Umbrella

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 16 June 2021

Malam ini kota disiram hujan deras. Seluruh permukaan jalanan dan atap-atap toko basah kuyup tanpa kecuali. Kendaraan berlalu, menyipratkan genangan air.

Saat ini Bintang tengah berdiri di bawah kanopi di depan sebuah toko, bersama beberapa orang yang berkumpul di tempat yang sama, menunggu hujan reda. Nasibnya apes karena dia berdiri di paling depan, rentan terkena air. Bahkan bagian ujung celananya sudah basah.

Seharusnya ia mendengarkan Ibunya. “Bawa payung, siapa tahu hujan. Di luar mendung.” Namun Bintang hanya membalasnya dengan, “Ah, aku hanya keluar sebentar, Bu. Aku akan segera pulang sebelum hujan turun.” Dan sekarang di sinilah dia berada, terjebak di bawah serangan air deras tanpa bisa kemana-mana.

Dan sepertinya bukan hanya dirinya. Terlihat banyak orang di luar juga berteduh di kanopi-kanopi toko. Mereka juga sama seperti Bintang, kurang siaga.

Sambil menunggu—karena sepertinya hujan ini akan berlangsung lama—Bintang memutuskan untuk masuk ke dalam toko saja. Tadinya Bintang kurang memperhatikan, toko ini ternyata toko roti. Setidaknya ia bisa membeli satu roti di sini untuk mengganjal perutnya.

Bintang mengambil satu roti croissant, lalu berjalan ke kasir untuk membayar. Awalnya Bintang hanya berniat membeli satu benda saja, namun ujung matanya melihat sebuah keranjang putih yang di atasnya mencuat sebuah tongkat. Penasaran, Bintang menggeser kepalanya supaya bisa melihat dengan jelas apa benda itu.

Kebetulan sekali. Toko ini ternyata menjual payung. Tapi Bintang merasa tidak perlu membeli payung. Ia berpikir bahwa hujan akan segera berhenti dan dirinya bisa langsung pulang. Namun pikirannya seketika berubah ketika melihat ke arah jam dinding yang terpajang di belakang kasir. Jarum pendek telah menunjuk tepat ke angka sembilan. Bintang harus segera pulang atau Ibunya akan mengomelinya habis-habisan.

Baiklah, lebih baik mengorbankan uang daripada harus menghadapi sapu melayang. Bintang menarik keluar sebuah payung putih, menaruhnya di atas meja kasir di samping roti croissant-nya.
“Payungnya sekalian, Mas?” tanya kasir. Bintang mengangguk, kemudian mengeluarkan dua lembar uang kertas.

Bintang segera membuka payungnya. Kini ia bisa pulang tanpa khawatir basah, walaupun Ibunya tetap akan memarahinya. Biarkan saja, Bintang sudah pasrah.

Namun Bintang tidak segera bergegas. Ia menatap trotoar, diam sebentar. Tepat di sampingnya, seorang gadis muda sedang berdiri di bawah kanopi toko sebelah. Bintang sedikit menoleh.
Gadis muda itu terlihat cemas dan terburu-buru. Matanya mulai berair sembari menatap ke arah halte bus yang posisinya berada tepat di seberang, seolah khawatir dengan sesuatu.

Melihat itu, Bintang jadi sedikit kasihan. Gadis muda ini sepertinya masih di jenjang SMA. Tidak baik untuknya berada di luar terlalu lama, apalagi hujan-hujanan begini.

“Adik butuh payung?” Bintang mendekati gadis muda itu, menyodorkan payungnya.
Gadis muda itu sedikit terlonjak, menatap balik ke arah Bintang. Tertegun, gadis itu terlihat kebingungan. Antara ingin menggeleng dan mengangguk.

Lelaki berusia sembilan belas tahun itu tersenyum ramah. “Sepertinya adik mau ke halte di seberang ya? Kamu boleh pinjam payung ini, kakak antar. Nanti kamu ketinggalan bus.”
Gadis itu terdiam lagi, lalu dengan malu-malu mengangguk pelan.

“Ayo.” Bintang mengulurkan tangan. Gadis muda itu ragu-ragu, namun akhirnya menyambut tangan Bintang, berdiri.
Mereka berlari-lari menyeberangi jalanan. Lengan mereka bersentuhan karena payung itu tidak cukup melindungi dua orang. Rambut mereka terkena rintik-rintik air.

Dan sampailah mereka di halte, segera berteduh di bawahnya. Gadis itu berterima kasih pada Bintang. Mereka berdua duduk di bangku halte.

“Apakah tidak apa-apa meninggalkannya di sini sendirian?” Bintang ragu-ragu menatap gadis itu. Separuh hatinya ingin menemani gadis ini. Bisa berbahaya kalau dia sendirian, apalagi di sekitar sudah mulai sepi dan gelap. Ditambah lagi dengan hujan yang membuat hawa semakin dingin.

Belum selesai Bintang menimbang-nimbang, sebuah bus berhenti tepat di depan mereka. Gadis itu berdiri, hendak masuk ke dalam bus. Namun sebelum itu, ia menoleh ke Bintang, menatapnya.
“Terima kasih, kakak.” Gadis muda itu tersenyum. Lantas bus itu telah membawa gadis itu pergi, meninggalkannya sendirian di bawah halte.

Bintang tersenyum. “Tidak masalah.”

Cerpen Karangan: Zahra Kirana
Blog / Facebook: Zahra Wirawan

Cerpen Umbrella merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


I Love Myself

Oleh:
Malam ini, di luar hujan sangat deras sekali. Suaranya terdengar bising di telinga, namun cukup menenangkan. Dan untuk mengisi kekosongan, aku memutuskan untuk bercerita. Bukan tentangku, tapi tentang temanku.

Satu Kontemplasi

Oleh:
Langit kini bermandikan warna hitam kelam bertiraikan bintang-gemintang. Dalam senyap malam, pria itu membanting tubuhnya ke pulau kapuk. Di pikirannya, telah terancang berjuta rencana yang akan ia lakukannya malam

Penggila Hati

Oleh:
Kesalahan terbodoh yang pernah kutemui, ialah kita melihat sebuah realita, dan kita tidak memercayainya. Namanya, Ana. Sahabatku sejak kelas dua SMP. Dia satu-satunya orang yang bisa mengerti apa yang

First Time

Oleh:
Sekolah menunggu bemo lewat tapi bemo seakan enggan ada yang lewat di depan sekolahnya, semua ini karena lina teman sebangku sekaligus sahabat Dinda yang meminta ditemani karena sedang menunggu

Bear Brand dan Gebetan

Oleh:
SUSU Bear Brand terteguk habis melewati kerongkongan. Keningku mengernyit. Rasanya hambar. Aku memang baru pertama kali mencicip si merek beruang dan terkagum-kagum saat menelusur kolom komposisi di permukaan kalengnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *