Tentang Kirana

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 10 September 2018

Namanya Kirana, dia gadis yang menyukai anak kecil dengan caranya. Kirana, atau yang bisa dipanggil Kira atau Rana suka memasak tapi bukan berarti dia pintar memasak, memasak itu hobi, itu yang dikatakan Kirana saat ditanya. Satu hal, dia punya banyak kerendahan hati untuk orang yang membuatnya marah. Iya, dia pemaaf dan kadang orang di sekitarnya berusaha untuk membuatnya marah. Mereka ingin tahu kenapa Kirana itu gampang memberi maaf padahal jika itu mereka, mereka pasti marah. Jujur saja, rasa penasaran mereka itu bukan hal yang baik untuk dijadikan mainan, mereka hanya tidak tahu saja.

Hari ini Kirana akan pergi ke pasar mengikuti om dan tantenya beserta dua anaknya. Rio yang sepuluh tahun dan adiknya Mia empat tahun. Mereka berencana akan membeli baju baru dan beberapa keperluan dapur juga sayuran.

“Tante, pasar mana yang akan kita kunjungi?”, tanya Kirana yang melihat tantenya sedang memakaikan baju untuk si kecil, Mia.
“Ah, Kira. Tante pikir lebih baik di pasar desa sebelah barat, bagaimana?”
“Yeyy! Aku mau beli baju balu, mba Kila mau aku belikan baju gak?”, ucap Mia yang antusias mendengar kata pasar.
“Oh ya? Mba Kira tentu mau, beneran Mia?”
“Hu um”. Si kecil Mia menganggukkan kepala yang terlihat lucu.
“Emang Mia punya uang?”
“Bunda punya, iya kan Bun?”
Tante Pia, Bunda Mia tersenyum menanggapi putri semata wayangnya. Dan batin Kirana diam-diam mencelos. Kemungkinan kecil, itu yang ada di dalam pikirannya yang membuat Kirana gelisah. Dia berusaha menenangkan hatinya, semua akan baik-baik saja.

“Bunda, mba Kira, ayo!” seru Rio yang muncul menyadarkan lamunan Kirana.
“Ya ini juga sudah selesai, Rio”, sahut tante Pia.
“Ayolah Bun, keburu siang”, rengek Rio kembali.
“Aku mau digendong mba Kira!”
“Sini Mia, mba gendong,”

“Sudah siap semua?”, tanya om Hari yang sepertinya sudah gak tahan menunggu di luar rumah.
Semua mengangguk menjawab pertanyaan om Hari. Bersama-sama mereka menuju pasar.

Mata Mia berbinar senang kala melihat banyak penjual, bahkan berteriak kesenangan menunjuk apa saja dan bertanya apa saja.
Kirana juga tersenyum lega, kali ini dia berusaha melepas bebannya. Perlahan-lahan dia juga berhak tersenyum bahagia. Tuhan masih menyayanginya, dia sadar itu tapi dia sedikit mengingkari.

Di tengah hiruk-pikuk, di antara banyaknya pejalan kaki Kirana benar-benar tersenyum ceria hingga saat seseorang menghentikan kesibukannya memilih-memilah. Seseorang mengenali dan memanggil namanya. Seseorang mengingatkannya dan sayangnya seseorang itu salah satunya.

“Gimana kabarmu, Rana?”, Kirana tersenyum manis berharap ini mengobati rasa sakit yang tiba-tiba datang tapi tak urung juga kelegaan menyelimuti hatinya.
“Bersyukur, aku baik-baik saja”
“Kamu masih ingat kan sama aku Rana?”, seseorang itu tersenyum lebar yang dibalas Kirana tentunya tak kalah manis.
“Ingat. aku gak lupa”, tapi ada sedikit keraguan di ucapan Kirana.

Tentu saja aku ingat. Bagaimana aku bisa lupa dengan gadis di hadapannya ini, yang pernah ikut andil dalam kisah hidupnya. Batin Kirana tersenyum laga namun disaat bersamaan membeku saat bayangan masa lalu menghampiri. Kirana hanya berusaha merelakan walaupun itu sulit.

“Yau udah aku duluan ya, Rana?”
“Oke.”
Gadis itu pun berlalu kembali menjalankan langkahnya yang tertunda dan meninggalkan Kirana dengan sejuta perasaan.

Cerpen Karangan: Ma’dani Mushofa
Facebook: Ma’dani Andshi Vienisya
Salam kenal, ini cerpen pertama 🙂

Cerpen Tentang Kirana merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


A Wind Of Change

Oleh:
Berjalan di bawah rintik-rintik hujan membuat Nafisa seperti menemukan hal yang baru. Tetesan hujan sore itu membasahi kerudung abu-abu yang dikenakannya. Bahkan tetesan hujan itu juga telah menembus jaket

It Was Fairytale

Oleh:
Seorang wanita dewasa melangkahkan kaki di antara keramaian orang-orang yang sedang berpelukan. Mencoba mencari jalan di antara orang-orang itu. Dan terlihat seorang wanita sedang menunggu di persimpangan lorong sekolah

Cinta Hujan

Oleh:
“kulihat kau senyum-senyum terus, apa yang membuatmu bahagia?” celetuk temanku, “hujan” jawabku singkat. “hujan, kau ini semakin hari semakin aneh saja” tegasnya. “banyak anugerah yang turun bersama hujan, kau

Sepotong Siang

Oleh:
“Suara berat khas lelaki menyadarkan aku bahwa aku masih berada di indomaret dan tidak sedang tertidur di kasur empukku.” Suara tuts keyboard menggema dari komputer di hadapanku. Aku sekarang

Karena Loncat Tali

Oleh:
Hari ini aku duduk termenung di teras rumahku, aku memikirkan nasibku yang hingga sekarang belum mendapatkan pekerjaan. Saat ku termenung sendiri, kulihat tiga anak kecil berlari hilir mudik tepat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *