Darah di Nusakambangan (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 4 October 2018

“PUKUL sembilan, batas waktu kita makan, ketika para sipir berwajah tengik itu sedang serah terima pergantian jaga, kita keluar dari rombongan dan menyelinap ke belakang WC…” Suara itu keluar dari mulut seorang pria bertubuh gempal yang duduk di ujung bangku panjang, menyanding sebuah tempat makan lebar terbuat dari stainless berisi beberapa makanan rebusan yang juga terletak di atas sebuah meja panjang.
Suaranya hampir seperti sebuah gumaman rendah dan cara mengucapkannya pun dengan sikap sedang makan sambil sesekali matanya yang tajam melirik benci ke seorang sipir berseragam yang berdiri menjaga prasmanan di ujung ruangan.
Di sampingnya, seorang lelaki jangkung berkulit legam duduk makan dengan tenang. Tanpa menoleh, sambil memasukkan secuil singkong rebus ke mulutnya dia menimpali ucapan lelaki tadi juga dengan gumaman seolah ini sebuah pembicaraan sangat rahasia. “Apa telah dipertimbangkan dengan baik ide ini? Bukannya saya berlaku lancang mengoreksi rencana Ketua tapi kabur masuk ke dalam hutan Nusakambangan sama saja mencari…”
“Kau takut…?” potong lelaki gempal lalu matanya kembali melirik tajam ke arah sipir. Gumamannya kini agak ditekan.
Kedua bola matanya digerakkan ke seantero ruangan. Di situ, saling berjajar enam meja panjang. Satu mejanya di isi tidak kurang dari selusin pria-pria berbaju narapidana. Mereka makan dengan tenang dalam satu menu yang sama.
“Kau tahu,” katanya sambil mengunyah bongkahan singkong rebus. “Empat teman kita telah tewas! Jika grasi kita ditolak, cepat atau lambat kita akan menyusul mereka… kita harus hidup! Kita harus keluar dari tempat celaka ini…!”

Si Jangkung sedikit menoleh melihat pria gempal berambut keriting gondrong yang diikat ke belakang itu. Jika dilihat lebih seksama, Si Jangkung ini memiliki mata kiri hanya merupakan sebuah bola mata berwarna kuning polos seluruhnya seolah tak memiliki lensa!
“Apa rencana Ketua?”
Kalau didengar dari bicaranya dan dua kali dia menyebut “Ketua”, dapat diduga dia menaruh hormat pada orang pertama.
Pria gempal berambut keriting menatapi deretan pria-pria berseragam napi satu mejanya di seberang.
“Sudah kubilang tadi Singkrik Kuning,” gumamnya rendah, lalu kepalanya perlahan didekatkan ke kepala lelaki jangkung dan berbisik. “Selesai makan, ketika rombongan kembali ke sel tepat saat pergantian sipir, kita menyelinap ke belakang WC…”
Kembali ke posisinya, sambil mencungkil singkong rebus di nampan stainless, orang yang disebut Ketua ini berucap. “Kita lompati pagar lalu lari ke selatan masuk ke dalam hutan. Kita cari goa untuk bermalam sementara. Rencana selanjutnya kita bicarakan di situ.”
Lelaki jangkung ambil gelas berisi air putih yang juga terbuat dari stainless di samping nampannya dan meneguknya sedikit. Setelah itu mengangguk perlahan.

DI DALAM hutan yang tak terlalu rapat, dua orang itu berlari sebat. Meski saat itu memasuki tengah malam, pepohonan yang jaraknya satu sama lain masih renggang serta bantuan sinar bulan di langit yang terang membuat pandangan ke depan cukup jelas. Hanya pohon-pohon perdu di tanah yang sesekali menjirat kaki mereka hingga gerakan mereka sesekali tersendat.
Dua orang itu berlari beriringan. Di dalam hutan serta malam hari membuat gerakan mereka hanya laksana bayang-bayang.
Di sebelah kiri, bayangan berperawakan tinggi jangkung menoleh ke orang di samping, “Di mana kita bisa menemukan goa Jambal?”
Sepasang mata bayangan orang bertubuh gempal bergerak-gerak memandangi sekitar.
“Goa biasanya terletak di tempat yang agak tinggi. Pulau Nusakambangan banyak jenis kelelawar, pasti banyak goa. Kita cari saja jalan yang menanjak…”

Setelah berlari cukup lama, dua orang itu berhenti di sebuah pedataran cukup terbuka. Kanan kiri mereka hanya rimbunan pohon perdu dan semak belukar. Lima belas meter di depannya, terpampang tebing batu tinggi.
Nafas mereka terengah-engah. Orang bertubuh gempal berambut keriting dijirat ke belakang yang tadi dipanggil Jambal memandangi tebing dari lekuk ke lekuk. Seperti menemukan sesuatu, sembari menunjuk dia berkata, “Itu! Seperti lobang dan gelap, apa lagi kalau bukan goa!”

Tebing batu itu cukup tinggi tapi tidak terlalu curam. Kemiringannya masih bisa didaki. Sinar rembulan yang membentur membuat lekak-lekuknya bisa terlihat. Di satu bagian tebing di sebelah kanan dari hadapan dua orang itu, lebih dari sepuluh meter dari permukaan tanah, terdapat semacam lobang berbentuk mengerucut yang gelap pertanda itu adalah mulut sebuah goa. Lobang itulah yang mencolok mata Jambal. Setelah memastikan lelahnya hilang dua orang itu segera beranjak memanjat.

Sesampainya di depan mulut goa yang ternyata datar, mereka berdiri tegak sejenak memandangi sekitar goa dan ke dalam goa yang gelap. Mulut goa itu tidak terlalu lebar, tingginya hanya 30 senti lebih tinggi dari lelaki jangkung dan lebarnya hanya dua meter.
Jambal mengambil korek api kayu dari balik pakaiannya yang ia curi dari dapur Lapas dan memerintahkan Singkrik untuk mencari ranting kering dan kayu di sekitar goa.
Singkrik kembali dengan cukup kayu bakar. Mereka kemudian masuk bersama-sama. Jambal menggoreskan satu batang korek api sebagai penerang.

Ruangan goa tak terlalu luas. Sinar dari satu batang korek api itu mampu menjangkau setiap dinding-dinding batunya. Baru enam langkah berjalan, dua orang itu sudah sampai ke batas kedalamannya.
“Sementara kita bermalam di sini dulu Singkrik. Susun kayu itu menjadi unggun…” kata Jambal seraya membuang batang korek yang telah pendek dan menyalakannya yang baru.
“Baik Jambal”

Singkrik merendahkan diri, meletakkan kayu yang ia bawa dan menyusunnya menjadi unggun. Jambal menyulut potongan kayu terkecil lalu menjalarkannya ke unggunan kayu itu.
“Sebaiknya kita buat apinya temaram saja Jambal agar tak mencolok dari luar.” kata Singkrik.

Dua orang sama-sama berbaju napi warna oranye itu akhirnya duduk menghadap api unggun. Sinar remang api unggun menyapu wajah mereka. Pria bertubuh gempal berambut keriting mempunyai wajah sangar. Kedua permukaan pipinya tidak rata, berkawah-kawah.
Sementara Singkrik, aksi perampokannya terakhir kali dengan Jambal sebelum akhirnya dijebloskan ke penjara Nusakambangan, telah merenggut mata kirinya.

Saat itu mereka tengah merampok sebuah toko emas besar di Ibukota dengan empat teman yang lain. Selagi mereka menggasak emas dalam etalase sambil mengacungkan pistol ke pemilik toko, tiba-tiba satuan polisi datang atas laporan seseorang. Baku tembak pun terjadi di dalam toko. Empat teman mereka tewas tertembak sementara sebuah peluru karet entah dari mana tepat mengenai mata kiri Singkrik hingga pecah. Jambal dan Singkrik berhasil lolos melalui pintu belakang toko. Beberapa bulan mata yang pecah itu telah diganti dengan bola mata berwarna kuning polos. Sebelum akhirnya tertangkap dan dibawa ke Nusakambangan dia sempat mendapat julukan Singkrik Kuning.

“Kita ke arah mana besok?” tanya Singkrik Kuning.
Jambal usap-usap pipinya yang berkawah-kawah, “Sebaiknya kita menjauh dulu ke barat. Setelah tahu kita kabur, mereka pasti segera mengerahkan para sipir dan polisi mencari kita,”
“Perjalanan pasti berat Jambal. Ada baiknya kita masuk ke perkebunan petani dulu mengisi tenaga.”
Jambal turunkan tangannya yang digunakan mengusap pipi. “Perjalanan memang berat Singkrik. Ini lebih baik daripada terus-terusan mendekam di sel celaka itu. Delapan bulan kita dikurung mau gila rasanya.”
“Kita berjalan melalui hutan-hutan yang rapat akan lebih aman. Selain itu, kita butuh senjata Jambal…”
Jambal melirik temannya di seberang perapian, kemudian menyeringai. “Otakmu memang penuh perhitungan Singkrik. Sudah lama kita tidak memegang pistol. Dengannya langkah kita akan lebar…”

PAGI ITU, Kusni, sipir Lapas Batu Nusakambangan yang telah berseragam rapi melangkah di koridor sel. Di tangan kirinya, terbuka semacam note panjang. Sipir berkumis tebal tapi mempunyai wajah jenaka ini berhenti di depan pintu sel 1-D. Dari sela-sela jeruji-jeruji besi sebesar gagang pel, matanya tampak mengamati puluhan narapidana di dalam. Tangan kanannya yang memegang pulpen diangkat menunjuk-nunjuk seperti tengah menghitung. Sejurus kemudian dia menulis sesuatu di atas note.

Kusni lalu melangkah ke ruang sel 1-C dan melakukan tindakan yang sama. Di selasar lapas, dua sipir lain tampak bercakap-cakap. Satu diantaranya sambil merokok sambil menyandarkan diri ke tiang wuwungan.

“Bagaimana itu kiprah Paranormal yang katanya dari Jakarta?” tanya sipir yang merokok kepada kawan di sampingnya.
“Huh, hampir saja dia mati kalau saja rekan kita dari Lapas Batu tak melihat…”
Sipir perokok tertawa terbahak, “Ada-ada saja. Yang namanya manusia butuh makan, butuh tidur, butuh berak. Ini katanya mau tapa empat belas hari untuk mengambil batu mustika yang belum tentu benar adanya…”
Temannya ikut-ikutan tertawa, “Memang gila itu Paranormal. Goa Ratu isinya cuma ratusan kelelawar dan segala bentuk tinjanya, dari mana akan muncul batu mustika yang katanya berwarna biru.”
Setelah menghembuskan asap rokoknya sipir pertama segera menimpali, “Keluar dari timbunan tinja kelelawar kali…”
Kedua orang itu kemudian tertawa gelak-gelak.
“Hai… kerja!” terdengar seruan Kusni. Saat itu dia tengah berjalan ke ruang sel 1-A.
Sipir yang merokok menyedot rokoknya untuk yang terakhir. Rokok yang belum terlau pendek itu dijatuhkan dan digilasnya dengan sepatu lalu melangkah menyusul temannya yang telah lebih dulu masuk.

Kusni tegak di depan pintu jeruji besi sel 1-A. Matanya kembali mengamati para napi yang terkurung di dalam. Tangannya kembali menunjuk-nunjuk. Tiba-tiba gerakan tangan itu berhenti di tempat. Dahinya mengernyit.
“38.. sel kelas satu A 38 napi…” desisnya.
Dia tercenung sejenak. Sesaat kemudian dia berpaling dan berseru kepada salah satu dari dua sipir tadi yang telah duduk di mejanya dan tampak sedang memberesi sebentuk dokumen-dokumen.
“Jay…! ambilkan dokumen daftar napi kelas satu A dan riwayatnya!”
Yang dipanggil Jay adalah sipir perokok tadi.
“Satu A… satu A…” kata Jay sembari menyeret telunjuknya dari atas tumpukan dokumen yang tinggi ke bawah.
“Ah,” telunjuknya berhenti di punggung sampul bertuliskan 1-A. Dia ambil dan membawanya kepada Kusni.

Kusni membuka dokumen besar bersampul kaku itu. Di halaman dua terdapat daftar nama dan riwayat para narapidana. Dia membaca deretan nama itu. Setelah itu dia memandangi napi di dalam sel. Dia lakukan hal itu berkali-kali hingga perlahan-lahan tangan kanannya diangkat dan menunjuk sebuah nama di urutan ke 15. Dia memandang lagi ke dalam sel, lalu jari di atas daftar nama itu turun ke bawah ke angka 33.
“Jambal Grandirot dan Singkrik, nihil!” ujarnya melotot pada Jay.
Jay tergagau. Kedua tangan sipir ini menggapai jeruji besi dan melongok ke dalam.
“Terakhir kali para napi keluar saat makan malam. Bodoh yang jaga semalam. Mereka pasti kabur!”
“Kita harus lekas lapor ke Kalapas Jay…!” berkata Kusni. Lalu orang ini cepat menghambur pergi.

Mendengar laporan Kusni di ruangannya, Hardijo Kepala Lapas Nusakambangan segera memerintahkan para sipir untuk memeriksa tembok-tembok tinggi pembatas di sekeliling Lapas Batu. Dari beberapa sipir yang memeriksa di belakang WC, dilaporkan bahwa ditemukan noda-noda bekas alas kaki mengarah ke atas di permukaan tembok bercat kuning setinggi lima meter itu.

Pagi itu juga Lapas Nusakambangan gaduh. Jambal Grandirot dan Singkrik dipastikan kabur dari Lapas Batu dengan cara melompati tembok pembatas saat para napi tengah makan malam. Di belakang WC, sembari melihat bekas-bekas pelarian dua napi itu, Hardijo bertanya pada para sipir, “Kelompok siapa yang berjaga semalam?”
“Elang Putih Pak, Kelompok Elang Putih pimpinan sipir Jagur…” Kusni yang berada di situ menjawab.
Dengan suara tegas Hardijo berkata pada lebih dari dua lusin sipir di situ, “Semua anggota kelompok Elang Putih akan menerima sanksi atas kelalaian ini. Dengar, sebagian tetap jaga di sini. Jaga baik-baik para tahanan. Sebagian lagi ikut aku mempersiapkan pengejaran.”
Hardijo lalu kembali ke ruangannya. Di sana Kalapas ini ambil telepon dan menghubungi Polres Cilacap meminta bantuan personil untuk melakukan pencarian.

Pukul 10.00. Di tempat lapang berumput hijau arah barat daya Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan, belasan sipir telah berbaris bersiap melakukan pencarian dua napi yang kabur. Di situ juga telah berbaris rapi personil bantuan dari Polres Cilacap dan Polda Jateng.
Di depan barisan-barisan itu, berdiri tegak AKBP Jhony, Kapolda Jawa Tengah. Selaku Ketua Utama Tim Pencarian, dia melakukan pengarahan terlebih dahulu.

“Teman-teman…” serunya lantang dan tenang. “Tim kita bagi menjadi tiga. Tim satu beranggotakan Petugas Lapas sendiri, diketuai oleh Bapak Hardijo. Tim dua dari Polres Cilacap di bawah pimpinan Bapak Ruslam. Dan Tim terakhir Polda Jateng diketuai saya sendiri. Turut cerita Bapak Hardijo tadi, dua napi kabur melompati tembok selatan Lapas Batu. Kemungkinan mereka terus lari ke selatan masuk ke dalam hutan. Kita sama-sama ke selatan, setelah masuk ke dalam hutan nanti kita berpencar…”
“Namun di luar semua itu, pertolongan dan petunjuk Tuhanlah yang paling utama. Karenanya, besar manfaatnya jika sebelum berangkat kita berdoa terlebih dahulu…”

Setelah doa selesai, mereka bergerak ke selatan melalui perkebunan sebelah timur tembok besar Lapas. Satu anjing pengendus tampak dibawa salah seorang sipir.
Memasuki hutan yang tak terlalu rapat, setelah dikomandoi Jhony, dua Tim berpencar ke arah barat dan timur sementara Tim Jhony lurus terus ke selatan.

Cerpen Karangan: Ari Irawan
Facebook: facebook.com/arie.cminor

Cerpen Darah di Nusakambangan (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dunia Supranatural

Oleh:
Nirmala, Cantika, dan Gempita sedang mengunjungi kantor pos di wilayah Pondok Makmur dekat rumah mereka untuk menjalankan tugas dari sekolah yaitu mewawancarai kegiatan para pegawai dan kepala kantor serta

Pewaris Terakhir

Oleh:
Aku memandangi senjataku yang sudah berlumur darah, Ini semua salah mereka.. Siapa yang suruh menyerang dan memburuku. Mentari semakin bersembunyi dibalik gusarnya kekacauan kerajaan. Takdirku bagai tertulis di lembar

Neo Age (Part 2)

Oleh:
Waktu perlahan mengantar matahari berlabuh pada dermaga yang disebutmu senja. Menumpahkan jingga dan menutupi biru langit menyembunyikan segala bentuk benda dalam siluet. Perlahan gelap malam menelan terang siang. Kegelapan

Incredible People

Oleh:
Aku masuk sekolah Kuasa. Aku mencari bangku nomor 162, dan ternyata di sana sudah banyak orang. Aku akan ujian sekolah ini yang dimana taruhannya nyawa. mati atau lulus, itu

Ikatan Persahabatan

Oleh:
Malam begitu gelap, bahkan bulan yang sedang menggantung di langit itu tak bisa menyinarkan cahayanya, awan-awan hitam menutupinya dengan paksa. Sebuah mobil jeep hitam melaju dengan cepat menusuk ke

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *