Cinta Punya Cerita (Part 2)

Judul Cerpen Cinta Punya Cerita (Part 2)
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Sunda, Cerpen Cinta Segitiga
Lolos moderasi pada: 23 May 2016

“Akhirnya, liburan di depan mata setelah mumet dengan pekerjaan,” ucapku membaringkan badan karena lelah. Aku mendengar Rina pulang diantar seseorang, ku intip dari jendela. “Kak Fahru?” ucapku hampir mau berdiri menemui tapi suara motornya berbelok langsung pergi.
“Assalammualaikum,”
“Waalaikumsalam,”
“Rin, tadi pulangnya diantar,” belum selesai bicara Rina sudah menyambungnya
“Teman gue Cin. Tadi itu teman gue,”

Aku sedikit mengerutkan keningku heran, “Kenapa dia berbohong?” dalam batinku, hatiku berkata sedikit aneh. Tapi aku segera melupakannya.
“Rin, aku ada libur seminggu, kita ke bandung yuk?”
“Aduuhh sorry Ta, lo kan tahu sendiri kerjaan gue banyak kalau akhir bulan, sorry yaa,” jawabnya dengan rasa bersalah. Aku mengerti, “Tidak apa-apa,” sembari tersenyum simpul. Siang hari saat di kantor, aku sudah siap menyiapkan bekal kembali untuk makan bersama, lalu Kak Fahru mengirimkan pesan.

“Maaf Cin, aku ada rapat jadi tidak bisa makan siang bareng,” aku menerimanya dengan sedikit rasa kecewa. Lalu teman sekantor mengajakku makan di luar sebelum libur datang, aku ikut dengan mereka, dan karena tidak mau membuang bekal yang sudah ku siapkan, aku memberikannya pada pak satpam di depan.
“Terima kasih neng Cinta,” kebetulan si bapak satpam pun asli dari bandung. Kami ikut mobil salah satu teman, berhenti di sebuah caffe dengan menyediakan menu berat, mencari tempat duduk lalu memesan. Saat asyik mengobrol, dari kejauhan aku samar-samar melihat Rina duduk sebelah sana agak jauh.

“Itu Rina,” aku tersenyum berniat menghampirinya, tiba-tiba aku dikejutkan Kak Fahru datang dan menghampiri meja Rina. “Rina.. Bersama Kak Fahru? Tadi Kak Fahru bilang dia ada rapat kenapa di sini?” jelasku sendiri, langkahku tersendiri saat salah satu teman memanggil karena pesanan makanan sudah datang. Saat menyantap makanan aku tidak terfokus, aku memikirkan kenapa mereka berdua bertemu di sini? Apakah tidak sengaja? Atau memang sudah dijanjikan?? Aku berpikir ke arah yang tidak baik. “Aahh mungkin mereka bertemu tidak sengaja.” aku berusaha mengalihkan pikiran burukku tentang mereka.

Saat malam datang pikiranku masih terfokus pada kejadian tadi siang, aku pun merasakan perubahan sikap pada diri Kak Fahru, dia bukan Kak Fahru yang ku kenal dulu saat masih bersama Kak Ainun. Kak Fahru bahkan memberikan perhatian selalu padaku walau saat itu aku hanya dianggap sebagai seorang adik, tapi sekarang ketika lebih dari seorang adik kenapa malah berubah.

“Rin, tadi siang aku lihat kau bersama Kak Fahru makan,”
“Ouhh.. Iyaa Cin, kebetulan itu Kak Fahru beres rapat jadi kita tidak sengaja bertemu, begitu.. Ceritanyaa.. Apa kau ada di sana juga,” jelasnya seperti terburu-buru.
“Iyaa.. Aku bersama teman kantor ke sana.”
Jawabannya membuatku ragu, tapi sekali lagi aku membuang pikiran buruk itu.

Di saat makan siang bersama.
“Kak, aku dapat libur seminggu. Sabtu minggu kita ke bandung yuk? Sekalian silaturahmi sama keluarga,” pintaku tersenyum senang.
“Maaf yaa Cin, kayanya gak bisa, kakak dan teman kantor sudah berencana ada kegiatan tanding futsal sama kantor atas, sekali lagi maaf. Tidak apa-apa kan?” Kak Fahru merasa bersalah. Aku tersenyum dengan berkata, “Iyaa, tidak apa-apa.”

Di dalam kost entah kenapa air mataku menetes, aku mengajak Kak Fahru agar dia mengenal keluarga dan dekat seperti dia dekat dengan keluarga Kak Ainun dulu. Aku mengusap air mataku. Saat hari libur tiba.. Aku membereskan pakaian karena akan berangkat ke bandung, handphone Rina berbunyi sedangkan dia sedang mandi, sebuah pesan singkat muncul dengan nama pengirim, aku tidak sengaja melihat pengirimnya karena handphonenya tidak jauh dari tempatku membereskan pakaian.

“Dari Kak Fahru?” karena penasaran aku langsung membukanya dan di situ tertulis pesan singkat
“Sayang, nanti siang aku tunggu di tempat biasa yaa,” Deg!! Hatiku langsung kaget, aku masih tidak percaya lalu ku samakan nomornya takut itu Fahru yang lain, dan ternyata sama.. Perasaan tidak bisa dibohongi, air mataku mengalir seketika.

“Jadi mereka berdua?” aku berusaha menahan tangis tapi tak bisa, aku langsung menghapus air mataku dan mengembalikkan handphone Rina saat dia ke luar dari kamar mandi.
“Aku kebelet,” aku langsung masuk ke kamar mandi dengan berbohong, ku nyalakan air keran penuh dengan suara yang keras, aku menangis di situ.
Aku menangis di kamar mandi sampai Rina pergi berangkat kerja, mataku bengkak, merah, dan masih sesenggukan karena sakitnya. Berangkat ke bandung dengan keadaan seperti ini, aku tidak mungkin untuk pergi.

“Bahkan untuk mengantarku ke terminal pun Kak Fahru bilang sibuk,” ucapku air mata pun kembali mengalir. Aku pergi ke suatu tempat untuk menenangkan hati dan pikiranku, aku terhenti di sebuah taman universitas trisakti jakarta, membiarkan air mata mengalir lalu segera mengusapnya, saat itu aku merasakan ada seseorang yang mengikutiku. Saat malam aku kembali pulang ke kost, dan aku melihat Kak Fahru mengantar Rina, sebelum mereka berpisah aku lebih dulu mendekati mereka.

“Jadi ini alasan Kak Fahru sibuk?” ujarku di depan Kak Fahru dan Rina mereka sangat kaget melihatku.
“Cintaa,”
“Cin, tolong.. Jangan berpikiran apa-apa tentang kita, Kak Fahru hanya mengantarku pulang,” bela Rina menyela.
“Mengantarkan pulang setiap malam, dan bertemu diam-diam untuk makan siang apakah aku harus berpikiran bahwa kalian tidak ada apa-apa?”
“Kak Fahru.. Kenapa seperti ini, kenapa kalian tidak jujur kepadaku?” air mataku mulai mengalir.
“Maafkan aku Cinta,” ujar Kak Fahru.

“Kakak tahu, sebelum Kak Ainun tiada dia bilang padaku untuk menjaga kakak, untuk selalu berada di samping kakak, aku berusaha untuk mengabulkan permintaan terakhirnya, aku berusaha agar kakak kembali bahagia setelah kepergian Kak Ainun, tapi apa yang kakak balas kepadaku apakah seperti ini? Aku sudah gagal dengan permintaan terakhir Kak Ainun,” aku menjelaskan dengan air mata mengalir. Kak Fahru hanya diam.. Saat aku melangkah.
“Ku mohon maafkan kami Cin,” Rina memegang tanganku untuk menghentikan langkahku.
“Kau adalah sahabat terbaikku, kita selalu jujur dalam hal apa pun kan. Tapi kenapa tentang ini kau sembunyikan di belakangku, maaf.. Aku butuh waktu untuk bisa memaafkanmu.,” aku melepaskan tangannya dan pergi tanpa tujuan dengan hati hancur.

Air mata selalu mengalir, berusaha kuat dan tegar tapi tetap saat ini hatiku tidak bisa berbohong. Aku terhenti entah di mana, aku duduk di kursi di mana masih banyak orang yang berlalu lalang. Tiba-tiba seseorang mengulurkan sapu tangan padaku, ketika aku melihat siapa orangnya, ternyata dia seseorang yang ku kenal, seseorang yang selalu menemaniku saat berlibur ke yogyakarta, yaa benar dia adalah Adam. “Adam?”
“Menangislah jika itu membuatmu tenang.” dia duduk di sampingku. Aku tidak bisa berbohong dan tidak bisa tegar saat ini, lalu tanpa menghiraukan Adam aku tetap menangis.. Dan tanpa sadar Adam meminjamkan pundaknya.

“Dari awal aku sangat mengagumi Kak Fahru, sehingga rasa kagum itu tumbuh menjadi benih cinta, cinta yang harus ku pendam dan ku simpan sendiri di hati, karena aku tahu kalau Kak Fahru sangat mencintai Kak Ainun, setelah kepergian Kak Ainun aku berusaha untuk menjadi yang terbaik, dan mengabulkan pesan terakhir Kak Ainun agar aku bisa bersama Kak Fahru, setelah itu sahabatku datang, ku kira dia benar-benar sahabat sejati yang pernah ku kenal selama ini, tapi entah kenapa dia berbohong dan mengkhianati persahabatan ini. Kenapa mereka bermain api di belakangku, apa salahku?” jelasku masih berada dalam pundak Adam yang mendengarkanku. Menjelang pagi, angin dingin sangat menusuk tulang jika tanpa dibalut jaket, aku terbangun dan menarik selimutnya kembali, seorang ibu paruh baya masuk dan membuka jendela sehingga sinaran matahari yang masih redup mendayu mengenai wajahku.

“Eleuuhh, eleuhh si eneng jam segini belum bangun, ayoo bangun.. Tuh temen neng udah mau pamit pergi lagi,” ujar ibuku. “Apa?! Adam udah mau pulang Bu?” aku langsung mengenakan hijab dan ke luar dari kamar.
Yaa.. Setelah menangis semalaman itu, aku diantar pulang oleh Adam ke bandung pada malam itu juga, karena jarak jakarta bandung itu tidak dekat, Adam akhirnya menginap di rumah.

“Adam, kenapa secepat itu? Apa kau tidak ingin berkeliling bandung dulu? Akan ku temani, aku janji akan menjadi pemandu wisata yang baik, anggap saja itu ucapan terima kasihku karena kau sudah mengantarku ke sini,” jelasku.
“Iya Nak Adam teh meuni buru-buru pisan,” sambung ibuku.
“Aku juga sebenarnya mau agak lama di sini, tapi ada tugas dan tanggung jawab yang harus ku selesaikan di jakarta, jadi aku harus balik lagi ke jakarta. Ibu.. Mohon maaf yaa mungkin kapan-kapan saja,” jawabnya dengan sangat sopan. Aku cemberut, entah kenapa aku tidak menginginkan Adam untuk pergi.

“Yaa sudah. Hati-hati saja.” aku berkata dengan tak peduli.
“Eehhh neng, ulah kitu,” timpal ibu.
“Nak Adam bisa kapan-kapan main ke sini kalau pekerjaannya sudah selesai yaa,” sambung ibu.
“Insya Allah Bu,”
Adam akhirnya pamit dan bersalaman dengan ibu. Setelah kepergian Adam berlalu.

“Bu, Ayah mana?” tanyaku.
“Iihh sin eneng kayak yang gak tahu Ayah ajah, udah pergi atuh ke kebon,”
“Ehh si Adam teh siapanya neng? Meuni bageur pisan, kasep deui.. Semalaman dia teh tidak tidur diajak ngobrol terus sama si Ayah. Kata ayah juga bageur, sopan ceunah,” jelas ibu mengenai Adam.
“Iihh Ibu sama Ayah tuh kepo yaa, Adam cuma temen neng Bu. Gak lebih.”
“Si neng mah, sok atuh dilebihan,” canda ibu.
“Ih Ibu ini ada-ada aja yaa,” aku tersenyum lalu masuk kembali ke kamar.

Entah kenapa saat ibu dan ayah bilang jika Adam itu baik, hatiku langsung senang, Adam memang baik.. Tiba-tiba aku memikirkannya. “Aku ini kenapa sih?” aku hanya tersenyum. Aku masih sedih jika mengingat Kak Fahru dan Rina, air mata kembali menetes, berusaha melupakan dengan memperbanyak kesibukan di rumah bersama ibu, tanpa teman kesibukan apa pun tidak akan pernah menyenangkan, temanku semuanya sibuk masing-masing. Saat terdiam di kamar tanpa kegiatan air mataku pasti selalu mengalir mengingat Kak Fahru. Lima hari berlalu tanpa ada hal yang menyenangkan, tiga hari lagi kembali dengan pekerjaan yang sangat membosankan itu, aku menghela napas.

“Neng.. Ayoo cepet bangun antar Ibu ke pasar hari ini mau ada pengajian di rumah,” ujar ibu sangat berisik membangunkanku.
“Ibu.. Aku bantu ibu memasak saja, malas ikut ke pasar,”
“Eehhh kan neng yang mau membuat kuenya.” ucap ibu mengingatkan.

Aku langsung ingat dan bergegas ke kamar mandi. Aku menemani ibu ke pasar dan membeli bahan kue yang mau ku buat, setelah itu dapurlah temanku sampai menjelang sore tiba akhirnya semua pekerjaan selesai, aku bersiap-siap. “Neng, ayoo keluar temui tamu Ayah,” ujar ibu.
“Tamu Ayah? Kenapa aku yang menemuinya Bu?” aku pun mengikuti ibu ke ruang tamu. Ternyata yang dimaksud tamu ayah adalah..
“Adam?”

Lalu pengajian pun dimulai sesudah isya. Cinta dan ibu pun ikut dalam pengajian yang sebagian besar adalah kaum bapak-bapak, bukannya mendengarkan pak ustadz aku malah penasaran kenapa bisa Adam ada di sini. Begitu selesai pengajian dan menjamu tamu dan aku mendapat kesempatan itu untuk bertanya.
“Kau, kenapa bisa ke sini lagi?”
“Aku menagih janjimu untuk menjadi pemandu wisata,” candanya.. Aku keheranan, dia malah tersenyum.
“Neng.. Ayah yang mengundangnya ke sini waktu dia mengantarkanmu ke sini,” sambung ayah yang ketika itu mendengar.
Aku menatap keheranan ada apa Ayah dan Adam, mereka malah asyik mengobrol berdua.

“Bu.. Kok bisa Ayah deket banget sih sama Adam?” tanyaku membantu ibu membereskan piring yang kotor.
“Ceuk Ayah mahh. Ayah resep ceunah neng ke Adam, yaa bageur, saleh, baik, sopan. Neng resep henteu ke aa Adam?” goda ibu, “Ibu.. Apaan sih?” aku hanya tersenyum.
Pagi harinya, aku mencari Adam dia tidak terlihat sama sekali, apakah sudah pulang ke jakarta. Aku tidak bertanya takut ibu menganggap lebih. Jelang siang, ibu menyiapkan bekal makanan untuk ayah ke kebon. “Neng, nih anterin ke kebon yah,” pinta ibu memberikan sebuah rantangnya, aku berjalan kaki menyusuri pekarangan yang tanpa berpenghuni menuju kebon di mana ayah bekerja. Setelah sampai aku kaget melihat Adam ada bersama ayah.

“Dia ternyata di sini,” aku agak kesal, tapi setelah ku perhatikan Adam sangat dekat dengan ayah, aku tersenyum sendiri melihat mereka. Tiba-tiba ayah kesakitan. Aku langsung segera mendekati. “Ayah kenapa?” tanyaku khawatir
“Tidak apa-apa neng.. Ini mah cuma kecugak sedikit sama kayu,”
Pemandangan yang membuatku terkesan, Adam segera menolong ayah dia bahkan dengan cepat membasuh darah dan mengikat lukanya, entah kenapa aku tersenyum melihatnya. Rasa bahagia melihat mereka dekat. Adam segera membawa ayah pulang. Kami mengobati ayah di rumah.
“Terima kasih yaa.” ucapku, dia hanya membalas tersenyum simpul lalu sibuk mengajak ngobrol dengan ayah. Aku memperhatikannya, entah kenapa aku merasa bahagia Adam ada di sini.

Besok pagi ibu bilang ayah harus memanen tomatnya karena sudah janji dengan langganannya kalau akan dipanen besok dan diantarkan langsung.
“Aku akan bantu Ibu memanen tomat di kebon yah,” pintaku.
“Aku juga akan membantu. Mohon jangan menolaknya Ibu,” Adam mendengar percakapan aku dan ibu.
“Tapi Nak Adam,” ibu berusaha menolak.
“Lebih baik Ibu di rumah saja menemani abah biar saya dan Cinta yang memanen tomatnya,” pinta Adam melirik memastikan aku harus setuju.
“Iya Bu. Adam benar.” aku tersenyum menyetujuinya.

Keesokan paginya aku dan Adam sudah berada di kebon dengan peralatan lengkap siap memanen tomat, topi dan keranjang, terlebih dahulu aku menjelaskan tomat seperti apa yang harus dipanen kepada Adam, lalu kami pun memanennya. Entah aku ini kenapa aku selalu tersenyum melihat Adam semangat membantu ayah dan ibu, bahkan dia rela berpanas-panasan di bawah teriknya matahari hanya untuk memanen tomat. Setelah dua jam kami mendapatkan banyak tomat, lalu kami mengirimnya ke pelanggan ayah, dan hasilnya aku serahkan kepada ayah.

“Karena kau sudah membantu, bagaimana jika aku yang traktir makan makanan khas bandung,” pintaku.
“Boleh,” Adam pun setuju. Aku membawanya ke sebuah warung kecil, dia agak heran mungkin karena hanya di warung kecil, aku memesan makanan khas bandung yang sekarang sudah sangat banyak dikenal di dalam maupun di luar kota yaitu seblak.
“Apa kau suka pedes atau sedikit saja?” tanyaku.
“Aku suka pedes.” jawabnya.

Lalu setelah itu kami makan di tempat warungnya lumayan besar jadi kita bisa makan di tempatnya. Saat dia kepedesan aku hanya tersenyum menahan tawa, “Ini benar-benar seperti makan cabe.” ujarnya meneguk jus berulang kali, aku hanya melihatnya menahan tawa, kenapa hati ini, kenapa sekarang mulai merasa nyaman berada di dekat Adam, apakah ini yang dinamakan jatuh cinta lagi? Apakah hatiku membukanya untuk Adam? Entahlah, aku pun masih tidak mengerti dengan semua ini. Senin hari yang sangat dikesalkan karena harus kembali dengan rutinitas pekerjaan. Aku pun pulang ke jakarta bersama Adam, mendapat oleh-oleh yang dibawakan ayah ibu. Bukan untukku melainkan untuk Adam.

“Boleh ku tanya sesuatu?” tanyaku.
“Iya silakan,”
“Kenapa kau pindah ke jakarta?” lagi-lagi Adam tidak menjawab hanya tersenyum simpul.
“Nanti juga kau tahu,” jawabnya sederhana.

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 4 jam bandung ke jakarta plus dengan macetnya, aku menguatkan diri untuk bertemu dengan Rina, entah kenapa air mata itu tidak kembali mengalir saat mengingat Kak Fahru dan Rina, hatiku kembali bahagia saat Adam datang mengisi kehidupanku. Setelah sampai kost, ternyata ibu kost memberitahu kalau Rina pindah dari sini dan menitipkan kunci kostnya. Entah ke mana dia pergi, aku sudah bisa memaafkannya. Aku istirahat membaringkan badan yang terasa remuk saat dalam perjalanan. Paginya.. Aku sudah melakukan rutinitasku kembali, bangun pagi dan bersiap-siap berangkat ke tempat kerja. Setelah sampai kantor, aku langsung memasuki ruangan, tidak berani untuk menanyakan Kak Fahru.

“Cin, tahu gak.. Fahru dipindahkan ke kantor di luar kota,” seorang teman memberitahuku, aku sedikit kaget. Tapi biarlah agar semuanya bisa fokus masing-masing dan melupakan kejadian yang sudah terjadi. Setelah satu minggu hampa tanpa ada seorang pun yang menemani, aku mendapat kesempatan untuk menjadi panitia karena kantor akan mengadakan sebuah seminar untuk mahasiswa di universitas terkenal di jakarta. Menyiapkan segalanya ternyata lebih menyenangkan jika mendapat tugas di luar kantor seperti kegiatan seminar, di tengah-tengah acara seminar, dari tempat dudukku aku melihat Adam juga duduk di urutan paling depan dengan berpakaian jas sangat rapi.

“Adam, kenapa dia di sini?” tanyaku semakin penasaran.
Seminar berlangsung selama kurang lebih dua jam, setelah mendapat kesempatan aku mendekati Adam.
“Adam?” Kami pun duduk di sebuah taman kampus.
“Jadi kau seorang dosen di sini? Dan waktu di yogyakarta pun kau.. Pantas saja dipanggil pak Adam,”
“Iyaa.. Dari yogyakarta aku dipindah tugaskan ke sini, entah itu suatu kebetulan atau takdir, kita bisa bertemu kembali,” ujarnya, aku memandangnya apa maksudnya takdir bertemu kembali, apa dia mengharapkan untuk berjodoh. Dan aku segera menghilangkan harapan itu dari pikiranku.
“Ya Allah.. Jikapun Adam adalah jodoh yang kau berikan kepadaku, maka satukanlah kami dalam ikatan yang halal di jalan-Mu.” itulah doaku.

Setelah 2 minggu aku dikejutkan sesuatu yang membuatku kaget sekaligus bahagia, Adam terlebih dahulu berniat untuk datang membawa orangtuanya menemui ayah dan ibu. Kenyamanan yang sudah diberikan Adam selama ini, aku tidak bisa menolaknya. Akhirnya 2 minggu kemudian Adam melamarku membawa keluarganya menemui ayah dan ibu. Dan tentu ibu dan ayah langsung menerimanya dengan persetujuanku. Dua keluarga pun menentukan tahun, bulan, tanggal dan hari yang baik untuk pernikahan kami. Dan setelah 3 bulan kemudian kami pun menikah, atas izin Allah kami disatukan dalam ikatan yang sakral dan halal, Kak Fahru dan Rina pun datang. Mereka meminta maaf dan aku memaafkan, mereka sudah kembali berteman, aku Kak Fahru dan Rina pun kembali berteman selamanya.

“Ketika kau menyayangi seseorang dan tidak bisa memilikinya, percayalah.. Ada seseorang yang jauh lebih baik menunggumu di sana,”
“Pacarmu belum tentu jodohmu.”
“Sebesar apa pun kau sangat menyayanginya, jika dia bukan jodohmu, dia akan pergi meninggalkanmu. Tapi jika dia bukan orang yang kau sayangi, dan jika dia jodohmu, dia akan berusaha selalu bersamamu dan menerimamu,”

Cerpen Karangan: Ririn Apriyani
Facebook: Riien Apriiyaniika Kapoor
Selesai ini hanya sebuah cerita pendek, jangan dibawa baper yah teman-teman, maaf jika ada kesamaan nama. Maksud dari 3 kisah Cinta dalam satu cerpen:
Cinta, punya cerita.. Berawal dari kagum yang tumbuh menjadi cinta.
Cinta, punya cerita #2.. Dikhianati seorang sahabat baik dan orang yang disayang.
Cinta, punya cerita #3.. Ketika hati tulus dilukai, menemukan seseorang yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Terima kasih untuk semua yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca, mohon kritik dan saran dari teman semuanya tentang cerpen ini. Nama Ririn Apriyani, S.Ak, umur 23 tahun, cerita yang kubuat berdasarkan hasil dari kehidupan teman-teman yang suka menceritakan kisah cintanya. Aku adalah pendengar setia yang selalu mendengarkan curahan hati mereka, ketika terinspirasi saat itu juga aku langsung meminta izin untuk membuatkan sebuah cerpennya.

Cerita Cinta Punya Cerita (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Triple A

Oleh:
Angin berhembus begitu lembut. Mengibarkan ujung jilbab yang membalut kepalaku. Di pinggiran pantai mataku menerawang jauh. Mengingat peristiwa 5 tahun lalu. — “Jadi kamu mau nikah?”, tanyaku pada Aris,

Amour Malentendu

Oleh:
Cinta itu memang suatu hal yang mengejutkan dan suatu hal yang aneh, dan lebih tepatnya menjadi seseorang itu bodoh. “Berdiri!” tegasku kepada Enggar teman sekelasku yang tidak pernah akur

Untuk Kebahagiaan Mu

Oleh:
“Baiklah, baik aku berhenti, Dion!” Pekik Ivea dalam tangisnya. Semuanya sudah jelas, keadaannya rumit. Dion yang frustasi hanya termangu. Memandang Ive dengan tatapan memelas. Semua ini salahnya! Dia yang

Penyesalan Khansa

Oleh:
Sebuah jam berbentuk lingkaran yang menempel di dinding menunjukan pukul 07.15, tetapi pelajaran Matematika pagi ini belum dimulai seperti biasanya. Bu Nur Guru Matematika sekaligus wali kelasku belum juga

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *