Darah di Nusakambangan (Part 4)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 4 October 2018

Di balik sebuah pohon yang pangkalnya tertutup semak belukar lebat, Singkrik Kuning pria yang salah satu bola matanya hanya merupakan warna kuning polos menatap Jambal bagai tak habis fikir.
“Kau gila Jambal, perbuatanmu melepas peluru sama saja menantang!”
Jambal yang berdiri menyandar pada batang pohon sambil angkat revolver di depan dadanya dan sesekali mengintip ke depan menyeringai.
“Kita memang menantang Singkrik. Kita tantang mereka main tembak-tembakan ha… ha… ha…”
Singkrik diam. Posisinya saat itu adalah berlutut satu kaki di samping Jambal di balik semak belukar dan pohon karet.
“Jambal, jumlah mereka pasti banyak! Kita akan mati konyol jika nekad main-main! Lebih baik kita mundur, kita sembunyi dulu!”
“He… he… he… Singkrik Kuning!” berkata Jambal Grandirot, “Apa karena kurungan delapan bulan sikapmu jadi penakut begini…? kukira kau dulu sangat pemberani mengiriku di belakang, setrategimu selalu berhasil membuat kita bisa membawa pulang sekarung emas. Sekarang, kenapa kau?”
“Bukannya aku takut Jambal. Sekarang aku juga punya strategi, dan kau harus mengikuti…”
Jambal tertawa datar, “Pimpinan diperintah anak buah, tak mungkin.”
“Mungkin kalau otakmu panjang…”
“Kau tak ingat Singkrik?” berucap Jambal setelah berpaling lagi ke depan, bersikap siaga jika suatu saat polisi muncul. “Perlakuan para sipir tengik itu selama delapan bulan kita dikurung, mereka memeras! Mereka mengintimidasi!”
“Betul! Dan kita sudah membalasnya semalam! Sekarang ikuti aku Jambal, kita pergi…” Singkrik seperti hendak melakukan gerakan beranjak, pada saat bersamaan, telinga lelaki jangkung ini mendengar suara Jambal seperti berbisik, “Lihat Singkrik… kau ingat Kupit? Sipir tengik itu? Hik… hik… hik…”

Revolver di tangan Jambal tiba-tiba meletup keras! Lalu di arah timur terdengar satu jeritan keras tapi singkat. Anjing menyalak-nyalak. Kedengaran beberapa orang meneriakkan nama Kupit.
Revolver di tangan Jambal kembali berdentum! Satu proyektil kembali muntah. Di lain kejap satu jeritan kembali menyeruak. Terjadi kegaduhan di arah timur. Terdengar banyak suara tembakan dari sana tapi entah apa yang dituju. Di tengah kegaduhan itu, salah satu orang berkali-kali meneriakkan: “Di balik pohon! Di balik pohon!”
Jambal tarik kepalanya ke balik pohon.
Tak!!
Tak!!
Clak!!!
Clak!!!
Peluru yang ditembakkan polisi secara berutrut-turut tanpa ampun menancap pohon yang menjadi perlindungan Jambal. Banyak yang lain menyerempet kulit pohon beberapa senti di atas kepala Jambal. Getah karet mengalir dari bekas hantaman peluru itu.

Jambal angkat badan bergerak kembali hendak menyerang, namun secepat kilat orang ini menarik diri kembali ke balik pohon.
Tak!!
Tak!!
Tak!!!
Clakk!!!
Mendapati dua anggotanya secara mendadak ditembak begitu rupa membuat Kalapas Hardijo kalap. Lelaki setengah abad ini meneriaki semua orang untuk menembak mati buronan di tempat. Saat itu anjing lari entah ke mana. Kupit dan satu orang yang terkena tembakan diseret ke tempat aman oleh AKBP Jhony dan beberapa orang untuk dilakukan pertolongan. Namun sia-sia saja, Kupit dan satu rekannya telah mati! Luka di bagian dadanya membuat seragam biru mudanya berlumuran darah.

“Jambal manusia iblis! Perbuatanmu kabur serta membunuh dua sipir pos sudah keliwat takaran! Sekarang dua lagi kau habisi. Manusia laknat! Mati pun masih terlalu ringan untuk menghukummu!” teriak Kalapas Hardijo di tengah desingan peluru yang masih ditembakkan para polisi. Saat itu dia dan semua anggota rombongan telah berada di balik pohon-pohon karet sambil berlindung.
“Kep*r*t!” kertak Jambal.
Marah mendengar ucapan Kalapas Hardijo membuat pimpinan rampok Grandirot ini angkat badan. Dia tak mengacuhkan suara Singkrik yang masih mengajaknya untuk pergi. Di antara deru peluru yang masih memberondong tempatnya bersembunyi Jambal nekad. Dia angkat revolever dengan kedua tangannya lalu membidik polisi. Seperti tembakan polisi itu sendiri, tembakannya hanya mengenai pohon tempat mereka berlindung.
“B*ngs*t!”
Jambal hendak kembali melepas satu tembakan, namun dalam pada itu secara tak terduga dan mengejutkan sebuah peluru mengenai pangkal lengan kanannya.
Crass!!!
Jambal teriak. Revolvernya jatuh. Teriakannya bukan teriakan kesakitan namun sebuah teriakan amarah.

Jambal turunkan tubuhnya dan untuk sementara duduk bersandar di balik pohon. Tangan kirinya yang dia dekap ke pangkal lengannya dilepas. Darah melumuri telapak tangan itu sementara dari luka tembakan itu sendiri darah mengalir deras ke sikunya lalu turun ke jari-jari tangannya. Sakitnya bukan olah-olah. Jari-jarinya terasa dingin, lumpuh dan tidak bisa digerakkan.
“Percayakah sekarang olehmu Jambal?!” berkata Singkrik Kuning. “Mereka terlalu banyak! Kita akan mati jika melawan!”
Jambal angkat perlahan kepalanya menatap lekat-lekat Singkrik. Sementara itu lawan terus memberondongkan tembakan. Batang pohon besar yang menjadi perlindungan itu koyak tak keruan terkena peluru.
“Pengecut!” bentak Jambal tiba-tiba tepat-tepat ke muka temannya.

Singkrik Kuning merangsek ke depan. Manusia jangkung bermata satu ini merenggut kerah baju Jambal.
Dengan perlahan dia berucap, “Masih ingatkah kata-katamu sendiri tempo hari? Kita hanya tinggal berdua! Empat teman kita telah tewas!” lalu suaranya mengeras, “Kita harus hidup Jambal… harus hidup! Kita dirikan lagi Korps kita! Kita kuasai lagi Ibukota!”
Tangan kiri Jambal bergerak.
Bukk!!!
Singkrik Kuning terpelanting ke samping, jatuh miring. Untuk beberapa lama sepasang matanya nanar menatap Jambal. Tangan kanannya yang menggenggam revolver diusapkan ke pipi yang terkena pukulan barusan. Lalu disapunya bibir dengan punggung tangan. Tampak menyemburat di punggung tangannya itu darah.

Singkrik kembali menatap Jambal yang saat itu menatapnya dalam-dalam. Lalu dilihatnya Jambal meraih revolvernya yang tergeletak di sampingnya dengan tangan kirinya. Setelah itu tanpa mengacuhkannya lagi dia berdiri, kembali menghunus revolvernya yang kini dengan tangan kiri.
“Manusia bodoh!” maki Singkrik seraya bangun, untuk sesaat dia diam memandangi Jambal dengan pandangan geram. Setelah itu lelaki ini menghambur meninggalkan tempat itu.

DARI TEMPAT di mana Kupit dan satu temannya dibaringkan karena telah putus nyawanya, AKBP Jhony beranjak mendekati Kalapas Hardijo, yaitu di balik sebuah pohon.
“Bagaimana mereka?!” tanya Hardijo melihat kedatangan Jhony.
“Tak dapat ditolong!”
“Jahanam!”
Dada Hardijo mendadak bergemuruh hebat! Matanya siputar melihat rekan-rekannya di balik pohon yang saat itu masih menembaki tempat di mana Jambal bersembunyi. Kemudian dia berteriak, “Tembak terus sampai mati!”
Dia beralih lagi ke Jhony yang saat itu telah siap dengan pistolnya. “Ada satu teriakan tadi, mungkin salah satu dari dua jahanam itu kena, mereka tak bisa kabur jika kita tembaki terus…”

Di belakang Hardijo kemudian Jhony mulai melepas tembakan-tembakan mematikan.
Di balik pohon seberang, Jambal setelah menarik badannya menghindari sebuah peluru bergumam sendiri, “Mungkin aku akan mati ditembak kalian, tapi Kalapas harus ikut!”

Beberapa kali jika ada kesempatan, buronan ini melongokkan kepala dari balik pohon seraya mengacungkan pistol melepas tembakan. Namun, baku tembak melawan begitu banyak orang di pihak lawan membuat dirinya semakin lama semakin terdesak. Tidak ada lagi kesempatan melepas tembakan kini.
Setengah berlutut Jambal selarang hanya bisa bersandar di balik pohon karet. Peluru yang ditembakkan polisi ke tempatnya berlindung tampak semakin deras laksana hujan yang dicurahkan dari langit. Banyak yang mengenai pohon tempatnya bersandar, banyak juga yang menembus semak belukar, melesat tipis di kanan kirinya. Dirinya semakin terhimpit, karena bergeser sedikit saja peluru lawan akan menembus tubuhnya.

Jambal bingung. Dia lihat pangkal lengan kanannya yang tertembak. Darah masih mengalir walaupun tampak pelan. Dia tatap sekitar tempatnya. Singkrik tidak ada lagi. Satu perasaan kecut mendadak mencuat dalam hati kepala rampok yang dikenal pemberani ini. Satu ide untuk kabur hinggap di kepalanya.
Jambal menoleh kanan kiri. Dadanya berdebar. Beranjak di tengah kepungan peluru yang memberondong tempatnya sembunyi sama saja mati.

Di tempat lain, melihat tidak adanya lagi serangan dari dua buronan itu, Kalapas Hardijo maklum dua buronan itu sedang terjepit. Menembaki tempat mereka sembunyi terus menerus seperti itu, hanya membuang waktu, pikirnya. Maka harus dicari cara lain untuk melumpuhkannya. Kalapas ini berpaling pada AKBP Jhony di belakangnya untuk mencoba menyusun strategi.

“AKBP Jhony,”
“Ya, Pak Hardijo?!” Jhony turunkan pistolnya dari depan dada.
“Mereka tidak bisa lagi membalas tembakan. Mereka tengah terdesak. Kita cari cara lain untuk membekuknya…”
“Saya juga sedang memikirkan itu, Pak…”
“Ada ide?”
Di belakang Hardijo, di balik pohon karet yang menjadi perlindungan mereka, AKBP Jhony memandang berbagai arah.
“Pak Kalapas,” kata Jhony setelah beberapa lama tampak mencari cara, “Saya akan berjalan memutar, untuk kemudian berada di samping kalangan ini, saya akan coba melumpuhkannya dari sana…”
Kalapas Hardijo langsung mengerti maksud Kapolda Jateng itu.
“Hati-hati,” katanya pada Jhony.
“Beri tahu teman-teman untuk tetap menembaki terus…” kata Jhony.
Jhony berlalu. Hardijo kemudian menyeru seluruh orang untuk tetap menembaki tempat di mana Jambal dan Singkrik bersembunyi.

Belum sampai ke tempat yang dituju, telinga AKBP Jhony mendengar satu suara tembakan terdengar dari tempat dua buronan berada. Begitu sampai ke tempat yang dituju, yakni belasan meter samping kiri lokasi dua buronan itu, air muka Jhony tampak heran. Dari tempatnya sekarang, terlihat jelas tempat di mana buronan itu bersembunyi. Dia tertegak diam hanya memandang. Pistol yang diangkat dengan kedua tangannya di depan dada perlahan diturunkan.

Setelah beberapa lama terdiam dengan pikiran yang sulit ditebak, Jhony melangkah ke depan sambil meneriakkan teman-temannya untuk berhenti menembak. Cukup sulit, hingga harus beberapa kali dia berteriak kemudian berhenti.
Semua orang memandangi Jhony yang tampak dengan tenang justru mendekati tempat dua napi bersembunyi.

“AKBP Jhony…!” teriak Ruslam di balik satu pohon seperti ketakutan melihat Jhony terus melangkah.
Semua orang berpandangan dengan mata heran melihat tindakan Jhony.
Dari balik pohon Jhony berteriak memanggil. Kalapas Hardijo yang mengira Jhony telah berhasil melumpuhkan dua napi itu langsung menghambur ke tempat Jhony berada. Melihat ini semua sipir dan personil bantuan mengikuti.
Apa yang terjadi sebenarnya atas diri Jambal di balik pohon hingga membuat AKBP Jhony yang hendak melumpuhkannya justru malah mendatangi tempatnya sembunyi dengan langkah tenang?
Di situ, di depan para polisi yang telah berada di balik pohon, Jambal Grandirot tersandar dengan kepala tergolek ke kanan. Di kepalanya sebelah kiri, tepat di atas kupingnya, tampak satu lobang bekas tembakan. Darah masih mengalir pelan dari lobang itu, membasahi kuping dan sebagian besar pipi kirinya, lalu mengalir ke dagu, untuk kemudian menetes jatuh mengenai seragam napinya. Sementara revolvernya masih tergenggam di tangan kirinya yang terkulai di atas paha.

Bapak Sadino perbaiki letak kacamatanya dan mulai membaca lebih seksama satu berita yang tertulis di pojok kiri atas lembar pertama koran terbitan pagi itu. Mata tuanya mulai bergerak-gerak mengikuti setiap kalimat.
Dari dalam rumah, yang terletak di kompleks perumahan golongan atas itu, keluar istrinya membawa secangkir kopi hangat. Cangkir berisi kopi hitam itu lalu diletakkan di atas meja kecil bundar di samping Sadino duduk.

“Diminum Pak kopinya,” kata wanita tua itu pada suaminya seraya duduk di kursi lain di sisi meja bundar.
“Hm,” Sadino yang sibuk membaca koran hanya bergumam.
“Berita apa Pak, serius banget bacanya…?”
“Hm,”
“Ih,” kata wanita itu kesal, “Ditanya serius ham hem ham hem saja… kopinya diminum dulu, keburu dingin…”
“Ini Buu,” ujar Sadino sejurus kemudian sambil menurunkan koran yang dibacanya, lalu melepas kacamatanya. “Berita Napi Lapas Nusakambangan yang kabur… Ibu baca sebdiri deh…”
Sadino menyerahkan koran itu pada istrinya, setelah itu diambilnya cangkir berisi kopi di atas meja dan menyeruputnya pelan-pelan.

Sang istri menerimanya. Tanpa menggunakan kacamata dia mulai membaca berita di pojok kiri atas:

Napi Lapas Nusakambangan Yang Kabur Ditemukan
Jakarta, 21 Juni 1980 – Naas, satu dari dua Narapidana Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan yang kabur Rabu malam (18/6) berhasil dibekuk namun dalam kondisi tanpa nyawa. Jambal Grandirot (42) diduga bunuh diri dengan cara menembak kepalannya sendiri sewaktu terjadi baku tembak dengan personil tim pencarian, Jum’at (20/6). Dalam baku tembak yang terjadi di hutan karet itu juga menelan korban tewas dua orang sipir. Sebelumnya, pada Kamis malam, dua Napi itu diduga kuat telah mengahabisi dua orang petugas Lapas dan mencuri revolver dalam pos. Jenazah mantan kepala rampok yang pernah malang melintang di Ibukota itu rencana akan dikirim ke tempat asalnya, Medan. Adapun Singkrik, satu dari dua Napi yang masih buron, hingga tulisan ini dibuat masih dalam proses pengejaran.

TAMAT

Cerpen Karangan: Ari Irawan
Facebook: facebook.com/arie.cminor

Cerpen Darah di Nusakambangan (Part 4) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Death Note

Oleh:
Hidup sungguh tak berguna. Bagiku, hidup tak lebih dari sampah. Kau setuju denganku? Silahkan saja kalau kau memiliki pendapat yang berbeda. Namun aku memiliki alasan kuat, kenapa aku mengutuk

Sang Asisten

Oleh:
Jaka, seorang pemuda yang berprofesi sebagai asisten salah satu dari anggota kepolisian bernama Fabian. Fabian cukup tegas dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang polisi. Sehingga Jaka harus dituntut untuk disiplin

Beauty and Not The Beast (Part 2)

Oleh:
Tawa seseorang menggelegar ke seluruh ruangan diikuti tawa beberapa anak buahnya. “Hey, kenapa kalian ikut tertawa? Hanya aku yang boleh tertawa.” Bentak orang itu. “Bodoh, bodoh untuk Haryono karena

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *