Perang Hutan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 16 October 2021

Aku dengan pasukanku tiba di suatu kota yang cukup sepi karena memang saat itu sedang berlaku Darurat Militer. Kendaraan tempur yang kami kendarai terpaksa berhenti karena untuk melanjutkan perjalanan harus menggunakan kendaraan khusus.
Aju berfikir akan menaiki kendaraan yang cukup safety tetapi kenyataan untuk mengangkut kami hanya disiapkan kendaraan jeep dengan bak terbuka yang menurut pemikiranku hanya muat untuk empat orang saja.

“Kita akan lanjut dengan mobil ini?”, tanyaku kepada petugas yang menjemput kami.
“Siap, Letnan, hanya kendaraan ini yang mampu sampai lokasi” jelasnya.
“Hanya empat unit ini kah?” tanyaku dengan sedikit keraguan.
“Siap, benar, hanya disiapkan empat unit untuk satu pleton”, katanya.

Akupun mulai mengatur anggotaku, mobil pertama dan yang paling belakang aku pasang senjata otomatis sedangkan dua mobil yang ditengah aku pasang senjata mortir. Untuk pasukan terpaksa setiap unit 9 orang. Ini bukan hanya over loading tetapi setengah tidak masuk akal alias kegiatan gila. Tetapi karena terpaksa harus dilakukan.

Aku briefing dengan anggotaku “Mobil pertama dipimpin oleh Danru tercakap dan mobil terakhir pimpinan Baton” Perintahku kepada Baton yaitu wakilku dalam organisasi Pleton itu.
“Tiap Regu satu unit mobil, amankan segala sisi medan, jaga jarak untuk ruang gerak, jika mobil pertama mendapat tembakan, mobil kedua tembakan mortir, jika mobil belakang kena tembak, mobil ketiga tembak dengan mortir, amankan kepala kalian masing-masing agar kita tidak dikubur di sini”, aku menjelaskan strategi perjalanan tersebut.

Setelah berdoa, kami pun berangkat. Tidak lebih dari lima kilometer kami menikmati perjalanan diatas aspal selanjutnya menempuh jalan berbatu yang tidak sejengkalpun rata. Naik mobil serasa naik kapal di ombak yang besar.
Bagiku tidaklah asing jalan seperti itu karena di kampungku juga tidak jauh beda jalan yang tidak dapat dikategorikan layak.

Sepanjang jalan yang terlihat hanyalah hutan, tebing dan jurang. Dalam batinku, tidak perlu granat untuk menjatuhkan kami, cukup dengan lempar batu saja, pasti tewas kami ke jurang itu.
Tidak berhenti aku berzikir dan percaya hanya Tuhan yang menentukan takdir, menguatkan hatiku dalam ketakutan.

Tiba-tiba mobil pertama berhenti, akupun perintahkan anggota untuk amankan.
“Amankan sektor masing-masing, waspadai pergerakan!” perintahku kepada mereka. Spontan anggotaku tiarap diberbagai perlindungan.
Akupun merapat ke mobil pertama menghampiri Danru yang di depan “Ada apa?”, tanyaku.
“Di depan ada sungai dan tidak ada jembatan, mobil akan menyeberang”, jelasnya kepadaku.

Aku kokang pistolku dan aku acungkan ke supir, aku berfikir kami disabotase. Supir adalah penduduk lokal yang aku tidak percaya sepenuhnya berpihak kepada kami.
“Kamu yang benar aja, kenapa lewat sini, kamu mau bunuh kami semua!” aku berteriak sambil menodongkan pistol ke kepalanya.
Spontan supir itu gemetar dan menjawab “tidak, Pak, satu-satunya jalan yang bisa kita lewati hanya jalan ini” jelasnya.

Walau telah mendapat penjelasan, aku tidak mudah percaya, aku perintahkan anggotaku untuk berenang menyebarangi sungai itu terlebih dahulu. Lebih baik aku mati tertembak dari pada dihanyutkan oleh seorang supir yang belum aku kenal ini.

Setelah satu regu menyeberang dan memberi aku isyarat situasi aman, tiba-tiba sebuah mobil dari seberang melintas sungai itu. Aku amati jalur jalannya.
“Pak Supir, saya yang akan kemudikan mobil ini, kamu tuntun saja jalurnya” kataku, karena ku tidak mau nyawaku bergantung di tangan dia.

Tidak sulit bagiku mengemudi mobil menyeberang sungai tanpa jembatan. “Bapak ahli juga mengemudi di sungai”, pujinya kepadaku.
“Sebelum jadi tentara saya supir di pelosok juga Pak”, jawabku. Padahal ini adalah kegiatan hobiku offroad di medan ekstrim.

Kami pun berhasil menyeberang dengan selamat dan ternyata tidak sekali itu kami menyeberang seperti itu. Perjalanan berlanjut, memang diinformasikan sebelumnya perjalanan kami akan memakan waktu dua hari.
Hari mulai gelap dan tidak mungkin kami melanjutkan perjalanan. Mobil depan berhenti, Danru yang di depan melaporkan bahwa kami sudah sampai di titik istirahat, Supir menyarankan untuk bermalam.

“Kita mundur satu kilo ke belakang, saya yang menentukan tempat istirahat bukan supir”, perintahku kepada Danru itu karena memang aku tidak mau diatur orang lain. Kekuatiran akan sabotase masih menyelimuti pikiranku.
Aku selalu doktrin anggotaku “Hanya Tuhan yang dapat kita percaya 100 %, sisanya jangan pernah kalian percayai sepenuhnya apalagi orang yang baru dikenal, jangan pertaruhkan nyawamu kepada orang yang tidak kamu kenal”.

Setelah dilokasi yang aku tentukan, mobil kami sembunyikan di pinggir jalan sehingga tidak ada yang mengetahui kami beristirahat di lokasi tersebut.

“Door, door, door,..” suara tembakan terdengar jarak satu kilometer dari tempat kami istirahat.
“Jangan menembak, amankan kepala kalian, amati perubahan” perintahku kepada anggotaku untuk tidak memberi perlawanan karena memang musuh tidak dapat terlihat. Dan pantangan bagiku menembak tanpa sasaran.
Aku melihat para supir tertidur lelap, mungkin karena kelelahan dan salah seorang terbangun. “Apakah biasanya kontak tembak terjadi pada malam hari?”, tanyaku kepada supir penduduk lokal tersebut.
“Iya, Pak, sewaktu-waktu terjadi tembakan sejak keadaan darurat ini” jelasnya kepadaku.

Malam itu kami berjaga dengan ketat, aku mulai curiga kepada para supir itu, mungkin saja tembakan tadi dari lokasi yang ia tunjuk tempat istirahat, berarti kami digiring ke lokasi pembantaian.
“Byaaarrrr” sebuah granat meledak dekat dengan tempat istirahat kami, otomatis kami mencari perlindungan masing-masing.
“Danru, Lapor Situasi” aku berteriak meminta laporan dari para Danruku.
“Enam Dua Ratus Nanas Meledak” Danru tiga berteriak melaporkan bahwa ada granat meledak arah jam enam jarak dua ratus meter.
“Cek Personel!” aku kembali teriak untuk minta laporan tentang anggotaku. Bergantian para Danru melaporkan anggotaku seluruhnya aman dan tidak ada yang terluka.
“Satu Supir Merah” Baton melaporkan ada satu orang supir tewas kena ledakan.
Spontan aku berteriak “Kepung, Tawan”, seluruh anggotaku mengepung para supir karena aku curiga kami sedang disabotase.

Kecurigaanku terbukti, salah seorang dari mereka mengeluarkan granat yang siap meledak, kami diminta lucuti senjata atau sama-sama tewas.
Dilema mengambil keputusan, bila aku tembak, granat akan meledak semua akan tewas, kalau tidak ditembak pasukanku akan dilucuti dan kami yang akan tewas.

Belum sempat aku mengeluarkan perintah, tiga orang anggotaku berteriak “Tiarap”, seluruhnya tiarap menyematkan diri, tiga orang tersebut menubruk ketiga supir dan granat meledak di badan supir itu.
Ketiga supir itu tewas kena pecahan granat dan tiga orang anggotaku hanya terluka karena mereka mengenakan rompi anti peluru.

Aku melaporkan ke Komandanku dan meminta tiga orang anggota penyelamat tersebut dievakuasi, mereka terluka kena serpihan granat.
Malam itu juga tiga orang anggotaku dievakuasi dan mayat empat orang supir penduduk lokal tersebut aku serahkan kepada pasukan evakuasi.

Cerpen Karangan: Riyandi Mallay

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 16 Oktober 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Perang Hutan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Paris

Oleh:
Kelopak-kelopak tangis masih erat memeluk bersama mimpi buruk yang sama sekali tak diharapkan. Sosok hitam samar-samar dibalut kabut, tinggi perkasa menjulang langit. Menara Eifell laksana nyonya besar. Tegak kekar.

Untukmu 120 Tahun lagi (Part 1)

Oleh:
Indonesia, 18 September 2137 Untukmu, para generasi yang lalu, Gelap, semuanya gelap. Negara Indonesia, negeri yang damai dan makmur, sekarang mungkin hanya tinggal kenangan. Selimut kesuraman menyelimuti Negara tersebut.

Cinta Atau Negara

Oleh:
Aku adalah Letnan Wili. Aku adalah seorang mata-mata. Sejak umur enam tahun aku mulai menyukai hal-hal yang bersifat militer. Aku memang berbeda dari anak-anak lainnya. Di mana yang lain

Invasi Kiamat

Oleh:
Aku memandang pemuda yang sedang sibuk dengan layar notebook miliknya itu. Sesekali ia mulai menyeruput whitecoffee yang terletak tak jauh dari tangan kirinya. “Laporanmu sudah selesai?” tanyanya yang melihatku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *