Tentang Cinta dan Cinta (Part 2) Tampil di California

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Terjemahan
Lolos moderasi pada: 28 March 2021

Hari ini dia akan tampil di acara Good Morning World di Televisi Amerika Serikat, tepatnya di California. Dan katanya Stephan juga akan ikut bersamanya, dan Stephan juga akan mengajak seseorang yang spesial untuk ikut bersama mereka. Bersama Stephan, dia duduk di dalam pesawat yang sudah siap berangkat dengan gejala yang sudah biasa dialaminya setiap kali dia naik pesawat terbang. Pusing, mual, gemetar, seperti itulah kiranya.

Saat telah sampai di Bandar Udara California, mereka bergegas mencari tempat penginapan yang paling terdekat dan ternyaman. Mereka memesan Hotel yang paling sederhana di antara Hotel-Hotel lain yang lebih mewah. Untungnya Stephan tak pernah membantah atau mengeluh sedikit pun dengan semua keputusannya. Dia memilih kamar nomor tujuh belas di lantai bawah, karena kebetulan kamar itulah yang sedang kosong saat ini. Katanya supaya dia bisa pergi kemana-mana setiap kali ada waktu senggang. Sayangnya semua waktunya terus-menerus dipakai latihan. Salah satu panitia penyelenggara acara perempuan yang bagi Belle itu sangat cerewet, beberapa kali memintanya agar berlatih terus. Bahkan dia sampai kelelahan dan tak sempat tidur. Karena katanya dia harus tampil sebagus mungkin, karena seluruh dunia akan menyaksikannya. Hatinya bergetar saat itu. Apakah Victor akan melihatnya juga? Apakah Victor akan memuji kehebatannya setelah acaranya selesai nanti? Dia sama sekali tak tahu.

Seorang perempuan yang merupakan salah satu panitia penyelenggara acara, dan yang juga merupakan pembawa acara pada pagi itu, menggandeng lengannya kuat-kuat, sampai dia merasa kalau lengannya kebas dan hilang rasa. Tapi dia tak berani mengeluh, karena tampang wanita itu sepertinya mudah marah dan galak. Dilihat dari tatapannya yang tajam dan seakan mengintrogasi, juga dari wajahnya yang seakan curiga terus setiap waktunya.

Dia naik ke panggung dengan gugup. Gaunnya yang berwarna hijau perak, dengan panjang sampai lebih dari mata kaki, dan lengan gaunnya yang sampai menyentuh jari-jari tangannya, juga sepatunya yang tinggi, membuatnya semakin grogi. Rambutnya sengaja ia uraikan ke depan, membuatnya semakin cantik nan mempesona. Hari ini dia mencoba seceria dan segembira mungkin di hadapan semua penontonnya, kendatipun badannya sakit semua rasanya. Mungkin karena dia kurang tidur dan kekurangan makanan bergizi dalam tubuhnya. Dia tersenyum kepada semua penontonnya di seluruh tempat duduk, berusaha membalas lambaian mereka dengan riang.

Dan sekarang, saatnya dia tampil. Dia membawakan lagunya sendiri yang berjudul Broken And Hurt. Lagu yang ber-genre Pop Classic, dengan permainan piano yang sangat bagus, dan ekspresinya yang sangat mempesona, membuat semua penonton terkagum-kagum dan berkaca-kaca. Bahkan ada yang sampai menangis tersedu-sedu penuh rasa haru mendengar alunan piano dan suara Belle.

Saat lagu selesai dimainkan, tepuk tangan dan sorakan bergemuruh di seluruh ruangan. Bahkan sekarang Belle dapat melihat bukan hanya di dalam saja para penonton berkerumun. Diluar ruangan, masih banyak penonton yang datang dari Negeri jauh. Selanjutnya dia memainkan lagu, lagi, buatannya sendiri, yang berjudul Queen In Your Heart. Kali ini lagunya ber-genre romantika dan alunan musik Jazz yang sangat mempesona, membuat semua orang yang menontonnya tak bisa menahan diri untuk berdansa bersama pasangan mereka masing-masing. Saat lagu selesai, lagi-lagi tepuk tangan dan sorakan meriah bergemuruh lebih keras menyambutnya. Belle mengucapkan kata terima kasih ke dalam mikrofonnya lalu duduk dengan napas sedikit terengah-engah. Tadi dia bermain musik sambil bernyanyi, ditambah lagi kakinya yang bergerak-gerak liar, membuatnya kehabisan tenaga. Apalagi nada lagu itu sangat tinggi, suaranya hampir serak sekarang.

Seorang laki-laki pendek tiba-tiba saja berlari cepat ke arah panggung. Saking terburu-burunya dia, sampai dia tak sengaja menabrak stand mike hingga hampir terjatuh, namun buru-buru dicegah oleh si pembawa acara. Laki-laki itu hampir menerjang dan memeluk Belle, tapi Belle sudah bangkit berdiri dan merapikan pianonya, dan setumpuk buku yang dibawanya, membuat laki-laki itu kesulitan untuk memeluknya. Seorang pemandu acara mencoba menurunkan laki-laki itu yang sekarang wajahnya menjadi merah padam. Belle tak tahu siapa laki-laki itu. Namun dilihat dari penampilannya, sepertinya dia adalah warga asli Amerika Serikat. Belle jadi sedikit ketakutan saat itu. Tapi si pemandu acara sudah menenangkannya, dan dia kembali terduduk dengan lesu. Tubuhnya sudah memberontak sekarang. Dia ingin tidur, dia ingin istirahat.

Namun belum sempat dia mengungkapkan apa yang diinginkannya, dia sudah dipanggil untuk berdiri lagi, kali ini dia difoto untuk promosi bukunya yang terbaru yang berjudul Pulau Ajaib. Dia mencoba tersenyum lemah saat si fotograver mempotretnya gila-gilaan. Seorang perempuan yang bernama Rita Watson, yang juga merupakan penulis sejarah terkemuka di Inggris, sekarang merangkulnya erat sekali. Bagi Belle, sepertinya wanita ini sudah sangat tua sekali, kendatipun dari raut wajahnya dia masih terlihat awet muda. Saat acara pemotretan dan acara promosi buku sudah selesai, wanita bernama Rita Watson itu menggandeng lengan Belle dan membawanya ke belakang panggung. Belle tampak curiga, tapi dia tak berani berkata apa-apa. Dia pasrah saja ketika wanita itu mendudukannya di kursi yang paling empuk dan nyaman. Lalu wanita itu juga duduk di sampingnya.

“Aku mengenal kedua orangtuamu, nak,” katanya tiba-tiba. Belle terkejut, tapi tampaknya wanita itu tidak peduli. “Dan orangtua Stephan juga. Lily dan James Nelson, Walburga dan Orion Carter, mereka adalah orang yang sangat luar biasa. Sama seperti anak-anak mereka.”
“Anda … anda mengenal kedua orangtua saya?” tanya Belle tergagap.
“Ya,” kata si wanita itu. “Dulu, waktu kau dan Stephan masih kecil, aku selalu berkunjung ke rumah mereka.”
Mereka berpandangan sejenak, Belle berusaha memperhatikan setiap inci wajah wanita di sampingnya dan kemudian dia berhenti memandangnya.

“Kalau begitu, kenapa selama ini saya tak pernah melihat anda?” tanya Belle tanpa bisa menahan diri. “Kalau anda mengenal kedua orangtua saya dan sering berkunjung ke rumah saya, pasti saya dengan mudah bertemu dengan anda.”
Wanita itu tersenyum lembut kepadanya. “Aku selama ini tinggal di California, nak,” katanya lagi. “Dan hari ini, aku memutuskan untuk pulang ke Hawkshead. Bersamamu dan Stephan, tentu saja. Aku akan bersiap-siap. Nanti kalau acara ini sudah selesai, baru setelah itu kita pulang. Kau ada kegiatan lagi siang nanti?”
“Er … saya tidak tahu,” kata Belle jujur.
“Yah, sebaiknya kita pastikan dulu apakah kau ada kegiatan lagi atau tidak nantinya. Kalau kau tak ada kegiatan, nanti siang akan kubawa kau ke rumahku.”
“Benarkah?” tanya Belle terperanjat.
“Ya, nak,” kata si wanita itu dengan lembut. “Kau boleh beristirahat di rumahku walau sejenak. Dan kau juga boleh membaca buku-buku yang kupunya disana.”

Dan wanita itu bangkit berdiri, menggandeng tangan Belle dan membawanya keluar panggung. Ternyata acaranya sudah selesai. Banyak orang yang berbondong-bondong yang ingin meminta tanda tangan Belle dan Rita. Mereka menanda tangani kertas-kertas itu dengan suka hati, meskipun tangan mereka harus pegal karena terlalu banyak orang yang meminta tanda tangan mereka. Setelah jumlah peserta sudah mulai menipis, mereka menyeruak melewati jajaran peserta yang keluar dari studio dan segera menuju para panitia penyelenggara acara, untuk memastikan kalau sudah tak ada lagi yang harus mereka kerjakan. Tapi ternyata Belle harus mengikuti acara lain sampai sore nanti.

Belle mengeluh dalam hati. Bisakah dia beristirahat walau sebentar saja? Dia sudah terlalu kelelahan sekarang. Bahkan dia merasa kalau kakinya sudah seperti agar-agar dan susah untuk digerakkan. Dia berjalan dengan lesu dan segera berganti pakaian, karena kali ini acaranya berbeda dari yang tadi pagi.

Kali ini dia memakai baju merah tua emas, dengan panjang lengan dan roknya yang sama dengan baju yang tadi, rambutnya dikepang dua, kanan dan kiri, dan dia memakai makeup yang lebih tebal. Belle dibawa ke ruang studio yang berbeda, dan disana dia tampil memukau di hadapan semua orang. Dia bisa melihat Stephan dan seorang laki-laki jangkung, yang tak bisa ia lihat wajahnya dengan jelas, karena tertutup kerumunan orang, tersenyum dan melambai kepadanya di antara para penonton yang berdesakan.

Saat acara selesai, dia sudah hampir mau muntah sekarang. Kepalanya pusing tak karuan, matanya sudah mulai berkunang-kunang, perutnya sudah sangat melilit karena saking mual dan laparnya dia. Napasnya juga sesak. Seorang laki-laki jangkung tiba-tiba menggandeng tangannya, tapi dia tak sempat memperhatikan siapakah orang itu. Yang diinginkannya adalah dia bersandar pada bahu laki-laki itu, atau tidur di pangkuannya. Bahkan dia tak sempat mengenali ciri khas parfum orang itu, karena hidungnya tiba-tiba saja tidak bisa membaui sesuatu. Padahal biasanya bau sekecil mungkin bisa terendus olehnya.

Laki-laki itu merangkul pinggangnya, dan memaksa Belle mengalungkan tangannya di lehernya. Mereka berjalan berdua dan Belle baru tersadar saat mereka mau menaiki mobil, kendatipun dia masih tak bisa mengenali siapa orang yang merangkulnya. Seorang perempuan yang entah siapa datang dengan tergopoh-gopoh sambil membawa sesuatu berwarna hitam, seperti tas atau koper besar, namun Belle tak tahu isi dari tas atau koper itu apa. Dia dinaikkan ke dalam mobil, dan Belle mendengar pintu bagasi ditutup dan mobil itu melaju.

Belle tak tahan lagi. Sekarang kepalanya terkulai ke bahu laki-laki di sampingnya, laki-laki itu mengusap wajahnya dengan penuh kelembutan, dan membelai kepalanya penuh sayang.
“Kemana kita sekarang?” tanya si pengemudi mobil yang rasanya tidak asing bagi Belle.
“Kurasa ke tempat kami menginap semalam,” jawab seseorang yang juga duduk di samping si pengemudi, dan yang Belle merasa tak asing di telinganya.

Tanpa memikir kan apa-apa lagi, Belle terlelap di bahu laki-laki di sampingnya, dan yang tampaknya mengerti dengan keadaannya. Saat dia tersadar, sekarang dia sudah ada di sebuah kamar, kamar tempat menginapnya semalam bersama Stephan. Kepalanya terkulai di bahu seseorang, dan tubuhnya dipeluk erat oleh orang yang sepertinya yang tadi membawanya ke dalam mobil. Belle mulai ketakutan. Tapi saat Belle hampir turun dari pangkuan orang itu, suara Stephan berkata pelan: “Jangan banyak bergerak dulu, Belle. Kau perlu istirahat.”

Cerpen Karangan: Nurul Rahmah
Blog / Facebook: Nurul Rahmah Alwiaddicted

Cerpen Tentang Cinta dan Cinta (Part 2) Tampil di California merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


New Friends

Oleh:
Sudah dua bulan sejak aku memutuskan untuk tinggal bersama ayah aku setelah perceraiannya. Sebenarnya, aku tidak pernah ingin mereka pecah. Aku mencintai keduanya. Tapi, aku tidak tahu apa yang

Beat The Minew!

Oleh:
Hari ini aku membuka mataku dengan perlahan. Aku kesiangan. Siapa yang mau memikirkan tentang kemacetan lalu lintas dan hal-hal lainnya ketika seseorang kesiangan? Sekarang adalah masa depan. Transportasi pun

The Poor Jane

Oleh:
Ini sudah larut malam, tapi Harold belum datang juga. Aku sampai lelah menunggunya. Sejak dua jam yang lalu, aku sudah duduk di bangku yang terletak di taman kota ini,

Short Story

Oleh:
Gill menikmati sore itu. Semilir angin sayup-sayup menggodanya, membelai tiap-tiap helai rambut yang coklat. Jemarinya menari-nari di atas tuts komputer jinjing sementara matanya terpaku pada layar kaca. Ilham seakan-akan

Little Suzanne

Oleh:
Suzanne adalah saudaraku. Ia berbeda dari yang lainnya. Aku tak tahu mengapa ia begitu istimewa. Aku? Kalian bisa memanggilku Grance. Aku harus terus melindunginya, begitu yang dikatakan orangtuaku. Awalnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *