Second Chance

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 16 August 2019

Kaki mungil tak beralas itu berada berada di ujung atap sebuah gedung pencakar langit. Tak ada lagi rasa getir di hatinya. Kaki itu bergerak maju ragu-ragu. Dingin menusuk hingga tulang terdalam. Tapi tangis mengalahkan rasa apapun. Ia tak pernah menyangka hidup sebatang kara sangatlah menyakitkan. Keputusannya berdiri di ujung rooftop gedung perkantoran ini tepat rasanya.

Semilir angin malam membelai wajahnya yang sembab. Pijakannya semakin mantap. Matanya terpejam dan ia telah siap untuk menjatuhkan semua beban hidupnya. Satu… dua… tiga… ia mengayunkan tubuhnya terjun bebas. Tapi.. tapi rasanya ada yang janggal.
Pertama, ia menjatuhkan tubuhnya selembut mungkin. Tapi ini rasanya seperti seorang menarik tubuhnya paksa. Kedua, ia jatuh sangat cepat. Itu tak mungkin terjadi, nyatanya gedung ini cukup tinggi. Satu lagi ia merasakan desah napas seorang di wajahnya.

Ya… ampun! Wanita itu menindih tubuh seorang pria, langsung saja wanita itu berdiri menjauh. Tapi.. tunggu dulu. Ia masih mengenali tempat ini. Rooftop? Ya wanita itu masih berada di puncak gedung tinggi itu dan jalan raya masih berada jauh di bawah sana.

“Hey! Apa kau bodoh? Bagaimana kalau kau benar-benar jatuh. Hah!! Dasar ceroboh!” Pria itu mencoba berdiri setelah mulutnya sedikit menceramahi wanita itu. Wanita itu hanya menunduk malu.
“Apa kau sadar? Kelakuanmu itu bisa membahayakan dirimu. Kau bisa mati konyol.” Pria itu tak hentinya mengoceh.

Setelah situasi sedikit lebih tenang. Mereka berdua duduk bersama di pinggiran puncak gedung itu. Wanita itu menatap langit yang bertabur bintang dengan miris.
“Sebenarnya apa yang kau lakukan tadi?” Pria itu mencoba membuka obrolan mereka.
“Bunuh diri.” Jawab si wanita singkat.
“APA?” Pernyataan si wanita sukses membuat si pria membelalakkan matanya.
“Tuhan begitu sayang. Mati hari ini aku belum diizinkan.”
“Kenapa kau mencoba bunuh diri?” Tanya si pria.
“Kenapa kau menyelamatkan aku?”
“Hey! Naluri manusia untuk saling menolong.” Jelasnya.
“Kau tidak menolongku.”
Lagi-lagi si pria menatap tajam ke arahnya.

“Terima kasih.”
“Sama-sa–”
“Terima kasih karena kau membuatku harus lebih lama menanggung beban dan menjalani kehidupan sialan ini.”
“Apa maksudmu?” Tanya si pria penasaran.
“Tidak ada. Terima kasih telah menolongku.” Ucap si wanita sambil mengulurkan tangan.
“Sama-sama. Andra.” Pria itu menyambut uluran tangan itu.
“Tecla.” Wanita itu tersenyum.

“Andra? Kenapa tidak Andro. Andromeda?” Tecla sedikit menjahilinya.
“Andromeda saudara kembarku. Aku Andromeda.”
“Serius?” Tecla tak percaya.
Andra mengangguk keras, tanda serius dengan ucapannya. Hal itu membuat Tecla tergelak. Andra hanya menatap heran Tecla kemudian ikut bergabung bersamanya menertawakan entah apa itu yang lucu.

Cerpen Karangan: Ameliahans

Cerpen Second Chance merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rindu Di Balik Hujan

Oleh:
Rintik hujan mewakili rindunya pada seseorang. Pikirannya terbang jauh menembus awan gelap. Termenung di balik jendela menatap tiap tetes air yang jatuh membasahi bumi. Sudah lama ia tidak bertemu

Ketika Kau pun Menjagaku

Oleh:
Malam itu ada yang aneh dengan mata saya, entah kenapa tapi air matanya selalu saja keluar. Padahal tidak kemasukan benda sekecil apapun. Saya lihat di cermin pun tidak kelihatan

Bolehkah Aku Bertanya?

Oleh:
Tengah malam aku tersentak dari tidurku, aku merasa tak nyaman dan mengingat-ingat mimpi apa aku barusan. Namun, aku sama sekali tak ingat mimpiku, lalu aku putuskan saja untuk tidur

Tanpa Kata

Oleh:
Hujan di sore itu, menggerus hati yang tenang, membangkitkan kenangan dalam awang-awang, menunjukkan sesuatu yang hilang. Di hari dimana aku berkumpul dengan mereka yang juga memiliki tujuan yang sama,

Antara Aku dan 2 Dimensi

Oleh:
Angin berhembus sembari berjalan melalui celah-celah gedung perkantoran di kotaku. Sejuknya angin dan cerahnya mentari membangunkanku dengan lembutnya. Suara kendaraan yang mulai berlalu lalang di depan rumahku seakan-akan memaksaku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *