Tentang Cinta dan Cinta (Part 1) Keturunan Keluarga Carter yang Terakhir dan Anak Asuhnya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Terjemahan
Lolos moderasi pada: 28 March 2021

Tak pernah terlintas sedikit pun dalam benaknya untuk menjadi musisi dan penulis terkenal bahkan sampai ke Internasional. Belum lagi bakatnya di lapangan bola sangatlah bagus. Beberapa kali dia memenangkan pertandingan bola sepak antar Dunia, dan dia juga pernah sekali ikut Piala Dunia dan Piala Eropa. Bahkan dia merupakan salah satu juara futsal putri di seluruh Inggris. Untuk wanita seumurannya, dia memang terlihat tomboy. Namun bagi orang-orang terdekat dengannya, dia dianggap seperti wanita pada umumnya. Anggun, lemah lembut, dan periang. Dia juga suka tersenyum, tapi tak suka tertawa. Kalau setiap dia tertawa, pasti selalu disamarkan dengan kikikan atau dengusan.

Dalam usia semuda ini, dia sudah mendapatkan banyak penghargaan untuk berbagai macam karyanya. Salah satu lagunya yang berjudul Love In Silent pernah diberi acungan dua jempol oleh pihak industri kepemusikan di Inggris, bahkan Eropa. Piala emas dan perak berjajar dalam lemari kaca yang disimpan di rumahnya. Tapi walaupun uangnya banyak, bahkan sampai berdolar-dolar, ia tak pernah ingin menggunakannya untuk kesenangannya sendiri. Semua uang itu ia tabung untuk biaya kuliahnya, juga biaya sekolah seorang anak laki-laki yang dititipkan kakaknya sebelum dia meninggal yang sekarang sudah menginjak kelas SMA. Dimana semua bayaran sangatlah mahal, dan banyak barang yang harus dibeli. Saat ini dia kuliah di University College London, dia mengambil Fakultas Technology Information And Comunication. Semua kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari hanya ia yang menanggung. Anak laki-laki yang dijaganya masih belum bisa bekerja, karena dia belum memiliki ijasah lengkap.

Walaupun begitu, anak itu merupakan salah seorang wartawan TV yang sangat luar biasa. Ada beberapa penghasilan yang berhasil didapatkannya untuk segala macam pekerjaannya yang walaupun sedikit. Dan anak itu juga merupakan penulis artikel di koran-koran. Beberapa essay-nya telah mendapat aplaus dari berbagai pembacanya. Jadi setidaknya bukan hanya dirinya yang bekerja. Meskipun uang hasil pendapatan anak yang dijaganya hanya bisa dipakai untuk biaya sekolahnya sendiri.

Bagi wanita sesempurna dirinya, tentu semua orang menganggap dirinya adalah wanita paling berbahagia di dunia. Tapi saat dia diwawancara eksklusif oleh salah seorang wartawan TV London, dia memaparkan kisah hidupnya yang sebenarnya. Kedua orangtuanya sudah meninggal sejak kakaknya yang lebih tua berusia sekitar sembilan belas tahun, berarti saat itu usianya sekitar tiga atau empat tahun.

Dia tak pernah mau menempati rumahnya yang begitu megah dan mewah yang terletak di Bibury, meskipun dia ingin mengenang mendiang kedua orangtuanya yang telah tiada. Rumah yang ditinggalinya bersama anak yang dijaganya sangat kecil, dengan beberapa ruangan seperti ruang duduk yang disatukan dengan ruang keluarga, ruang tamu, dapur, dan satu kamar mandi. Di lantai atas terdapat tiga kamar, satu untuk dirinya, satu untuk adiknya, dan satu untuk tamu. Jika semua rumah di sekitarnya tampak tinggi menjulang, rumahnya ini terlihat sangat pendek kendatipun ada dua lantai. Bahkan tetangganya ada yang mengatakan kalau itu bukan rumah sungguhan. Lagi pula dia tinggal di pemukiman warga yang semuanya kaya raya, sehingga rumahnya ini terlihat seperti rumah orang yang hidup kurang berkecukupan.

Dia wanita bertubuh kurus, bermata biru cerah, berambut hitam gelap, bulu matanya lentik, alisnya tidak terlalu tebal, kulitnya putih pucat seolah dia adalah mayat hidup yang bergerak dan berjalan. Kalau saja tak banyak beban derita yang ia tanggung, dia akan kelihatan lebih sehat dan lebih segar. Hidungnya mancung, dan kalau ada orang yang bisa melihatnya, ada bekas luka seperti bekas sayatan pisau belati pada dagunya yang masih membekas sampai sekarang. Itu adalah bekas luka yang didapatkannya saat dia berusaha melindungi kedua orangtuanya, yang mati pada tahun seribu sembilan ratus delapan puluh lima, saat dia masih sangat belia sekali.

Sementara anak yang dijaganya merupakan sosok laki-laki kurus, dengan lutut yang menonjol, berambut hitam berantakan dan mencuat ke segala arah, baginya itu mengingatkan akan sosok sahabat karib dari kakaknya, yang memiliki sosok yang sama dengan anak itu. Hanya saja mata sahabat karib kakaknya berwarna coklat, sementara mata anak itu berwarna hijau cemerlang sehijau buah badam, sama seperti mata istri dari mendiang sahabat karib kakaknya. Kedua orangtua anak ini juga sudah meninggal, jadi itu sebabnya anak ini dititipkan kepada walinya, yaitu kakaknya yang paling tua, hanya saja kakaknya sudah meninggal pada tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh lima, dan kakaknya yang kedua juga sudah meninggal pada saat dia berusia sembilan belas tahun, jadi anak itu sekarang dititipkan kepadanya, satu-satunya saudara kandung kakaknya yang masih hidup.

Nama perempuan ini adalah Belle Aguilera Carter, dan nama anak yang dijaganya adalah Stephan James Nelson. Lily dan James adalah nama kedua orang tua Stephan. Saat kedua orang tua Stephan meninggal, Stephan dijaga oleh walinya yang bernama Damian Carter, kakak kandung Belle. Namun sekarang juga Damian Carter sudah meninggal dunia akibat dibunuh seseorang yang sama dengan orang yang membunuh kedua orangtuanya, pada saat dia berusia sembilan belas tahun, begitu pula kakaknya yang kedua yang bernama Justin Carter. Dia meninggal pada saat Belle berusia dua atau tiga tahun. Jadi, walaupun Belle sudah meraih cita-cita yang gemilang, dengan karya-karyanya yang luar biasa, dia tetaplah seorang wanita biasa yang penuh dengan kesedihan, beban derita, dan keluhan hidup yang amat banyak.

Dia lahir pada tanggal dua puluh tiga Juli seribu sembilan ratus tujuh puluh enam, sementara anak yang dijaganya, Stephan Nelson, lahir pada tanggal tiga puluh satu Juli seribu sembilan ratus delapan puluh. Usia Stephan Nelson saat ini sekitar enam belas tahun, sementara dia sendiri berusia dua puluh tahun. Semua orang menganggap mereka aneh, karena mereka sama-sama lahir di musim panas, dan di bulan yang sama, bulan Juli.

Dia memiliki tiga sepupu dengan nama keluarga sama, keluarga Carter. Mereka adalah: Helena Carter, yang sekarang sudah menikah dengan Jack Walsh, Sabrina Carter, yang sekarang sudah menikah dengan Gregory Evans, dan memiliki anak perempuan bernama Dora Evans, Serena Carter, yang sekarang sudah menikah dengan Lucius Taylor, dan mempunyai anak laki-laki bernama Derick Taylor.

Dia tak pernah menerima siapapun untuk berkencan dengannya. Karena sejujurnya, sejak dulu dia mendambakan sesosok pemuda asal Bulgaria yang bertubuh kurus, jangkung, dengan punggung agak membungkuk, berhidung bengkok, beralis tebal, dan berambut gelap. Pemuda Bulgaria itu sangat baik kepadanya, sehingga dia tak tahu bagaimana harus membalas semua kebaikan pemuda itu. Hanya Stephan Nelson yang begitu mengetahui tentang perasaannya kepada pemuda Bulgaria itu. Nama pemuda itu adalah Victor Vladislav. Dia bertemu dengan Victor Vladislav saat usianya menginjak enam belas tahun, dan kurang lebih usia Victor juga sama dengannya. Saat itu sedang ada acara pesta ulang tahun di rumah sahabatnya, Robert Diggory. Dan kebetulan Victor juga diundang oleh Robert. Disanalah benih cinta mulai tumbuh di hatinya. Awalnya dia hanya kagum melihat kehebatan Victor saat sedang bermain bola bersama Robert, tapi kemudian ada sesuatu yang lain yang mendesak hatinya untuk lebih jauh menanamkan perasaan yang lebih dari sekadar kagum.

Ia tak pernah punya keberanian untuk mengungkapkan perasaannya terhadap Victor. Dia hanya bisa terus berdoa semoga Victor bisa membalas perasaannya, kapan pun itu waktunya akan tiba. Bahkan dia ragu apakah Victor mengenal dirinya atau tidak. Karena dia tak pernah menunjukan satu pun prestasinya di hadapan Victor. Dia terlalu malu untuk berkata sepatah pun di depan laki-laki berdarah Bulgaria itu.

Robert pernah berkata kepadanya beberapa waktu lalu bahwa ada yang menyukainya secara diam-diam, tapi Robert tak pernah menjawab siapakah gerangan yang suka padanya setiap kali dia bertanya kepadanya. Walaupun dalam hati dia sering menduga-duga, tapi dia tak ingin terlalu berbesar hati. Victor tak pernah sedikit pun terlihat memperhatikannya. Jadi tak mungkin kalau Victor-lah orang yang sangat menyukainya. Anehnya, Victor selalu menginap di rumah Robert setiap kali dia libur kuliahnya di Bulgaria. Bahkan dia selalu mengajak Stephan dan Belle untuk bermain bola bersamanya di lapangan rumah Robert.

Pernah, ketika itu Belle tak sengaja melakukan gerakan tendangan bola yang begitu hebat, dan Victor memujinya. Tapi anehnya juga dia tak ingin melambungkan harapannya terlalu tinggi. Victor hanya sekadar mengaguminya, bukan benar-benar menyukainya.

Namun sayangnya, Robert juga sudah meninggal karena mengalami kecelakaan saat usai mengikuti suatu lomba yang memang sangatlah berbahaya, tepat saat dia berusia tujuh belas tahun. Usia yang masih sangat muda. Dia sangat terpukul waktu itu.

Cerita ini ditulis berdasarkan curhatan seseorang yang berasal dari London, Inggris, Britania Raya, dan semua nama dalam cerita ini hanyalah karangan belaka, dan juga semua lagu dan novel yang saya sebutkan tidak ada di internet.

Cerpen Karangan: Nurul Rahmah
Blog / Facebook: Nurul Rahmah Alwiaddicted
Aku lahir pada tanggal 14, bulan Februari, tahun 2003. Penulis asal Indonesia kesukaanku adalah Bunda Asma Nadia dan Kang Habiburrahman El Shirazy. Penulis asal Inggris Britania Raya yang kusukai adalah J.K. Rowling, R.L. Stine, dan Enid Bliton. Aku senang menulis novel fantasi, misteri, dan roman. Bisa juga menulis novel yang berbau ajaran islam, tapi masih takut untuk menambahkan dalil-dalil seperti Al-Qur’an dan Hadits. Bagi yang suka ceritaku, beri komentar ya di akun instagramku @nurul.rahmah14

Cerpen Tentang Cinta dan Cinta (Part 1) Keturunan Keluarga Carter yang Terakhir dan Anak Asuhnya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Little Suzanne

Oleh:
Suzanne adalah saudaraku. Ia berbeda dari yang lainnya. Aku tak tahu mengapa ia begitu istimewa. Aku? Kalian bisa memanggilku Grance. Aku harus terus melindunginya, begitu yang dikatakan orangtuaku. Awalnya

New Friends

Oleh:
Sudah dua bulan sejak aku memutuskan untuk tinggal bersama ayah aku setelah perceraiannya. Sebenarnya, aku tidak pernah ingin mereka pecah. Aku mencintai keduanya. Tapi, aku tidak tahu apa yang

Short Story

Oleh:
Gill menikmati sore itu. Semilir angin sayup-sayup menggodanya, membelai tiap-tiap helai rambut yang coklat. Jemarinya menari-nari di atas tuts komputer jinjing sementara matanya terpaku pada layar kaca. Ilham seakan-akan

The Poor Jane

Oleh:
Ini sudah larut malam, tapi Harold belum datang juga. Aku sampai lelah menunggunya. Sejak dua jam yang lalu, aku sudah duduk di bangku yang terletak di taman kota ini,

Bella

Oleh:
Glaukoma. Kata itu yang memenuhi otakku sedari tadi. Aku sedang di perjalanan menuju rumah, dengan tatapan kosong mengarah ke jalanan. Aku sedang di dalam bis. Sendirian. Dengan perasaan takut,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *