Salah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 6 November 2017

Matahari naik perlahan bak menghargai kebangunanmu yang akan terlambat. Sinarnya menembus celah-celah bangunan tinggi pengokoh dunia. Merambat lurus -kata buku fisika, hingga menyusup ke ruangan-ruangan berisi kepenatan anak adam. Memaksa mereka terbangun. Menghancurkan mimpi-mimpi indah yang termainkan. Menyelamatkan dari mimpi-mimpi buruk pengganggu.

Pagi.
Kata orang pagi yang baru akan membawa semangat baru. Akan membuat perubahan baru. Akan menyampaikan hal-hal positif untuk tubuh. Akan membuatmu tersenyum. Akan ini, akan itu, dan banyak akan-akan lainnya.
Tak dipungkiri, yang dikatakan itu memang benar. Tapi, ada yang salah pagi itu. Ah tidak, bukan salah hanya berbeda saja.

Pagi itu Lala dapati lebih dari 30 pesan dari 5 chat whatsapp-nya. Ia cek satu persatu hingga tiba di satu pesan, yang mana itu dari seniornya. Lala adalah wartawan. Tadi malam ia mendapat semprotan -ceramah singkat- dari narasumbernya yang tak lain tak bukan adalah senior yang mengirima pesan tersebut. Lala lelah berurusan dengan senior itu. Ah tidak, bukan karena senior itu menyebalkan. Hanya saja Lala merasa dirinya tak pernah salah. Hingga ketika seniornya itu memarahinya, Lala agak tertegun bisa dibilang.

Ia baca pesan itu yang ternyata berisikan nasehat lagi. Tidak, Lala bukannya tidak mau dinasehati, tapi sekarang lagi-lagi ia dimarahi.

“Maaf, Lala. Apa Lala memposting foto acara kemarin?” Tulis senior tersebut. Tertera pada jam 4.30 am. Astaga saat itu hp nya belum dihidupkan. Paket data yang belum dihidupkan maksudnya. Sekarang jam 7 am. Lala telat membalas.

“Eh, iya, Kak. Lala yang upload,” Lala membalasnya. Berusaha sopan. Tak lama, Lala mendapat balasan,
“Hati-hati meng-upload foto. Sudah izinkah? Di sini upload foto ke medsos ko sangat-sangat tidak etis.
Apalagi untuk acara di ruangan tertutup. Ada diantara orang-orang tersebut yang pakai penutup wajah, ada yang tidak pakai kaus kaki, dll. Hati-hati Lala!”

Lala hanya menatap kosong pesan tersebut. Tak lama setelahnya ia hapus foto yang sudah di upload ke facebook redaksinya itu. Kemudian bilang kepada seniornya bahwa fotonya sudah dihapus.

“Alhamdulillah. Semoga tidak terulang kedepannya ya, Lala,”
“Iya, Kak. Mohon bimbingannya,” balas lala disertai emot menyatukan kedua tangan berarti maaf.
Lala menghela napas panjang. Lalu ia lanjutkan kegiatannya yang tertunda sebelumnya.

Baru setengah berdiri, satu pesan masuk ke smartphone Lala. Cek atau tidak? Pikirnya. Baiklah, ia cek pesan itu terlebih dahulu. Siapa tahu penting?
Setelah dicek, benar saja. Penting ternyata. Seniornya yang lain bertanya hal yang sama -mungkin. Sebenarnya hanya tertulis,

“Salam. Maaf Lala. Boleh kakak tanya sesuatu?”
Cih! Basa-basi. Langsung saja Lala jawab,
“Tidak, Kak. Tidak boleh,” eh Lala tidak sekejam dan setidak sopan itu. Tentu saja ia balas baik-baik.
“Iya, kak. Lala yang upload. Udah dihapus. Maaf ya kak. Maaf juga buat kakak-kakak lainnya,” tulis Lala yang dibalas hanya dengan jempol.

4 jam kemudian sekitar jam 11 am, Lala mendapat pesan lagi dari sang senior satu- sebut saja begitu. Dituliskan padanya,
“Salam. Sepertinya Lala dari media yang bersangkutan harus meminta maaf karena sudah memposting foto tanpa izin. Kakak jadi banyak ditanya tentang wawancara semalam. Khawatir yang baca status tersebut mengira kakak yang mengirim foto dan mengizinkannya untuk diupload. Ketua umum acara juga menanyakan. Jadi baiknya sampaikan juga permintaan maaf Lala karena sudah mencatut tanpa izin,”

Apa? Meminta maaf? Ia harus meminta maaf? Well, sebenarnya tak masalah. Tetapi kata-katanya adalah dari redaksi yang bersangkutan.

Apa-apaan ini? Lala galau saudara-saudara! Serius demi apapun. Ia ingin-ingin saja meminta maaf karena ia yang salah. Tetapi meminta maaf di media sosial? Astaga, bisa buruk nama redaksinya. Bagi Lala, jika memang kesalahan dia yang buat tak masalah menanggung malu. Tetapi jika ia membuat malu redaksinya, tidak tidak, tidak boleh. Lala pun mencari-cari cara. Bagaimana sebaiknya? Ia meminta maaf tanpa mempermalukan redaksi tempatnya bekerja.

Apa ia seperti artis saja? Lama-lama juga akan hilang, bukan?
Tidak tidak, tidak bisa. Tidak boleh. Nanti malah senior itu yang membocorkan ke media. Bisa saja ia menyangkal, tetapi apakah dengan begitu masalahnya selesai? Bukannya berhenti malah makin terbakar. Redaksinya bisa hancur. Astaga, luar biasa sekali kecerobohan Lala ini. Ia merasa~
~bingung.

Baiklah. Sepertinya Lala akan men-japri semua anggota acara kemarin. Well, bagaimana caranya? Ia tak punya semua nomor mereka.

Lala tengadahkan wajahnya ke atap- karena langit ketutup atap. Ia menutup mata. Berusaha menghilangkan kejengkelan ini. Okay, ia akan meminta maaf. Lewat seniornya tadi saja.

“Assalamualaikum. Saya Lala dari redaksi terkait. Saya mohon maaf karena sudah memposting foto kegiatan tanpa izin- sudah saya hapus.
Saya juga mohon maaf kepada kakak @?? karena jadi banyak yang tanyain beliau terkait foto tersebut.
Maaf ya kakak-kakak semuanya.
Mohon bimbingan untuk ke depan.
Terima kasih.”

Selesai satu pesan. Lala tulis pesan kedua,

“Nb: kakak tolong di forward ke grup acara kemarin ya kak. Pasti ada grupnya kan ya? Acara organisasi soalnya (emot senyum). Ah ya, buat ketua umum sudah Lala japri ya kak. Mohon maaf.”

Setelahnya Lala tekan tombol send di sudut kanan bawah. Satu detik setelahnya, pesan itu berputar ke angkasa lalu ditembakkan ke smartphone milik sang senior. Teknologi manusia.
Langsung dibaca. Seniornya langsung membaca.
Lala tidak sopan sekali dalam berbicara kepada seniornya itu pada kalimat-kalimat terakhir. Pada pesan kedua. Lala tahu. Ia ketik lagi satu kalimat,

“Maaf kak. Kalimat yang setelahnya ga sopan. Di awal kerja, Lala punya kontrak buat jaga nama baik redaksi. Jadi hanya ini satu-satunya cara agar Lala bisa minta maaf sekaligus menjaga nama baiknya. Sekali lagi mohon dimaafkan,”

Send.

Terkirim.

Dibaca.

“Iya, La. Maaf ya jadi merepotkan. Terima kasih,”

Lala tersenyum. Berusaha sabar dan ikhlas. Ia pun membalasnya.

“Gak papa kak. Lala yang salah,”

Ia tutup smartphonenya. Lalu beristighfar. Ya Allah, bantu dan mudahkanlah.

Cerpen Karangan: Raudhah El Hayah
Blog: raudhah.elhayah.blogspot.com

Cerpen Salah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sandiwara Agustus

Oleh:
Pada sore hari terdengar langkah kaki yang menuju ke kamarku, pelan-pelan langkah kaki itu semakin dekat. Saat aku membuka mata, Ibu sudah ada di depan mataku. Aku menatap Ibu

Cinta Hujan

Oleh:
“kulihat kau senyum-senyum terus, apa yang membuatmu bahagia?” celetuk temanku, “hujan” jawabku singkat. “hujan, kau ini semakin hari semakin aneh saja” tegasnya. “banyak anugerah yang turun bersama hujan, kau

The Meeting

Oleh:
Hmm… Kota Malang. Kota dingin yang menyajikan sejuta keindahan. Kota pelajar yang tak jarang mengundang romantisme para insan manusia di dalamnya, tak terkecuali diriku. Ya, Malang memang menjadi saksi

Bulan Gundah

Oleh:
“Mengapa aku harus memilih, sedang semuanya bukanlah pilihan bagiku.” “Tapi kamu harus cepat-cepat menentukannya.” “Aku tidak bisa.” “Ini bukanlah tentang bisa atau tidak bisa, tapi ini tentang mau atau

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *