Surat Untuknya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 9 October 2017

Ia berdiri di sana, sedang berbicara dengan seorang pelayan yang hendak mengantar pesanan. Tubuhnya tinggi, tegap, dan yang pasti, menawan. Baiklah, ini mudah. Aku hanya perlu mendekatinya dan menyerahkan surat ini. Kuharap ia baru membukanya setelah aku pergi. Aku tak ingin ia tertawa di depanku saat membacanya.

Seandainya Rosa tidak membuat ide gila ini, aku tak akan berada di posisi sulit. Seharusnya aku hanya duduk diam dan dia yang mendatangiku. Aku tak perlu repot menulis surat dan mengungkapkan apa yang aku inginkan. Rosa benar-benar tidak waras. Jika aku mengatakan ingin laki-laki itu menghampiri mejaku, bukan berarti jika gadis berambut keriting itu bisa mengusulkan ide seperti ini.

Sayangnya aku kalah saat bertaruh lempar koin dengan si keriting itu. Jika aku menolak, gadis blasteran ini tak akan mau membantu menjaga Vivi, keponakanku, sepanjang malam nanti selama aku menghadiri pesta pernikahan Julia. Terpaksa aku harus menuruti perintahnya untuk menulis surat dan mendatangi laki-laki rupawan itu lebih dulu. Ini memalukan sekali. Aku ini perempuan dan dia seorang laki-laki. Seharusnya laki-laki yang mendatangi perempuan bukan sebaliknya. Dan lagi, mengungkapkan keinginan padanya lewat sebuah surat…
Kuharap Erwin tak pernah tahu masalah ini atau dia akan memenggal leherku. Dia bisa salah paham jika kekasihnya yang cantik ini mendekati pria lain.

Kulirik Rosa yang mendelik menyuruhku mengerjakan tugas secepatnya. Kami memang berteman di luar kampus, tapi tetap saja aku adalah dosennya. Lain kali aku harus memberi nilai C untuknya jika ia berani mengerjaiku seperti ini lagi. Kukuatkan batinku sendiri bahwa aku melakukan hal bodoh ini untuk Vivi. Ya. Untuk Vivi.

“Permisi,” tegurku setelah menarik napas panjang.
“Ya?” sahut lelaki itu dengan suara bariton yang seksi. Terlalu banyak keistimewaan pada dirinya yang tak manusiawi. Tidak adakah satu kekurangan saja yang dimilikinya agar terlihat lebih normal sebagai seorang manusia?
“Aku … Umm … Aku ingin memberikan ini,” ucapku kikuk.
Lelaki itu mengernyit sambil menerima lipatan kertas yang kuberikan.
“Apa ini?” tanyanya sambil menatapku kembali.
“Baca saja. Mejaku di sebelah sana. Ada gadis berambut keriting dengan baju merah. Kau lihat?”
“Ya.” Pria itu menoleh ke arah Rosa yang melambai dengan genit. Sial. Mukaku pastilah merah saat ini. Bahkan Rosa mengedip nakal membuatku malu mengenalkannya sebagai teman.
“Kalau begitu, aku kembali lebih dulu.”
“Tunggu dulu,” tahannya meraih lenganku.

Aku melirik tangannya seketika. Sadarlah lelaki itu bahwa aku tak ingin disentuh meski aku tak keberatan. Ia menurunkan tangannya dengan tatapan memohon maaf.

“Kau memperhatikanku sejak tadi?” tanyanya to the point.

Memalukan. Memalukan. Ternyata dia sudah tahu sejak tadi. Seharusnya aku tak perlu repot menulis surat dan mempermalukan diri seperti ini. Cepat atau lambat, ia pasti akan menghampiri meja kami. Lelaki itu tersenyum yang kuartikan sebagai menertawakan kebodohanku.

“Maaf. Aku hanya tak tahu bagaimana harus mengatakannya,” ucapku semakin kikuk dan gugup.

Tuhan, semoga aku tidak bertemu mahasiswaku yang lain di sini. Aku tak pernah segugup ini berdiri mengajarkan materi Hukum Pertanahan selama dua jam di depan kelas.

“Aku mengerti. Maaf jika membuatmu mengatakannya lebih dulu,” ucapnya dengan senyum simpatik yang memukau.
“Aku akan menunggu di meja saja.”

Ia mengangguk setuju. Bergegas aku kembali menghampiri Rosa yang bersiap mendengar hasil pembicaraanku dengan laki-laki tampan itu. Semoga hanya sekali ini saja Rosa menyuruhku menulis surat untuk hal seremeh ini.

“Jadi?” tanya Rosa tidak sabar.
Kualihkan pandangan pada lelaki berpakaian seragam yang kini berdiri di depan counter.
“Dia sudah mengerti maksudku. Seharusnya kau tak perlu menyuruhku menulis surat untuk hal ini, Ros,” dengusku sambil memijit kening.
“Hei, kau selalu mengajarkan untuk menjabarkan semua permintaan dalam bentuk hitam di atas putih. Kau ini dosen hukum.”

Aku tak menyahut ucapan si keriting itu. Laki-laki tadi sudah datang dengan nampan di tangan berisi pesanan yang kuminta juga mengambil pesanan yang salah dari atas meja. Bagus sekali dia tidak melewatkan sepotong kentang pun dan semuanya sesuai dengan yang kutulis. Dia mengumbar senyum manisnya sambil mengucap maaf sekali lagi sebelum pergi.

“Lain kali aku tak akan datang ke restoran ini lagi,” gerutuku sambil menuang saus kacang ke atas makanan. “Mereka sering sekali mengantar pesanan yang salah.”

Cerpen Karangan: Amarta Shandy
Facebook: @amarta.shaddy

Cerpen Surat Untuknya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hujan

Oleh:
Kala itu aku sangat kesal dan menggerutu “kenapa hujan turun saat aku akan pulang?” Entah kenapa kaki ini melangkah ke arah parkiran khusus karyawan di gedung dimana aku bekerja,

Bermain Adalah Hobiku

Oleh:
Masa kecilku di sebuah kampung yang banyak pepohonan dan rumah, banyak anak-anak yang seusiaku yang bermain di lapangan dekat masjid. Biasanya anak-anak berkumpul dan bermain setelah solat ashar. Dan

Kue Brownies Rasa Bedak

Oleh:
Hai namaku Keirasyta Inesia Mufidah!! Biasa dipanggil Mufi, tapi keluargaku memanggilku sih Rasyta, tapi kalian semua panggil aku Mufi saja… Aku bersekolah di MI (Madrasah Ibtidaiyah) NUR-ISLAMIATULLAH. Kelas 6-Hamzah

Bulan Gundah

Oleh:
“Mengapa aku harus memilih, sedang semuanya bukanlah pilihan bagiku.” “Tapi kamu harus cepat-cepat menentukannya.” “Aku tidak bisa.” “Ini bukanlah tentang bisa atau tidak bisa, tapi ini tentang mau atau

Lovely Mangki (Part 1)

Oleh:
Pagi ini, sekali lagi setelah berkali kali mamaku disakiti. Fisik maupun perasaan, langsung maupun tidak, mamaku disakitin lagi!. Dasar kau GILA!! Terkadang memuji-muji mamaku, terkadang menjelek-jelekkannya! Apa maumu! Suatu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *