Muslihat (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 21 May 2016

12, April, 1926, Saat penjajahan Belanda
Latar belakang sebuah tebing-tebing tinggi yang curam, terletak melingkari perkampungan kecil yang begitu sederhana. Lima tebing tinggi yang saling terpisah menurut bagiannya, berdiri bagaikan benteng pelindung. Di tengahnya, beribu orang terlelap dalam hangatnya malam, dalam syahdunya suara burung hantu dari puncak tebing. Subuh itu, saat suasana sangat tenang, seorang lelaki melangkah ke luar dari antara tebing-tebing itu. Lelaki itu menggandeng sejumlah anak panah di belakangnya dan memegang sebuah busur besar. Langkahnya mulai menjauh ke tengah hutan, semakin jauh meninggalkan tebing.

Setelah merasa cukup jauh di tengah hutan, ia berhenti. Matanya berputar melihat keadaan sekitar, kemudian memanjat sebuah pohon besar perlahan, tanpa menghadirkan bunyi sedikit pun. Ia sudah biasa melakukannya. Begitu tiba di puncak, tangannya menarik sebuah anak panah dari belakang, lalu memasangnya di tali busur. Dari atas pohon itu, ia menerawang dengan cermat, meneliti setiap tempat di sekitarnya. Sesaat kemudian, ia memicingkan mata, sepertinya melihat sesuatu. Seekor rusa besar sedang berjalan tak jauh dari tempat lelaki itu. Ditariknya busur sekuat tenaga, hingga otot-otot tangannya terbentuk sempurna, matanya semakin memicing lebih tajam, rambutnya diterpa angin pagi. Tanpa dosa, tanpa tahu apa-apa, rusa itu tumbang tertembus anak panah besar di tubuhnya. Sang pemburu tersenyum bahagia.

Lelaki itu turun dari atas pohon, seperlahan saat ia naik. Begitu kakinya menyentuh tanah, ia tiba-tiba menggeliat, secepat mungkin mencari tempat berlindung. Di balik sebuah batu besar, lelaki itu duduk tegang tanpa suara. Bagaimana mungkin tak menggeliat, ia baru saja mendengar suara langkah kaki yang menuju ke tempatnya. Sepengetahuannya, tak ada orang lain yang akan ke luar sejauh ini selain dia. Dengan susah payah ia membuat dirinya setenang mungkin. Sedikit demi sedikit ia mengeluarkan kepalanya dari balik batu, mencoba mengintip. Betapa kagetnya ia saat melihat seorang lelaki tinggi besar, dengan rambut pirang yang mencolok sedang berada di tempat itu. Dari pakaian si lelaki yang berseragam militer lengkap, sang pemburu langsung membuat kesimpulan: tentara Belanda semakin dekat ke daerah mereka.

Suara bising pergesekan antara besi dengan besi mewarnai rumah kecil itu. Hantaman keras sebuah palu besar di atas besi menggetarkan dinding sampai atap rumah. Bunyi gesekan pedang tak hentinya melelahkan telinga. Begitu sebuah besi dipanaskan hingga seluruh permukaannya menjadi bara, ia mengangkatnya perlahan ke atas sebuah bongkahan batu besar menggunakan kaus tangan. Sesaat, ia berbalik mengambil palu besar dari belakang. Dengan berlumuran keringat, si lelaki itu menggenggam bara besi di tangan kiri. Palu besar menghantam bara besi dengan mudahnya, sampai memadat dan membentuk sebuah pedang. Dia melempar palunya kembali ke belakang, lalu merendam pedang baru itu ke dalam air.

“Apakah sudah selesai?” si lelaki bertanya pada dirinya seraya melihat jejeran pedang-pedang rapi di dalam sebuah wadah air. Si lelaki menghitungnya satu per satu.
“Akhirnya sudah selesai.” katanya lega. Ia menghembuskan napas panjang perlahan, kemudian melangkah menuju ke ruangan bersantainya.

Dengan tubuh lelah itu, si pembuat pedang berbaring di atas kursi panjang yang datar, satu-satunya kursi di sana. Lantunan siulan nyaring yang menghimpit angin melalui dua bagian bibirnya, bersenandung menyanyikan sebuah lagu klasik yang begitu indah. Kicauan burung-burung pagi hari seperti telah kalah oleh lantunan itu. Setelah berisiknya pergesekan besi dengan besi, ia menghibur dirinya dengan siulan itu. Begitu matanya mulai terkatup hendak terlelap, pintu rumah terbuka diiringi bunyi engsel yang berisik, matanya kembali terbuka. Namun, ia tetap nyaman di atas kursi datarnya itu, kembali membuat matanya terkatup. Ia sudah biasa dengan perlakuan warga kampung yang sering masuk ke rumahnya tanpa mengetuk pintu.

“Halo, Doinisius.” kata si tamu. Dengan mata yang berat, sang tuan rumah terpaksa beranjak dari lelapannya. Sambil bermalas-malasan, duduk di atas kursi datar.
“Ternyata kau, Asa. Apa yang membuatmu datang ke sini?” tanya Doinisius lemah. “kau tak biasa ke sini.” lanjutnya.
“Buatkan aku pedang, aku mau memberitahukanmu sesuatu.” kata Asa. Doinisius berdiri dari kursinya, tersenyum pada Asa. “Tuan Asa yang terhormat, tak ada satu pun pembuat pedang yang akan mau membuat sebuah pedang tanpa bayaran.” Doinisius melangkah menuju ruang kerjanya yang hanya bersampingan dengan ruangan bersantainya. Ia mengangkat palu dari lantai, “ini butuh bayaran.” lanjutnya.

“Bayaran apa yang kau mau?” Tanya Asa.
“Apa saja.”
“Kalau begitu, kau akan mendapatkan hewan hasil buruanku.”
“Itu yang aku mau, sobat!” Asa langsung tertawa mendengar ucapan itu.
“Kalau begitu buatkan aku pedang.” kata Asa yang pergi duduk di kursi datar. Doinisius mengangkat palunya ke atas sambil tersenyum, menandakan bahwa ia setuju dengan perkataan itu.

Doinisius meneliti beberapa batang besi panjang yang disandar pada sisi rumahnya. Memegangnya satu per satu, “Aku akan memilihkanmu yang terbaik,” katanya. Asa tersenyum. Begitu menemukan besi yang cocok, ia membakarnya di atas api. “Jadi, apa yang mau kau bicarakan padaku, Asa?” tanya Doinisius seraya memperbaiki posisi besi.
Asa membakar tembakau yang diambil dari dalam sakunya. Menghisap dengan hayatan, lalu membuang asapnya perlahan, “Pagi tadi aku berburu di tengah hutan, dan menembak seekor rusa besar,” katanya. Doinisius mengangkat besi ke dekat matanya, menerawang sisi-sisi besi itu dengan teliti, kemudian meletakkannya kembali ke atas api, “Lalu?”

“Saat aku turun hendak mengambil rusa itu, aku melihat tentara Belanda di sana. Tentara itu mengambil rusaku, untunglah aku bisa lolos darinya. Cepat atau lambat mereka pasti akan menemui daerah kita ini dan menguasainya.” Doinisius mengangkat besi dari api lalu meletakkannya di atas batu besar. “Bagaimana menurutmu, sobat?” lanjut Asa.
“Kita hanya perlu berdamai dengan mereka.” kata Doinisius sambil berbalik mengambil palu.
“Kalau menurutku mereka akan menyerang kita, tak ada perdamaian.” Asa menghisap tembakaunya lalu membuang kembali asapnya perlahan.
“Terserah kaulah, Asa. Ku rasa kau harus memberitahu itu pada ketua suku.” Doinisius menyarankan.

“Aku akan memberitahukannya malam nanti di pesta makan malam.” Asa menekan api tembakaunya di atas kursi hingga padam, kemudian membuangnya.
“Ayolah, kawan, kau baru menghisap tembakaumu dua kali, itu rugi.” kata Doinisius.
“Tembakau itu terlalu keras.” balas Asa. Doinisius tertawa.
“Kalau menurutku, kelihatannya tembakau itu tidak begitu keras.” ejek si pembuat pedang itu.
“Sudahlah, Doinisius, buatkan saja pedangku. Kau terlalu banyak mengkritik.” kata Asa.

Doinisius berbalik, lalu menghantam besi menggunakan palu dengan begitu keras. Terus menerus tanpa merasa lelah. Lantainya bergetar karena guncangan hantaman itu. Asa bahkan sampai menutup telinganya, bunyinya sangat bising.

“Itu terlalu berisik, Doinisius.” kritik Asa. Dia tahu kalau Doinisius sengaja melakukannya.
“Sudahlah, Asa, diam saja kau di situ. Kau terlalu banyak mengkritik.” balas Doinisius. Asa tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
“Kau pandai mempermainkan orang, sobat.” kata Asa.
“Itulah salah satu keahlianku selain membuat pedang.” jawab Doinisius sombong. Ia berbalik, kembali menghantam besi dengan keras. Berulang kali hingga permukaannya memadat lalu merendamnya ke dalam air.

“Kau harus merawat pedang ini dengan baik. Ini pedang yang bagus.” ujar Doinisius.
“Tentu saja, sobat.” Kata Asa turun dari kursi, kemudian menghampiri pedangnya. Dia mengangkatnya dari atas air, menerawang setiap sudutnya.
“Ini…” Asa langsung berbalik dengan waspada. Tiba-tiba saja pintu rumah terbuka dengan perlahan, sangat pelan. Bunyi engselnya berkumandang menggetarkan telinga. Suasana seakan tiba-tiba sepi tanpa sedikit celah suara. Dari ujung telinga angin berhembus perlahan. Asa memegang pedangnya dengan erat, seolah ingin meremasnya. Doinisius mengangkat palu ke pelukannya, bersiap seakan benda itu ingin dirampas.

“Aku tidak sengaja membukanya.” seorang anak remaja dekil berdiri di balik pintu itu.
“Amos?!” bentak Asa memegang dadanya. Hatinya seakan ingin bersumpah, ia benar-banar kaget.
“Hehehe.” anak itu tertawa malu. Ia menutup mulut sambil menunduk ke bawah, menahan tawa yang tak sanggup melihat ekspresi kaget ayahnya. Dalam hati ia bersumpah akan mengejek wajah konyol itu nanti. “Sejak kapan kau di sana!?” tanya Asa. Wajahnya memelas ketakutan. Sungguh kau akan tertawa terbahak jika melihat ini.

Amos menundukkan wajahnya semakin ke bawah. Sesaat ia meremas mulutnya yang tak bisa berkompromi. Tawanya tiba-tiba memecah tak terbendung. Ia memegang perutnya yang kayaknya juga ingin ikut tertawa, menahan keras agar tawanya tak terlalu berlebihan. Begitu kepalanya kembali memandang ke atas, tawanya kembali memecah semakin keras seolah ayahnya adalah pelawak terkenal. “Hentikan wajah konyolmu itu, ayah.” Amos berkata sambil terus terkekeh-kekeh. Dari tempatnya, Doinisius menggelengkan kepala melihat keseruan pagi itu, bagaimana eratnya hubungan ayah dan anak.

Ketika mentari kembali berpulang ke ufuk barat, sebuah rumah sederhana tampak bersinar terang. Cahaya terangnya menyinari sampai ke sudut-sudut rumah, merambat di antara dinding-dinding jeraminya yang begitu kokoh berdiri. Sebuah cahaya yang terbuat dari api ke sebuah sumbu itu terletak pada lantai rumah beralaskan tanah datar. Tanahnya terlihat seperti membara dari kejauhan, bagaikan neraka yang siap mengisap sang bumi. Rumah sederhana itu sangat terang dari rumah-rumah lainnya. Sebuah senja dihiasi segerombolan angin yang berhembus halus mengusap dinding-dinding jerami rumah itu. Sebatang demi sebatang jeraminya hanyut terbawa angin menuju ke alam bebas, namun tetap kokoh seperti sedia kala. Di tengah jerami, sang api menari-nari dengan usapan sang angin yang begitu lembut, seakan sang api akan terbang mengikuti kebebasan sang angin.

Dari antara hembusan angin senja itu, dari sela-sela jerami yang sudah menua, menyusup seorang lelaki tinggi besar dari dalam rumah. Dengan susah payah, si lelaki membongkar susunan rapi jeraminya sedikit demi sedikit. Begitu celah telah terbuka lebar, si lelaki merangkak ke luar rumah dengan tergesa-gesa. Ia berdiri kemudian pergi, langkahnya menuju ke seseorang yang kelihatannya telah lama menunggu. Dari kejauhan, mereka tampak sedang melakukan perbincangan serius. Sesekali si lelaki penyusup mengangkat tangannya ke atas, seolah sedang mengucapkan sebuah janji. Ia terlihat lebih banyak bicara dari lelaki di depannya itu. Mereka seakan sedang melakukan negosiasi, mungkin juga sebuah kompromi semata. Teman si lelaki itu seakan begitu senang, tangannya selalu saja menepuk pundak si lelaki. Ia sesekali memandang ke atas, seolah ingin mencari bintang yang jatuh untuk membuat permintaan. Tiba-tiba, saat si lelaki mengucapkan sebuah kalimat, temannya itu tertawa begitu keras seraya menepuk pundak si lelaki dengan emosi positifnya.

“Ini serius.” kata si lelaki. Temannya itu langsung menghentikan tawanya, hanya tersenyum hangat pada si lelaki. Sesaat, sang teman itu merogoh kantongnya sambil terus tersenyum. Ia mengeluarkan setumpuk uang yang begitu tebal di sana, dari jauh uang itu bagai sebilah balok yang sangat besar. Dan akhirnya, negosiasi malam itu berlangsung dengan lancar. Di balik sebuah rumah, dari antara jerami-jerami tua, seseorang telah menyaksikan semua kejadian itu dari awal hingga akhir. Setiap gerak dan setiap kata telah tersimpan rapi dalam tumpukan memorinya. Sebuah rahasia besar ditangkapnya dengan cermat.

Bersambung

Cerpen Karangan: Alan Tamalagi
Facebook: Alan Tamalagi

Cerpen Muslihat (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dunia Di Bawah Tanda (Part 2)

Oleh:
Mobil terus melaju nanjak dan perlahan mulai berjarak cukup jauh dari patung itu “ya ampun!” kata ardi ngeri “ada apa” sahut dani juga “patung itu hilang!” Dani yang tidak

Discovered

Oleh:
Jam menunjukan pukul 15:15 sore, bel pulang berbunyi, seluruh murid membereskan alat tulis dan bergegas untuk pulang. Beberapa menit kemudian seluruh siswa pulang, sekolah menjadi sepi. Berbeda denganku, aku

Maaf Sahabat

Oleh:
Aku, Eva, Devi, Mia dan Sifa adalah sahabat karib. Kami bersahabat sejak kelas 2 SMA hingga sekarang kami duduk di bangku kuliah semester 2. Kami selalu berbagi cerita bersama-sama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *