Santosa Jaya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Sunda
Lolos moderasi pada: 11 April 2016

Tepat pukul 7 malam ketika dia sampai di Tanjung Harapan. Malam itu di Tanjung Harapan tengah diadakan pasar malam. Lampu-lampu yang menyilaukan mata dan suara orang-orang yang memekakkan telinga menyambut kedatangannya. Pria itu datang ke pasar malam bukan tanpa tujuan. Dia datang untuk menyatakan perasaannya pada sahabatnya yang telah ia kenal sejak dia SD. Saat pertama kali ia bertemu dengan wanita yang kini menjadi pujaan hatinya, tak pernah terlihat adanya benih cinta di antara mereka. Sampai saat hari itu, saat dia paham betul apa itu cinta.

Mereka berjanji untuk bertemu di depan komedi putar tepat pukul 8 malam, tapi pria lulusan Universitas Negeri dalam bidang teknik itu tak sabar untuk bertemu teman masa kecilnya yang kini menjadi pujaan hatinya itu. Perasaan rindu yang telah tertumpuk selama empat tahun saat dia berkuliah di kota akan dia lampiasnkan hari ini. Dia ingat betul ketika terakhir kali bertemu dengannya, dari dalam bus yang penuh sesak dengan penumpang dan barang bawaan yang akan mereka bawa ke kota dengan tujuan mereka masing-masing, dia masih ingat lambaian tangan sang gadis idaman, serta senyuman yang mengisyaratkannya untuk kembali sesegera mungkin.

Bosan menunggu, ia memutuskan untuk menaiki komidi putar yang ada di belakangnya. Dari atas wahana murah meriah itu ia mampu melihat SD-nya dulu dan lapangan tempat dia biasa bermain dengan si gadis idaman. Dia duduk di dalam komidi putar dan ditemani tas lusuh berwarna cokelat yang berisikan ijazah beratasnamakan Mualim dan di tandatangani langsung oleh Rektor Universitas Negeri itu yang ingin sekali ia tunjukan pada wanita idamannya. Beberapa menit berselang komidi putar pun berhenti, memaksanya kembali ke dunia nyata setelah dengan nyaman melamunkan cinta fana antara dirinya dan teman sepermainannya dulu.

Kini, Mualim berdiri di bawah lampu dengan nyala kuning, di dekat komidi putar tempat yang telah ia janjikan bersama wanita pujaan hatinya untuk bertemu. Tak terasa jarum jam paling pendek di jam tangannya sudah menunjuk ke arah angka delapan dan jarum jam yang panjang mengarah pada wilayah di antara angka satu dan dua. Terlambat sedikit sudah wajar katanya dalam hati. Dipandanginya foto berukuran 3×4 yang dengan setia ada di dompetnya, sama setianya dengan dirinya yang hanya mencintai seseorang seumur hidupnya. Foto sang pujaan hatinya itu dia elus dengan lembut. Membuatnya semakin ingin pujaan hatinya itu segera datang.

Malam semakin larut, namun Juleha tak kunjung datang. Mualim gelisah dibuatnya. Pikiran-pikiran negatif mulai hinggap di benaknya. Mulai dari Juleha yang lupa, atau memang sengaja tidak datang. Atau pujaan hatinya sudah dibawa lari oleh kekasih gelapnya. Sampai sang pujaan hati yang dibegal saat di perjalanan. Namun itu percuma saja, penantiannya tak kunjung usai. Perasaan gelisah kian menjadi dalam dirinya. Hatinya terguncang oleh prasangka buruk. Sekaligus sesak karena rasa rindu tak kunjung dilampiaskan. Tak hilang arah, Mualim mencoba menghubungi Juleha menggunakan handphone yang dia dapatkan dari ayahnya yang sudah tiada 2 tahun lalu. Berkali-kali dia coba meneleponnya namun tak kunjung terhubung.

Berkali-kali dia coba meneleponnya, namun tak juga diangkat. Pikiran miring telah mencemari pikirannya. Di tengah perasaan tak menentu, dan kebingungan, Mualim akhirnya memutuskan untuk menenangkan pikirannya. Dia pergi ke warung yang menjual berbagai minuman, ada yang berasa ada juga yang tidak ada yang berwarna ada juga yang tidak. Dibelinya sebotol air tak berwarna dan berasa dengan harga dua lembar Patimura. Ditenggaknya minuman itu dengan harapan dalam menenangkan pikirannya seperti yang dikatakan Prof. Dr. Soedihardjo. Saat dia mengikuti seminarnya. Prof.Dr.Soedihardjo berkata bahwa air putih dapat menghilangkan stres, meningkatkan konsentrasi, dan efek-efek lain yang seolah-olah air putih adalah minuman terbaik. Apa yang dikatakan oleh Prof.Dr.Soedihardjo memang benar. Sekarang Mualim tidak mengalami stres karena sejak awal dia memang tidak stres. Namun dia malah lebih berkonsentrasi untuk memikirkan Juleha, dan juga pikiran negatif tentangnya.

Di tengah riuhnya pasar malam yang semakin malam semakin ramai, Mualim tetap setia menunggu pujaan hatinya yang belum menampakkan batang hidungnya. Kini dia duduk di atas kursi penjual nasi goreng yang dia terpaksa duduki karena beberapa alasan. Alasan pertama adalah karena dia lapar karena belum memasukkan apa pun ke dalam perutnya sejak salat dzuhur selain air putih, yang sebenarnya bening, yang membuatnya semakin berpikiran negatif kepada Juleha. Alasan kedua adalah karena dia pegal karena sudah hampir dua jam dia menunggu Juleha. Ketiga adalah karena dia tahu kalau makan sambil berdiri itu tabu.

“Mas, udah belum? Tos lapar yeuh?” tanya Mualim, menanyakan pesanannya sudah siap disajikan atau belum, kepada Mang nasgor yang jelas-jelas masih memasak nasi goreng pesanannya karena hanya dia satu-satunya yang memesan nasi goreng saat itu. Meski demikian, Mualim tetap saja bertanya.
“Can atuh kang, sabar. Sakedap deui antosan weh,” balas Mang nasgor dengan bahasa daerahnya yang masih dengan setia dia pergunakan sampai rambutnya yang sudah memutih, sambil mengisyaratkan pada Mualim agar tetap sabar saat menunggu.

Kini, Mualim terpaksa menjadi penunggu ganda -menunggu Juleha sambil menunggu nasi goreng, atau menunggu nasi goreng sambil menunggu Juleha. Efek yang ditimbulkan air putih memang sangat mujarab. Mualim makin konsentrasi memikirkan Juleha, dalam bentuk yang negatif tentunya. Namun, pemikiran negatif tentang Juleha yang sengaja tidak menepati janji, berubah menjadi perasaan khawatir. Mualim berprasangka bahwa Juleha telah dibegal di tengah jalan, karena tidak sampai-sampai. Belum puas berprasangka, Mualim menambah prasangkanya. Dia berprasangka bahwa Juleha terjatuh ke sungai lalu hanyut dibawa arus. Semua prasangka yang dipikirkan Mualim sukses membuat pikirannya sakit semakin berpikir, semakin sakit pikirannya. Lalu Mualim sadar bahwa prasangka bukanlah hal yang baik, apalagi terhadap pujaan hatinya, dan dia pun berhasil menenangkan pikirannya.

“Nih kang nasgornya, tos jadi ayeuna mah,” kata Mang nasgor sambil meletakkan sepiring nasi goreng di atas meja, tepat di hadapan Mualim.
“Ih nuhun kang.” kata Mualim sembari tersenyum dengan ramah.

Tanpa basa-basi, Mualim langsung menyantap nasgor yang harganya sama dengan sepuluh lembar Patimura. Dia menyantapnya seolah itu adalah makanan pertama yang ia makan selama berhari-hari. Butiran nasi hangat yang bercampur dengan kecap, garam, dan bumbu lainnya membuat Mualim tak dapat berhenti mengunyah. Bagai orang kelaparan -padahal memang, Mualim menyantap nasgor itu dengan cepat sampai membuatnya tersedak.

“Lalaunan atuh kang tuang teh, kabesrekan kan,” suara Mang nasgor kembali terdengar sesaat setelah Mualim tersedak.
“Muhun kang,” kata Mualim berbarengan dengan sendok yang mendarat di atas piring yang tinggal menyisakan sedikit nasinya itu, lalu ia meminum air putih dalam botol yang tinggal setengah.

Begitu lahap Mualim menyantap nasgor buatan si Mang nasgor, sampai sampai dia lupa berdoa, sampai sampai dia lupa tentang Juleha. Sesaat kemudian, piring yang semula dipenuhi nasi berwarna cokelat itu, kini sudah bersih. Rak ada satu pun nasi yang tersisa di atasnya, bagai kelaparan -padahal memang, Mualim memakannya sampai butir terakhir. Dan saat itu pula telepon genggam milik Mualim bergetar. Dengan cepat Mualim mengambilnya dari dalam saku celana jeans yang dia kenakan. Terkejut bukan main Mualim saat mengetahui Julehalah yang menelepon dirinya. Saking senangnya, dia merasa jantung nya meledak. “Halo Juleha.” Sapa Mualim kepada lawan bicaranya di telepon itu, lalu dengan khidmat, Mualim mendengarkan suara yang keluar dari ponselnya itu.

Mualim begitu khidmat mendengarkan suara dari ponselnya itu, sampai dia lupa bahwa dia belum minum setelah dia berhasil menghabiskan ribuan butir nasi goreng barusan. Beberapa saat hening, komidi putar berhenti, radio butut yang ada di gerobak si Mang nasgor ikut mati, lampu di mana Mualim sempat menunggu di bawahnya pun mati -listrik mati. Seketika itu pula suasana pasar malam menjadi tak karuan. Anak-anak menjerit karena takut gelap, ada yang sampai menangis. Seorang wanita yang sedang naik komidi putar pun tak mau kalah, dia juga menjerit karena komidi putranya berhenti, tepat saat dia ada di atas. Namun begitu, Mualim tetap khidmat mendengarkan telepon genggamnya. Lalu, seperti kerasukan, Mualim segera berlari, berlari di bawah rembulan yang menyinari jalanan di Tanjung Harapan.

“Eh kang sakedap, bade ka mana? Bayar dulu atuh!” Mang nasgor ternyata mengejar Mualim demi mendapatkan sepuluh lembar Patimura.
“Oh iya, hampura mang, hilap.” balas Mualim sambil memberikan dua lembar Tuanku Imam Bondjol pada si Mang nasgor lalu kembali berlari ke arah yang tak jelas.
Mualim terus berlari, batu yang masuk ke dalam sepatunya tak ia hiraukan, angin dingin yang menerpa wajahnya apalagi. Dia berlari secepat mungkin. Berlari ke arah orang-orang dengan motor berlari ke pangkalan ojek.

“Mang ojek… ke rumah sakit… Santosa mang… cepetan!” kata Mualim putus-putus karena kelelahan setelah berlari hampir sejauh seratus meter.
“Siap kang, make helm moal?” kata mang ojek yang langsung dengan sigap menyalakan sepeda motornya yang beroda dua sambil menawari Mualim sebuah helm untuk dipakai.
“Ah teu kedah, caket da… ngan ka rumah sakit Santosa Jaya ieu,” balas Mualim sambil menaiki sepeda motor Astrea jadul yang spionnya tinggal satu.
“Oh, nya atuh, hayu caw. Bismilahiromannirohim.”

Sepeda motor tua itu melaju sesaat setelah mang ojek itu membaca bismillah. Motor Astrea tua itu melaju dengan cukup cepat, setidaknya lebih cepat dari kecepatan Mualim saat berlari tadi. Angin dingin kembali menerpa wajah Mualim, hanya saja lebih kencang. Batu kerikil masih ada di dalam sepatunya, tapi Mualim tidak peduli. Satu-satunya yang ia pedulikan saat ini adalah sampai ke rumah sakit Santosa Jaya secepat mungkin.

“Mang gancangan atuh!” kata Mualim meminta Mang ojek mempercepat laju Astrea tua itu dengan tidak sabar.
“Sabar atuh kang, selow. Da di depan ge lampu merah atuh,” balas Mang ojek sambil memperlambat laju motornya yang berjarak sekitar 15 meter dari persimpangan jalan yang dihiasi lampu merah.
“Ah, terobos weh mang, mumpung sepi, eweuh polisi deuih,” Mualim yang tak sabar menyuruh Mang ojek untuk menerobos lampu merah karena kala itu jalanan sepi, dan tak ada polisi yang terlihat mengawasi.

Entah berapa banyak seran yang menghasut Mang ojek sampai akhirnya dia mengikuti kemauan Mualim untuk menerobos lampu merah padahal dia tahu itu bukan perbuatan yang baik. Dan benar saja, sesuatu yang tidak baik akan menghasilkan sesuatu yang tidak baik pula. Mualim beserta Mang ojek, dan motor Astrea tua itu ditabrak oleh truk yang melaju kencang dari arah kanan. Mereka bertiga -Mualim, ‘Mang ojek, dan Astrea tua, terhempas ke pinggir jalan. Semua orang uang menyaksikannya panik. Wanita yang sedang berjalan di trotoar menjerit histeris.

Beberapa pria lapuk di warung kopi dekat persimpangan yang sedang memimum kopi dengan kompak menjatuhkan kopinya. Serpihan kaca dari truk berserakan di jalanan, menjadi alas untuk Mualim dan Mang ojek yang tergeletak tak berdaya. Darah segar keluar dari kedua tubuh malang itu. Sementara itu, Astrea tua tewas seketika. Stang tuanya patah, kedua bannya yang juga tua lepas, spionnya yang tinggal satu pecah. Dengan setengah sadar Mualim merasakan dirinya dibawa masuk ke dalam sebuah ruangan, ruangan dengan lampu yang terang. Dia tak bisa merasakan kakinya, tangannya, perutnya. Dia hanya bisa merasakan kepalanya yang pusing.

Di dalam sebuah ruangan di dalam rumah sakit Santosa Jaya tubuh Mualim terbujur kaku. Kepalanya dililit oleh perban yang berwarna merah di tempat tertentu, tentu perban itu tidak dicat merah, tapi darah Mualim yang membuat warnanya seperti itu. Tangan dan kaki Mualim pun tak mau kalah, mereka juga dibalut perban dengan warna merah di beberapa bagian. Namun yang paling parah adalah perutnya, perutnya sobek tertusuk stang Astrea tua hingga perlu dijahit agar organ dalamnya tak ke luar saat akan dimandikan nanti. Di sampingnya terbujur kaku sesosok tubuh yang dikejar Mualim hingga menyebabkan tubuhnya sama-sama kaku.

Tubuh Juleha yang kaku karena terjatuh ke dalam sungai lalu hanyut dan akhirnya diselamatkan dan dibawa ke rumah sakit Santosa Jaya meskipun sudah jelas tak bernapas lagi. Tapi setidaknya kartu sim dari handphonenya yang ikut hanyut dapat terselamatkan. Dari kartu sim yang di dalamnya tersimpan nomor Mualimlah siter Betty menghubungi Mualim, untuk memberitahukan bahwa Juleha ada di rumah sakit Santosa Jaya. Namun niat baik suster Betty untuk memberitahu Mualim tentang keadaan Juleha malah berubah menjadi malapetaka. Karena kabar darinya Mualim meregang nyawa, karena dirinya pula, perasaan Mualim tak tersampaikan.

Cerpen Karangan: Muhamad Akbar
Facebook: Muhamad Akbar
Nama saya Muhamad Akbar, mulai nulis cerpen setelah suka baca-baca buku. Tolong kritik dan sarannya ya. Terima kasih.

Cerpen Santosa Jaya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lentera Cinta Suci

Oleh:
Asalamualaikum. cerita ini diambil dari kisah ku sendiri, kisah yang membuat ku akan mengerti arti cinta yang sesungguhnya. cerita ini berawal dari perkenalan ku dengan seorang laki laki yang

Drummer Band

Oleh:
DB Band baru kelar menyuguhkan lagu ‘Resigned’ dari Blur. Hmm sekali-kali bawa lagu Inggris Raya tidak apa-apa kan. Nick, pemain drum baru saja membereskan sound system di acara peluncuran

Cinta Punya Cerita (Part 2)

Oleh:
“Akhirnya, liburan di depan mata setelah mumet dengan pekerjaan,” ucapku membaringkan badan karena lelah. Aku mendengar Rina pulang diantar seseorang, ku intip dari jendela. “Kak Fahru?” ucapku hampir mau

Tabungan Perdamaian

Oleh:
Syahla terlihat menunggu keputusan dari Nini. Nini sedang marah dengan Syahla. Karena masalah sepele saja, Syahla disalahkan. Tapi, Syahla tetap sabar dan tabah. “Aduuh.. Ya Allah, berilah aku kesempatan

Senyum

Oleh:
Pagi itu cuaca cukup dingin di daerah kota Bandug timur, matahari masih terlihat samar-samar, burung-burung masih banyak yang berkicau, terlihat di depan rumah Fadil orang-orang sudah banyak yang bergegas

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *