Darah di Nusakambangan (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 4 October 2018

DILIHAT dari pohonnya yang tinggi-tinggi dan batangnya besar-besar, singkong-singkong di area perkebunan yang tak terlalu luas itu seharusnya sudah di panen berhari-hari lalu. Akibatnya sekarang, sejumlah pohon singkong yang tak mampu menjaga keseimbangan tubuhnya sendiri akibat terlalu jangkung, doyong ke teman di sampingnya yang saat itu pun tampak loyo tak mampu menahannya. Maka jika sudut pandangnya dari atas dan diarahkan ke seantero kebun, di dalam satu bidang kebun itu tampak lebih dari selusin kelompok-kelompok pohon singkong yang setiap anggotanya saling merebahkan diri ke tanah memandang langit tak berdaya.
Namun nampaknya tidak semua pohon-pohon singkong itu roboh akibat tingginya batang. Di ujung barat kebun, tiga batang pohon singkong roboh jelas karena dicabut. Pencabutnya sendiri tengah lahap menggerogoti singkong besar. Mereka berdua, sama-sama berseragam napi. Bukan lain adalah Jambal dan pria jangkung berkulit legam Singkrik Kuning. Beberapa singkong besar telah mereka habiskan menyisakan pangkal-pangkalnya yang tercampak di tanah.
Jambal Grandirot bersihkan mulutnya yang belepotan sisa singkong dengan punggung tangannya, lantas berkata: “Pos jaga terjauh dari Lapas ada di barat daya Lapas, seperti yang kau bilang semalam Singkrik, kita butuh senjata… aku telah membuat rencana. Kita habisi orang pos dan rampas pistolnya.”
Sambil menggerogoti singkong Singkrik menyahut, “Adalah gila kalau kita melakukannya siang-siang begini Jambal…”
“Kau pikir aku bodoh!” sentak Jambal. “Kita mendekam dulu di suatu tempat. Tengah malam baru kita beraksi.”
Jambal membersihkan tangannya dengan cara menepukkan satu sama lain lalu berdiri, “Sekarang kita berangkat Singkrik. Kita tinggalkan tempat ini…”
Setelah memandang sekeliling lebih dulu, dua orang itu akhirnya berkelebat ke selatan.

Kurang dari semenit setelah kepergian dua buronan itu, tim pencarian pimpinan Hardijo yang bergerak ke barat sampai di kebun singkong itu dari arah sebelah timur. Kalapas Nusakambangan Hardijo tegak memandang sekitar sementara sipir yang lain tampak berpencar mencari. Satu sipir pembawa anjing masuk ke kebun.

Tak lama kemudian terdengar seruan panggilan dari sipir pembawa anjing itu. Semua orang bergegas menuju ke ujung kebun sebelah barat.
“Ada bekas cercahan singkong di sini,” kata sipir.
Kalapas perhatikan pangkal-pangkal singkong bekas dimakan itu, “Kebun singkong ini milik warga dan belum dipanen,” lalu Hardijo memandang sekitar kebun, “Tak mungkin jika ada binatang mancabut tiga batang singkong kemudian memakannya…” di akhir ucapan Hardijo tiba-tiba anjing yang dipegang sipir menyalak-nyalak, sejurus kemudian anjing itu memaksa lari ke selatan. Mau tak mau sipir yang memegang tali pengikat mengikutinya. Semua orang serentak mengikuti di belakang.

Anjing itu lari di tanah lapang beralang-alang yang cukup luas kemudian masuk ke dalam hutan. Di dalam hutan anjing jantan berwarna coklat itu berhenti duduk dan menjulurkan lidahnya karena kelelahan. Detakan jantung di bagian dadanya tampak begitu cepat. Sikapnya seperti kebingungan.

“Bagaimana? Apa dia mencium jejak buronan, Kupit?” tanya Hardijo terengah-engah menyeruak dari belakang.
“Sikapnya memang seperti mencium bau manusia Pak Kalapas, tapi entah kenapa dia berhenti. Mungkin sekali dia kehilangan jejak…”
Hardijo memandang sekeliling hutan sambil berkacak pinggang, “Agaknya memang sebelumnya mereka berada di sekitar sini. Mereka kelaparan dan mencuri singkong petani. Mungkin mereka belum jauh, kita teruskan saja pencarian ke barat…”

Sementara tim Hardijo melanjutkan pencarian ke barat kita beralih ke tim AKBP Jhony yang bergerak ke selatan. Telah lama berjalan menyusuri hutan namun sampai saat itu mereka belum menemui hasil. Di sebuah tanah terbuka yang agak landai mereka berhenti untuk beristirahat. Berbeda dengan tim Hardijo yang membawa anjing pengendus, tim ini membekal sebentuk senapan serbu yang disandang beberapa polisi berseragam coklat.
Jhony melepas kacamata hitamnya yang selalu dipakainya kemudian membuka mulut, “Nusakambangan itu luas, seperti kasus-kasus pelarian napi sebelumnya, mereka selalu menuju ke barat, karena yang paling dekat pantai di Cilacap adalah di bagian barat. Dan untuk ke sana tidak mudah dan sulit. Aku yakin untuk beberapa hari mereka masih mendekam di dalam hutan.”

Satu langkah di sampingnya, berjongkok pria bertopi putih terbalik. Namanya Popon, dia orang kedua sebelah Jhony di tim 3. Dia menyahuti, “Betul Komandan, kemungkinan besar mereka akan menyerah. Semakin lama bertahan di hutan, akan semakin menyengsarakan diri mereka sendiri…”
“Setelah minum coba kita lanjutkan pencarian ke sumber air, mereka pasti butuh air…” ujar Jhony pula. Dia berpaling ke bawahannya yang menggendong tas berisi minuman. “Ambilkan air. Setelah ini kita lanjutkan perjalanan…”
Satu botol air dikeluarkan. Kemudian botol itu dilungsurkan ke satu per satu orang di situ hingga satu lusin orang rombongan minum. Setelah itu mereka berdiri dan melanjutkan pencarian.

MATAHARI perlahan menggelingsir di ujung barat, sinarnya yang jingga lurus menyemburat menembus celah-celah daun. Menciptakan bayangan panjang jika seseorang sengaja berdiri di tempat terbuka. Terasa hangat jika mengenai kulit.
Pantai-pantai berbatu karang yang terdapat di semenanjung Nusakambangan yang memang sepi jarang sekali dikunjungi orang sore itu nampak bertambah kelam, diam dan angker. Apalagi ditambah pohon-pohon langka yang menjulang tinggi seakan-akan mereka mempunyai mata, memperhatikan setiap gerak-gerik siapa saja yang menginjakkan kakinya di situ.
Sang surya terus turun. Di sebelah selatan pulau, ombak-ombak dari samudera Hindia mengalun tenang. Ujung pandangan ketika mata menatap jauh ke laut hanya merupakan garis lurus seolah samudera itu tak bertepi. Gelap mulai menyamarkannya, menyelimuti permukaan air.

Di pesisir desa bernama Kampung Laut Cilacap, para nelayan yang telah seharian mencari nafkah, menambatkan perahunya di pantai. Memanggul keranjang besar sarat ikan hasil kerja kerasnya. Sementara yang lain masih tampak mengapung-apung di permukaan laut, perlahan-lahan bergerak menuju pantai.
Sore itu pencarian 3 tim terhadap dua buronan Lapas Nusakambangan yang kabur belum juga menuai hasil. Hingga maghrib menjelang, tim Ruslam yang berjalan ke timur, tim Jhony yang berak ke selatan dan tim Hardijo yang mencari ke arah barat akhirnya memutuskan mengakhiri pencarian hari itu dan melanjutkannya esok hari.

PAGI ITU, Waskito pemilik kebun singkong bagian barat pulau Nusakambangan keluarkan seruan heran melihat kebun singkongnya di ujung barat yang berantakan. Tiga batang pohon singkongnya terkapar seperti habis dicabut sementara di sekitarnya berserakan pangkal-pangkal singkong. Beberapa pohon di sekitarnya juga rusak.

“O… ladalah! Dedemit dari mana yang merusak kebunku yang tinggal panen ini?!” kata Waskito seraya mencopot tudung bambunya dan menggaruk-garuk kepala.
“Gusti Allah…” keluhnya lagi. Disepaknya pangkal-pangkal singkong yang berserakan kemudian meneruskan, “Ck.. ck.. ck.. ada-ada saja manusia-manusia rakus yang tertarik segala singkong di tengah hutan…”
Mendadak lelaki tua ini tercenung.
“Manusia?” dia mengulang ucapannya sendiri. “Sejak kapan ada manusia di pulau ini selain para petugas Lapas, narapidana dan petani seperti saya…?”
Waskito usap-usap tengkuknya dan menoleh kanan kiri, “Atau memang dedemit Nusakambangan yang punya pekerjaan…? eh, sejak kapan ada setan doyan singkong?”

Di saat lelaki tua itu terheran begitu rupa, tiba-tiba sepasang telinganya yang tua namun masih tajam menangkap suara derap kaki seperti orang tengah berlari. Sesaat Waskito terdiam. Derap itu semakin mendekat. Tak tunggu lama muncullah dua orang, satu berbadan gempal satunya jangkung. Dari dalam kebunnya Waskito berdiri diam memperhatikan keluar. Dua orang itu datang dari arah timur. Dua tangan masing-masing sama menggenggam pistol. Mereka lari ke arah barat persis di sebelah utara kebun. Sesekali dua orang itu melongok ke belakang seperti dikejar sesuatu.

Sebelum kita melihat cerita selanjutnya kita ikuti terlebih dahulu kisah tengah malam sebelumnya. Seperti diketahui sebelumnya, Jambal Grandirot dan Singkrik Kuning telah merencanakan perampasan pistol dari petugas Lapas yang berjaga di pos yang terletak di arah barat daya Lapas.

Malam itu telah larut. Area depan Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan tampak lengang. Lampu-lampu yang menyeruakkan sinar kuning terpasang di beberapa sudut. Hanya dua orang yang kelihatan berjaga di dalam pos pintu masuk.
Satu pos yang terletak seratus meter di arah barat daya Lembaga Pemasyarakatan, dua orang petugas Lapas mencoba menghilangkan kantuk dengan bermain catur di atas bangku kayu panjang di beranda pos. Satu gelas kopi telah mereka tenggak namun rasa kantuk belum juga hilang. Setelah memakan satu pion musuh, penjaga pos di sebelah kiri menguap lebar, “Hoaaam… giliran kau Jay…”
Jay mundurkan Ratu menyerong kembali ke tempatnya setelah tadi dia mencoba menyekak Raja tapi langsung ditutup Ratu lawan.
Orang di sebelah kiri kembali menguap lebar. Setelah tadi menggerakkan Ratu, sipir bernama Jay angkat gelas di samping papan catur dan meneguk kopi yang hanya tersisa ampas itu. Lalu diambilnya rokok dari saku celana belakangnya dan menyalakannya.
Seketika itu asap mengepul membuntal-buntal ketika Jay mulai menyedot dan menghembuskan berulang kali. Kawan di depannya tampak masih berfikir menghadapi papan catur sambil terkantuk-kantuk.
Tanpa kedua orang itu ketahui, tak jauh dari pos mereka, di balik semak belukar lebat dan gelap dua pasang mata tengah mengawasi. Dua pemilik pasang mata itu bukan lain adalah Jambal dan Singkrik.

“Sepertinya sekarang saatnya Jambal, kakiku sudah mati rasa mendekam di sini sejak matahari tenggelam…” berkata Singkrik.
“Memang sekarang saatnya Singkrik. Kita memutar lewat arah barat memasuki kebun. Kita muncul dari belakang pos,”
Dua orang itu kemudian bergerak dan lenyap meninggalkan daun semak yang bergoyang-goyang.

“Skak!” tiba-tiba Jay berseru.
Kawannya yang terkantuk-kantuk seketika nyalangkan mata lebar-lebar. “Aih…” ujarnya heran, “Mana mungkin, aku tak percaya… tadi Ratuku masih berdiri melindungi Raja sekarang hilang… kau pasti curang Jay… kau pasti mengambilnya saat aku ngantuk!”
“Curang gundulmu!” sentak Jay. Padahal saat itu asap di mulutnya belum dikeluarkan. “Dari tadi memang tak ada Ratumu…”
“Lantas di mana Ratuku…?” sipir yang tadi ngantuk memandang seantero papan, “Tidak ada. Kau pun belum memakannya… hmm memang kau ambil…”
Jay angkat bahu seolah tak acuh. Saat itu dia tampak begitu menikmati rokoknya. Kepalanya sedikit mendongak. Matanya setengah terpejam. Perlahan-lahan asap dimulutnya dikeluarkan membentuk lingkaran.

Sementara itu Jambal dan Singkrik telah berada di sisi kiri pos. Keduanya membungkuk di tempat yang gelap. Di tangan kanan mereka menggenggam batu sebesar empat kepalan tangan orang dewasa. Dan di tangan kiri Jambal sendiri menggenggam batu sebesar bola tenis.
Jambal Grandirot menoleh ke Singkrik dan berbisik, “Batu kecil ini akan kulemparkan ke semak-semak, begitu ada kesempatan kita hantam mereka…”
Dalam gelap Singkrik mengangguk. Lalu dengan langkah perlahan tanpa menimbulkan suara sedikit pun orang ini menghambur melewati belakang pos menuju sebalah kanan bangunan itu.

Sipir yang tadi mengantuk masih bersikeras bahwa Ratunya diambil Jay temannya, sementara Jay sendiri masih terpejam-pejam. Saat itulah tiba-tiba terdengar seperti ada benda jatuh di semak belukar tak jauh dari mereka berada. Serta merta keduanya menoleh ke sumber suara.
Di saat mereka hendak berdiri dari duduknya ingin mengetahui lebih jelas tiba-tiba…
Prukk!!
Prukk!!
Dua buah benda keras masing-masing mengepruk kepala mereka dari belakang. Tak ada jeritan. Sosok kedua petugas Lapas itu kemudian melosoh di atas bangku dengan kepala rengkah. Tewas tanpa tahu siapa pembunuhnya!

Jambal dan Singkrik membuang batu yang berlumuran darah segar itu ke tanah. Setelah itu Jambal mengisyaratkan Singkrik mengikutinya masuk ke dalam pos.
Di dalam pos terdapat satu buah meja agak panjang dan dua buah kursi. Karna memang sudah terlatih dan terbiasa merampok, dengan cekatan Jambal Grandirot mencari apa yang ia cari.
Ketika membuka laci sebelah kiri yang merapat ke dinding, serta merta mata pria ini berkilat-kilat. Seringai setan tersungging di bibirnya.
Sambil mengangkat benda dari dalam laci yang ternyata sebentuk pistol revolver Jambal Grandirot keluarkan tawa mengakak. Setelah itu dia menoleh dan memandang ke arah Singkrik yang berdiri di sampingnya dengan tatapan mata penuh arti.

KEESOKAN HARINYA, dua orang sipir terlihat melangkah dari timur, dari Lapas Nusakambangan menuju pos di arah barat daya. Mereka datang bukan lain untuk berganti jaga dengan sipir sif malam. Sepanjang berjalan, dua orang itu tampak asyik mengobrol entah apa yang sesekali diselingi tawa. Namun sepuluh meter sebelum sampai ke pos, langkah orang di sebelah kanan berhenti. Keningnya dikerutkan sedang sepasang matanya terkunci pada sosok yang menggeletak di atas bangku panjang di depan pos. Tangang kirinya yang serta merta dia melintangkan ke samping membuat teman di sebelahnya ikut tertahan.
Ditahan begitu orang di sebelah kiri menoleh dan bertanya, “Ada apa?”
Yang ditanya menunjuk ke depan pos, menjawab, “Itu yang berjaga semalam, kenapa terlentang begitu?”
Sipir di sebelah kiri memandang ke depan pos, “Gila!” katanya sambil geleng-geleng kepala, “Bukannya berjaga malah ditinggal tidur sampai begini hari… tak heran jika dua napi kabur…!”
Dalam hati sipir pertama tidak sependapat dengan kata-kata temannya. Ada perasaan tidak enak dalam hatinya. Menurutnya, dua orang yang terlentang itu bukan sedang tidur. Persaannya tambah tidak enak ketika sepasang matanya yang tajam melihat sesuatu berwarna merah di rambut orang yang tergeletak dengan kepala membujur ke timur.
“Badrun…!” serunya ketika melihat temannya tak sabar melangkah. Sebenarnya dia ingin mengatakan sesuatu namun Badrun terus melangkah. Terpaksa dia ikut berjalan juga.
Apa yang dikira Badrun yakni dua orang yang terlentang di atas bangku tengah tidur ternyata kecele. Begitu sampai di depan pos serta merta wajahnya pucat seperti kain kafan melihat dua orang kawannya tergeletak tanpa nafas dengan mata melotot. Dan yang membuat isi perutnya mau keluar adalah ketika dia melirik ke bawah kepala dua orang itu, telah mengering di atas bangku genangan darah merah kehitam-hitaman.

“Ron…! teman kita… Bajay… Dito, ya Tuhan… apa yang menimpa mereka…?” Badrun begitu tercekat. Dua bola matanya membesar. Dia berkata tanpa berpaling pada kawannya.
Roni, sipir yang satu mundur dua langkah sambil pegangi dadanya yang mendadak terasa sesak. Namun perasaan tidak enaknya sejak tadi membuat dia bisa menguasai diri.

Tiba-tiba mata Roni beralih dan membentur pada dua buah batu sebesar empat kepalan tangan orang dewasa yang tercampak di tanah tak jauh dari bangku panjang. Di permukaan batu itu juga telah mengering darah.
Lalu pandangannya kembali ke kepala sebelah atas bernama Dito. Di situ darah yang mengering membuat beberapa jumput rambutnya tampak kaku. Otaknya bekerja cepat. Tanpa berani menyentuh atau membalikkan jasad dia berkata menduga, “Teman kita mati dihantam batu Drun…”
“Apa kau bilang?!” sahut Badrun masih tercekat.
Roni menunjuk dua batu yang tercampak di tanah. Ketika Badrun melihat batu yang ditunjuk, tanpa berkata-kata lagi Roni lari kembali ke Lapas.
“Mau ke mana kau Ron…?!” teriak Badrun.
“Lapor!”
Di langit, pada ketinggian seribu kaki, telah lama terbang berputar-putar seekor alap-alap Nusakambangan.

OBROLAN santai sambil minum kopi ketiga orang itu berhenti ketika dari pintu ruangan itu terdengar ketukan dari luar. Tiga orang dalam ruangan itu adalah Kalapas Hardijo, AKBP Jhony dan Ruslam. Pagi itu mereka tengah membicarakan jalur pencarian nanti, dan dugaan dua napi buronan bersembunyi.
Hardijo mempersilahkan masuk. Tergogopoh-gopoh muncul Roni. Kepada tiga orang yang duduk Roni melaporkan didapatinya Bajay dan Dito tanpa nyawa di depan pos barat daya Lapas besar.
Mendengar penuturan Roni, Hardijo dan Jhony kontan terperanjat dari duduknya, sementara Ruslam, pria berpembawaan tenang dan memang lebih tua dari dua orang itu tampak tetap tenang duduk di tempatnya.

“Apa?!” berseru Hardijo.
“Tentu kau tidak bohong, Ron?” menegaskan Jhony.
Roni yang dadanya masih naik turun menggeleng.
Ketika dua rekannya masih tercengang tak percaya untuk pertama kalinya Ruslam berdiri dan berkata, “Lebih baik kita segera ke sana,”
Didahului Kalapas Hardijo, empat orang itu berangkat menuju pos arah barat daya Lapas Nusakambangan.

Cerpen Karangan: Ari Irawan
Facebook: facebook.com/arie.cminor

Cerpen Darah di Nusakambangan (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Arkhan Si Kesatria

Oleh:
Pada suatu masa terdapatlah sebuah kota kerajaan yang bernama Hunts yang diserang oleh sekelompok setan api. Kelompok tersebut dipimpin oleh masternya yang bernama Dray. Wujud Dray berupa setan dengan

Dua Peluru

Oleh:
Begitu Erika Samantha berhasil membuka pintu besi, adik Erika -Trissa Samantha- berlari menyusuri lorong gelap nan sunyi dengan tangan membawa sepasang high heels dan slingbag berwarna merah. Nafasnya terengah-engah,

Jacob Lucifer (Pemakan Roh)

Oleh:
Angin berhembus kencang menyapu helaian rambut yang menutupi mataku. Kilatan cahaya membelah gumpalan awan yang hitam pekat tanpa disertai dengan bunyi gemuruh. Kawanan gagak api berterbangan ke mana-mana. Sebenarnya

The Flower of War (Part 2)

Oleh:
Rabu, 21 November 2018 Anya bangun dari tidurnya dengan malas. Kesiangan pula. Membuat Mamanya marah-marah. “Anyaaaa! Kenapa bangun siang lagi? Kasihan Papamu setiap hari harus telat karena kamu. Udah

Laboratorium Sekolah

Oleh:
Angga langsung menghunuskan pedangnya saat Ia mengetahui kalau peluru revolvernya habis. Dengan cekatan, dia langsung mengayunkan pedang itu ke leher para monster menjijikkan dan menebasnya dengan cepat. Tidak berguna,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *