Kill

Judul Cerpen Kill
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 2 January 2017

Hari ini merupakan hari yang sangat indah. Matahari menunjukkan sinarnya tanpa ragu sedikitpun. Pohon-pohon menunjukkan pesona warna hijaunya yang menyegarkan. Burung-burung juga berkicau tanpa henti, serta ayam yang terus berkokok di sepanjang pagi yang menambah kesan ceria di pagi hari. Begitu juga yang terjadi di kelasku, semua anak saling bercakap-cakap dengan teman sebangkunya. Ada juga yang berlari kesana-kesini. Mereka melakukannya dengan wajah ceria. Sangat berbeda denganku yang duduk di bangku paling belakang dengan sebuah buku di tanganku. Itu adalah sebuah buku novel misteri yang sengaja kubawa agar bisa kubaca saat waktu luang seperti ini.

Baiklah, mungkin aku harus memperkenalkan diriku dahulu sebelum melanjutkan cerita ini. Namaku Alex. Aku adalah anak umur 12 tahun yang duduk di bangku sekolah kelas 7. Mungkin, hampir sebagian kelas menganggapku orang yang aneh. Aku tidak melakukan hal-hal yang biasa mereka lakukan. Seperti berbicara ataupun bermain dengan teman kelasku. Yang kulakukan hanyalah membaca novel di tempat dudukku. Aku jarang sekali bercengkrama dengan teman-temanku, bahkan bisa dikatakan tidak pernah. Memang aku adalah anak yang pendiam, terlebih lagi kepada teman-temanku itu.

Tidak lama setelah kira-kira aku telah membaca 12 chapter di buku novelku, salah seorang temanku mendatangiku. Namanya adalah Bertrand. “Teman-teman, lihatlah apa yang dilakukan oleh Alex sekarang ini” katanya sambil merenggut bukuku dari tanganku. Seketika, seisi kelas menatapku. Setelah itu, Bertrand pun melanjutkan kata-katanya. “Oh, seperti biasa, membaca buku yang tak ada gunanya” katanya lagi sambil melempar bukuku ke lantai. Aku hanya diam seraya memungut kembali bukuku yang tergeletak di lantai. Aku sama sekali tak melawan karena kupikir itu juga tidak ada gunanya.

Tidak lama kemudian, Guru kami di Kelas Memasak masuk. Seketika, Bertrand dan teman-temannya yang lain duduk ke tempatnya masing-masing. Hari ini merupakan hari untuk memasak Roti Sandwich.

Akhirnya, aku bisa pulang setelah kelas terakhir selesai. Kelas terakhir adalah Kelas Melukis. Jadi, kami harus membawa kuas dan peralatan lainnya yang dibutuhkan untuk melukis. Jujur, aku tidak terlalu tertarik dengan kelas ini. Tetapi, entah kenapa nilaiku juga cukup bagus dalam Kelas Melukis. Yaitu A. Begitu juga dengan Kelas Memasak, aku juga mendapatkan nilai yang sama walaupun aku tidak terlalu tertarik dengan dua kelas itu. Mungkin itu merupakan suatu bakat yang ada dalam diriku, tetapi lebih baik aku tidak usah memikirkan hal itu lagi.

Ketika setidaknya aku sudah setengah jalan menuju ke rumah. Aku melihat Bertrand dan gengnya sedang memukuli seorang anak laki-laki. Baju dan muka anak itu sekarang penuh dengan darah. Aku tidak bisa melihat itu, maka aku pun mendatangi Bertrand dan gengnya. “Hei, jangan ganggu dia” kataku sambil berjalan menuju anak itu. “Wow, lihat siapa pahlawan anak itu hari ini. Alex si anak pendiam” balas Bertrand sambil mengisyaratkan kepada dua anggota gengnya, Yaitu Rex dan Bob untuk menyerangku. Seketika, mereka menerjangku layaknya harimau. Tetapi, sayangnya aku terlalu cepat untuk mereka, aku bahkan terlalu sibuk untuk menghindari pukulan Rex dan Bob hingga aku lupa bahwa masih ada Bertrand yang bisa menyerangku. Ketika aku berbalik ke arah Bertrand, aku melihat bahwa dia sedang melayangkan pukulannya kepadaku. Seketika, pukulannya yang tepat mengenai hidungku itu membuat hidungku mengeluarkan darah. Walaupun hanya satu pukulan, tetapi pukulan itu sangat keras sampai membuatku hilang keseimbangan dan jatuh. Rex dan Bob hampir saja memukuliku jika aku tidak mengelak dengan cepat. “Tas yang sangat bagus, Alex” kata Bertrand yang sekarang sudah memiliki tasku. “Kembalikan tasku sekarang, Bertrand” kataku dengan nada marah. “Bagaimana jika aku tidak mau, Alex. Kau akan menghabisiku” balas Bertrand sambil tertawa dan mengeluarkan semua isi tasku itu. “Ternyata isinya hanya barang-barang tak berguna” katanya lagi.

Kemarahanku semakin meluap-luap. Belum pernah aku merasa semarah ini sebelumnya. Hal itu membuat aku lepas kendali dan melayangkan tinju yang tepat mengenai pelipis Bertrand. Dia pun meringis kesakitan. Darah yang keluar bahkan lebih banyak dari darahku tadi. “Ya, aku akan menghabisimu, Bertrand” jawabku untuk membalas pertanyaan yang tadi ditanyakan oleh Bertrand. Aku terlalu menikmati saat-saat itu hingga aku lengah dan membiarkan Bob menghajarku. Aku pun terjatuh karena pukulannya yang sangat keras itu. Terlebih lagi dengan tubuhnya yang besar itu, aku bisa kalah olehnya. Sementara aku terjatuh, Rex menyusul Bob dan melayangkan pukulannya tepat mengenai pipi kiriku. Lalu, ketika Bob mau melayangkan pukulannya lagi, aku menghindar dari sana. Dan sekarang giliran Rex untuk menghajarku, tetapi ketika pukulan Rex itu hampir sampai ke pipiku lagi, aku mengambilku pisauku yang tadinya ada di dalam tas untuk kelas memasak. Aku pun menarik pisau itu dari penutupnya, dan melayangkannya ke arah tangan Rex. Rex langsung mengaduh setelah tersayat oleh pisau dapurku itu. Setelah itu, aku pun bangkit lagi dan menghadapi dua anak itu lagi. “Bagaimana rasanya, Rex, apa itu sakit?” tanyaku dengan senyum licik yang terpancar di wajahku. Aku pun melanjutkan kata-kataku. “Apakah kau mau merasakannya juga, Bob?”.
Mendengar perkataan itu, spontan Bob langsung menyerangku dengan perasaan marah yang meluap-luap. Dia melayangkan tinju demi tinju untuk mengenaiku. Tapi hasilnya tetap sama, tidak berhasil. Hingga satu pukulan akhirnya berhasil bersarang di perutku. Aku langsung mengaduh. “Apa kau masih ingin merasakan tinjuku, Alex” tanyanya. “Mungkin jawaban atas pertanyaan itu adalah, Ya” jawabku. Bob langsung melayangkan pukulannya lagi setelah mendengar jawaban itu, tetapi sudah terlambat karena aku sudah menusuknya tepat di jantungnya. Dia berteriak karena hal itu dan langsung tersungkur tak sadarkan diri di tanah. Aku langsung lari setelah pisauku tercabut dari tubuhnya dan tidak lagi melihat bagaimana keadaannya sekarang.

Ketika aku baru berlari lima langkah meninggalkan Bob, Rex menghadangku kembali. “Mau kemana kau, Alex, jangan menjadi seperti seorang pengecut” katanya dengan nada marah. Seketika nada marahnya itu berubah menjadi sebuah pukulan kemarahan yang diarahkan padaku. Aku langsung menghindar dari pukulan itu dan melayangkan pisauku ke arah pundaknya. Sayatan itu membuatnya roboh dan meringis kesakitan untuk kedua kalinya. Aku langsung mengemas barang-barangku yang berserakan di tanah dan pergi setelah melihat hal itu. Sambil menengok ke belakang aku bisa melihat Bertrand yang sudah bisa bangkit tetapi tidak bisa mengejarku. Badannya tidak bisa berdiri dengan stabil dan dia tidak bisa melihat dengan jelas karena darah yang keluar dari pelipisnya. Aku pun mempercepat lariku dan meninggalkan mereka disana. Aku juga baru sadar bahwa anak laki-laki yang mereka pukuli tadi juga sudah tidak ada disana sejak pertarungan kami dimulai.

Ketika aku sudah cukup jauh berlari, aku istirahat sebentar di sebuah gang yang sepi. Aku tidak bisa kembali ke rumah karena itu bisa membuatku terkena masalah. Ketika beristirahat, aku melihat kembali pisau yang sudah penuh dengan darah itu. Lalu aku mengambil sebuah masker dari tasku juga sebuah jaket hitam. Masker itu adalah masker yang dibelikan oleh ayahku seminggu lalu. Benda itu berbentuk masker berwarna hitam dengan gambar gigi dan gusi. Aku kembali teringat dengan kejadian tadi. Entah apa yang selanjutnya terjadi dengan Bob setelah aku menusuk jantungnya, dia bisa saja koma atau bahkan mati. Berbeda dengan Bertrand ataupun Rex yang mungkin hanya perlu melakukan sedikit operasi. Tetapi, sebaiknya aku tidak mengingat-ingat kejadian itu dan melupakannya. Lalu aku membersihkan pisauku yang penuh dengan darah itu lalu menyarungkannya kembali dengan penutup. Setelah itu, aku langsung berjalan menyusuri gang itu.

Ketika aku sudah berjalan sekitar 5 menit, aku pun menemukan sebuah rumah. Rumah itu sangat bagus sehingga aku tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata. Karena penasaran, aku pun mencoba memasuki rumah itu. Tetapi, pintunya terkunci sehingga membuatku untuk berjalan mengitari rumah itu ke belakang rumah. Aku bisa melihat sebuah kebun kecil di sana. Berbagai bunga seperti Mawar, Melati, dan Anggrek ada disana. Tidak hanya itu, disana juga ada berbagai macam tumbuhan seperti Tomat, Cabai, dan lainnya. Ada juga sebuah pohon besar yang kelihatannya rindang. Tetapi, aku merasakan seperti ada orang di belakangku. Jadi, aku segera berbalik sambil mengeluarkan pisauku dari penutupnya. Lalu aku melihat seorang pria berumur sekitar 29-31 tahun sedang memegang sebuah senapan yang siap ditembakkan jika aku tidak menurut. “Apa yang kau lakukan disini?” tanya pria itu. “Namaku Alex. Aku ingin mencari tempat tinggal untukku karena sekarang aku tidak tahu harus tinggal dimana.” Jawabku. Sesaat pria itu berpikir, lalu mengajakku masuk. Aku pun masuk ke rumah itu dengan pria itu.

Ketika aku memandang isi rumah itu, aku benar-benar takjub. Berbagai barang seperti lukisan, patung dan lain sebagainya ada di rumah yang kelihatannya tidak terlalu mewah ini. “ngomong-ngomong, namaku Frans.” Katanya memecahkan ketakjubanku akan rumah itu. Bagaimana kau bisa memiliki semua barang mewah ini di sebuah rumah yang tampaknya sederhana?” tanyaku. “Ya, begitulah, nanti akan kukatakan kepadamu. Sekarang lebih baik aku mengantarmu ke kamarmu. Kami pun menaiki tangga dan berjalan beberapa langkah. “Ini kamarmu, semua yang kau butuhkan termasuk pakaian dan lain sebagainya sudah ada disini.” katanya. aku memandang takjub kamar itu, kamar itu punya semua yang diinginkan anak-anak. Seperti meja belajar, tempat tidur empuk, sebuah PlayStation dan juga TV yang canggih. “Wow, kamar ini bagus sekali. Siapa pemilik kamar ini dahulu.”. “Ini adalah kamar milik anak laki-lakiku. Dia meninggal beberapa tahun lalu karena kecelakaan mobil bersama dengan istriku.” Jawab pria itu dengan raut wajah sedih. “Aku minta maaf soal itu”. “Tidak apa-apa. Sebaiknya sekarang kau mandi dan mengganti bajumu”. Frans pun pergi meninggalkan kamarku dan turun ke bawah.

Setelah mandi dan mengganti baju, aku segera turun dan mendatangi Frans yang sedang duduk di ruang keluarga dengan TV yang menyala. “Oh iya, kau bilang nanti kau akan mengatakan kepadaku soal rumah dan barang-barang mewah ini. “Baiklah, tapi, apa kau bisa menyimpan rahasia ini. Bahkan jika taruhannya nyawamu.” Tanya Frans. “Iya, aku bisa” jawabku dengan yakin. “Aku adalah seorang pembunuh bayaran.”. aku langsung terkejut mendengar hal itu. Lalu, dia melanjutkan bicaranya. “Setiap orang yang menginginkan jasaku harus membayar dengan benda-benda mewah yang mereka miliki dan juga uang bayaran. Dari sanalah aku mendapatkan berbagai benda mewah ini. Dan soal rumah ini, aku membelinya agar aku bisa hidup tenang karena setelah aku berkeluarga aku akan pensiun dari pekerjaanku itu,” katanya. “Dan apakah sekarang kau masih membunuh” tanyaku lagi. “Tidak” jawabnya pendek lalu bertanya kepadaku. “Kenapa kau bisa sampai disini” tanyanya. Aku pun menjelaskan bagaimana aku bisa disini dan tidak kembali ke rumah. “Aku bisa melatihmu sampai kau menjadi seorang pembunuh profesional.” Jawabnya. “benarkah?” tanyaku dengan penuh harapan. “Iya, kau akan kulatih hingga bisa menjadi pembunuh profesional,”. “Baiklah kalau begitu” jawabku lalu melanjutkan kata-kataku. “Tapi, kapan kita akan mulai latihan?”. “Mungkin sekitar tiga hari lagi. Pertama-tama, kau harus terbiasa dulu di sini. Baru nanti kau bisa memulai latihanmu.”. Katanya “Baiklah.” Jawabku pendek.
Dan akhirnya, Alex pun belajar untuk bisa menjadi pembunuh dari seorang mantan pembunuh bayaran bernama Frans.

Cerpen Karangan: Galang Ammar

Cerita Kill merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Organisasi Rahasia

Oleh:
Suara hujan jatuh di atas genting penduduk menciptakan musik alam. Ditambah nyanyian jangkrik membuat suasana malam begitu tenang. Hembusan angin membuat siapapun yang keluar di malam itu akan menggigil

Pelarian Seorang Penembak (Part 1)

Oleh:
CUACA MENDUNG DAN BEREMBUN pagi itu ketika aku sedang menyapu lantai teras. Matahari masih bersembunyi, menunggu waktu tepat untuk menampakkan diri, bagai pemburu yang mengawasi singa, di keluasan hutan

2996 bukan 1996

Oleh:
Aku menyeka keringat yang terus bercucuran. Langit hitam di atas sana tidak menunjukkan adanya cahaya matahari yang menyengat kulitku. Terus berlarian ditengah napas yang memburu, membuat tubuh ini cepat

Untuk Mangsaku

Oleh:
Saya diperintahkan oleh atasan saya untuk membunuh seseorang, dan saya akan mendapatkan uang yang sangat banyak. Dengan pekerjaan yang saya embani ini, dapat dikatakan saya adalah seorang pembunuh bayaran.

Mission Complete 10%

Oleh:
Di suatu kota di negara Excell terdapat banyak sekali pembangkit listrik tenaga nuklir, kota itu bernama Energy town. Suatu hari ada insiden meledaknya salah satu pembangkit listrik, ledakan itu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *