Pelarian Seorang Penembak (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 4 June 2016

PUKUL 01.30 WIB. Tanpa banyak bicara, aku segera turun dari mobil ketika Malcolm memarkirkannya di lapangan Beji, Boyolangu. Tepatnya berjarak tujuh ratus meter dari markas NNN Comunity-sebuah basecamp Simon Setiadi. Dalam diam kami berjalan kaki melewati jalan setapak, yang kanan-kirinya diapit oleh persawahan padi, ke rumah besar yang jauh dari pemukiman warga itu. Tepat di depan rumah itu ada sebuah rumah yang, menurut perkiraanku, digunakan untuk tempat warung kopi. Ukuran cukup besar, dengan meja-meja dan bangku yang berjajar rapi. Malcolm menyentuh gerbang depan dengan sangat hati-hati. Digembok dari dalam. Samar-samar, kami mendengar suara pemuda-pemuda yang tertawa di dalam. Kelihatannya mereka sedang bermain kartu. Di teras, terdapat sepuluh motor gede yang diparkir secara menyilang. Bisa jadi seluruh anggota itu telah pulang dari rumah sakit. Menurut informasi yang telah kudapat dari Internet, NNN Comunity bukanlah perkumpulan begal atau orang-orang kriminal. Itu sebabnya para tetangga tak pernah mencurigai aktivitas di rumah itu.
APA YANG MENONJOL DARI NNN, ADALAH KEBERSAMAANNYA DAN BUKAN KEONARANNYA: SUATU MALAM RUMAH ITU PERNAH DIDATANGI SEJUMLAH POLISI, begitulah salah satu bunyi komentar seseorang, dengan huruf kapital, di WordPress. Singkatnya, mereka menggerebek rumah itu. Semua anggota digeledah. Termasuk Simon Setiadi sendiri.
Komentar itu ditutup dengan sebuah pernyataan: KARENA TIDAK MENDAPATI SESUATU YANG MENCURIGAKAN, PARA POLISI ITU AKHIRNYA PERGI, HINGGA KINI MEREKA TAK LAGI MENGUSIK PERKUMPULAN ITU LAGI.

Kami bergegas kembali ke lapangan untuk memikiran rencana selanjutnya. Kami duduk lesehan di rumput. Dengan punggung menyandar pada ban mobil, Malcolm berkata, “Tolong buka Google Map, buka peta Kabupaten Tulungagung, desa Beji, dan perbesar sampai mentok area rumah itu,”
Tak membutuhkan waktu yang lama untuk mencarinya. Segera setelah mendapatkan lokasinya, aku mendekatkan ponselku ke arah Malcolm.
“Masih tak begitu jelas, tapi berguna juga,” kata Malcolm, ”Di belakang rumah besar itu ada tegalan milik seseorang -lihat lahan hijau itu-dibatasi dengan sesuatu berwarna putih yang merupakan tembok. Markas itu ternyata besar juga, bagian belakangnya luas dan tidak dipasang genteng, mungkin fiberglass lebar dan melengkung panjang berwarna biru. Rumah itu jauh dari pemukiman warga. Kita nanti masuk lewat samping kiri rumah.”
“Ini akan sia-sia, kalau Simon tak ada di markasnya, bukan? Mungkin saja Simon ada di rumahnya sendiri.”
“Bisa dibilang begitu. Tapi tak ada salahnya kita masuk. Lewat belakang. Mungkin gadis itu sekarang disekap di rumah itu, atau mungkin sudah dibunuh.”
“Kau nanti yang akan menunggu di luar tembok belakang dan aku yang akan masuk.”
“Di mobil, ada Remington R51, biar aku ambilkan.”
“Aku berjanji akan menembak punggung Simon,” kataku mengakhiri pembicaraan.

Suasana benar-benar sunyi. Bahkan jangkrik-jangkrik pun sudah tak berani menyuarakan diri lagi. Dari saku celana, aku merogoh kain masker hitam, lalu melipatnya membentuk segitiga, dan memasangnya dengan mengikat erat tepat ke wajah bagian bawah-menutupi hidung dan mulut. Pelan-pelan kami bergegas kembali ke rumah itu. Seluruh bagian atas tembok samping dipasangi pecahan kaca, dengan beberapa besi tebal menjulang kira-kira empat puluh sentimeter ke atas untuk menopang atap fiberglass tadi. Apa yang paling menakutkan adalah pecahan-pecahan kaca. Mengkilat-kilat seolah menantang siapa saja yang memandang. Untungnya, ada pecahan kaca yang sudah rapuh dan sebagian hilang-meski hanya sepanjang delapan inchi. Dengan bantuan pundak temanku, aku memanjat tembok setinggi tiga setengah meter itu. Setelah aku benar-benar merasa yakin, aku baru meloncat dan, dengan kedua tangan berpegangan erat pada tembok yang menyisakan ruang delapan inchi itu, segera menaikkan kaki kanan secepat mungkin dan melompat turun ke dalam halaman belakang. Di halaman belakang itu sendiri, selain dibangun sebuah toilet kecil, juga merupakan tempat cukup luas, dengan penerangan neon terang, untuk menaruh berbagai macam berkakas; beberapa motor usang dan velg-velg bersandar di tembok, empat buah kerangka sepeda BMX diletakan secara terbalik, tiga buah meja kayu jati besar berikut kursi-kursinya bertebaran. Sesaat aku mendengarkan, sebelum bergerak lagi ke pintu masuk menuju ruang tengah. Sunyi. Dengan kepala tertutup kerudung jaket hitam, aku menghampiri pintu masuk dan memutar handle-nya sepelan mungkin. Mengetahui pintu terkunci dari dalam, cepat-cepat aku bersembunyi ke kolong meja. Sambil menunggu, aku memberikan informasi tentang situasiku pada Malcolm lewat sms. Ternyata dia bersembunyi di bawah rimbunan pohon pisang di barat jalan. Dua puluh menit adalah waktu yang sangat panjang bagi seorang penunggu. Tetapi, itu seimbang dengan apa yang kuharapkan, ketika hal yang ditunggu-tunggu pun datang. Pintu terbuka. Tak seperti penerangan di luar, cahaya lampu di ruang dalam justru meremang kekuning-kuningan. Seorang berkaos polo merah dengan tergesa-gesa menghambur ke toilet. Dengan cepat dan merunduk, aku menyerbu masuk ke dalam, lalu menaiki tangga atas, dan menyembunyikan diri di bawah meja. Ruangan masih agak gelap. Di lantai atas, terdapat tiga kamar yang letaknya berjauhan. Dengan badan tetap merunduk, tanganku menjangkau handle pintu pertama, lalu memutarnya pelan-pelan dan masuk. Kosong. Setelah menutupnya kembali, aku menghampiri pintu kedua dan membukanya. Tak ada apa-apa. Remington R51 masih berada di saku kanan. Kali ini sambil mengacungkan pistol itu, aku membuka pintu ketiga. Gelap. Hanya kegelapan yang bisa membawa kejutan.

“Maaf, Mon, aku tadi tertidur. Tapi perintahmu tetap kupatuhi. Gadis ini sama sekali tak kusentuh, tetap terikat di atas kursi,” ujar sebuah suara serak pria khas seorang peminum, yang perlahan bergerak untuk menyalakan lampu.
Ketika lampu menyala, tanpa ragu-ragu lagi, aku langsung mengarahkan pistolku ke wajahnya, dengan jarak tiga meter. Memakai kaos band metal hitam, dia berdiri tercengang. Dengan wajah takut dan cemas, dia mengangkat tangan, memperlihatkan otot lengannya yang kekar.
“Berani bicara, kutembak kepalamu, lepaskan talinya,” seruku pelan, sambil menunjuk kursi itu dengan kaki kiri terangkat.
Tanpa bicara ia menghampiri kursi itu.
“Tali tambang,” katanya, “terlalu sulit dibuka tanpa pisau.”
“Di mana pisaunya?”
“Di saku celana, boleh kuambil?”
“Berikan padaku.”
Dia mengambil pisau lipat dari saku dan memberikannya padaku. Entah jenis apa. Sementara tangan kiriku menodongkan pistol, aku memotong cepat tali tambangnya dengan tangan kanan. Segera setelah tali terputus, kulemparkan pisau ke sudut terjauh, hingga suara berdebum pisau membuat perempuan itu membuka mata. Lakban di mulutnya membuatnya bungkam. Matanya yang bening memancarkan ketakutan.
“Lepaskan gadis itu,” seruku.

Setelah semua tali terlepas, dan perempuan itu berdiri, baru aku bergegas membuka lakban dengan cepat yang menempel di mulutnya. Mengenakan jilbab modern berwarna ungu, wajah parempuan itu berbentuk bundar, dengan kedua pipi yang gemuk. Sepucuk Remington kuserahkan pada gadis itu, lalu kusuruh dia untuk menodongkannya ke kepala pria tadi. Dengan cepat aku memaksa pria itu untuk duduk di kursi, lalu mengikatnya dengan simpul-simpul mati. Seraya turun ke tangga bawah, aku mengambil pistolku kembali, lalu memberikan pisau lipatku pada perempuan itu, dan menyuruhnya untuk berjalan mundur mengikuti punggungku. Pelan-pelan aku bergerak ke ruang depan. Di ruang tamu, ada percakapan -atau diskusi- yang meriah. Simon duduk di tengah, dikelilingi oleh teman-temannya. Ada yang terus-terusan mengepulkan asap rokok. Ada yang sesekali menenggak bir. Ada yang bermain kartu dan catur.
Seorang bersuara besar dan tidak jelas berkata, “Apa yang akan kau lakukan terhadapnya, Sim?”
“Bunuh, Sim, lalu kuburkan, selesai,” ujar seorang bersuara kecil tapi bersemangat.
“Jika kau ikuti saran Dani itu, Sim, aku yakin kau akan terus-terusan dikejar bayangan atau hantunya. Menjelma pocong atau kuntilanak, di tengah malam, lalu berkata ‘Hallo, Simon, masihkah kau ingat aku? Akulah perempuan yang kaubunuh dulu, dan, sekarang giliranmu mati, untuk benar-benar mati, hihihi,’” timpal sebuah suara serak, lalu diikuti oleh derai tawa panjang teman-temannya.
Simon menyulut rokoknya lalu membalas, “Aku punya rencana sendiri. Tak ada sesuatu yang paling menggagalkan rencanaku kecuali kedua orang mata-mata suruhan Lapas. Berpencarlah sekarang, ini serius. Hey, Pandu, Agustinus, berhentilah main catur atau akan aku obrak-abrik bidak-bidak itu. Berpencar. Jangan ragu untuk menembak,“
Mereka semua berpencar. Aku bergegas naik ke lantai atas, dengan menggandeng tangan gadis itu, lalu memasuki kamar pertama, dan melompat dari jendela ke genteng yang menaungi taman depan. Sejenak aku memandang rekanku. Tepat ketika aku jatuh di rerumputan, tangan gadis itu tiba-tiba ditarik masuk kembali dengan cepat oleh seseorang. Orang berkaos band metal.

Aku bersembunyi di balik sebuat pot keramik besar. Dua menit kemudian, tiba-tiba gerbang membuka. Pelan-pelan. Seorang berbadan tegap, berpakaian serba hitam, muncul dan membuka pintu depan. Sesaat dia berhenti. Lalu dia menembaki sekeliling dinding ruang tamu dengan cepat. Tak lama kemudian, satu tembakan balasan berhasil melumpuhkan kaki kirinya. Ketika dia hendak bersembunyi, satu peluru melayang dan bersarang di bahu kanannya. Sekarang, dia ambruk di lantai. Tak berdaya. Didampingi oleh seorang berpakaian jas hitam, Simon Setiadi muncul. Dia menatap sinis ke arah orang yang ambruk itu-yang tak lain dan tak bukan merupakan Rudi Henry sendiri.
“Lihat adikmu,” ujar Simon pelan-sambil berjalan tertatih-tatih. Bekas tembakan dari Malcolm.
Rudi menoleh ke arah adiknya. “Jika kalian menembaknya, aku bersumpah suatu saat aku akan menghabisi nyawa kalian semua.”
Simon tertawa. Mereka tertawa. Perempuan itu diikat di atas kursi, bertemankan cahaya target pistol berwarna merah yang jatuh di wajahnya.
“Dia dan kau akan bebas, jika kau menadatangani ini,” lanjut Simon.
Seolah tahu apa yang Rudi pikirkan, sembari meletakkan sebuah pulpen di dekat wajah musuhnya yang terlentang, Simon menambahkan, “Semacam surat perjanjian. Kalau kau ungkit kematian temanmu lagi, semua akan hancur, berantakan, sia-sia,”
Rudi Henry memandang lawan bicaranya tajam dan dalam-dalam. Lalu dengan cepat dia menyambar pulpen itu. Dia hanya tak tega melihat seraut wajah itu. Wajah perempuan yang ketakutan.
“Lepaskan gadis itu,” ujar Simon pada para anak buahnya.
Perempuan itu menghambur ke arah kakaknya dan menangis terisak-isak. Seorang dari mereka tiba-tiba mengangkat Rudi dan memasukannya ke sebuah mobil. Adiknya segera menyusul masuk-sebelum akhirnya mobil itu menghilang di telan malam. Sekarang tibalah sebuah pertentangan batin dalam diriku. Jika aku hanya diam saja, dan tidak menembak punggung Simon, berarti aku akan jadi seorang pengecut. Setidaknya pengecut bagi diri sendiri-seorang laki-laki yang gagal menepati janji. Maka dengan hati-hati aku mengarahkan pistolku pada punggung itu. Aku bersumpah tidak akan membidikannya sebelum benar-benar merasa yakin. Dalam hitungan detik, peluru itu menusuk ke punggung itu-meski agak meleset sedikit ke punggung bagian bawah. Untuk melarikan diri, bagiku, tidaklah sulit. Dengan cepat aku memanjat pagar besi dan berlari sekencang mungkin ke lapangan. Dini hari itu pemandangan sangat mengguncangkan. Seorang Malcolm terlentang tak berdaya di rerumputan.

DI DALAM KAMAR FLAMBOYAN RUMAH SAKIT, Malcolm menceritakan apa yang telah menimpanya. Ketika dia sedang bersembunyi di rerimbunan pohon pisang, tiba-tiba Rudi Henri datang dan mengancamnya dari belakang. Mengejutkan seperti hantu, Malcolm lalu berlari secepat mungkin ke lapangan-tetap diikuti oleh pengejarnya. Di sana, mereka berkelahi dengan sengit. Malcolm sempat memukul mulut Rudi dengan knuckle-nya. Tetapi, Malcolm sendiri mendapatkan beberapa pukulan di pelipis kanannya-sebelum akhirnya sebuah tendangan keras mengarah ke perutnya, hingga dunianya jadi hitam.
Keesokan harinya, aku membawanya pulang dari rumah sakit. Kami tidak tahu bagaimana kejadian selanjutnya. Inspektur Jeffrey sering menjenguknya-sambil sesekali membawakannya buah-buahan. Malam itu ketika kami sedang menyeruput kopi, Malcolm mendapatkan sebuah pesan dari Inspektur itu. Dia berkata bahwa markas besar NNN baru saja dilalap oleh si jago merah. Api mengamuk sangat buas. Dua puluh anggota NNN tewas. Tidak termasuk Simon. Kata Inspektur, tepat sebelum Magrib seorang petani telah melihat kehadiran seorang bertubuh jangkung. Dia sempat mengitari rumah itu, sebelum akhirnya menghilang entah ke mana. Dia, kata petani tersebut, berperawakan sedang dan jangkung, berambut cepak, dan memelihara cambang hitam yang lebat. Seraut wajah Rudi dikabarkan akan disebarkan di koran dan ditempelkan di dinding-dinding baik di perkotaan maupun di perdesaan.
“Itu,” ujar Malcolm pelan menghayati, ”benar-benar gambaran dari seorang pembunuh yang liar. Aku mengakuinya.”

Tiga hari kemudian, dari layar televisi yang memperlihatkan sebuah bandara, Changi Airport Singapura, aku melihat sebuah berita yang menggembirakan. Dengan huruf kapital, judul itu ditampilkan dalam tayangan informasi ter-update. Seorang keturunan Tionghoa ditangkap di bandara dengan tuduhan penculikan seorang perempuan.

Arif Syahertian
2016 – 03-03-2016
Tulungagung, Jawa Timur.

Cerpen Karangan: Arif Syahertian
Blog / Facebook: www.syahertian.wordpress.com / Arif Syahertian

Cerpen Pelarian Seorang Penembak (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Devil

Oleh:
“Anak manja” “Anak pungut” “Anak gak tau diri” “Anak gak tau terima kasih” — “Gimana Rin? Udah dikubur?” Ucap Rey dengan berbisik. “Beres Rey” Rinai adalah anak yang ramah.

Knock Knock

Oleh:
Ini merupakan malam yang amat mengerikan bagi Michael dan yang lain. Mereka terpaksa terkurung di rumah dengan Edward, psikopat yang mengincar nyawa mereka. Derap langkah kaki terdengar. Rinto membungkam

Dendam Seorang Anak

Oleh:
Byurrr!!! Segayung air yang entah dari mana berhasil membasahi tubuh Pak Ferdi dan istrinya yang tak sadarkan diri. Kedua mata mereka perlahan-lahan terbuka. Betapa terkejutnya mereka ketika melihat diri

Dunia Dalam Tengkorak (Part 2)

Oleh:
“Oh kau belum mendengar hal terburuknya. Hidup ratusan tahun dalam dunia penuh pengetahuan ini adalah luar biasa, aku menikmati kesunyian dan ketenangan tanpa rasa kesepian. Tapi hal terburuk terjadi

Elektrovalensi Jiwa

Oleh:
Sore itu, di atap gedung Sekolah menengah atas, dua orang remaja yang tak saling mengenal berdiri menatap satu sama lain. “Ada urusan apa?” Tanya Kevin dengan nada dingin disertai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Pelarian Seorang Penembak (Part 2)”

  1. Linggom Nababan says:

    kapan pelarian seorang penembak 3 akan di publish?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *