kota dingin yang menyajikan sejuta keindahan. Kota pelajar yang tak jarang mengundang romantisme para insan manusia di dalamnya, tak terkecuali diriku. Ya, Malang memang menjadi saksi

Siapa Kamu?

Oleh:
New York, 2016. Pusat perdagangan dan pemukiman penduduk Amerika Serikat. Aku berada di sini sekarang untuk menuntut ilmu. Kehidupan di sini agak memuakkan. Sangat jauh dari apa yang dibayangkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Potato Chips”

  1. reza says:

    ijin copy , buat tugas bahasa Indonesia saya
    🙂

Leave a Reply to reza Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *