Darah di Nusakambangan (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 4 October 2018

“Benar-benar biadab!” maki Hardijo melihat pandangan mata di depannya.
Dibantu Badrun yang masih ada di situ dan sejumlah sipir yang ikut serta, Kapolda Jateng Jhony mengangkat dan membaringkan berjajar dua mayat sipir itu di beranda pos.
“Kepala bagian belakang mereka remuk, dari dua buah batu yang ditemukan Roni tergeletak di tanah, tampaknya ada yang menokok mereka dari belakang…” Jhony menerangkan pada Hardijo dan Ruslam yang berdiri di sebelahnya.
“Siapa pula yang melakukan?” Ruslam berpaling pada Hardijo, “Pak Har, apa ada orang lain selain petugas Lapas dan para napi di pulau ini? Sebangsa penjahat atau gerombolan rampok?”
“Di pulau ini hanya ada kami para penghuni Lapas, kadang-kadang ada beberapa orang petani dari cilacap datang menilik kebun mereka. Ah, belum selesai kasus pelarian dua napi, dua sipir kita tewas dengan kepala pecah… bisa-bisa kredibilitas Lapas anjlok…!”
Untuk beberapa saat Ruslam termenung. “Dua napi, dua sipir…” pikirnya saat itu. Orang ini kembali bicara pada Kalapas Nusakambangan Hardijo, “Tetap tenang dulu Pak Har, firasat saya peristiwa ini ada keitannya dengan dua buronan itu…”
Hardijo memandang wajah Ruslam. Pada saat itu, dari dalam pos terdengar Roni berseru. Hardijo, Ruslam dan Jhony segera masuk ke dalam. Mereka baru menyadari keadaan di dalam pos cukup berantakan. Kertas, surat kabar dan beberapa majalah berserakan di atas meja sementara laci dan lemari kecil meja itu terbuka lebar.
Di samping laci itu Roni berdiri, “Komandan, dua buah revolver lenyap!”
Belum lagi rasa keterkejutannya terhadap tewasnya dua anak buahnya mereda, kini diketahui dua buah revolver juga hilang membuat Kalapas Hardijo masygul. Laki-laki ini menatap Jhony dan Ruslam seolah ingin mendengar apa yang ada di kepala mereka.

AKBP Jhony membuka mulut, “Pak Har, saya sependapat dengan Bapak Ruslam tadi, sepertinya kejadian ini ada kaitannya dengan dua buronan itu. Di dalam pulau ini hanya ada penghuni Lapas dan para petani, saya kira rekan sesama sipir dan para petani sangat mustahil tega membunuh sipir tak berdosa itu. Saya curiga pada dua buronan itu…”
“Jika memang dua napi itu yang mempunyai pekerjaan, untuk apa mereka lalu mencuri pistol?” bertanya Hardijo.
“Mungkin yang mereka incar sebenarnya adalah pistol itu sendiri” ujar Ruslam, “Mereka nanti mempergunakannya untuk membela diri jika sewaktu-waktu kita temui mereka dan terjadi tindakan penangkapan. Dan untuk mendapatkan pistol itu sendiri memang dengan cara ini,”
Hardijo letakkan tangan kanannya di pinggang, “Dua buronan itu adalah narapidana terhukum mati kasus perampokan di Ibukota. Kini mereka tanpa perikemanusiaan melakukan pembunuhan pada petugas Lapas. Dosa mereka sudah terlalu berat. Lebih baik kita segera bersiap melakukan pencarian hari kedua. Kita ringkus mereka hidup atau mati…”
“Itu memang lebih baik.” Ucap Ruslam.
“Hari pertama pencarian kemarin,” kata Hardijo pula, “Ketika tim kami ke arah barat, di sebuah perkebunan singkong milik petani kami menjumpai bekas-bekas pangkal-pangkal singkong, seperti ada yang telah memakan. Lalu tiba-tiba anjing pengendus seolah mencium jejak mereka. Saya curiga sebelumnya memang dua napi itu telah lama di kebun singkong itu…”
“Bagus!” menimpali Jhony, “Paling tidak kita sudah sedikit membaui jejak mereka. Saya punya rencana, tiga tim kita jadikan satu, kita bersama-sama ke arah barat. Aku yakin, sekali mereka melalui jalur sekitar kebun singkon itu, akan kemudian mereka jadikan jalan mereka…”
Ruslam mengangguk.
“Baik, sebelum kita persiapkan tim, kita urus terlebih dahulu dua jenazah Bajay dan Dito. Mereka telah dianggap gugur dalam menjalankan tugas. Akan saya ceritakan sejujurnya pada keluarga mereka nanti.”
Dibantu sipir yang ada di situ Hardijo dan Jhony akhirnya membawa dua mayat itu ke Lapas.

DUA JAM lebih awal dari kemarin, personil bantuan dari Porles Cilacap, Polda Jateng serta orang-orang dari Lapas Nusakambangan sendiri telah berbaris rapi di tanah lapang berumput hijau dekat Lapas.
Di depan barisan berisi sekitar tiga lusin orang itu beridiri Kalapas Hardijo, AKBP Jhony dan Ruslam. Tidak seperti kemarin, di pinggang tiga orang itu serta sebagian besar polisi di barisan kini tersisipi pistol.

Jhony kembali memberikan pengarahan, “Teman-teman, kita sama-sama ke arah barat, ada petunjuk mengatakan dua buronan berada di sana. Tujuan utama kita ke perkebunan milik petani dahulu. Siapa tahu mereka belum sarapan, tengah kelaparan mencuri singkong, hik… hik… hik…” ternyata AKBP Jhony bisa juga bergurau.
AKBP Jhony melirik Kalapas Hardijo, “Pak Hardijo, silahkan, mungkin ada yang ingin dikatakan…”

Hardijo maju selangkah. Kedua tangannya ditaruh di belakang seperti sikap istirahat.
“Saudaraku, dosa dua napi itu sudah keliwat takaran. Saya nyatakan halal nyawa mereka untuk dihabisi. Jadi jangan segan-segan lagi menembak di tempat jika kita temui mereka nanti. Tapi kita juga harus berhati-hati, dua buronan itu diduga kuat membunuh teman kita dan mencuri revolver. Jadi jaga diri masing-masing jika nanti terjadi baku tembak… sebelum kita berangkat,” Hardijo menoleh ke arah Jhony, “Silahkan rekan Jhony memimpin do’a terlebih dahulu.”
Kalapas Hardijo kembali mundur.
“Mari kita berdo’a terlabih dahulu…” kata AKBP Jhony, “Semoga apa yang kita usahakan hari ini mendapat pertolongan Gusti Allah, diberi kekuatan, diberi kemudahan sehingga memberi hasil…”

Begitu do’a selesai, rombongan itu pun bergerak ke barat. AKBP Jhony melangkah di sebelah depan sebagai pemimpin. Diikuti Hardijo dan Ruslam. Lalu di belakangnya lagi tampak Popon mengenakan topi pet putih terbalik. Rombongan itu melewati kebun-kebun yang memang ada di arah barat Lapas, kemudian terus melangkah hingga memasuki hutan.
Karena yang dituju adalah perkebunan singkong milik petani, di suatu tempat di dalam hutan mereka membelok ke selatan untuk kemudian melalui jalur ysng kemarin dilalui Tim 1 Hardijo.

Jalur yang dilalui tak begitu sulit. Tanahnya mendatar tanpa semak belukar. Hanya pohon-pohon yang tinggi rimbun yang membuat cahaya matahari yang tengah naik itu sulit menembus. Di depan, Jhony melepas kacamata hitamnya dan menyisipkan tengkainya di kerah kaosnya. Kepalanya diputar memandang berkeliling. Di barisan, anjing jenis Belgian Malinois yang dibawa Kupit, sambil berjalan tampak mengendus-endus permukaan tanah. Kupit yang memegang tali pengikat mengikuti dari belakang. Selang beberapa lama anjing itu tiba-tiba menggonggong.
“Komandan!” seru Kupit pada atasannya, Hardijo yang berjalan di depan Popon.
Rombongan serta merta berhenti. Si anjing memaksa lari ke depan, ke arah mana rombongan berjalan.
“Sepertinya dia mencium sesuatu!” lanjut Kupit.
“Bagus Kupit, biarkan dia berlari. Tetap pegang talinya. Kita mengikut di belakang…” yang bicara adalah AKBP Jhony. Setengah berlari dia ke tengah barisan, mendekati Kupit dan anjingnya berada.
“Lekas…” kata Hardijo, “Dengan apa lagi kita mencari jejak mereka kalau tidak dengan bantuan hidungnya…”
Anjing berlari ke depan. Tidak terlalu cepat, diiringi Kupit. Yang lain mengikuti. Selama berlari anjing itu tak henti-hentinya menyalak.

Di suatu tempat dalam hutan, Jambal Grandirot dan Singkrik Kuning yang tengah berjalan santai sambil memakan jambu hutan hentikan langkah.
“Kau dengar sesuatu, Jambal?” bertanya Singkrik Kuning.
“Hmm… suara anjing menggonggong,”
Jambal kembali melangkah seolah tak acuh dan kembali menggigit jambunya.
“Kau tidak ingat, selama kita bermalam di gua, kita banyak mendengar suara anjing? Apa anehnya..”
Singkrik Kuning, seorang bandit berpembawaan tenang dan penuh perhitungan ketika melakukan aksi rampoknya kembali pasang telinga. Sejurus kemudian dia kembali berkata pada Jambal, “Ini lain Ketua, bukan suara anjing liar, ini seperti suara anjing yang biasa ada di Lapas. Dan kau dengar, suaranya semakin mendekat?”
Jambal hentikan langkahnya yang baru tiga tindak. Dipasangnya telinga baik-baik. Suara gonggongan anjing itu memang semakin dekat.
“Aku punya firasat, Jambal,”
Otak Jambal Grandirot berputar. Dibuangnya jambu yang tinggal separuh itu lantas mengambil sesuatu dari pinggang celana oranye lusuhnya.
“Ambil senjatamu Singkrik!” serunya. “Orang Lapas mencium keberadaan kita! B*ngs*t! Di sini tak menguntungkan kita, kita cari tempat bagus!”

Singkrik tahu, kata-kata Jambal bukan menyiratkan hatinya yang sedang takut. Jambal bukan seorang pecundang. Selama memimpin komplotan rampok Grandirot, dia adalah orang yang tidak pernah takut pada apapun. Tapi Singkrik juga mencatat sifat lain atasannya. Karena keberaniannya itu seringkali tak diimbangi dengan otak dan pemikiran yang matang. Dalam beberapa kali kesempatan merampok, Singkrik kerap memberi usul sebelum bertindak. Dan kini dia merasa Jambal tengah merencanakan sesuatu yang sebenarnya akan merugikan dan penuh resiko. Sedangkan dia sendiri saat itu sebenarnya memiliki rencana lain.

Kedua orang itu kemudian bergerak ke barat. Ke arah di mana kebun singkong milik petani berada. Dan seperti yang telah diceritakan sebelumnya, apa yang dilihat oleh Waskito dari dalam kebunnya adalah sosok dua orang berseragam napi yang muncul dari dalam hutan arah timur, lari sepanjang utara kebun, lalu lenyap di balik pepohonan.

Tak lama kemudian, dalam keadaan masih bingung dengan dua orang yang lari-lari tak jelas tadi, telinga Waskito kembali mendengar derap kaki seperti orang berlari. Namun kali ini terdengar begitu banyak. Tak itu saja, di tengah gemuruh suara itu ditingkahi gonggongan anjing. Petani singkong bernama Waskito itu tetap diam ingin menyaksikan apa yang muncul.

Waskito membuka mata lebar-lebar ketika yang muncul adalah serombongan polisi-polisi berseragam. Mereka berhenti di timur kebun. Lalu petani tua ini melihat salah satu dari mereka bicara.
Anjing itu hentikan larinya di timur kebun. Seperti kejadian kemarin, dia langsung duduk dan menjulurkan lidahnya. Ngos-ngosan dan tampak bingung.

Dari belakang, Hardijo, AKBP Jhony dan yang lain yang mengikutinya juga berhenti dan bediri di samping Kupit.
“Seperti kemarin, dia kehilangan jejak,” berkata Kupit. Berlari beberapa ratus meter membuat suaranya diselingi deru nafas.
AKBP Jhony memandang kebun singkong dan sekitar, “Ini kebun singkongnya?”
Kupit membenarkan. Sipir ini lalu membungkuk mengelus-elus kepala anjing.
“Aku yakin, sebelumnya mereka berada di sekitar sini.” Kata Kalapas Hardijo seraya berkacak pinggang.
“Di mana ditemukan pangkal-pangkal singkong Pak Har?” tanya Ruslam.
Hardijo mengangkat tangan menunjuk, “Di ujung kebun.”

Saat itu, dari dalam kebun keluar Waskito. Melangkah perlahan seraya menurunkan tudung bambunya dan memandang penuh tanya pada rombongan.
Melihat Waskito, Hardijo segera dekati orang tua itu. Orang-orang di belakang mengikuti.
Petani tua bernama Waskito tersenyum dan anggukkan kepala begitu Hardijo sampai di depannya.

“Bapak pemilik kebun singkong ini?” bertanya Kalapas Nusakambangan.
“Iya, betul,” jawab Waskito, sepasang matanya menyapu satu persatu deretan polisi di depannya. Lalu dari mulutnya keluar sedikit tawa. “Saya ini merasa aneh, ada apa ya, polisi-polisi gagah bisa berada di hutan seperti ini?”
“Pak, Bapak sudah melihat, singkong-singkong milik Bapak dicuri?” kembali Hardijo bertanya, tanpa mengacuhkan pertanyaan petani itu.
“Lho, kok tahu? Saya juga heran, entah siapa yang punya pekerjaan, tega mengambil singkong milik petani kecil seperti saya…”
AKBP Jhony angkat bicara, “Bapak, biar saya beritahukan, dua napi Lapas telah kabur tempo hari, dan sekarang menjadi buronan, kami tengah melakukan pencarian. Singkong-singkong milik Bapak kami menduga dua napi itu yang mencurinya…”
“Tunggu Bapak-bapak…” Waskito memotong, “Dua napi Lapas kabur?”
“Iya, apa Bapak melihatnya di sekitar sini?”
“Barusan, barusan saya melihat dua orang aneh berlari ke arah sana…” Waskito menunjuk ke arah lenyapnya dua orang yang sempat dia lihat dengan jempol tangan kirinya.
Untuk sesaat AKBP Jhony dan yang lain tampak saling pandang.
“Bapak yakin melihatnya?”
“Yakin, orang saya melihatnya sendiri, orang-orang itu pakai baju oranye lusuh. Yang satu berbadan gempal, yang satunya tinggi…” kembali Jhony dan yang lain saling pandang.
“Ke arah sana?” AKBP Jhony menunjuk ke arah yang ditunjuk Waskito.
Melihat petani tua itu mengangguk, Jhony segera memberi isyarat untuk segera berjalan. Namun dalam pada itu juga terdengar si petani kembali bicara. Rombongan yang hendak berjalan serta merta tak jadi.

“Bapak-bapak,” kata Waskito, “Saya lihat mereka masing-masing membawa seperti tembakan di tangan meraka…”
“Memang mereka,” kata Hardijo. Kalapas ini sebenarnya hendak mengucapkan lagi sesuatu namun saat itu tiba-tiba anjing yang dipegang kupit mendadak menggonggong keras. Di lain kejap terdengar satu dentuman tembakan di arah barat.
Karena terkejut semua orang refleks rundukkan badan. Dentuman itu terdengar dari dalam hutan yang mempunyai pohon-pohon tinggi serta semak belukar setara perut tak jauh sebelah barat kebun singkong.
“Ambil pistol masing-masing!” perintah AKBP Jhony.

Anggota rombongan yang pinggangnya tersisipi pistol segera bergerak mencabut. Dalam pada yang lain, Waskito, petani tua lugu, mendengar suara tembakan tampak begitu tersentak mengelus-elus dadanya dan menyebut nama Tuhan.
Pistol dan senapan serbu tergenggam oleh beberapa personil polisi. Setelah mendapat isyarat Jhony semua orang bergerak penuh siaga masuk ke dalam hutan.

Hutan yang dimasuki adalah hutan yang ditumbuhi pohon-pohon tinggi jenis karet. Namun begitu, tidak adanya kegiatan penyadapan getah karet oleh manusia memberikan dampak yang jelas di depan mata. Semak belukar tumbuh setinggi perut orang dewasa. Dan yang paling lebat nampak bergerumbul di setiap bongkot pohon karet.

Cerpen Karangan: Ari Irawan
Facebook: facebook.com/arie.cminor

Cerpen Darah di Nusakambangan (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


OPEK Pertiwi

Oleh:
Angin semilir siang ini membelai wajahku dengan lembut, rambutku bergoyang-goyang bagaikan penari hawai. Kenikmatan ini membuat mataku terpejam sejenak, menikmati hembusan angin sejuk yang menenangkan jiwa. Ya, aku ada

Saiki and Magical Pencil

Oleh:
Namaku adalah Saiki aku hanya seorang murid SMA biasa. Di sore hari aku berjalan di jembatan sepi yang biasa kulewati selepas pulang sekolah di sore hari, aku sedang berjalan

Live a Life (Part 2)

Oleh:
Setelah berusaha begitu keras, akhirnya ayah angkatku mengizinkan Nat untuk ikut latihan bersamaku di markas pusat, dan bahkan membiarkanku menjadi pelatih Nat. Mengingat bahwa Nat memiliki sepasang sayap, kurasa

Andai Saja Aku Tahu

Oleh:
Cewek itu berlari kesana-kemari di dalam atrium pusat perbelanjaan terbesar di kota itu. Ia tampak panik. Wajahnya pucat. Matanya basah, genangan air di kelopaknya siap tumpah kapan saja. Awalnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *