Cinta yang Abadi (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Sunda, Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 14 June 2017

Harus dari mana aku mulai mengisahkannya? Jika kamu ingin tahu semuanya itu mustahil, karena aku sendiri yang mengalaminya pun samar-samar mengingatnya. Semuanya berawal dari kurang lebih tiga tahun lalu, saat dimana aku harus merasakan kembali sebuah perasaan yang sejatinya membuat kita bahagia dan selalu bahagia. Ya, itulah cinta.

Aku adalah type lelaki pembosan dan mungkin juga membosankan. Acapkali pacaran bagiku hanya sebuah permainan rasa, yang rasa itu kapanpun bisa pudar dengan mudahnya. Maka, tak heran jika aku belum pernah berpacaran lama, apalagi hitungan tahun. Menurut perhitungan kasarku mungkin paling lama tiga-empat bulan.
Namun berbeda dengan perempuan yang akan kuceritakan padamu ini. Dia lain. Dia special dan aku ingin selalu membuatnya tetap special. Ya, dia special. Dari sini aku tahu, ternyata tidak hanya martabak yang special. Hatiku terpaut dari sekitar tiga tahun lalu bahkan sampai detik dimana saat aku menulis kisah ini.

Perempuan inilah yang membuat rasa itu kembali hadir dalam hatiku. Yang entah dalam beberapa tahun belakangan pergi kemana. Mungkin ditimbun oleh rasa kecewa dan perasaan lain yang selalu bertentangan. Yang sekaligus juga membuatku untuk pertama kali merasakan cinta pada orang yang sama dalam jangka waktu lama. Tiga tahun!

Nama perempuan itu adalah Namza El-Asima. Aku sering memanggilnya: Bidadari, cinta, cantik dan yang lainnya. Nama samaran? Tentu saja! Aku takut jika kupakai nama aslinya kamu akan kepo dan mencari nama aslinya di internet, dan ketika kamu tahu bahwa dia memang special kamu akan mendekatinya.
Aku khawatir kamu akan merebut dia dariku? Haha.. lelucon yang buruk. Jika kamu berpikir seperti itu, kamu salah besar! Karena yang benar adalah aku khawatir kamu ditolak mentah-mentah olehnya! Karena dia adalah perempuan yang tidak mudah untuk kamu taklukan, melebihi susahnya menaklukan gunung semeru, you know? So, stop! Jangan coba-coba atau kamu akan sakit.

Seperti yang sudah kamu baca di atas, bahwa kisah ini bermula pada tiga tahun lalu, saat dimana aku sudah tidak bisa lagi membendung perasaan yang sudah bergejolak dalam hati, itu tak bisa dihentikan, bahkan jika ditutupi. Bak ketika kamu merebus air dan titik didihnya sudah berada di atas, kamu tidak bisa membendung air itu untuk meluap dari panci, pilihannya hanya satu. Matikan apinya!
Maka, begitupun dengan perasaan yang sudah mendidih dalam hatiku itu. Aku sudah tak peduli dengan apa yang akan Asima tanggapi dengan perasaanku, aku hanya perlu mengungkapkannya! Karena aku sudah muak mengingu cinta yang terlalu berlebihan. Aku tak peduli jika kenyataannya Asima tidak merasakan apa yang kurasakan, karena sejatinya cinta itu hadir bukan karena saling mencintai tapi karena adanya rasa nyaman yang dirasakan. Walaupun kata novel ‘kata hati’ jika sekaligus dicintai itu akan lebih membahagiakan.

Entah pada hari apa, tanggal apa, bulan apa, dan tahun berapa. Aku tak tahu dan juga tak ingin tahu. Aku hanya peduli pada perasaan yang kian hari kian menyiksaku karena terus mendidih dalam hati yang hanya sedikit daya tampungnya untuk rasa yang satu ini. Maka dari itu kami tak pernah ada ‘anniversary’-an gitu.

“Aku cinta kamu, Asima,” kataku dengan bibir bergetar waktu itu.
Hening. Hanya suara degup jantungku yang semakin cepat kudengar.
“Maaf. Aku hanya ingin menyampaikannya saja, Asima. Aku tahu. Ini tidak sepantasnya aku katakan padamu.”
Tidak pantas? Kamu tahu kenapa aku mengatakan itu? Ya, karena Asima saat itu sedang menjalin hubungan dengan seseorang. Namun seperti yang aku katakan sebelumnya, aku menyampaikan itu tidak menuntut balas. Namun hoki! Asima menyunggingkan senyumnya padaku! Senyum malu-malu perempuan, kamu tahu!? Senyum yang menyiratkan ‘juga’ di dalamnya!
“Rebut aku, Tiar!” jawabnya lirih dengan menunduk
Oh Tuhan! Terima kasih Kau ciptakan Asima! Kamu tahu? Itu sangat indah! Bahkan dengan bahasa ‘rebut’-nya itu. Kamu mungkin beranggapan caraku menyampaikan cinta sangat tidak romantis dan biasa. Ya, aku mengakui itu. Karena kisah ini tidak mengisahkan seperti halnya Dilan yang menyampaikan cintanya secara unik di atas materai dalam novel ‘Dilan’, tidak seperti cara romantis Esok menyampaikan cintanya pada Lail saat dia sudah menciptakan kapal besar untuk membawa semua orang di bumi ke luar angkasa dalam novel ‘Hujan’, tidak seperti cara romantis Regha pada Jen dengan mengatakan ‘will you marry me?’ dalam novel ‘Call It Love’, tidak seperti cara heroik menyampaikan cinta ala Ikal pada A Ling dengan melewati laut yang angker dalam novel ‘Maryamah Karpov’, dan juga cerita romantis dalam novel lainnya.
Ya, kisah ini tidak seromantis itu. Tapi kisah ini hanya menceritakan sebuah ‘kesederhanaan’, yang dalam ‘kesederhanaan’ itu ada begitu banyak kebahagiaan dan kenyamanan yang tercipta. Karena untuk kami, dengan perasaan ‘cinta’ itu sendiri sudah membuat kami serasa paling bahagia di dunia ini.

Kami memulai lembaran hari-hari bahagia kami. Namun tidak mudah, aku harus merebut Asima! Mungkin perlu aku ceritakan sedikit padamu kenapa aku harus merebut Asima agar tidak terjadi salah paham hingga kamu menganggap kami ‘berselingkuh’. Walaupun aku tidak peduli jika kamu beranggapan seperti itu. Toh anggapan itu tak akan merubah rasa cintaku pada Asima.

Asima adalah peremuan cantik berkulit putih, tidak hanya itu, sikapnya pun selalu membuat orang betah melihatnya. Dalam Bahasa Al-Qur’an sering dikatakan dengan Qurrota A’yun. Maka tak heran jika banyak laki laki yang menyukainya.
Sangat beruntung bisa disukai oleh perempuan yang disukai banyak lelaki. Kataku dalam hati
Namun meskipun cantik dia adalah perempuan yang jutek dan cuek, sangat susah untuk mendekatinya —bahkan teman-teman lelakinya, termasuk aku dulu— dia sangat menjaga harga dirinya sebagai wanita, dia sangat menghargai wajah cantiknya dengan tidak banyak melakukan hal yang banyak menyita perhatian orang. Seperti sengaja berjalan-jalan ke mall atau tempat lainnya dengan sengaja.
Maka, saat ada seorang lelaki yang bisa mendapatkan cintanya, sangat susah untuk lelaki itu melepaskannya. Dan dalam kasus ini, lelaki ini sangat keras kepala—bahasa keras kepala ini kerap kali jika aku mengatakannya, Asima pasti akan menjawab ‘kalau gak keras mah bahaya, atuh’ —Oke kembali, lelaki ini cinta mati ke Asima. Laki laki itu tidak peduli bahkan jika Asimanya sudah tidak cinta lagi padanya, yang penting dia selalu bersama Asima. Tapi Asima sudah tidak cinta lagi pada lelaki itu, tapi Asima tidak pernah bahkan sampai sekarang mengatakan secara jentre kalau dia memang tidak cinta lagi pada lelaki itu, Asima hanya memberi kode yang biasa —tapi lelaki itu bisa saja tidak mengerti bukan?— maka urusan ini paling susah untuk diselesaikan. Dan lelaki itu selalu memaksa Asima untuk tidak pernah pacaran lagi bersama yang lain. *kok banyak tapinya ya? Gak apa apa, lah.
Itu kenapa aku harus merebut Asima!
Sudahlah, aku tidak ingin membahas bahasan sensitive itu. Singkat cerita masalah itu beres dan aku dengan Asima hidup bahagia selamanyaa. Wah kecepatan yah?

Suatu hari aku bersepeda dengan Asima di daerah dago.
“Aku menaaaannnggg!” seru Asima di depanku
“Aku, kan, enggak ngajak balap, As”
“Ah, pokoknya aku menang”
“Iya, deh, kamu, kan, emang selalu juara di hati aku.”
Dia tersenyum. Ah! Indah sekaliii. Kebahagiaaan lelaki itu terletak saat dimana membuat orang yang disayanginya tersenyum!
Banyak momentum yang membuatku selalu menjadi orang yang paling bahagia, Asimalah yang membuatnya. Hanya perlu senyumnya, aku akan bahagia.

Suatu hari pada saat libur aku berjalan-jalan mengitari sekolah Asima yang sekaligus ‘mantan’ sekolahku juga, namun tempat itu masih menjadi rumah untukku. Asima menunjukkan bangunan-bangunan baru yang ada di sekolah. Aku terpana. Ternyata sekolah ini semenjak aku keluar jadi semakin luar biasa.
Kami duduk berdua di atas rerumputan yang cukup rimbun namun rapi. Tempat itu berada di lantai atas tepat di depan kelas yang tak berpintu dan berjendela itu.

“Sekolah ini tak pernah berhenti membuatku terkejut As, semakin hari selalu semakin terlihat indah dan cantik,” kataku memecah hening
Asima hanya tersenyum.
“Namun sayang,”
“Sayang apa?”
“Sayang kamu, lah, As.”
Asima tertawa. Aku tersenyum simpul.
“Yang bener, ih!”
“Sayang.. keindahan dan cantiknya masih belum bisa ngalahin kamu, As.”
Sekarang pipinya merah merona. Wajahnya ditundukkan menyembunyikan wajah cantiknya.
“Makanya sekolah di sini lagi, Tiar.”
“Engga, ah, takut deket terus sama kamu,”
“Ya udah.” katanya menjadi dingin.
“Kalau terus deket kamu setannya makin banyak. Bahaya!”
“Hahaha.. iya juga, sih.”

Setelah lama berbincang, tenggorokan terasa kering, kami langkahkan kaki menuju kantin sederhana yang ada di bawah masjid sekolah itu. Asima masuk ke kantin dan membuat sendiri es kelapa dan es jeruk.
“Es jeruk-nya manis, lho, As. Cobain, deh!” kataku
Asima mencobanya. Seregut dan puaaahhh! Asima menyemburkannya ke tanah.
“Ih, jail! Asem gitu!”
“Ah, masa, sih? Oh iyah, kamu enggak sambil lihat wajah kamu, sih.” kataku
“Jadi supaya manis harus sambil ngaca gitu?”
Kami pun tertawa.
“Mau cobain es kelapanya? Ini, mah, beneran manis!” katanya
“Enggak, ah, kalau manis nanti giung”
“Emang aku gula!”
“Emang gula,” kataku. “kamu, kan, suka dikerubungin semut.”
“Ih, gak mau!”
“Kalau semutnya aku, gimana?”
Dia tertawa.
“Boleh, boleh.” setelahnya.

Matahari sudah berada di kaki barat kala itu. Kami harus segera meninggalkan sekolah dan pulang. Aku mengantarnya sampai gerbang rumahnya.
“Masuk dulu, yuk!” ajaknya
“Enggak, ah.”
“Kenapa?”
“Takut ketemu bapak kamu,”
“Takut kenapa?”
“Takut dinikahin!”
Asima tertawa lagi.
“Lebih bagus, dong!” serunya
“Enggak, ah, gak gentle kalau disuruh bapak kamu nikahnya. Nanti aja aku yang bilang ke bapak kamu: Pak! Saya ke sini mau rebut anak bapak dari bapak!” kataku dengan mimik dan gestur ala pahlawan di film-film. “kayanya kalau gitu lebih gentle, deh.”
“Hahaha. Siap, captain! Segera rebut aku!” katanya dengan senyum indah dengan semburat orange senja itu. epic sekali kawan!
Aku mengangguk. Dan selanjutnya hanya suara deru motor meninggalkan rumah itu.

Asima harus pergi waktu itu —lebih tepatnya semua penduduk sekolahnya— Mereka pergi untuk belajar Bahasa inggris di kampung Inggris, Pare, Kediri. Ya, aku pun harus menjalani LDR. Hanya dengan modal sinyal kami bisa mengobrol. Namun memang tidak mudah menjalani hubungan jarak jauh, bahkan ketika hatiku sudah dipenuhi dengan beribu kepercayaan yang kupupuk untuk Asima, cemburu itu selalu datang.

Entah jam berapa waktu itu —jam 23.00 tidak salah— saat pertama kalinya aku merasa badanku merasa panas bukan karena sakit meriang tapi karena marah. Aku masih chating waktu itu dengan Asima.
“Tidur, As. Udah larut.” kataku.
“Iya, bentar lagi, masih di camp ini, masih ngobrol sama bapak.”
Aku tersentak. Badanku memanas seketika. Degup jantung berdetak tak beraturan. Kujauhkan handphone dari jangkauan tanganku. Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan pelan. Kubuka lagi riwayat chating-nya, tak ada yang berubah. Gila! Gumamku dalam hati.
“Oh, iya.” balasku dengan malas.
Dan selanjutnya hanya chating-an yang memuakkan untukku. ‘Bapak’ yang dimaksud Asima di sana bukan bapak sedarahnya, namun beliau adalah Pembina sekolah Asima. Selang beberapa waktu aku teringat pada kakak kelasku yang dulu pun sama sangat dekat dengan ‘bapak’ yang disebut Asima. Aku segera menyapanya untuk meluruskan beberapa hal.
“Teh, teteh kalau dulu jam segini —waktu itu jam sebelas malam lebih beberapa menit— Suka ngobrol apa aja?” tanyaku langsung pada pokok pembahasan
“Kok, tiba-tiba nanya itu?”
“Gak apa-apa, mau tahu aja.”
“Seinget teteh, teteh gak pernah semalem ini kalau ngobrol sama bapak, Ka —sebutannya padaku—”
Hatiku kembali memanas. Bahkan teteh ini pun tidak pernah semalam ini!? Bah!
“Teteh biasanya suka ngapain aja?”
“Ngobrol biasa aja, Ka. Nemenin bapak. Kalau-kalau penyakit jantungnya kumat,”
Deg! Hatiku sedikit luluh mendengar kata-kata terakhirnya. Aku kembali menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan melalui hidung.
“Walaupun teteh jarang ngobrol, sih, sebenarnya. Cuma ngoprek hp aja, teteh, mah. Hehe.. kadang juga suka pura-pura ngantuk teteh, mah, supaya gak terlalu malem nemeninnya, hehe..”
“Ih, gak bener nemenin teh. Dasar.”
“Da takut, atuh, Ka, kalau kemaleman, mah.”
“Haha.. Iya, sih.”
Obrolan kami pun terhenti sampai situ. Setidaknya itu cukup untuk membuatku kembali tenang. Dari dulu bahkan sampai sekarang, ketika kami sudah dipisahkan oleh jarak, daya membuat tenangnya tetap selalu ada untukku adiknya. Aku jadi teringat Asima. aku pun ingin selalu membuat Asima tenang di sisiku.

Kejadian ini mengingatkanku pada beberapa kejadian tahun lalu saat aku dan kakakku mengambil ijazah ke ‘mantan’ sekolahku. Saat itu tepat ketika aku dan kakakku masuk ke kantor guru favoritku, di sana sudah ada guru favoritku duduk di sebuah sofa dengan tiga kursi, beliau duduk di tengahnya dan di kedua sisinya ada kedua teman perempuanku dulu sedang memijat beliau. Aku sudah lazim melihat pemandangan ini, namun lain dengan kakakku. Dia terlihat tercengang.
“c*bul kitu guru maneh, teh, Boy!” katanya ketika kami dalam perjalanan pulang.
“Kamana wae ngomong, teh, bebel!” bentakku
“Teu kamana wae. Tinggali, weh, maenya di kantor kosong eweuh sasaha. Eta guru ente sorangan diriung ku dua awewe. Nu kitu naon ngaranna ai lain mes*m?”
“Eta teh metode ngakader!” kataku naik darah karena tidak terima dia menjelekkan guruku.
“Loba keneh metode kaderisasi nu leuwih alus ti eta!” katanya lebih tegas.
Aku diam. Menggerutu dalam hati. Wajar jika kakakku mengatakan hal itu sebenarnya, karena dia dari tingkat SMP sudah dipesantrenkan di pesantren yang ketat hijabnya antara laki-laki dan perempuan. Namun setelah beberapa tahun, aku mengerti dengan apa yang dikatakannya. Bagaimana ketika aku disuguhi banyak hadist yang menyatakan bahwa tidak boleh perempuan dan laki-laki untuk saling bersentuhan.
Aku merinding. Saat itu guruku menyuguhiku hadis yang mengatakan bahwa —kurang lebih: “Lebih baik menyentuh seribu jarum daripada harus menyentuh kulit seorang wanita yang bukan muhrimnya!”

Aku semakin sadar akan hal itu ketika mengigat kembali saat teteh yang dekat dengan ‘bapak’ itu dulu pernah mencium pipiku! First kiss! Ah! Pengkaderan? Macam apa? Bagaimana yang dikader secara khusus dengan mengobrol sampai malam bisa melakukan hal itu? rasanya semua husnudzonku luntur sudah saat itu. Maka dari itu, mungkin kamu bisa memakluminya kenapa darahku mendidih ketika mendengar Asima masih mengobrol selarut ini.
Mungkin saja, tidak sepantasnya aku melarang Asima untuk ‘berbaur’ dengan yang lain. Namun salahkah juga jika aku menuntut suatu hal yang sudah pula aku lakukan? Menjauhi perempuan dan tidak menyentuh wanita yang bukan mahramku? Toh aku menuntut itu bukan untuk diriku sendiri. Untuk kebaikannya. Aku tidak bisa memberitahu semua mantan ‘temanku’ di sana, jadi aku rasa setidaknya aku bisa memberitahu Asima.

Cerpen Karangan: Tazkia Royyan Hikmatiar
Facebook: facebook.com/tazkiaroyyanhikmatiar

Cerpen Cinta yang Abadi (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Em dan Kim (Part 2)

Oleh:
Waktu berlalu. Em kini menjabat sebagai Manajer Engineering di sebuah Perusahaan Multinasional. Kariernya melesat dalam waktu singkat karena Em adalah pemuda yang rajin dan pintar sehingga jajaran Direksi mengangkatnya

My Beloved Hana (Part 2)

Oleh:
Indonesia, di waktu dan tempat yang berbeda… Di sebuah kota yang terletak di tengah-tengah Pulau Java, terdapat sebuah Mansion yang besar dan hanya di kelilingi hutan dan lautan yang

Cinta Yang Lebih Besar

Oleh:
Mataku menatap lesu ke arah luar jendela kamar, memandangi dedaunan yang menunduk tertimpa setetes demi setetes air hujan. Petir saling sahut menyahut bergemuruh di langit, tidak ada panas menyengat

Reuni Cinta

Oleh:
Tiga tahun berlalu Kini aku kembali ke kota kelahiranku. Setelah tiga tahun lalu aku memutuskan untuk melanjutkan SMA di kota lain sendirian. Kini aku sedang bersiap-siap untuk acara reuni

Love in Rain

Oleh:
Kaki kecil itu berlari menyisiri sudut rumah. Membuka pintu demi pintu. Memasuki pintu selanjutnya yang tanpa perlu dibukanya, menganga lebar, langkahnya terhenti. Sedikit susah bernapas, tersenggal-senggal. “Wah, cantiknya…” mata

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *