Menjebak Musuh

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 16 October 2021

Kami melanjutkan perjalanan tetapi tidak lagi menggunakan mobil. Kami menyusuri hutan dengan berjalan kaki.
Tujuan pertamaku adalah tempat istirahat yang kemarin diusulkan oleh supir tersebut, setiba di lokasi baru aku sadari memang lokasi tersebut disiapkan untuk pembantaian kami.

Jaraknya memang tidak jauh, tetapi sangat menguras tenaga karena kami harus mendaki dua gunung dan menuruni tiga jurang.
Setapak demi setapak kami melangkah bahkan harus merangkak ataupun dengan tali dan peralatan pendakian harus digunakan.
Tidak terhitung berapa kali terjatuh, kami tetap bangun kembali sampai akhirnya tiba di lokasi yang kemarin ditunjukkan.

Kami mengamati jejak yang ada dilokasi ternyata semalam musuh menyerang lokasi tersebut dan karena kami tidak di sana mereka menyerang sasaran kosong.
“Naluri Komandan ternyata benar, kalau kita semalam menginap di sini kita sudah jadi mayat hari ini”, kata salah satu anggotaku.
“Tuhan yang menuntun jalan kita, saya hanya percaya kepada Dia, makanya selalulah mendekatkan diri kepada Tuhan agar kita dituntun oleh-Nya” jawabku untuk memotivasi anggota agar tidak cuit nyalinya.
“Siap, Komandan” jawabnya.
“Naluri itu tidak didapati dari pendidikan maupun latihan, apalagi dibeli” kataku sambil berseloroh.

Kami sering bercanda kalua diluar momentum kedinasan karena aku ingin mereka menjadi bagian dalam hidupku bukan hanya sekedar anggota yang aku perintah. Dan merekapun akan lebih ihklas menaati perintahku.
Aku jelaskan kepada mereka tentang kepemimpinan karena mereka juga pemimpin, paling tidak pemimpin dalam keluarga mereka.
“Komandan yang ditakdirkan jadi pemimpin akan miliki naluri yang tajam kecuali pemimpin yang merebut kekuasaan, dia hanya bisa memerintah”, aku jelaskan kepadanya.

Ketika kami sedang mengamati jejak, terlihat seseorang berlari menuju jurang, spontan anggotaku mengkokang senjatanya, tapi aku isyaratkan untuk tidak menembak.
Kami tidak mengejarnya, aku perintahkan untuk tiarap dan berlindung. Susana hening mencekam. Tiba-tiba dari semak belukar berlari seseorang ke jurang dan spontan aku lempar sangkurku dan mengenai kakinya.
Dia terjatuh dan berteriak minta tolong.
Salah seorang prajuritku dengan refleksnya langsung menghantam popor senjata ke muka musuh itu. Akibatnya cucuran darah keluar dari hidungnya.
Dia semakin berteriak minta tolong.
“Sekali lagi kamu berteriak, saya sumpal mulutmu dengan pistol ini”, gertakku sambil memasukan laras pistolku ke mulutnya.

Seharian kami mencoba menginterogasi namun dia tidak mau berbicara apapun.
“Selesaikan saja, Dan”, saran dari anggotaku.
“Jangan pernah membunuh musuh karena emosi”, aku coba menenangkan anggota yang mulai emosi karena tawanan tidak memberi informasi apapun.
“Dia akan menyusahkan perjalanan kita, Dan” alasan anggotaku itu.
“Tidak perlu merasa susah, tidak ada ciptaan Tuhan yang tidak berguna”, anggotaku semakin bingung dan aku tidak perlu menjelaskan niatku.

Haripun sudah mulai senja, sebentar lagi akan gelap.
“Kita bermalam di sini”, perintahku kepada anggota.
“Apa!” serentak anggotaku menjawab seolah tidak percaya atas perintahku.
“Iya, kita akan bermalam di sini” aku mengulangi perintahku.
“Siap, mohon maaf Komandan, apakah tidak salah? Lokasi ini sudah diketahui musuh, sama dengan kita bunuh diri kalau menginap disini” anggotaku mencoba merubah perintahku.
“Sebenarnya, Pantang seorang Komandan mengulangi perintah sampai tiga kali, saya perintahkan kita menginap disini” dengan tegas dan lantang sambil membentak aku perintahkan mereka.
Aku tahu, anggotaku tidak ada yang setuju dengan perintah itu, tetapi karena aku adalah komandannya, dengan perasaan dongkol, mereka loyal juga.

Aku memanggil Baton dan meminta tawanan tidur dalam bivakku.
“Baton, letakkan tawanan dalam bivak saya” perintahku.
“Ijin Danton, apakah ini tidak gila?” ungkapnya.
“Inilah strategi, hadapi orang gila dengan kegilaan jangan dengan akal sehat” kataku.
“Setelah gelap, perintahkan seluruh anggota untuk naik pohon, kepung bivak ini. Saya yakin nanti malam mereka akan kembali menyerang bivak ini” aku menjelaskan dengan detail.
“Jangan lupa, sebelum tidur, tawanan beri obat penenang biar dia tidur lelap” kataku.
“Siap, Komandan, dilaksanakan” jawabnya.

Naluriku tidak salah, di tengah kami mendengar derap langkah yang cukup ramai. Aku beri instruksi untuk berdiam melalui radio yang tiap prajuritku miliki.
“Door, door, door,…” berulang kali tembakan terdengar dari beberapa sisi.
“Ach!, Tolong,..” teriakan muncul dari bivakku.
Tembakan semakin gencar diarahkan ke bivak itu, dan aku membatin teriakan itu dari tawanan yang aku simpan di bivak itu.
Mereka bersorak merasa menang setelah menembak bivakku.
Alangkah kagetnya mereka setelah melihat dalam bivakku hanya ada temannya yang terluka dan disaat itu kamipun menembaki mereka dari atas pepohonan.
Mereka berlarian kocar kacir, sebagian dari mereka tidak dapat melarikan diri.

Setelah terang tanah, kamipun turun dari tempat ngalong (tempat tidur di atas pohon). Kami mengevakuasi beberapa mayat dan mendapat beberapa pucuk senjata musuh.
Aku melaporkan kepada komandanku untuk mengirimkan tim evakuasi dan sekalian aku meminta logistik tambahan karena dari awal hanya dibekali untuk dua hari perjalanan.
“Pesta perdanamu berhasil, tapi ingat pesta belum usai” kata Komandan kepadaku.
“Siap Komandan” jawabku.

Perjalanan hari ketiga jauh lebih berat dari sebelumnya. Yang paling berat ketika kami harus mendaki puncak ketinggian.
Apalagi tidak semua anggotaku yang berusia muda, sebagian dari mereka ada yang jauh lebih tua dari aku. Terutama mereka yang berpangkat Kopral.

Seorang Kopral menghampiriku disaat beristirahat, “Ada apa Pral?” tanyaku.
“Saya sudah sering ikut perang, baru sekali ini saya alami perang dengan taktik yang aneh”, pengakuannya padaku.
“Perang itu dinamis, Pral”, jelasku.
“Kalau kita selalu gunakan strategi yang sama, tidak akan pernah menang dalam perang” aku coba jelaskan kepadanya.
“Tapi resikonya akan lebih tinggi, Komandan” dia ungkapkan pendapatnya.
“Iya, kalau kita tidak berani mengambil resiko, tidak perlu berperang, bersahabat saja dengan musuh dan menunggu waktu musuh membunuh kita” kataku.
“Siap, Danton. Dulu sewaktu saya muda, saya juga pemberani, entah kenapa sekarang malah lebih sering takut?”tanyanya.
“Mungkin karena ingat anak isteri ya?”, tanyaku.
“Tidak juga, Danton”, jawabnya.
“Mungkin karena lupa,Pral”, kataku.
“Lupa apanya, Danton?”, tanyanya.
“Lupa kalau sebenarnya dulu Bapak pernah gadaikan nyawa ke Ibu Pertiwi, maka beranggapan nyawa sekarang milik Bapak semata”, kataku.
Aku jelaskan kembali niat seseorang ketika akan mendaftar menjadi Tentara yaitu mengorbankan jiwa raganya untuk Ibu Pertiwi.
“Jadi, jangan sia-siakan nyawa cadangan ini”, jelasku kepadanya.

Sore hari kami baru tiba di puncak tertinggi. Kabut sudah mulai turun, pandangan mata sudah labur mungkin karena kelelahan sehingga sulit sekali melihat jarak jauh.
Aku putuskan untuk beristirahat di atas puncak ketinggian itu. Kami tidur beralas tanah, tanpa alas apapun. Bukan sekali ini aku tidur seperti itu dan sudah terbiasa untuk melatih insting mendengar getaran tanah bila ada yang mendekat.
Tidak ada masyarakat yang hidup di puncak ini, jika ada gerakan manusia sudah pasti dia adalah musuh. Prajuritku terlatih dengan hal ini.

Cerpen Karangan: Riyandi Mallay

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 16 Oktober 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Menjebak Musuh merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Me Is The Next Commando (Part 2)

Oleh:
Aku tak menghiraukan perkataan teman temanku itu, terserah mereka suka sama siapa batinku, aku tak bisa berdusta kalau aku benar benar deg degan, mengingat menjadi kapten commando bukan hal

She Not Good (Part 2)

Oleh:
Keesokan harinya, aku hanya berjalan-jalan di pusat kota Manhattan, Tidak kuliah membuat aku tidak memiliki kegiatan, keinginan mencuri pun tampaknya tidak bisa kulakukan, karena aku mungkin masih diawasi oleh

Pelarian Seorang Penembak (Part 2)

Oleh:
PUKUL 01.30 WIB. Tanpa banyak bicara, aku segera turun dari mobil ketika Malcolm memarkirkannya di lapangan Beji, Boyolangu. Tepatnya berjarak tujuh ratus meter dari markas NNN Comunity-sebuah basecamp Simon

Riani

Oleh:
Namanya Riani. Dia adalah murid baru di kelas kami, dan juga sahabatku di masa putih abu-abu ini. Kami mengenalnya sebagai gadis yang murah senyum dan aktif, juga sangat pintar.

Death Note

Oleh:
Hidup sungguh tak berguna. Bagiku, hidup tak lebih dari sampah. Kau setuju denganku? Silahkan saja kalau kau memiliki pendapat yang berbeda. Namun aku memiliki alasan kuat, kenapa aku mengutuk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *