Amplop Ungu Orang Mati

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 14 June 2016

Pino memacu sedan hitamnya menyusuri permukaan aspal yang lurus dan panjang di sisi kota. Tangannya yang panjang dan ramping erat menggenggam roda kemudi sampai buku-buku jarinya berubah putih. Rekannya Kojek bersandar lemah tanpa suara di tempat duduk di sampingnya. Jaket hitam pria berkepala plontos itu berlubang pada bagian bahu. Lubang dimana darah merembes keluar, membasahi sekitarnya dan mengalir menuruni lengannya dan menetes membentuk genangan gelap di atas lantai mobil.
“Hei, kau benar botak,” kata Pino. “Hari ini memang hari yang sial.”
Kojek tidak menjawab.

Langit di atas masih mendung, membuat malam seolah datang lebih awal, dengan gumpalan awan hitam yang masih betah bernaung, tidak peduli pada tiupan angin dingin yang mencoba menghalau. Walaupun begitu Pino tidak menyalakan lampu mobilnya. Cahaya lampu bisa memberitahukan posisinya kepada para pengejarnya yang sekarang bisa berada di mana saja, bersembunyi mengintainya di salah satu gang sepi atau berpacu dari belakang dan diam-diam mengikuti. Dia menoleh ke arah rekannya. Butiran keringat masih tampak memenuhi lehernya yang pendek dan tegap. Matanya yang hanya separuh terbuka menatap kosong ke arah depan.

“Sial!” Pino tersentak kaget dan segera menekan klakson mobilnya dalam-dalam. Dari dalam mobil, suara nyaring terompet peringatan itu terdengar redup dan sengau. Namun tak pelak membuat sosok yang menjadi sasarannya tersentak. Sosok yang terlihat seperti seorang wanita muda, menyeberangi jalan dengan pelan dan membungkuk seperti penguin, lalu membuat gerakan berputar seperti penari balet saat sedan hitam ini melaju melewatinya.
“Heh! Kau lihat itu kawan?” Dia kembali menoleh kepada rekannya.
Tidak ada jawaban.
“Sial!” Dia tidak tahu entah sudah berapa kali dia mengucapkan kata itu sepanjang hari ini. Dia menurunkan kaca mobilnya dan meraih kotak rok*k dari saku kemejanya. Sepenuhnya menyadari kalau rekannya harus segera ditolong. Tapi hanya ada satu tempat di kota ini dimana orang-orang seperti mereka bisa mendapat pertolongan. Sebuah klinik kecil yang berada di tengah seluk beluk labirin Pelabuhan Tua. Nun jauh di ujung utara sisi kota.

Sedan hitam itu berhenti di bawah rindangan pohon beringin, jauh dari jalan utama di luar batas kota. Angin tidak lagi bertiup dan langit tidak lagi mendung. Juga tidak terdengar gemerisik daun ataupun kicauan burung, semuanya sunyi dan diam seperti lukisan pemandangan di dinding restoran. Seorang pria membuka pintu mobil dan melangkah turun dan mengeluarkan telepon genggam dari kantong celananya. Dia mengetik sebuah pesan singkat, delapan belas digit angka sandi, yang dikirimkannya kepada penghubungnya.
Tidak lama kemudian telepon genggamnya bergetar. Pino mengangkatnya ke telinga dan mendengarkan suara yang datang dari seberang.
“Ya Pak, di bawah beringin sekarang.” katanya dan kembali mendengarkan.
“Ya. Di bangku belakang. Ya Pak.” dia menjawab, lalu kembali menyimak kata-kata yang datang dari ujung lain sambungan telepon.
“Siap Pak.” Dia meraih kotak rok*knya, meletakan sebatang di mulut dan menyalakannya. “Maaf, Paman, tapi aku ingin dibebaskan dari tugas ini.”
Sambil menyesap rok*knya dia kembali mendengarkan kata-kata dari seberang, kali ini lebih lama dari yang sebelumnya. Sebuah pesawat terbang melayang di kejauhan, terlihat putih dan kecil dan lambat, merambat naik dan naik dan semakin tinggi sampai akhirnya menghilang dari pandangan.

“Dia sudah meninggal.” dokter laki-laki itu berkata begitu keluar dari ruang operasi. “Anda mungkin tidak memperhatikan karena terburu-buru melarikan diri. Saya juga tidak segera menyadarinya karena bergegas membawanya ke meja operasi, tapi rekan anda,” dokter itu menggaruk alis matanya, “Kojek juga tertembak di punggung. Ada ruas tulang belakang yang hancur. Dia mungkin sudah meninggal sejak pertama kali anda bawa masuk mobil.”
Pino menjatuhkan diri ke kursi ruang tunggu. Kenyataan yang dituturkan secara langsung itu tetap saja membuatnya terguncang, walaupun dia sudah bisa menduga sebelumnya. Dari kelopak mata rekannya yang tidak bergerak dan mulutnya yang tidak bersuara, bahkan saat dia mengemudi bagai kesetanan, membawa mobilnya meliuk-liuk melalui jalanan Pelabuhan Tua yang rumit dan penuh persimpangan. Ya, si botak yang biasanya berubah histeris begitu jarum speedometer melewati angka enam puluh, yang sangat bertolak belakang dengan tampilan sangar dan tubuh gempalnya.
“Apa selanjutnya?” tanya dokter itu kemudian, “pelurunya sudah kucabut keluar, luka-lukanya juga sudah dibersihkan…”
“Kau punya kantong mayat?”
“Tentu tidak, kami biasanya tidak mengurus orang mati. Oh, maaf,” dokter itu berdehem, “tapi, aku punya sleeping bag, kalau kau mau kau bisa pakai.”

Tidak lama kemudian dokter itu kembali dengan memanggul sebuah kantong tidur berwarna kuning tua dan menyerahkannya kepada Pino. Baunya seperti kaus kaki basah.
“Oh, itu yang biasa ku pakai kalau menginap di sini, jadi mungkin agak bau.”
Tidak masalah, lagipula si botak sudah tidak bisa lagi mengeluh sekarang, batin Pino.
“Butuh bantuan?”
Dia menggeleng, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan dimana rekannya terbaring.

Selesai dengan teleponnya, laki-laki kurus itu duduk bersandar pada ban depan mobil. Mengadah ke atas dengan kedua tangan terentang di atas lutut. Dia tidak menyangka kalau kematian rekannya bisa membuatnya merasa seperti ini. Perasaan yang janggal yang dia tidak tahu apa persisnya. Sedih? Mungkin, sedikit. Kaget? Mungkin juga. Kehilangan? Entahlah. Penyesalan? Tapi penyesalan untuk apa?

“Bangsat! Pisau cukurmu tumpul!” teriak Kojek dari kamar mandi, tadi pagi saat mereka tengah bersiap-siap untuk pergi.
“Ya? Salahmu pakai itu buat bulu ketek!” Pino balas berteriak dari ruang makan. Di ruang tengah, televisi menyala sendirian menampilkan berita olahraga.
“Ini pertanda kawan, pertanda sial. Percayalah, aku sering benar tentang hal semacam ini.”
Kau tidak pernah benar sekalipun, batin Pino sambil terus mengunyah sarapannya.
Kojek muncul di ruang makan, bertelanjang dada dengan handuk melilit di pinggang. Pino segera menyudahi makannya.
“Apa ini?” Pria plontos itu menunjuk ke baki berisi timbunan aneh berwarna-warni di atas meja.
“Nasi goreng.”
“Nasi goreng? Kau campur apa nasinya? Kostum dangdut Inul Daratista?”
“Jadul! Makan aja, botak sial!”
Kojek menarik sebuah piring dan meletakkannya di depannya. “Tapi aku benar-benar berfirasat buruk tentang hari ini.” katanya.
Pino menyulut rok*knya, menyesapnya dalam-dalam dan membuang abunya ke dalam piring bekas makannya.
“Dengar, cuma sedikit yang tahu tapi sebenarnya aku punya istri dan anak. Anak laki-laki.”
“Semoga dia tidak mewarisi rupa burukmu.”
“Aku tidak terlalu peduli dengan istriku, tapi putraku, aku tidak pernah tahan harus berpisah dengannya.” kata Kojek lagi, tidak mengindahkan ejekan rekannya. Lalu dia berdiri dan berjalan menuju kamar. Dia keluar dengan menenteng sebuah amplop ungu di tangan. “Di dalam ini adalah semua yang kuingat tentang putraku. Selama ini aku selalu membawanya kemana-kemana,” dia lalu menggeser amplop itu ke arah Pino, “tapi sekarang aku ingin kau yang menyimpannya. Tak tahulah. Kalau sesuatu yang buruk terjadi, kurasa aku lebih percaya padamu daripada diriku sendiri.”
Pino memandangi amplop itu sesaat lalu beralih menatap rekannya. Terlihat kilau sinar lampu terpantul di kepalanya. “Kau boleh tinggal kalau kau mau. Kerjaan hari ini gampang, aku bisa sendiri.”
“Hah! Mana tega aku membiarkanmu pergi sendirian. Kalau tidak ada aku, kau bisa-bisa mati dan mengompol! Hahaha.”

Menimang-nimang amplop berwarna ungu di tangannya, Pino lalu bangkit berdiri dengan bertumpu pada lututnya. Dia menepuk-nepuk bagian belakang celananya untuk menyingkirkan pasir dan debu yang menempel. Dan kembali memandangi amplop itu. Apa yang rekannya ingin dia lakukan dengan benda ini?

Dia membuka pintu belakang mobil. Tempat dimana jasad rekannya berada, terbujur kaku dibungkus kantong tidur berbau apek. Sayup-sayup dari kejauhan terdengar suara sirine saling bersahutan. Laki-laki itu lalu berjongkok menghadap jasad rekannya, “Apa yang kau ingin aku lakukan dengan amplop ini, Jek?”
Pino setengah berharap kalau rekannya itu bangun dan menjawab. Tapi tentu itu tidak terjadi. Orang mati tidak berbicara.
“Dengar nak, kalau aku membiarkanmu mengambil misi ini, ibumu pasti akan murka.” Paman iparnya yang perwira tinggi polisi berkata kepada Pino.
Tapi itulah alasannya kenapa dia ingin mengambilnya. Dia ingin menjauh dari keluarganya, dari ibunya, walaupun hanya untuk sementara.
“Di sisi lain, kau adalah yang terbaik di angkatanmu. Walau masih muda, kau berkepala dingin dan tidak terburu-buru dalam bertindak. Dan mengingat kau yang terlanjur tahu terlalu banyak karena menguping pembicaraanku kemaren, aku memang tidak punya pilihan lain.” Pamannya mengeluarkan sebuah thumb drive dari sakunya dan meletakkannya di atas meja. “Pelajari semua yang ada di sini. Target waktunya delapan belas bulan. Siap-siaplah, dalam satu atau dua minggu ini kau akan segera dimutasi kesana. Jadilah anak baru yang baik dan dapatkan kepercayaan mereka, terutama letnan Muzaki. Berhati-hatilah, walau tidak semua polisi disana korup, jangan percaya pada siapapun.”
Dan itulah yang dia lakukan. Menjadi anak baru yang baik, mendapatkan kepercayaan sindikat polisi korup, bahkan diajak untuk tinggal sekontrakan oleh letnan Muzaki, pimpinan mereka. Letnan Muzaki yang sama dengan yang sekarang terbaring tak bernyawa didalam kantong tidur di depannya. Dibukanya amplop ungu di pegangannya dan dirogohnya ke dalam, dan dari sana Pino mengeluarkan sebuah gadget tipis seukuran telapak tangan. Sebuah Golgee smartframe, bingkai foto pintar yang sempat menjadi tren beberapa tahun yang lewat. Dia lalu menekan tombol kecil di bagian atasnya dan gadget itu segera menyala, garis-garis lurus berwarna biru bersinar di keempat sisinya. Sesuatu kemudian muncul di layar. Sesuatu yang membuat Pino terkekeh bahkan tanpa dia sadari. Sebuah gambar bergerak dari sesosok bayi mungil yang masih merah dan belum lagi bisa membuka mata, yang terbaring diam dibuai gendongan seorang pria botak bertubuh gempal. Dan pria itu terlihat sangat bahagia.

Cerpen Karangan: Abdul Hafez Mubarak

Cerpen Amplop Ungu Orang Mati merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aline Dan Ceritanya (Part 1)

Oleh:
Suara desir ombak di malam hari sangat menenangkan dan sangat cocok untuk menjadi penghantar tidur yang melelapkan. Setelah merapikan kasur, gadis berambut merah itu menggoreskan batu ke lantai semen

Ksatria Tak Berperasaan

Oleh:
Ksatria tak beperasaan adalah julukan yang diberikan orang-orang kepadaku. Mungkin karena aku selalu membuat mayat musuhku menjadi biru dengan membekukannya. Meskipun sebenarnya aku pernah lebih keji dari itu. Saat

Dunia Lain

Oleh:
Saat itu, disaat mataku terbuka, aku merasakan sesuatu yang janggal di rumahku. Saat diriku bangun dari ranjang tidurku terdengar jeritan-jeritan yang menakutkan bersamaan dengan suara raungan serigala, seketika aku

Rabu Dini Hari

Oleh:
“Toolloonggg!!” Aku langsung terbangun dengan nafas tercekat. Tubuhku menegang seketika. Kaku dan tidak bisa digerakkan sama sekali. Tubuhku merasa seolah-olah aku yang merasakan itu ketika terdengar jeritan itu. Tanganku

Buronan

Oleh:
Orang yang merasa terbidik, dengan cekatan memutar badan ke belakang sambil mengepalkan tangan kanan berbalut besi. Dengan memfokuskan tenaga di kepalan, dia mencoba menepis peluru yang menghampiri secepat kilat.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *