Memberantas Sindikat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 20 June 2016

Cath terdiam sejenak. Hari ini sudah pukul 22.45, namun Cath belum bisa memejamkan matanya. Dia duduk di bangku meja belajarnya sambil melipat-lipat kertas yang ada di hadapannya. Saat sudah bosan, Cath berjalan menuju jendela yang ada dikamarnya sambil melihat keluar. Hanya ada beberapa kendaraan melaju kencang di jalanan yang sangat sepi. Kota yang ditinggali Cath memang bukan kota 24 jam. Penduduknya hanya sedikit, benar-benar sedikit dibanding kota sekitarnya.

Tiba-tiba..
“Prang! Argh… !! Aaa… !!!” terdengar teriakan pria dewasa. Cath begitu terkejut, suara itu berasal dari halaman rumahnya. Dia segera melihat ke bawah. Terlihat olehnya dua orang pria dewasa terbaring di halaman dengan kemeja yang berlumur darah. Ada juga seorang pria bertubuh kecil yang lari dengan tergesa-gesa ke luar rumah. Cath ketakutan, lalu ia langsung berlari ke ranjangnya dan memejamkan mata, sambil berharap semua yang dilihatnya tadi hanyalah ilusi belaka.

Keesokan harinya…
Cath membuka matanya, kemudian bangkit dari tempat tidur, “Hoahm… Kenapa suasana rumahku begitu gaduh ya?” tanyanya pada diri sendiri, lalu menyusuri tangga menuju ‘sumber kegaduhan’. Kini Cath sudah berada di ruang tamu. Ada sangat banyak orang. Diantaranya ada beberapa orang polisi, Mr. Michel (ketua DetectRing, organisasi mata-mata di kota ini), dan juga Mrs. Audrey, asisten Mr. Michel. Dan…, ada juga Ibu juga Aunty Riccha yang sedang menangis. Sebagai seorang penggemar dari Mr. Michel, tentunya Cath senang sekali, namun Cath tidak bisa ‘senang’ jika melihat Ibu dan Auntynya menangis. Sebenarnya Cath berniat untuk menghampiri sekaligus bertanya kepada Ibu dan Auntynya itu, tapi Cath mengurungkan niatnya, dia berpikir itu akan mengganggu saja. Maka Cath bertanya kepada kakaknya, Kak Vanesha. “Kak, kenapa ada banyak orang di rumah? Lalu, kenapa Ibu dan Aunty menangis?”, “Mmm.. kamu jangan sedih, ya..” kata Kak Vanesha, “Mmm?” Cath minta dilanjutkan, “A… a… ayah, dan Uncle… telah meninggal!” jawab Kak Vanesha. Seketika mata Cath berkaca-kaca, “Hua!!! Ayah dan Uncle kenapa pergi? Kenapa pergi secepat ini? Hua…” tangisnya. Cath banjir air mata, wajahnya sudah basah. Cath terus menangis dan berteriak-teriak, seperti tak menerima kenyataan yang ada. Kak Vanesha langsung memeluk erat Cath dan menenangkannya.

Di upacara pemakaman, Cath masih belum berhenti menangis, dia terus menyebut nama Ayahnya. Saat upacara pemakaman telah selesai pun, Cath masih duduk di dekat makam Ayahnya, lalu menaburkan kelopak bunga, “Ayah… kenapa Ayah pergi secepat ini?” gumam Cath lirih, air mata masih menetes di pipinya. Kak Vanesha yang menyadari Cath masih duduk di dekat makam Ayahnya, langsung berlari menghampiri Cath. “Cath, relakan… Kalau kamu terus seperti ini, Ayah tidak akan tenang di alam sana…” kata Kak Vanesha, “Tapi, kak…”, “Sudahlah, semuanya juga merasa kehilangan. Semuanya kehilangan Ayah. Semuanya kehilangan Uncle. Semuanya bersedih. Ya…, sama sepertimu. Tapi kita semua harus merelakannya… Kasihan Ayah dan Uncle kalau kamu terus seperti ini..” lanjut Kak Vanesha, memotong perkataan Cath. “Ya…” Cath mengangguk, lalu menghapus air matanya. Perlahan Cath memperlihatkan senyumnya. “Nah, benar begitu. Sekarang kita pulang yuk…” Cath mengiyakan. Mereka berdua berjalan menuju rombongan dan naik ke mobil.

Keesokan harinya, Cath sudah ceria seperti biasanya. Pagi ini Cath sudah bangun, dia segera keluar rumah dan menyapu halaman, “Srek.. srek..” Cath mulai asyik menyapu sambil bersenandung ria. Tiba-tiba…, “Hah?” Cath sedikit kebingungan, lalu mengambil sebuah surat yang tergeletak di bawah, tepat di bagian yang saat itu akan Cath sapu. “Hm… Lihatnya nanti saja deh!” Cath memasukkan surat itu ke dalam saku bajunya, lalu melanjutkan pekerjaannya menyapu halaman. “Yay! Menyapu halaman selesai. Selanjutnya apa lagi ya… Mmm… Aku menyirami pohon saja deh!” Cath mengambil selang air yang ada di dekat pohon Jambu. “Lalalalala…” Cath bersenandung ria sambil menyirami pohon-pohon yang berdiri kokoh di halaman rumahnya. Saat Cath akan menyirami sebuah pohon yang masih kecil, yang tingginya masih sepinggang Cath.. “Pluk!” sesuatu terjatuh, Cath melihat ke tanah, “Apa lagi ini?” tanya Cath, lalu mengambil benda itu. Cath tidak sempat memerhatikannya. Namun Cath tetap memasukannya ke dalam saku bajunya. Bersama dengan surat tadi. Setelah selesai melakukan pekerjaannya, Cath segera masuk ke rumah dan berjalan menuju kamarnya yang ada di Lantai 2. “Mmm…” Cath mengeluarkan kedua benda yang ditemukannya di halaman tadi. “Ini surat apa ya? Tidak biasa-biasanya ada surat di halaman rumah. Yang biasanya ada hanya sampah plastik dan dedaunan” Cath memperhatikan surat yang dipegangnya. Amplopnya terlihat masih rapi dan bersih. Lalu Cath membuka surat itu dan membacanya:

Laporan B173-44 15 April 2016
Sindikat pengedar nark*ba, ‘Chou-Kami’ beranggotakan 700-an orang dan diketuai oleh Celestia Ludenberg. Sindikat ini sudah 4 tahun beroperasi tanpa diketahui pihak mana pun. Tahun ini, beberapa orang sudah mengetahuinya. Namun belum ada yang berani melaporkannya.
Cara sindikat ini mengedarkan nark*ba ialah:
1) Melalui penjualan boneka
Boneka selama ini belum pernah dicurigai sebagai tempat penyelundupan nark*ba. Inilah yang dimanfaatkan oleh sindikat ‘Chou-Kami’ ini. Membuat orang lain tak menyadarinya.
2) Melalui bungkusan tertentu
Biasanya tidak terlihat mencurigakan. Oleh karena itu strategi ini dipakai oleh sindikat ini. Mereka biasa menggunakan bungkus snack dan permen.
Alamat markas utama sindikat ‘Chou-Kami’: Youderange Street No. 17A
Demikian laporan kali ini
(Jimmy K. Harbour)

“Hah? Jimmy K. Harbour? Ayahku? Oh, ini pasti laporan untuk Mr. Michel..!!” pikir Cath, “Lalu…” Cath mengambil benda satunya lagi, “Mmm… Kartu identitas?” Cath memperhatikan kartu identitas itu dengan saksama. Lalu membaca identitas yang tertulis diatasnya:
Nama: Andersen Lao
Kode keanggotaan: 4A3124 – 55 – 761 – C
Misi: Akses K72-44A-51C
Jabatan: Pembunuh orang-orang yang mengetahui rahasia Chou-Kami

TANDA TANGAN
Andersen Lao

“Hm… Jangan-jangan orang yang membunuh Ayah dan Uncle.. orang ini?” Cath curiga, “Aku harus memberikan laporan dan kartu identitas ini kepada Mr. Michel!” seru Cath, lalu menyimpan kedua benda itu di dalam laci meja belajarnya. Namun, dia memilih untuk tidak bicara apa-apa kepada keluarganya. Cath takut itu akan memperbesar masalah.
Keesokan harinya, saat akan berangkat ke sekolah. Cath memasukkan kedua benda yang ditemukannya kemarin ke dalam tas. Dia berniat menyerahkannya kepada Mr. Michel sepulang sekolah, atau pada saat dia bertemu Mr. Michel.

Saat pulang sekolah…
“Mmm… biasanya Mr. Michel ada di sekitar sini..” Cath mondar-mandir di depan kedai kopi Mr. Hans, biasanya jika sedang tak ada kasus yang harus ditangani, Mr. Michel pergi ke kedai kopi ini. “Nah, itu dia!” Cath bersorak senang saat melihat Mr. Michel yang baru saja akan singgah ke kedai kopi Mr. Hans, “Mr. Michel!” panggil Cath, Mr. Michel langsung mengarahkan pandangannya pada Cath. “Hai, Cath! Ada apa?” tanya Mr. Michel sambil mendekat, “Ada sesuatu yang harus aku serahkan. Tapi tidak bisa disini” kata Cath, Mr. Michel mengangguk mengerti, “Ya sudah, mari ikut ke kantorku” ajak Mr. Michel. Cath mengikuti Mr. Michel ke kantornya.

Sesampainya di kantor pribadi Mr. Michel…
“Sebelumnya aku turut berduka cita atas kepergian Ayah dan Pamanmu” ucap Mr. Michel, Cath hanya mengangguk, “Ayahmu termasuk agen mata-mata terbaik disini. Sayang dia sudah pergi… Pamanmu juga, dia termasuk anggota kepolisian terbaik di kota ini…” lanjut Mr. Michel, “Dan, apa yang akan kau serahkan?” tanya Mr. Michel, “Oh, ini…” Cath menyerahkan surat laporan Ayahnya dan juga kartu identitas yang kemarin ia temukan. Mr. Michel langsung menyimpan surat laporan Ayah Cath, namun tetap memegang kartu identitas itu. “Cath, dimana kau temukan barang-barang ini?” tanya Mr. Michel heran, “Aku menemukannya di halaman rumahku. Dan sebenarnya pada saat malam pembunuhan itu, aku melihatnya. Namun aku tidak sadar kalau itu Ayah dan juga Pamanku. Aku juga melihat seorang pria bertubuh kecil keluar dari rumah dengan tergesa-gesa” ungkap Cath, “Jadi kau sempat melihat pelakunya?” Mr. Michel menyimpulkan, “Kemungkinan besar, iya” jawab Cath, “Bagaimana pelakunya?” tanya Mr. Michel, “Menurutku dia pendek. Paling cuma 150 cm-an, soalnya waktu lewat di dekat pagar kelihatan” jawab Cath sembari mengingat-ingat peristiwa malam itu, “Tingginya hanya seperempat dari pagar” lanjut Cath, “Yang artinya, tinggi pria itu hampir sama denganmu!” simpul Mr. Michel, “Ya, kemungkinan besar” jawab Cath, “Cath, aku membutuhkanmu dalam penyelidikan kali ini. Kau bisa menyamar sebagai Andersen Lao. Karena bagi orang yang tidak memiliki kartu identitas, tak akan bisa masuk ke markas utama Chou-Kami. Itu artinya si Andersen Lao ini tidak bisa masuk ke markas utama. Tapi kamu bisa! Tinggimu hampir sama dengan orang ini, itu artinya kemungkinan tak ada yang akan curiga dengan penyamaranmu” kata Mr. Michel, Cath berpikir sejenak. Dia memang menyimpan dendam terhadap orang yang telah membunuh Ayah dan Pamannya itu, “Baiklah, akan kuusahakan” jawab Cath akhirnya, Mr. Michel tersenyum tipis. “Besok kau harus datang kesini, akan kuberitahu rencana kita” kata Mr. Michel, Cath hanya mengangguk.

Keesokan harinya, setelah pulang sekolah Cath langsung menuju kantor Mr. Michel. Disana Mr. Michel sudah menunggunya, “Hai, Cath! Aku sudah menyusun strategi untuk penyamaranmu” sapa Mr. Michel sambil mengeluarkan beberapa berkas. “Yang aku tahu sindikat ini selalu memakai topeng untuk penyamarannya” mula Mr. Michel, “Aku sudah tahu topeng seperti apa yang biasa mereka gunakan, aku sudah mencari dan akhirnya mendapatkannya” lanjut Mr. Michel, dia mengeluarkan sebuah topeng dari laci meja kerjanya. “Ini yang harus kau pakai. Untuk markas utamanya, Mrs. Audrey akan mengantarmu. Sebelumnya kau harus berjanji untuk merahasiakan semua ini” Mr. Michel memperlihatkan jari kelingkingnya, “Janji” Cath mengaitkan jari kelingkingnya. “Sudah. Sekarang saatnya kamu pergi. Biasanya data-data seperti ini berada dalam Kantor Utama. Kau tinggal cari saja dimana. Lalu kau kopikan seluruh data yang ada kesini” Mr. Michel menyerahkan sebuah flash disk pada Cath. “Baiklah. Terimakasih Mr. Michel. Aku akan berangkat” Cath langsung berlari ke halaman kantor, dia langsung menaiki sepeda motor bersama Mrs. Audrey. “Ingat! Jangan bicara apapun atau penyamaranmu terbongkar!” itu teriakan Mr. Michel sebelum akhirnya sepeda motor Mrs. Audrey melaju kencang menuju markas utama Chou-Kami.

“Cath, kamu turun disini saja. Kalau saya berhenti tepat di depan markas itu, pasti akan mencurigakan” kata Mrs. Audrey, Cath mengangguk. Lalu Cath memakai topeng penyamarannya dan berlari menuju pintu markas utama sindikat Chou-Kami. “Hm…” Cath berpikir bagaimana cara membuka pintu itu, “Aha!” Cath melihat sebuah alat otomatis yang terdapat tempat untuk penggesekkan kartu seperti pada mesin ATM. “Pasti seperti ini!” yakin Cath dalam hati, “Srek…” Cath menggesekkan kartu identitas milik Andersen Lao. Pintunya terbuka! Cath hampir saja bersorak girang, namun dia mengingat kata-kata Mr. Michel, jangan pernah bicara apapun. Dia segera masuk ke dalam, “Andersen! Dua hari ini kamu tidak pernah datang. Kemana saja kamu? Mentang-mentang misimu suntuk membunuh Jimmy K. Harbour dan adiknya Nokki V. Harbour sudah selesai, seenaknya saja? Ingat kamu masih belum membunuh Michel Hannocce Grosse!” marah seorang wanita, “Apa?!” tanya Cath dalam hati. “Ternyata selain membunuh Ayah dan Uncle, dia juga berniat membunuh Mr. Michel? Tidak akan kubiarkan!” lanjutnya. “Hei, Andersen! Kenapa kau diam saja? Apa kau sedang puasa bicara?” tanya wanita itu dengan nada yang lebih tinggi, namun Cath diam saja. Dia melewati wanita itu dengan begitu saja, “Andersen!” itulah teriakan wanita yang tadi sebelum Cath jauh meninggalkannya. “Kantor utama dimana, ya?” Cath kebingungan. Kemudian dia melihat sebuah ruangan besar yang pintunya terbuka, di atasnya tertulis ‘Kantor Utama’. “Ini dia yang kucari dari tadi!” seru Cath dalam hati, setelah melihat-lihat keadaan dan merasa aman, Cath segera masuk dan mencari data yang diperlukannya di sebuah laptop yang kebetulan sedang menyala. “Ini dia datanya!” Cath kegirangan, dia segera mengkopikan data itu ke flash disk yang diberikan Mr. Michel tadi. “Selesai!” Cath tersenyum. Lalu keluar dari kantor utama seperti tak ada apapun. “Andersen! Kau darimana saja! Misi barumu tadi diberitahukan… Kau sudah melihatnya kan?” tanyanya dengan sedikit marah, Cath mengangguk. “Cepat kerjakan misimu itu!” katanya. Cath tersenyum, ini kesempatan bagus untuk keluar tanpa dicurigai. Cath segera keluar dari markas utama dan berlari hingga ada perumahan. “Disini tempat aman untuk membuka penyamaran” gumam Cath, lalu melepas topengnya dan menelefon Mrs. Audrey, “Aku sudah berada di perumahan Orange Field!” kata Cath, “Baik, Cath. Kau harus menunggu disana, kemungkinan lima menit lagi aku akan sampai…” jawab Mrs. Audrey dari seberang telefon. Lima menit kemudian, Mrs. Audrey datang. Cath segera naik dan sepeda motor Mrs. Audrey melaju kencang, meninggalkan perumahan Orange Field.

Sesampainya di kantor Mr. Michel…
“Mr. Michel!” panggil Cath senang, “Bagaimana, apa kau mendapatkan datanya?” tanya Mr. Michel, “Ya, aku sudah dapat Mr. Michel!” jawab Cath senang, “Tapi…” kini Cath berkata dengan nada sedih, “Kenapa?” tanya Mr. Michel, “Mereka juga berniat membunuh Mr. Michel” Cath tambah sedih, “Mmm… aku sudah menduganya dari awal, tapi kita tidak perlu khawatir” kata Mr. Michel, “Sebentar lagi, anggota sindikat itu akan memenuhi penjara kota ini!” lanjut Mr. Michel. “Sudahlah, kau tidak usah sedih. Itu resiko kita. Tapi lihat aku, aku kan masih disini? Rencana mereka untuk membunuhku pasti gagal!” kata Mr. Michel, “Nah, bagaimana kalau sekarang kita mengecek data yang tadi?” tanya Mr. Michel, Cath mengangguk. “Ini sudah terbukti…” simpul Mr. Michel. “Besok anggota kepolisian terbaik akan segera datang. Kau siap?” tanya Mr. Michel, Cath hanya mengangguk.

Keesokan harinya…
“Cath?!” Mr. Michel kebingungan karena pagi-pagi sekali, Cath sudah berada di kantornya, “Apa kau tidak bersekolah hari ini?” tanya Mr. Michel, Cath menggeleng, “Ada acara para guru, jadi aku bisa lebih cepat kesini…” jawab Cath senang. “Baiklah, kita akan segera berangkat..” kata Mr. Michel, “Ini akan sangat seru!” kata Cath, dia gemar sekali menonton film detektif di TV, dan pada saat penangkapan penjahat, Cath merasa seru sekali. “Baiklah… sekarang kita akan berangkat!” beberapa mobil milik kepolisian melaju kencang menuju markas utama Sindikat Chou-Kami. Dengan singkatnya, mereka sudah sampai di depan markas utama. Cath segera menggesekkan kartunya, “Angkat tangan kalian!” teriak seorang polisi. Semua orang yang berada di dalam langsung terkejut. Karena tidak punya persiapan apa-apa, akhirnya mereka terpojok dan menyerah, “Katakan, dimana pemimpin kalian!” paksa seorang polisi sambil menodongkan pistolnya, “Di… dia berada disana…” seorang wanita menunjuk ke arah suatu ruangan. Para anggota polisi bergerak dengan cepat. Tanpa banyak perlawanan, orang yang bernama Celestia Ludenberg itu berhasil ditangkap, masih menyimpan dendam atas kematian Ayah dan Pamannya, Cath segera mengejar orang itu, “Kenapa kau menyuruh orang untuk membunuh Ayah dan Pamanku? Kenapa kau merusak kebahagiaanku? Sadarkah kau bahwa orang yang kau bunuh itu masih punya seorang anak yang masih kecil?!” teriak Cath marah, bahkan Cath sempat ingin melemparnya dengan sebuah batu besar, “Hentikan, Cath” kata Mr. Michel lembut, amarah Cath agak menyusut, “Kau rasakanlah dinginnya penjara sampai akhir hidupmu!” kata Cath masih dengan nada marah. Seluruh anggota Sindikat Chou-Kami telah ditangkap. Mereka dipenjarakan di penjara kota.

Berita tentang dipenjarakannya anggota Sindikat Chou-Kami tersebar di seluruh kota. Tiap hari TV menampilkannya. Bahkan majalah dan koran dipenuhi artikel-artikel yang berhubungan dengan kejadian itu. Apalagi, Cath mendapat banyak tawaran untuk diwawancara. Dalam hati, Cath bangga sekali bisa berpartisipasi dalam penangkapan ini. “Semoga mereka tidak mengulanginya lagi” harap Cath pelan.

Tujuh tahun kemudian…
Cath sudah tumbuh menjadi seorang remaja yang cantik dan pintar. Bahkan dia ditunjuk menjadi wakil ketua DetectRing, Cath sangat senang sekali. Dia selalu berjanji agar selalu memerangi sindikat-sindikat. Dia selalu berusaha agar tak ada lagi satupun sindikat dikotanya.

THE END

Cerita ini murni karangan penulis. Bukan jiplakan/plagiat dari cerita orang lain.

Cerpen Karangan: Fitri Aidina Ilhamy
Facebook: www.facebook.com/aidina.fi

Cerpen Memberantas Sindikat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Awas, Ada Psikopat Di Rumahku

Oleh:
Di sekolah SMA Deanadara Jiliandra terdapat banyak siswa maupun siswi yang bertampang menarik. Tak hanya itu, mereka juga pintar dalam segala hal. Kegiatan olahraga, seni, musik, berhitung dan bahkan

Bloody Wounds

Oleh:
Di sebuah perkampungan kecil, tempat dimana Aryan dan ibunya tinggal dalam sebuah rumah tak layak huni. Aryan, anak lelaki berusia 15 tahun yang tak pernah mendapat kehidupan dan pendidikan

Pistolet (Gun)

Oleh:
Seorang pemuda kuliahan, bernama Kenny mengangkat kepalanya, sesudah mengangkat tangannya. Ia melihat sebuah Glock-18 yang berada tepat di atas kepalanya. Moncongnya siap memuntahkan peluru sekali dalam satu tembakan, atau

Si Penolong (Part 2)

Oleh:
Si tamu misterius datang dengan mobil mustang keluaran 1967nya. “Bagaimana?” Tanya si tamu misterius yang turun dari mobil. “Baik pak, semua berjalan lancar..” Jawab Chepi. Mereka berdua kemudian masuk

Edelweis Pusaka Intraversia

Oleh:
Makhluk hitam yang dipimpin seorang lelaki berambut merah tembaga itu, menyebar ke segala penjuru belantara Intraversia. “Ayo cepat cari mereka! Bawa mereka ke hadapanku sekarang juga!” Titah lelaki itu.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *