Pelampiasan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 1 November 2017

Jakarta, kota yang tak pernah tidur. Dua puluh empat jam sehari, tujuh hari seminggu, kota ini seakan tak pernah berhenti bergerak untuk sesaat. Setiap hari semua orang sibuk dengan kehidupannya masing-masing.

Akan tetapi, hari ini adalah hari pembalasan dendam. Dendam yang sudah kutumpuk selama kurang lebih duabelas tahun lamannya. Aku berdiri di sebuah gudang kosong, di depanku ada segerombolan pria berbadan besar dengan senjata yang besar. Sedangkan diriku yang ukurannya tak seberapa berdiri dengan bersenjatakan sebuah belati dan sebuah pistol.
Tiba-tiba seorang pria muncul dari kerumunan itu dan berjalan ke hadapanku. Ia memakai jas yang sangat rapi, perawakannya tak seperti penjahat kebanyakan. Tetapi, wajahnya tetap wajah seorang pembunuh yang menewaskan temanku. Teman sekaligus kakak bagiku.

Gejolak amarahku mengebu-gebu, aku pun menggengam belati itu sangat erat, aku berusaha tidak menunjukan wajah amarahku di hadapannya. Jujur, sudah lama sekali aku mencari orang ini. Hingga ini saatnya, aku membalas kematian Adi.

“Jadi, kamu ke sini pasti anak buahnya si Patrialis. Sudah kuduga” sindir pria itu
“Patrials pasti ingin merenggut daerah ini. Secara, dia sudah tak punya daerah kekuasaan lagi. Jakarta sekarang menjadi miliku. Milikku seutuhnya. Semua rivalku sudah kuhabisi, tinggal Patrialis saja yang kusimpan untuk terakhir. Lebih baik kau pulang, dan bilang kepada bosmu, bahwa aku sudah menang!” lanjut pria itu, ia mengira aku adalah suruhan dari seorang mafia yang telah kubunuh dua bulan yang lalu.
“Sepertinya anda salah orang pak. Patrialis sudah tiada” balasku, lalu aku mengeluarkan sebuah kalung milik Patrialis dan melemparkannya ke hadapan pria itu. Lalu ia mengambilnya dari lantai dan melihat kalung bertuliskan Patrialis Amdera yang berlumuran darah. Pria itu terkejut bukan main, melihat rival abadinya telah musnah.

“Jadi, siapa dirimu?” tanyanya penuh keheranan. Aku pun maju satu langkah ke depan dan membuka tudung jaket hitamku.
“Anda tidak kenal saya, tapi saya tahu siapa anda. Anda adalah orang yang telah membunuh teman saya duabelas tahun lalu di Bandung.” Ucapku. Ia pun bingung dengan orang yang kumaksud.
“Maksud anda siapa ya?. Sepertinya kamu salah orang. Saya memang pernah beraksi di Bandung duabelas tahun yang lalu. Tetapi, siapa yang anda maksud?” Tanyanya. Aku pun mengambil foto Adi di saku celanaku, dan menunjukan kepadanya.
“Ini!, orang ini, anda masih lupa. Kejadian itu bermula, saat anda sedang merampok sebuah toko di daerah Tamansari, teman saya menghampiri anda dan kawanan anda. Ia berhasil menghabisi kawanan anda. Tetapi, anda dengan wajah tak berdosa menusuk kawan saya dan melarikan diri. Anda mungkin lupa, tapi saya tidak. Saya telah mencari anda selama bertahun-tahun. Hingga hari ini, saya bisa melihat wajah bengik anda.” Jawabku. Pria itu masih tidak ingat dengan kejadian itu, terlihat di wajahnya rasa tak bersalah dan perlahan mulai mengingat kejadian itu, dan menggulingkan sebuah senyuman sinis yang membuatku tambah geram.

“Ah, yang itu. Well, itu sudah lama sekali ya… Tetapi, sekarang kau lebih baik pulang dan jangan kembali lagi. Kau tak tahu siapa yang kau hadapi sekarang nak?” balas pria itu dengan nada sombong. “lihatlah!, kau tak akan bisa membunuhku tanpa berhasil melewati penjaga-penjagaku yang terdiri dari orang-orang terbaik. Lebih baik pulang” Tambahnya, aku pun mulai naik pitam, aku mengembalikan foto itu ke dalam sakuku. Jika dihitung, aku kalah jumlah dan kemampuan. Tapi, dengan kemampuan yang telah kuasah selama bertahun-tahun setelah terdampar di sebuah pulau kecil dan dibantu oleh seorang kakek tua yang memberiku belati ini. Rasanya akan sia-sia jika aku tak bisa melawan mereka.

Aku pun masih berdiri di hadapan mereka dan mulai maju selangkah ke depan. Hingga cahaya lampu menyinariku, pria itu makin geram dan aku tetap berdiri di situ, aku menggengam dengan erat belatiku. Rasa takut mulai muncul di dalam dirinya.
“Kau akan mati! Habisi dia!” perintah pria itu, dan sekumpulan orang berbadan besar itu mulai menghampiriku dan pria itu berbalik arah. Setelah itu, para pria itu dengan senyuman sinisnya melihatku dengan rasa percaya diri yang besar. Hingga salah seorang mendekatiku dan mengayunkan pisau besarnya ke arahku, dan dengan sigap aku menangkisnya dengan belatiku
“Kau berhadapan dengan orang yang salah kawan.” Ucapku dengan sebuah senyuman, lalu aku mulai menghabisinya dengan sekali ayunan. Yang lainnya hanya dapat melihatku dengan rasa takut bercampur dengan amarah. Hingga beberapa dari mereka mulai mengayunkan senjatanya ke arahku, tetapi dengan instingku yang tajam serta kemampuanku aku dapat menangkisnya dan sekaligus menghabisi mereka secara beruntun.

Cipratan darah mengenai bajuku dan wajahku. Pria itu tertegun melihat kemampuanku, lalu ia menyuruh semua anak buahnya menghabisiku, dan mereka mulai berlari dan menghajarku. Tetapi, aku tetap dapat mengalahkan mereka meski sempat terkena beberapa kali. Hal itu tidak menyurutkan semangat dan tekadku untuk menghabisi orang yang telah membunuh temanku. Hingga akhirnya tersisa satu orang pria yang berdiri di samping pria itu. Dari perawakannya ia adalah pembunuh bayaran yang profesional, dan kemampuannya jauh diatasku. Rasa ciut mulai mencuat, dan rasanya aku seperti kehilangan harapan. Akan tetapi, aku merasakan ada seseorang yang memegangku. Aku tak bisa melihatnya tetapi, ia berbisik kepadaku
“Kau jangan khawatir, aku akan bersamamu. Kau hanya perlu percaya pada dirimu sendiri. Kekuatan seseorang tidak diukur dari seberapa hebat dirinya. Tetapi, kekuatan diukur oleh seberapa besar keinginan seseorang untuk mencapai hal itu. Kau tak bisa melihatku, tetapi aku bisa melihatmu dan aku bangga kepadamu. Tarik nafas panjang dan fokuskan kepada apa yang akan kau lakukan. Aku akan membantumu meski kau tak bisa melihatku” bisiknya. Dari suaranya aku dapat mengenalinya.
“Adi?!” Batinku.

Kemudian aku menarik nafas panjang, memejamkan mataku, dan untuk sesaat aku dapat merasakan kehadiran Adi bersamaku, berdiri di sampingku dan aku mulai membuang nafasku, lalu membuka mataku dan aku memfokuskan diriku pada pembunuh itu.
“Demi kau di! Demi kau akan kubalas dendammu!” batinku dan pembunuh itu datang menghampiriku, mengeluarkan sebuah pistol dan menempelkannya di dahiku.
“Adakah kata-kata terakhir, sebelum kau mati?” Tanyanya, dan aku hanya membalasnya dengan sebuah senyuman
“Ulciscere solveretur. Dendam harus dibayar” balasku dan saat ia hendak menarik pelatuknya. Aku memjamkan mataku dan aku bisa mendengar suara peluru yang hendak meluncur, dengan sigap aku langsung bergeser ke arah kiri dan pelurunya mengenai pintu gudang. Lalu pria itu kembali melancarkan tembakan ke arahku, dua, tiga kali tembakan aku dapat menghindarinya. Tetapi, saat tembakan keempat, tembakannya mengenai paha kiriku dan aku mulai terjatuh sembari meringis kesakitan. Aku dapat melihat pria itu mulai tersenyum, dan pembunuh itu mulai mendekatiku. Aku pun berdiri dengan sekuat tenaga, menaruh belati di sampingku dan mengeluarkan pistolku, aku sekuat tenaga menembak ke arahnya dan ia berhasil menghindari semua tembakanku.

Aku mulai kehabisan tenaga dan darah terus bercururan keluar. Ia mulai melesatkan tembakan ke arahku dan tepat mengenai bahu kiriku sehingga pistolku jatuh, aku berlari ke sebuah tiang dan bersandar di belakangnya. Pembunuh itu semakin mendekat, dan aku sudah tak punya tenaga lagi

“Sekarang siapa yang berkuasa?!” sahut pria itu, dan aku mulai meragukan diriku sendiri, aku melihat belati itu di sarungnya yang menyangkut di pinggangku. Aku menatapi belati itu dan mengeluarkannya. Setelah itu aku memegangnya dengan kedua tanganku sembari menutup mata dan berharap kali ini aku dapat mengalahkannya, aku dapat merasakan tangan Adi memegang kedua tanganku dan aku dapat melihatnya tersenyum kepadaku
“Percayalah pada belati ini. Percaya pada dirimu sendiri” ucapnya tanpa suara.

Lalu aku membuka mataku, langkahnya semakin dekat dan aku keluar dari persembunyianku saat ia menembakkan senjatanya ke arahku. Pelurunya seakan-akan berjalan lambat, dan pada saat itu juga aku dapat menangkis peluru itu dengan belatiku. Pria itu serta si pembunuh terkejut bukan main.
Disaat bersamaan aku mulai mengangkat belatiku dan mengarahkannya ke jantung si pembunuh, begitu juga dengannya yang mengarahkan pistolnya ke arahku. Saat ia akan menarik pelatuknya dan aku hendak melempar belati itu, waktu berjalan sangat lambat benar-benar lambat. Hingga saat ia menarik pelatuknya dan peluru itu meluncur, disaat bersamaan aku melempar belatiku dan membiarkannya meluncur, aku mulai menghindar wajah serta tubuhku ke sisi berlawanan dan aku masih bisa melirik dirinya yang masih berdiri di tempatnya. Tak lama aku mendengar suara rintihan seseorang, dan saat aku sudah berdiri di sisi yang berlawanan. Aku melihat belatiku sudah tertancap di dadanya

Rasa terkejut dan bahagia menyatu saat pembunuh itu terjatuh dengan sebuah belati tertancap di dadanya. Aku pun berjalan kearah pembunuh itu dan mengambil belatiku, setelah itu aku berjalan mengambil pistolku yang terjatuh, dan berjalan ke arah pria itu. Rasa takut semakin dapat kurasakan. Ia tak bisa bergerak ke mana-mana, dan hingga akhirnya aku berdiri di hadapannya dengan menodongkan pistolku ke arahnya.

“Jadi, sekarang.. hanya tinggal kau dan aku. Ada kata-kata terakhir?” tanyaku. Pria itu hanya bisa merintih ketakutkan
“Aku minta maaf apa atas yang aku lakukan kepada temanmu. Aku tak bermaksud membunuhnya. Hanya saja ia hendak menghabisiku dan dengan cepat aku langsung menusuknya. Jangan bunuh aku!” pintanya
“Terlambat! Kau tak akan bisa membuat Adi hidup kembali!” Saat aku hendak menarik pelatuknya pria itu memejamkan matanya dengan pasrah dan aku langsung mengarahkannya ke atas langit-langit gudang. Seketika itu juga aku langsung menghujam jantungnya dengan belatiku, dan saat ia membuka matanya, seketika ada rasa lega tetapi saat ia melihat ke bawah ia melihat belatiku sudah tertancap di jantungnya,
“Aaapa yang ka-ka-kau lakukan?” tanyanya diiringi rintihan
“Membalas dengan cara yang sama” balasku dan ia langsung terjatuh, tak sadarkan diri.

Pada akhirnya aku mengambil belatiku dan mengembalikannya ke sarungnya. Setelah itu, aku mengambil foto Adi dan menaruhnya di dadanya.
Aku berbalik arah dan aku melihat ada beberapa bom di sekeliling gudang itu. Aku pun menghampiri box-box yang berisi bom dan menyulutnya dengan sebuah korek di saku jacketku lalu membuang korek itu, dan aku pergi keluar dari gudang itu dengan penuh luka dan darah.

Tak lama berselang setelah aku pergi dari gudang itu, aku mendengar ledakan-ledakan dan melihat gudang itu terbakar bersama para mayat-mayat yang berada di sana. Aku hanya bisa menghela nafas panjang dan berkata
“Akhirnya, dendam itu lunas”

Lalu aku pergi menjauh dan mencari pertolongan. Meski hanya seorang diri, aku dapat mengalahkan sekumpulan orang-orang yang telah melukai orang yang kusayangi.

Cerpen Karangan: Frian Amran
Facebook: wattpad.com/frianzz
Anomali, Idiotically Awesome, Manusia Abstrak yang senang dengan anti-mainstream

Cerpen Pelampiasan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Me Is The Next Commando (Part 2)

Oleh:
Aku tak menghiraukan perkataan teman temanku itu, terserah mereka suka sama siapa batinku, aku tak bisa berdusta kalau aku benar benar deg degan, mengingat menjadi kapten commando bukan hal

The Flower of War (Part 1)

Oleh:
Senin, 10 Oktober 2017 Hari pertama di minggu ini diawali Rena dengan berantakan. Betapa tidak, bangun kesiangan, belum mengerjakan PR, setrika baju, menjadwal mapel hari ini, dan segudang kegiatan

Dunia Di Bawah Tanda (Part 3)

Oleh:
Hujan masih turun sama seperti tadi, tidak ada tanda-tanda mau berhenti Bumbu yang dibuat ardi telah siap dan dani kini sedang mengoleskan bumbu itu ke badan burung yang ia

Incredible People

Oleh:
Aku masuk sekolah Kuasa. Aku mencari bangku nomor 162, dan ternyata di sana sudah banyak orang. Aku akan ujian sekolah ini yang dimana taruhannya nyawa. mati atau lulus, itu

Dendam Siluman Tikus (Part 1)

Oleh:
Ketika aku sedang asyik menyantap sepotong roti keju buatan ibu sambil membaca buku favoritku, kisah seorang detektif yang berusaha memecahkan kasus pembunuhan ruang tertutup, seekor tikus kecil menjijikkan tidak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *