Persimpangan (Part 2)

Judul Cerpen Persimpangan (Part 2)
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Sunda, Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 9 January 2016

Rasanya aku ingin waktu berhenti di malam ini, karena aku ingin terus seperti ini. Merasakan kebahagiaan yang tak terhingga bersama pangeran impianku selama ini. Semua mimpiku satu persatu terwujud di sini. Terima kasih ya Allah kau telah memberikan waktu yang indah ini untukku. Aku hanya ingin slalu seperti ini. Jangan kau putar waktu dulu ya Allah agar ku bisa lebih lama merasakan kebahagian yang selama ini ku rindukan.

Aku tak ingin mataku terpejam karena aku tak ingin esok pagi datang. Karena esok pagi aku akan beranjak dari sini. Dari tempat dan waktu yang indah ini. Tiba-tiba saja lampu di kamarku mati. Mati lampu rupanya. Aku ingin sekali teriak, karena aku sangat takut sekali dengan gelap. Karena rasa malu dan tak enak ku urungkan niatku untuk berteriak meskipun aku takut setengah mati.

Tiba-tiba pintu kamarku terbuka ada seseorang membawakan lilin untukku. Tapi aku berpura-pura seolah aku sudah tertidur. Ternyata Anggar yang membawa lilin itu ke kamarku. Dia menaruhnya di meja di samping tempat tidurku. Lalu dia diduduk di bawah dan kepalanya dia senderkan di tempat tidurku. “semoga hari ini kamu bahagia bidadariku. Kamu jangan takut aku temenin kamu. Aku tahu kamu takut gelap.” dia berbicara sendiri. Ya Allah dia pun masih ingat kalau aku takut gelap.

Aku smakin tidak bisa tidur karena semua ini terlalu indah untukku. Ku balikkan badanku. Ternyata dia sudah tertidur. Wajahnya manis sekali. Alisnya tebal terlihat sangar tapi dia lembut banget. Bahkan dia selalu memperlakukanku bak seorang putri di sini. “Ya Allah jangan ambil kebahagiaan ini dariku.”

Akhirnya, pagi pun datang. Ku lihat Anggar sudah tidak ada di kamarku. Rasanya aku enggan beranjak dari kamar ini. Pintu kamarku terbuka.
“pagi sayang.” sapa Anggar.
“pagi a..” kataku.
“gimana tidurnya? Nyenyak gak? Banyak nyamuk ya?” tanyanya padaku.
“mana ada nyamuk di tempat dingin. Nyenyak kok” jawabku.

“ay. Kamu mau mandi sekarang gak? Tapi maaf ya ay. Di sini kalau mandi tuh harus ke sungai. Kalau kamu mau mandi sekarang nanti aku suruh Mama temenin kamu” tanyanya lembut sekali. “iya deh aku mau mandi sekarang aja. Soalnya kan kmaren gak sempet mandi” jawabku.
“ya udah yuk.” jawabnya sambil membantuku bangun dari tempat tidurku. Lalu aku keluar kamar bersamanya.

Di luar sudah ada mamanya yang menungguku sambil membawa kain untukku, “ini Neng. Pakai ini kalau mau ibak (mandi) nyak. Hayu atuh Mama antar ke sungai” kata mamanya yang super baik itu. Lalu aku digandeng mamanya menuju sungai. Ternyata Anggar juga mengikuti aku dari belakang. “kok kamu ikut juga a.. Huussst.. Pulang sana. Masa kamu ikutin aku mandi sih?” kataku meledeknya. “aku cuma jagain kamu aja. Bukan mau ikut mandi. Aku udah mandi tahu” jawabnya sambil tertawa. Mamanya pun ikut tertawa.

Setelah selesai mandi dan bersolek sedikit. Anggar membawakan ku segelas susu. “udah cantik kok sayang. Ini minum dulu” katanya mengagetkanku. Aku hanya tersenyum. “susu?” tanyaku padanya.
“iya susu. Kan setiap aku telepon kamu pagi-pagi, aku tanya kamu udah sarapan belum. Pasti kamu jawab udah tadi udah minum susu putih. Kalau minum susu pagi-pagi itu bikin semangat loh. Kan kamu sering bilang begitu” katanya. Aku tersenyum dia mengingat semua itu. Dan mewujudkannya lagi.

Aku masih punya waktu 2 jam untuk berbincang-bincang dengan mamanya. “ikut Mama yuk Neng” ajak mamanya. “iya Ma” lalu aku mengikuti mama ternyata mama memiliki rumah lagi. Dan di rumah itu mamanya menunjukkan padaku sesuatu. Dia membuka lemari kecil lalu dia mengeluarkan sebuah kotak di dalam lemari itu.
“apa ini Ma?” tanyaku. “sok dibuka Neng” mamanya menyuruhku membuka kotak itu.

Ternyata isi kotak itu adalah barang-barang yang aku berikan pada Anggar semasa menjadi pacar dunia maya dulu. Kami sering bertukar kado semua itu masih tersimpan rapi di kotak itu. Ku lihat sebuah message in the bottle yang pernah ku berikan untuknya. Dan ku baca lagi pesanku saat itu padanya. Aku tersenyum dan agak terharu saat mamanya bilang, “dulu teh si Aa. Ngomong kieu ka Mama Neng. ‘Mah tolong disimpen sing rapi nyak Mah. Ieu teh pemberian permaysuri abdi. Pokona simpen sing rapi nyak. Tong sampe aya nu ngacak-ngacak.’ Kitu katana Aa. Ya Mama simpen dina kotak ieu. Ini pemberian Eneng kan?”

“(Dulu tuh si Aa ngomong begini ke Mama neng. ‘Mah tolong disimpan yang rapi ya Mah. Ini tuh pemberian permaisuriku. Jangan sampai ada yang ngacak-ngacak.’ Begitu katanya Aa. Ya Mama simpan di kotak ini. Ini pemberian Eneng kan?)” tanya mamanya padaku.
“iya Mah ini semua dari aku” mamanya tersenyum sambil meneteskan air mata dan mengusap rambutku.

Ya Allah aku merasakan ketulusan seorang ibu terhadap anaknya. Rasanya tulus banget. “oh. Kamu di sini ay. Aku cari ke mana-mana ternyata kamu di sini. Siap-siap yuk. Udah jam berapa ini” Anggar datang menghampiriku dan mama di depan pintu. Mamanya menyuruhku menghadap ke Anggar.

Rasanya berat sekali meninggalkan tempat ini. Karena sepertinya jiwaku sudah berada di sini. “kenapa sayang?” tanya Anggar lembut padaku. Aku hanya diam.
“kok kamu nangis sih. Jangan nangis dong. Kenapa sih? Aku bikin salah ya sama kamu?” tanyanya padaku semakin membuat hatiku tak ingin meninggalkan tempat ini. Anggar memelukku. Rasanya nyaman sekali ada di pelukannya.

“kenapa sayang? Hmm..” tanyanya sambil memelukku.
“aku takut..” jawabku.
“takut kenapa?” tanyanya.
“aku takut semua berakhir sampai di sini” jawabku.
“siapa yang bilang, semua berakhir sampai di sini? Emang kamu gak tahu ya?” katanya sambil melepaskan pelukkannya dan menatapku.
“apa?” jawabku bingung.

“setelah ini, nanti kan aku kembali lagi ke bandung mungkin setelah 1 atau 2 minggu di bandung. Aku kan pindah ke jakarta. Aku mau kerja di jakarta” jawabnya.
“bener? Kok kamu gak bilang sama aku sih?” kataku.
“kan surprise. Kalau aku bilang. Gak surprise dong namanya..” jawabnya.
“beneran A? Tapi emang kamu udah dapet kerja di jakarta?” tanyaku.
“soal kerja mah gampang. Kerja apa aja aku mau. Nanti aku tinggal sama Kakakku di mangga besar. Jadi kamu jangan sedih lagi ya..” jawabnya menenangkan hatiku.
“sebentar ya sayang..” katanya sambil membuka lemari mengambil jaket. “ini dipake jaketnya yang. Oya taro foto ini di dompet kamu ya. Biar di sana nanti kamu gak lupain aku.” katanya.

Ini lah detik-detik paling berat untukku. Dimana aku harus meninggalkan tempat ini. Tempat berjuta cinta dan kasih sayang. Inilah hal paling berat harus berpamitan dengan semua keluarga terbaik ini. Paman, Bibi, Keponakan, Sepupu dan Mama. Mereka semua menitikkan air mata. Apalagi mama dia memelukku erat sekali. Seolah akan kehilangan anaknya. Tangisnya membuat ketegaranku roboh seketika air mataku pun tak sanggupku bendung lagi.

Aku pun menangis di pelukan mama. Dia mencium keningku. Dan berkata agar suatu saat aku kembali lagi di sini. “maafin Mama ya Neng. Jaga diri baik-baik di sana ya. Nanti ke sini lagi ya. Mama sayang sama Eneng.” kata mamanya sambil menangis. Aku tak sanggup berkata apa-apa lagi. Aku hanya mengangguk. Lalu aku menaiki motor yang sudah dikendarai Anggar.

Seperti ada yang hilang dari hidupku. Meski baru 1 hari aku mengenal mereka. Tapi mereka benar-benar sudah menetap di hatiku. Dan begitu pun dengan Anggar laki-laki yang banyak mewujudkan impianku di sini. Akhirnya aku pulang dengan membawa sejuta kenangan bersama mereka. Sepanjang perjalanan menuju terminal degung, Anggar selalu menggenggam tanganku. Dan sepanjang perjalanan aku selalu bersandar di pundaknya. “terima kasih ya Allah kau telah memberiku kebahagiaan dan waktu yang indah ini untukku. Semoga suatu saat nanti kau mempersiapkan waktu yang indah lagi untuk aku dan Anggar.” kataku dalam hati.

Akhirnya aku sampai di terminal degung. Ku tarik napasku dalam-dalam karena rasanya begitu sesak. Anggar membelikanku sebuah tiket bus. Minuman dan makanan ringan kesukaanku. Anggar mengantarku sampai naik ke atas bus. Sebelum bus jalan Anggar masih tetap berada di atas bus menemaniku. Tangannya terus menggenggam tanganku. “hati-hati ya sayang. Inget kamu gak boleh sedih. Inget janji aku sama kamu ya. Aku pasti bakal nyusul ke jakarta. Tunggu aku di sana ya.” katanya menguatkanku.

Bus pun sudah mau berjalan. Dia mencium keningku. Lalu di melangkah turun dari mobil. Dia melambaikan tangannya kepadaku. Ku lihat wajahnya dari balik kaca. Tapi aku bahagia. Akhirnya aku dan Anggar berpisah di terminal itu. Aku hanya memiliki satu harapan. Semoga Allah memberikan waktu yang indah lagi untukku dan Anggar.

Cerpen Karangan: Khalia Ramadanika
Facebook: khalia.ramadanika[-at-]facebook.com
Namaku: Khalia Ramadanika

Cerita Persimpangan (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pangeranku Tanpa Sayap

Oleh:
Angin bertiup kencang. Langit kelabu. Daun-daun gugur berhamburan. Pohon-pohon bambu bergoyang. Ada suara seperti memanggil-manggil dari jauh. Tak lama kemudian hilang ditelan angin. Lalu guntur di langit seketika bergemuruh.

Perjalanan Seorang Santri

Oleh:
Gue gak pernah kefikiran untuk tinggal yang namanya di pesantren. Dan menjadi seorang santri (ngapain juga tinggal di pesantren, mana enak disuruh ngaji terus). Waktu itu adik gue baru

Wawan Dan Ririn / 18 Tahun

Oleh:
“Tunggu aku bentar rin” ucap Wawan yang masih sibuk bereskan buku-buku setelah bel pulang berbunyi “iya, buruan ya wan” sahut Ririn yang sudah berdiri di depan pintu kelas “Kita

Takdir Seorang Istri

Oleh:
Takdir selalu memberi kejutan. Kalian percaya kan? Kuatkan hati untuk menghadapi kenyataan yang tak sejalan dengan dugaan. — Farihah, “perempuan yang berbahagia”. Begitu kedua orangtua menyematkan doa dalam nama,

Love in Rain

Oleh:
Kaki kecil itu berlari menyisiri sudut rumah. Membuka pintu demi pintu. Memasuki pintu selanjutnya yang tanpa perlu dibukanya, menganga lebar, langkahnya terhenti. Sedikit susah bernapas, tersenggal-senggal. “Wah, cantiknya…” mata

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *