Cinta yang Abadi (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Sunda, Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 14 June 2017

Belum selesai masalah ini, masalah selanjutnya pun datang tanpa menunggu intruksi dari masalah pertama untuk masuk ke dalam hidupku. Oh Tuhan! Susahnya memiliki hubungan yang dipisahkan jarak ini. Keluhku dalam hati.
Datang seorang lelaki yang jago Bahasa Inggris dan gagah dalam kehidupan kami. Ya, guru privat inggrisnya di kampung inggris. Lelaki itu bernama Kamal. Dia jatuh cinta pada pesona yang terhambur dalam diri Asima.
Jika hanya itu aku sedikit pun tidak peduli! Ada banyak lelaki lain yang mencintainya, aku tahu! Namun bukan di sana letak memuakkannya.

“Kamu cinta juga sama a Kamalnya?” tanyaku saat Asima memberitahukan tentang Kamal.
“My love just for you, Tiar.”
Jika tidak ada masalah yang mengganjal itu aku pasti akan bahagia setengah mati membacanya.
“Okelah kalo begitu,” jawabku “Itu bacanya harus sambil nyanyi, yah.”
“Haha.. gak mau, ah, suara aku, kan jelek!”
“Cinta yang akan mengubahnya jadi bagus.” jawabku tanpa ekspresi.
Ya, walaupun Asima sudah mengatakannya padaku bahwa cintanya hanya untukku, namun mantan temanku berkata lain.
“Perempuan itu genit orangnya, suka tebar pesona. Manfaatin cantiknya! Padahal aku sudah cerita ke dia kalau aku suka sama guru itu. Katanya dia bilang dia ngedukung, tapi akhirnya nikung!”
“Emang perempuan itu cinta juga sama guru itu?”
“Bilangnya, sih, enggak. Tapi nyatanya hampir setiap hari ngobrol sama chatingan. Malah aku pernah lihat kalau perempuan itu pernah ‘sayang-sayangan’”
“Serius? Masa, sih!? Screenshot, dong, aku lihat!”
“Nanti saja.”
“Aku tunggu. Segera!”
‘Perempuan itu’ di sana adalah Asima. Asima? Genit? Suka tebar pesona? Hey! Sejak kapan? Aku tidak percaya! Namun keadaan segera memaksaku untuk percaya. Semua teman dekatnya ketika aku tanya tentang sikap Asima mereka sama-sama jawabannya: Asima genit!
Oh, hancurkan hatiku, Tuhan! Aku tidak mau merasakan sakit ini.
Ini kenapa aku tidak ingin merasakan rasa cemburu, efeknya benar-benar mengahancurkan.
“Kalau gak cemburu berarti gak cinta.” kata Asima suatu hari.
“Masih ada banyak hal yang bisa nunjukin kalau seseorang cinta selain dengan rasa cemburu.” jawabku.

Beberapa saat setelahnya hp-ku berdering. Ada kiriman screenshot, di bawahnya mantan temanku itu mengatakan.
“Kayanya chating yang sayang-sayang-annya sudah dihapus, tapi adanya ini.” di atasnya sudah ada screenshot obrolan antara Asima dan Kamal.
“Teteh cepet tidur, udah malem.”
“Iya, Mr, teteh tidur, bye.”
“Bye.”
Itu isi screenshot yang dikirimkan. Hatiku memanas, pikiranku kacau. Teteh? Hey! Aku tahu! Hanya orang-orang tertentu yang bisa memanggil Asima dengan sebutan itu! Dan Asima pun menanggapi itu dengan menyebut dirinya sendiri ‘teteh’ juga. Bah!
Setelah sedikit merasa tenang aku merasa bersalah sampai mengorek privacy Asima sedalam ini, bagaimanapun aku tidak mempunyai hak untuk ini. Ah, cemburu! Kau membunuh akal sehatku!
Sedikitpun aku tidak ingin marah pada perempuan yang aku cintai, maka aku memilih diam dan bersikap dingin saja pada Asima.

Namun Asima merasakan perubahanku.
“Kamu kenapa, Tiar?”
“Gak apa-apa.”
“Gak akan gini!”
“Emang selalu gini, As.”
“Ya udah!”
Entah kenapa, jika perempuan sudah mengatakan kata terakhir itu hatiku tidak bisa lagi menahan marah. Namun aku sudah bulat, tidak akan marah!
“Kenapa jadi marah, As?” aku mencoba bertanya selembut mungkin.
“Tau!”
Aku menepuk jidat dan mengurut dada.
“Iyah karena aku kamu marah. Maaf.”
Sudah seharusnya laki-laki yang berpikir dengan rasional tanpa menggunakan emosional disaat seperti ini bukan?
“Apaan, sih!”
“Jangan marah terus nanti jadi cantik,” kataku. “Nanti cantiknya di depan orang lain bukan di depan aku, gak boleh!”
“Biarin!”
Ah! Percakapan itu kembali menghantuiku. Perempuan itu genit orangnya, suka tebar pesona. Manfaatin cantiknya!
“Iya, silakan!” kutekan tombol enter keyboard dengan keras.

Setelah beberapa lama, hp kembali berdering. Dari Asima.
“Maaf, Tiar. Maaf..”
Pikiranku sudah kacau tak menentu.
“Gak apa apa,” kataku. “Silakan. Kamu harus tampil cantik di depan guru privat itu kan? Aku ngerti, kok. Supaya bisa terus ngobrol dan chating pake ‘teteh-teteh-an’. Silakan.”
“Jadi karena itu sikap kamu berubah.”
“Hahahaha.”
“Maaf, Tiar..”
Kenapa kamu gak ngerti sih!? Celotehku dalam hati. Hey! Ini bukan sinetron yang ketika salah seorang pasangan berselingkuh yang diselingkuhi tidak membutuhkan penjelasan! Ini kisah nyata, bukan sinetron. Aku ingin penjelasan Asima!
“Kenapa gak ngejelasin kenapa ngelakuin itu!? Karena emang bener!?” kataku jengah.
“Bukan gitu, Tiar,” katanya. “Dia belajar Bahasa Sunda sama aku, makanya aku tanggapin.”
“Hahahahahaha.. terus ada sayang-sayang-an juga yah belajarnya!?” aku semakin mengintrogasi.
“Dia emang sempet manggil sayang ke aku, tapi aku enggak tanggapin kok, Tiar.”
“Tapi dibiarin aja, karena kamu seneng sama panggilan itu, gitu!?”
“Maaf, Tiar. Aku gak enak buat ngelarangnya.”
“Hahaha.”
“Maaf maaf maaf.”
Aku membeku.
“Aku sudah bilang semuanya sama kamu, selebihnya terserah kamu.” katanya
Hey! Lelaki mana yang akan tega melihat seorang perempuan mengatakan hal itu? Aku kembali menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan. Menenangkan diri. Asima pasti sangat sedih pada sikapku belakangan ini. Sungguh! Aku merasa menjadi seorang laki laki paling buruk telah membuat Asima bersedih.
“Maaf, As..”
“Aku yang harusnya minta maaf, Tiar.”
“Aku!”
“Ya udah saling memaafkan aja.” Asima menengahi.
“Belum lebaran.” kataku
“Haha.. Makasih karena udah kembali.”
“Ma Aura dulu sebelum Ma Kasih, As.”
“Haha.. iya bener. Ma Aura, Tiar.”
“Ma Asima.”
“Kok, Ma Asima?
“Maunya ke Asima, bukan ke Aura ataupun ke Kasih.”
“Aku juga maunya ke kamu, Tiar.”
Aku tersenyum. Dan gunung yang berisi masalah itu pun sudah hancur luluh lantah oleh gempa cinta yang Asima berikan.
Malam itu tangan tiba-tiba gatal ingin menuliskan sesuatu. Penapun mengalun dengan cepat di atas warna putih bersih.

TAK TAHU MALU
Cemburu:
Kau tak pernah ingin berkompromi
Kau sudah seperti jelangkung;
Datang tak diundang dan pergi tak tahu malu
Kau datang;
Datang tak pernah mengenal
Mengenal yang kau cemburui seorang muda atau tua
Teman atau musuh
Bahkan,
Manusia atau benda!
Kau pergi;
Setelah membuatku marah
Membuatku hilang akal.
Kau!
Benar-benar tak tahu malu.

Sudah dua minggu Asima berada di kampung inggris. Rasa rindu sedikit demi sedikit menelusup ke dalam dada. Aku mencoba menahannya, namun sialan! Rasa itu semakin beringas dan aku tak bisa lagi menahannya. Maka aku dapat pelajaran cinta mengenai hal ini: Jangan pernah kamu coba untuk menahan rasa rindu, karena kamu tak akan pernah mampu!

Rindu
Aku rindu kamu sekarang.
Hari ini,
Hari Senin
Kemudian Selasa,
Rabu,
Kamis,
Jum’at,
Sabtu,
Minggu.
Dan selamanya;
Selamanya kamu milikku!

Aku mencoba mencari-cari kegiatan untuk sekedar menghilangkan Asima dalam pikiran, namun, hei! Aku tak akan pernah bisa berhenti memikirkan bidadari itu! Aku menyerah!
“Aku rindu kamu, Tiar.”
Oh. Ternyata Asima sama-sama merasakannya. Aku tak tega, pasti dia merasakan juga apa yang kurasakan.
“Boleh aja, kok.” kataku santai
“Iyalah, masa gak boleh.”
“Bisa saja gak boleh,”
“Emang kenapa?”
“Karena aku sayang kamu.”
“Hahaha. Gak nyambung!” katanya
“Tapi hati kita udah nyambung kan?”
“Haha.. iya udah.”
“Aman kalau gitu.”
“Aku emang selalu aman kalau deket kamu.”
Aku tersenyum simpul dan kembali mengambil pena.

TERSENYUMLAH!
Aku bahagia
Karena kamu bahagia
Tersenyumlah!
Karena itu menandakan kamu bahagia
Dan bahagia menurutku
Adalah kebahagiaanmu.

Hanya beberapa hari lagi saat itu sebelum Asima kembali ke Bandung. Sambil menunggu itu aku langkahkan kaki untuk mencari keindahan yang lain selain Asima —gunung— namun sayangnya memang tidak ada yang lebih indah ciptaan Allah selain Asima. Oh, Asimaku, beruntungnya aku.
Sedikit bertafakur ketika menjelajah gunung ini. Aku selalu suka mendaki gunung, dan setiap kali melihat gunung aku selalu terpesona melihat keindahannya dan terkadang melupakan keindahan gunung lain yang pernah aku tapaki. Aku harap kamu beruntung memilikiku Asima, karena kamu berbeda dengan gunung-gunung yang pernah aku tapaki, keindahanmu tak pernah tergantikan!

TIADA DUANYA!
Gunung ke gunung
Keindahan gunung ini membuatku berpaling
Dari gunung lain yang pernah aku tapaki
Gunung ini lebih indah
Aku pun berpaling
Namun tahukah kau?
Banyak wanita yang indah pula
Namun hatiku selalu berkata lain
Kau:
Tentang keindahan
Tiada duanya!

Akhirnya derita rindu saat itu diobati. Asima datang secara mengejutkan ke rumahku —dia sudah mengenal keluargaku dan sebaliknya—
“Tiar! Itu ada Asima.” teriak ibuku
“Ah, isengnya gak asik bu.” timpalku berteriak
“Serius!” kata ibu
“Iyah serius!” tambah suara yang sangat kukenal: Asima!
Aku meloncat. Segera ke luar dari kamar. Ah, bodohnya aku membiarkan seorang perempuan mendatangiku. Harap jangan dicontoh para lelaki!
Aku mengatupkan kedua telapak tanganku di dada memberi salam kepada Asima. Dia membalasnya disertai senyuman terindah sedunia, lebih indah dari seorang pramugari dan penjaga kasir di mall-mall yang sudah dilatih khusus untuk itu! Hey, senyum Asima lebih indah dari senyum mereka, kamu tau kenapa? Karena cinta! Senyumnya disertai cinta!

Saat itu aku izin pada ibuku untuk pergi bersama Asima melepas rindu. Kuajak Asima untuk main ke sekolahku, ke lantai atas. Di lantai atas aku sudah membawa makanan ringan, seblak, dan cimol. Makanan sederhana namun dengan bumbu cinta itu serasa istimewa.
Tanpa sepengetahuan Asima sebelum naik ke lantai atas terlebih dahulu aku mengajak pak Anang —satpam di sekolahku— untuk mengikuti kami secara diam-diam ke atas.

“Hayu atuh, pak! Demi kebaikan bersama.”
“Rek naon atuh di luhur duduaan, meni di luhur bobogohan teh dinu leuwih alus atuh.”
“Meh irit atuh pak Anang! Hayu, lah! Engke diududan.” kataku
“Hayu atuh ai kitu mah.”
“Euhh! Pokona mah mun aya nu mencurigakan langsung gebrak naon weh nya, pak!”
“Siap!”

Di lantai atas itu memang bukan tempat romantis, namun tempat itu selalu membuatku nyaman, apalagi kalau ada Asima di tempat itu.
“Maaf yah gak bilang dulu kalau bakal ke rumah” Asima membuka percakapan
“Iyah, ah, gak bener. Belum kasep nih!”
“Hahaha.. selalu ganteng kok kamu, mah,” katanya. “Aku bawa gantungan nih dari Pare. Maaf Cuma bawa itu oleh-olehnya.”
Wow! Cuma gantungan? Bodoh! Gantungan itu sudah dipegang Asima, itu sangat special!
“Apapun yang sudah kamu pegang semuanya pasti jadi special, As.”
Asima tertawa.
“Rindu berat nih sama kamu.” kata Asima
“Aku rindu mama kamu.”
“Ih gitu!”
“Aku bikin puisi buat mama kamu, lho. Dengerin!”
“Harusnya juga buat aku!” katanya cemberut.
Aku langsung mulai berpuisi menghiraukau cemberutnya.

“Mamah,”
“Ih! Aku dikacangin!”
“Mamah Asima bukan mamah aku.
Makasih (Ma Aura dulu yah?)
Ma mamah aja.
Ma mamah udah lahirin Asima,”
Asima tertawa. Ah, senangnya.
“Jangan dulu ketawa. Ini serius” kataku so’ serius
“Haha iya maaf maaf.”
“Pasti sakit lahirin Asima
Mamah aku juga sama kok bu
Sakit ngelahirin aku
Coba deh curhat berdua,”
“Ini puisi apa, sih?” kata Asima sambil tertawa terbahak-bahak
“Bu, Asima-nya buat aku aja ya!
Daripada Asima bikin ibu sakit lagi
Asima jinak kok bu
Kalau sama aku
Jadi fix ya
Asima buat aku.
Makasih, bu
Ma Aura dulu yah?
Yaudah
Ma mamah aja.”
Asima pun tertawa terbahak-bahak saat itu juga.
“Baru nemu puisi yang kaya gitu, Tiar. Sumpah!” katanya dengan sisa tawanya
“Aku juga baru nemuin orang kaya kamu,” kataku. “Cantik, pintar, menghangatkan, menyamankan, perfect!”
“Gombal!”
Kami pun tertawa.

Sore itu benar-benar hangat. Matahari beranjak pergi meninggalkan kehangatan. Dan Asima datang membawa kesejukan.
“Belakangan ini aku suka nonton drama korea loh, Tiar. Suka. Romantis cowoknya. Walaupun gak ada yang lebih romantis dibanding kamu, sih.”
“Aku lebih suka nonton kamu.”
“Aku juga lebih suka nonton kamu.”
“Aku kemarin nonton film yang nama pemerannya Asma tapi dipanggil Ashima sama pacarnya.”
“Terus?”
“Yaa.. seterusnya kamu buat aku.”
“Serius, Tiaaarrr!”
“Serius, forever you Asima for me, not Ashima.”
Asima pun tertawa.
“Asima..”
“Iya?”
“Bukan gitu jawabnya!”
“Gimana dong?”
“Panggil nama aku lagi, ih!”
“Emang kenapa?”
“Seneng aja denger kamu nyebut nama aku. Karena nyebut namanya beda sama yang lain.”
“Tiar, Tiar, Tiar, Tiar, Tiar, Tiar, Tiar, Tiar.”
Kami pun tertawa terbahak-bahak, dan itu membuat kami kehausan.
“Haus, nih, kamu lupa beli air minum tuh!” protes Asima
“Aku lupa. Terlalu gugup mau jalan bareng kamu, ingatnya cuma kamu.”
Dia tersenyum dan pipinya merah merona. Namun dia menunduk tetap menghargai harga dirinya sebagai wanita.
“Minum air ludah aku aja, nanti dikumpulin.” usulku
“Ih, jorok!”
“Aku mau air ludah kamu. Tapi langsung dari mulutnya.” kataku secara spontan.
Asima terdiam, lalu menatap wajahku lekat-lekat, begitupun dengan aku. Tak terasa wajah kami kian mendekat, pikiranku kosong, hanya tinggal beberapa senti lagi sampai wajah kami bertemu… Brak! Kami tercengang dan langsung menundukkan kepala masing-masing. Aku tersenyum getir. Terima kasih, pak Anang Batinku.

“Maaf, As.” kataku bergetar.
“Sama-sama.” katanya masih dengan air muka marah atau malu aku tak tahu.
Aku merasa bersalah karena terbawa nafsu waktu itu.
“AAAAHHH!” aku berteriak, Asima melonjak.
“Ada apa?” tanya Asima.
“Ada kamu,” jawabku. “Di hatiku. Selamanya.”
Asima tersenyum kembali dan itu senyum yang paling indah yang pernah aku lihat! As, senyummu, adalah termasuk dalam keajaiban dunia!

Begitulah kisahku bersama sang Bidadari. Kamu bertanya apa akhirnya? Happy, kah? Sad, kah? Biar kukatakan. Kisah ini tak akan pernah berakhir! Kisah cinta ini tak akan berakhir bahkan jika semua yang ada dalam dunia ini berakhir! Tak ada yang abadi kata Ariel? Dia tidak mengenal kami, dia tidak mengenal cinta kami. Cinta kami lah yang abadi!

Cerpen Karangan: Tazkia Royyan Hikmatiar
Facebook: facebook.com/tazkiaroyyanhikmatiar

Cerpen Cinta yang Abadi (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Matahari Inara

Oleh:
Pernahkah kamu merasakan hidup yang tak sebenarnya hidup? Dimana tubuhmu masih mampu berdiri tegak, dan kakimu masih menapak tanah – tapi sukma entah melayang ke mana. Detak jantungmu berdenting

Terjebak Nostalgia

Oleh:
Malam itu, teman lamaku Andre mengundangku di acara ulang tahun adiknya yang berumur 15 tahun. Andre mengundang teman dekatnya termasuk aku dan dia. Ya, aku bertemu dengannya. Entah sudah

Bukan Juliet

Oleh:
Untuk kesekian kalinya perselisihan sengit antara sepasang kekasih yang berbeda sekolah. Arga di SMA Khatulistiwa yang merupakan sekolah menengah atas keempat baginya sedang Naya masih di SMA Mentari yang

Cinta Sejati (Part 1)

Oleh:
21 Agustus 2016 Di suatu SMP terdapat siswi yang terkenal tetapi sombong karena kecantikan dan kekayannya. Ferylona namanya. Dia akrab dipanggil Fery. Banyak cowok yang mendekatinya. Namun hanya ada

Cinta Monyetku

Oleh:
Masa-masa SMA emang masa yang paling indah kata orang dan masa itu masa yang gak akan terulang. Sekarang Dinda sudah gak pake seragam putih abu-abu lagi, sudah bukan anak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *