Love Hour (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Sunda, Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 20 November 2015

Setengah berlari aku menuju lift dari lobi menara ini. Ah, syukurlah hari ini aku tak terlambat lagi. Ku harap Agung telah menyiapkan segelas Frappucino untukku karena siaran hari ini nampaknya akan cukup melelahkan. Sembari menunggu lift tiba, aku menggunakan ponselku untuk melihat berita-berita terbaru melalui akun Twitter-ku. Tiga orang ikut mengantre lift denganku: seorang wanita karir berusia paruh baya dengan penampilan yang begitu berkelas, seorang pria keturunan asing berusia sekitar empat puluh tahunan, dan seorang pengantar pizza dengan mulut topinya yang membayangi wajahnya. Saat pintu lift terbuka, aku dan tiga orang itu segera memasuki lift. Ku tekan tombol angka empat belas.

“Lauren emang pelupa,” gumamku saat ku baca tweet Lauren mengenai buku catatan mata kuliah Literary Theories-nya yang tertinggal di kelas.

Pria asing itu berhenti di lantai empat, dan wanita itu berhenti di lantai enam. Kini hanya tinggal aku dan pria pengantar pizza yang ada di lift ini. Aroma keju menyerbak dan itu membuatku merasa lapar lagi.
“Ah, aku jadi lapar,” gumamku.
Kehilangan konsentrasiku, aku menjatuhkan buku dan iPad-ku. Aku terkejut dan segera berjongkok untuk mengambil buku dan iPad-ku, dan di saat yang sama pria pengantar pizza itu membantuku. Saat ia memberikanku bukuku, aku melihat wajahnya.

“Astaga! Deva?!”

Aku terkejut. Bagaimana bisa aku bertemu dengannya di kapsul besi berukuran satu setengah kali satu setengah kali tiga meter ini?
“Bukumu,” ujarnya dingin.
“Thanks,” jawabku seraya menerima buku tersebut.
Aku kembali berdiri sambil, kali ini, memegang erat buku dan iPad-ku agar jangan sampai aku melakukan hal bodoh lagi di hadapan orang yang ku sukai.

“Kamu kerja part-time di Domino?” tanyaku.
“Ya,” jawabnya singkat.
“Pizza itu.. Siapa yang pesan?” tanyaku, “Orang dari radioku ya?”
“Bukan urusan kamu,” jawabnya.
Aku tercengang untuk yang kedua kalinya dalam minggu ini karena sosok pria dingin ini. Sial! Mengapa ia bersikap begitu dingin padaku?

“Kenapa cara kamu ngejawab dingin banget?” tanyaku mulai kesal.
“Memangnya ada kaitannya dengan urusanmu? Kamu nggak perlu repot-repot urusin kerjaan orang lain,” jawabnya.
Aku meringis kesal.
“Aku berhenti di sini,” ujar Deva saat lift mencapai lantai dua belas.
Pria itu meninggalkanku di lift sendirian kali ini, dan saat aku yakin hanya CCTV yang menemaniku, aku menggaruk-garuk kepalaku dan menggerutu kesal. Gila! Anak itu benar-benar gila! Bagaimana bisa ia membuatku kesal sekaligus tergila-gila?

Matahari telah kembali ke peraduannya saat aku menyelesaikan sesi siaranku hari ini. Agung, rekan operatorku melepaskan headphone-nya saat aku melewati meja kerjanya.
“Mbak Ariana sudah selesai?” tanya Agung.
“Sudah, Gung. Lagi pula hari ini saya nggak dapat jadwal siaran malam, jadi saya bisa pulang,” jawabku.
“Mbak Ariana mau Agung antar pulang?” Agung menawarkan bantuan, “Jauh loh, dan juga udah malam. Apalagi mbak Ariana kan perempuan”
“Nggak perlu, Gung. Saya bisa pulang sendiri kok. Lagi pula udah biasa,” jawabku.
“Atau gimana kalau Agung antar sampai stasiun aja? Nanti mbak Ariana kan bisa lanjut pakai angkot dari sana. Yang penting Agung harus pastikan mbak Ariana setidaknya aman sampai mbak Ariana dapat angkot”

Aku tersenyum kecil.
“Kamu itu terlalu baik, Gung,” ujarku, “Saya bisa cari angkot dari halte di seberang kok. Tenang aja”
Aku pun pamit pada Agung lalu segera berjalan ke luar menuju lift. Setelah menekan tombol lift, aku terdiam, teringat ucapan Agung beberapa saat yang lalu.
Dan aku pun segera kembali.

“Gung, kayaknya maag-ku kumat lagi nih,” ringisku.
“Wah, mbak Ariana perlu Agung belikan sesuatu? Obat maag ada kok di ruang kru kalau mbak perlu,” tanggap Agung cepat.
“Nggak. Saya harus pulang cepat, Gung,” jawabku.
“Hmm.. Ya udah, mbak tunggu di sini. Agung ambil jaket dulu nanti Agung antar mbak Ariana sampai rumah,” ujar Agung.
“Eh, nggak perlu sampai rumah, Gung. Sampai stasiun aja. Nggak apa-apa kok,” tukasku.
“Loh, katanya maag mbak kumat? Kalau kumat di angkot bagaimana?”

Aku meringis pelan.
“Agung percaya deh sama saya. Nggak apa-apa kok”
Agung terdiam sejenak, berpikir, lalu segera bangkit dari tempat duduknya.
“Mbak Ariana tunggu di sini sebentar ya. Agung ambil jaket dulu di ruang kru”

“Benar nih mbak Ariana nggak apa-apa?”
Raut kekhawatiran nampak jelas di wajah rekan kerjaku itu. Aku mengangguk dan tersenyum kecil.
“Kelihatannya maag-ku sudah mulai baikan,” ujarku, “Kalaupun di angkot terasa sakit lagi, toh tadi kita sudah beli obat maag di apotek”
“Agung tambah khawatir sama mbak Ariana,” ujar Agung khawatir.
“Tenang aja, Gung. Kamu nggak perlu sekhawatir itu,” jawabku menenangkannya, “Mendingan kamu cepat kembali ke studio. Kasihan tuh mbak Lidya giliran siaran, masa nggak kamu bantu”

Sebelum sosok berjaket merah itu pergi, aku sempat memberinya selembar uang sebagai hadiah terima kasihku kepadanya. Aku merogoh ponselku dan mengetikkan pesan singkat untuk Ferdi.
“Fer, kamu bilang coach-mu sering bantu kerja di kedai Neneknya di dekat stasiun. Kedainya kayak gimana?”
Aku mencari tempat duduk tak jauh dari pintu gerbang stasiun. Di dekatku pula banyak mobil-mobil angkot berbaris menunggu penumpang, dan juga beberapa motor yang terparkir di depan deretan toko-toko. Aroma tembakau tercium kuat dari kepulan asap yang dikeluarkan oleh sekelompok pria-pria tua yang duduk di dekat motor-motor itu terparkir.

“Aku nggak tahu pasti, tapi kalau nggak salah kedai itu semacam kedai yang jualan nasi campur atau nasi kucing”
Aku mengernyitkan dahiku. Nasi kucing? Apa mungkin kedai itu ada di antara deretan toko-toko itu? Aku pun bangkit dan memberanikan diri melihat deretan toko-toko tersebut. Tatapan pria-pria tua itu jujur saja membuatku takut. Toko-toko yang berderet ini nampak lusuh -sebuah toko servis barang-barang elektronik, sebuah tempat jasa pengiriman barang, dan..

“Aduh!”

Bahuku menabrak seseorang karena aku terlalu serius memperhatikan deretan toko-toko itu. Aku berbalik untuk meminta maaf namun justru bukan ucapan maaf yang ke luar dari mulutku.
“Deva?”
Sosok Deva mendekatiku dan menatapku tajam.

“Kenapa kamu ada di tempat kayak gini?” tanyanya dingin.
“A.. Aku.. Katanya kamu bantu kerja di kedai punya Nenekmu, ya?” tanyaku gugup.
“Kalau ya memang kenapa? Memangnya apa urusan kamu?” jawabnya sinis.
“Aku kan cuman tanya, kenapa kamu sinis begitu?” aku membela diri.
“Aku nggak ngerti. Sejak kemarin aku terus berpapasan sama kamu. Mau kamu apa sebenarnya?”

Kekesalanku muncul.
“Kamu pikir selama ini aku memang sengaja ikuti kamu? Enak aja!” tepisku.
“Habisnya aku lihat kamu dimana-mana dan—”
“Lantas karena kita sering berpapasan apa itu artinya aku ikuti kamu?” potongku.

Deva terdiam, lalu mendengus kesal. Tak jauh dari tempatku berdiri, ku lihat sebuah kedai yang nampak cukup ramai. Ada seorang wanita tua yang duduk di depan kedai tersebut dengan wajah yang pucat dan tubuh yang lemah, mencengkeram kuat lengan kursi yang didudukinya.
“Itu Nenekmu?” tanyaku.
“Ya. Dan dia udah tua,” jawab Deva, “Sekarang kamu puas setelah tahu di mana aku bekerja dan seperti apa Nenekku?”
“Aku nggak berpikir seperti itu. Kamu jangan asal bicara,” tegurku.
Deva menegakkan kepalanya.
“Aku harus pergi,” ujarnya seraya pergi begitu saja.

Aku menatap punggung tegapnya yang semakin menjauh. Ku hela napas panjang sejenak. Astaga, mengapa ia begitu dingin dan sinis padaku? Melihat kembali ke arah kedai itu, aku memutuskan untuk membeli makanan untuk makan malamku. Wanita tua yang menjaga kedai itu menyapaku ramah.
“Neng, mau makanan apa?” tanyanya ramah.
“Itu aja bu, tempe dan tahu goreng masing-masing dua. Ayam goreng satu. Nasi satu porsi. Dan sayur lalap bu, jangan lupa,” jawabku.

Wanita itu segera menyiapkan pesananku. Berada cukup dekat dengannya, aku dapat melihat matanya yang merah berair dan jemarinya yang nampak rapuh. Napasnya tak teratur dan sesekali wanita itu terdiam sembari memejamkan matanya untuk sesaat, lalu kembali bekerja.
“Ibu sakit apa?” tanyaku.
“Ah, nggak apa-apa, neng. Kalau sudah tua sih sakit mah biasa,” jawabnya.
“Kalau sakit lebih baik Ibu istirahat atau periksakan ke dokter,” ujarku.
“Neng, orang seperti saya yang nggak punya uang mah nggak bisa pergi ke dokter,” ujarnya.

Aku tertegun. Rasanya air mataku mulai berkumpul di pelupuk mataku.
“Neng, temannya Deva ya?” tanya wanita itu.
“Eh.. Ya, bu,” jawabku.
“Maaf ya neng. Deva mah kitu budakna. Hapunten,” ujarnya.
Aku mengangguk pelan. Wanita itu memberikanku pesananku seraya menyebutkan harganya.
“Dua belas ribu, neng,” ujarnya.
Aku merogoh dompetku dan mengeluarkan selembar uang senilai seratus ribu. Wanita itu terkejut.

“Aduh, neng. Teu aya artos alit? Ibu nggak punya kembalian,” ujarnya.
“Ambil semua aja bu, tapi jangan bilang sama Deva kalau saya datang ke sini,” ujarku.
“Nggak usah, neng. Kalau Deva tahu pasti Deva marah,” tolak wanita itu.
“Ambil aja, bu. Nggak apa-apa. Asalkan Ibu tidak bilang ke Deva”

Wanita itu terdiam sejenak.
“Benar neng ini nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa kok bu. Lagi pula barangkali bisa dipakai untuk biaya ke dokter”
Wanita itu nampak bahagia. Ah, ku mohon jangan menangis. Jika wanita itu menangis, pasti aku akan ikut menangis.

“Terima kasih banyak, neng. Terima kasih. Kalau neng mau makan, datang saja ke sini ya. Ibu kasih gratis kanggo neng mah,” ujar wanita tersebut terharu.
“Ya, bu. Sama-sama,” jawabku.
Setelah berpamitan, aku segera mencari angkot menuju Ledeng. Di dalam mobil aku menyandarkan tubuhku dan menghela napas lega. Semoga saja Deva tak tahu. Semoga saja.

Ponselku berdering, membuatku menjadi pusat perhatian di dalam mobil angkot ini. Para penumpang yang kebanyakan berusia setidaknya dua tahun lebih tua dariku menatapku dengan tatapan yang membuatku tak nyaman dan ingin dengan sekali kedipan, menghentikan nada dering ponselku.
“Ya, Agung. Ada apa?” tanyaku setelah menjawab panggilan masuk.
“Mbak Ariana lagi dimana sekarang?” tanya Agung sedikit terbata-bata.
“Saya di perjalanan menuju CiWalk,” jawabku, “Memangnya ada apa? Kok suaramu kayak gugup begitu?”

Terdengar Agung berbicara pada dirinya sendiri, mengungkapkan kepanikan yang nampaknya sedang melanda studio.
“Mbak Ariana bisa siaran Love Hour nggak malam ini?”
“Apa? Malam ini?”

Aku melirik arloji di tanganku. Waktu telah menunjukkan pukul tujuh lebih dua puluh menit.
“Mbak Nova nggak bisa siaran karena sakit demam. Mas Guruh jelas-jelas nggak bisa siaran karena sedang live report di Jakarta,” jelas Agung.
“Loh, memangnya announcer kita cuman sedikit?” tanyaku mencari alasan agar aku tak perlu bertugas siaran untuk malam ini.
“Mbak Ariana lupa ya hari ini banyak yang pergi ke Jakarta untuk live report konser jazz?” jawab Agung, membuatku terpojokkan.

Aku menghela napas sejenak.
“Saya makan malam dulu deh, Gung. Nggak apa-apa kan? Nggak akan sampai satu jam kok. Nanti selepas makan malam saya akan naik taksi supaya cepat sampai. Gimana?” tawarku.
“Wah, terima kasih banyak, mbak!” seru Agung, “Agung nggak tahu deh harus gimana kalau hari ini nggak ada yang siaran Love Hour”
Setelah mengucapkan terima kasih yang kelima kalinya, Agung mengakhiri percakapannya di telepon dan aku telah tiba di depan salah satu mall di kota ini. Dalam hati aku berharap semoga program director memberiku gaji tambahan untuk jadwal kejutan seperti ini.

Bersambung

Cerpen Karangan: Klaus Rachman
Blog: rocklafeller.blogspot.com
Nama: Klaus Rachman
Twitter: @rocklafeller

Cerpen Love Hour (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


07.30

Oleh:
“Gubraaakk!!” Haduh keadaan jalanan di sekitar sekolahku memang tak pernah kunjung baik. Berkali-kali angkutan umum yang kunaiki terjebak beberapa detik di lubang yang sama. Aku memang berniat untuk memiliki

Lomba Cerita Rakyat Tingkat SMP

Oleh:
Pada suatu hari senin, tepatnya pukul 07.00 pagi, saya ditunjuk sebagai peserta yang mewakili sekolah saya dalam lomba Cerita Rakyat Tingkat SMP. Awalnya saya bingung kenapa saya yang dipilih

Kisah Cintaku Yang Pertama

Oleh:
Siapa sih yang bisa ngelupain “First Love”? ah.. pastinya nggak ada. Aku inget banget, waktu itu jalan sama teman, terus tiba-tiba ada dia. Dia itu temannya temanku, habis itu

Teman Baruku Si Cinta Pertamaku

Oleh:
Saat matahari mulai lelah menyinari bumi, pelen-pelan dia terbenam ke arah barat, dan bersembunyi di belakang pegunungan, langit pun menjadi kemerahan. Saat itu juga aku terbangun dari tidur siangku.

Penantian Cinta Tak Terbalas

Oleh:
“Ar aku suka kamu..” ucapku padanya “Aku juga suka kamu Win” jawabnya “Apa berarti kita bisa pacaran?” tanyaku “Maaf Win tapi aku tak bisa, aku baru aja jadian sama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *