Suamiku Palsu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 23 February 2018

“Eni..!! cukup!! Tak sepantasnya kamu mengucapkan semua itu pada ayahmu!!” bentak mira pada anaknya dengan nada bergetar. Seperti ada perang batin di hatinya, ia tak tega melihat eni disiksa terus oleh ayah tirinya. Namun di sisi lain, entah kenapa dia juga tak sanggup meluapkan segala emosi pada suaminya.

“Terimakasih sayang… Baiklah, secepatnya aku pasti akan mengurus semua keperluan pernikahan kita.”

Dada mira mendadak sesak, seperti ada sesuatu yang pecah di sana. Terlintas sekelumit bayangan ucapan manis lelaki itu sebelum mereka resmi menjadi suami istri. Entah memang sebuah ketulusan cinta ataukah unsur keterpaksaan, sungguh ia tak pernah peduli. Di benaknya, eni adalah harapan satu-satunya, dia tak boleh jadi korban.

Dia masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang, semuanya bertolak belakang dengan janjinya. Pemandangan di depannya kini menyadarkannya kalau janji itu ternyata palsu.

“Ayah..? Ibu bilang dia ayah?!! Dia bukan ayahku, bu!! Dia tak pantas menjadi ayahku!!” pekik eni penuh penekanan.
“Plakkk!!!” sebuah tangan kasar mendarat di pipi tirus eni hingga terjatuh.
“Diam kau bocah!! Apa kau juga mau aku ikat seperti ibumu? Hah!!” bentak lelaki berbadan kekar itu penuh emosi seraya menjambak ekor kuda eni lalu menariknya paksa.

Kini Eni hanya bisa tertunduk bersimpuh menyender dinding kamar dengan kondisi terikat pada pergelangan tangan dan kaki, serta mulutnya yang terbungkam oleh robekan baju ibunya. Tak terasa deraian air matanya pun langsung mengucur deras hingga jatuh ke bajunya yang tipis nan berantakan.

“Oh tuhan, bantulah aku memisahkan lelaki biadab ini dari ibu.” eni tak tahu lagi harus berbuat apa selain berdoa.

Sampai detik ini, sikap mira yang terus-terusan membela suaminya membuat eni kesal. Bagaimana tidak, sudah jelas-jelas dia itu selalu bersikap kasar pada keluarganya setiap hari, tapi tetap saja tak ada pertanda kalau ibunya juga sebenarnya tak kuat dan ingin keluar dari semua ini.

“Kau sudah terjebak dalam buaian biadabnya, bu.” Bisik eni dalam hati.

Lelaki yang dikenal berperilaku baik -terlihat betapa manisnya hingga melebihi madu saat partama kali mendekati dirinya dan mira- mendadak terang-terangan mulai memperlihatkan keasliannya. Sungguh mira kini benar-benar sudah tertipu olehnya.

“Ccckkk… kenapa di saat semuanya sudah jelas seperti ini ibu masih terus membelanya?” Eni masih tak percaya pada sikap ibunya.

“Sayang, sepertinya aku jadi menjual anakmu lusa kepada kenalanku, kau pasti setuju kan?” bisik lelaki itu pada mira sembari tertawa liar memegang dagunya dan sesekali mengedipkan mata kanannya.

Mira tersentak mendengar ucapan suaminya, Ia hanya bisa mengerang, meronta dan menggelengkan kepalanya mengisyaratkan penolakan.

Tertawa jahat lelaki itu terus menggema sesisi kamar, sebab dirinya benar-benar sukses membuat mira tertipu.
Bukankah dia sudah berjanji kalau aku menuruti apa maunya, eni akan aman dan tak akan pernah jadi dijual?
Ah, sungguh hanyalah rasa sesal yang dirasakanya saat ini. Sia-sia sudah apa yang sudah ia berikan untuk suaminya pasca menikah.

“Kumohon, jangan kau lakukan itu pada eni, ia tak tahu apa-apa, kau boleh meminta apapun dariku asal jangan kau sakiti anakkku.” tak henti-hentinya buliran air matanya itu menitik dari ujung dagunya, ia hanya bisa mengucapkan pembelaanya sampai di ujung kerongkongan saja, sebab mulutnya juga tersumpal seperti eni.

Serasa ada ikatan batin yang mengucap namanya, eni langsung mendongakkan kepalanya. Namun pandangannya kabur, mungkin akibat masih banyaknya genangan air di sana. Cepat-cepat eni mengusap dengan ujung lututnya.

Samar namun masih terlihat, ibunya kini sedang memandanginya, “Bu…” suara eni lirih menggetar kala menatap ibunya yang masih terus diperlakukan semaunya oleh lelaki itu. Segera ia menutup matanya rapat-rapat lantas menunduk seolah tak kuasa melihat adegan di depannya yang tak seharusnya ia lihat.

Mira hanya terdiam pasrah di atas kursinya mengikuti perlakuan suaminya, namun dengan susah payah ia terus mencoba melirik ke arah anaknya. Mulutnya hanya bisa mengerang tak bisa berucap apapun.

Hingga akhirnya lelaki itu menghentikan kesibukanya saat ia merasa puas dan bangga. Kemudian ia berjalan gontai mendekati meja di sebelah pintu kamarnya dan mengambil sesuatu.

Tiba-tiba terdengar lengkingan tawaan kemenangan keluar dari mulutnya yang lebar. Membuat eni dan ibunya bersamaan menoleh penuh tanya. Sebuah handycam kini telah mengerat di tangan. Eni mengerutkan dahi mencoba mencari jawaban atas apa yang dilihat. Namun berbeda dengan mira, matanya spontan membesar melihat tingkah suaminya.

“Jangan-jangan… Oh tuhan, apa lagi yang akan ia lakukan?” tak terasa pipi yang sudah hampir mengering itu langsung membasah kembali terguyur oleh air matanya seraya menunduk pelan dan menggeleng tak percaya akan kenyataan di hadapanya sekarang.

Lelaki itu lantas melangkah mendekati mira dengan masih sesekali melirik video di layar handycam yang masih diputar.

“Lihat sayang, kau begitu cantik bukan, kau menggemaskan juga rupanya, tak rugi aku menikahimu cuma-cuma, kau membuatku puas sayang.” Didekatkan layar handycam ke wajah mira yang terus memalingkan pandangan ke sembarang arah. Suaminya tak ambil diam, dijambaknya rambut mira agar bersedia menatap ke layar handycam, berulang kali ia memaksa, namun gagal. Mira kukuh untuk tidak sudi melihat video itu dengan tetap menutup matanya rapat-rapat. Mungkin Karena ia memang sudah menyadari apa isi di dalamnya. Membayangkannya saja ia merasa jijik, apalagi melihatnya ulang.

Lelaki itu mengangguk cepat, “baiklah sudah saatnya kau menyusul suamimu.” riak di wajahnya tiba-tiba berubah liar dan tawanya pun semakin menjadi. Mungkin mempercapat niatnya sekarang, akan jauh lebih menarik, pikirnya.

Ucapan suaminya membuat mira tergeragap, dan kekagetannya pun berlipat saat kemudian ia mendadak dibopong olehnya namun seketika dilemparkan begitu saja di atas kasur yang tipis.

“Di tempat inilah suamimu meninggal, dan sabentar lagi, kau juga akan menyusulnya.” Senyuman yang makin liar tercetak dari bibir hitamnya, sekilas ia melirik bayangan mira yang nampak pada pisau mengkilat yang sudah tergenggam kuat di tangannya.

“Lihatlah ibumu eni.” ia menengok ke belakang dimana eni terduduk. Seketika matanya membesar dan memutar ke seluruh penjuru kamar.

“Sial, ke mana bocah itu?” helaan nafas kasar keluar dari mulut besarnya.

Mira juga tak menyadari, entah sejak kapan eni berhasil meloloskan diri dari ikatannya tadi. Yang jelas, hanya rasa syukur yang bisa ia ucapkan sekarang dalam hati.

Semoga kau cepat kembali dan membawa bantuan, en.

Kini lelaki itu tak peduli lagi ke mana bocah itu pergi. Yang ada di pikirannya sekarang hanya mira. Ya, mira.

Sebelum aksinya berlanjut, ia menemukan ide piciknya tiba-tiba. Di ambilnya lagi handycam miliknya. Kemudian ia letakkan pada posisi yang lurus ke arah tempat tidur dimana mereka berada. Diaturnya lagi sorotan kameranya hingga merasa sudah pas. Untuk kedua kalinya ia akan merekam perbuatanya.

“Waktunya sudah tiba,” bisiknya lirih namun masih terdengar oleh mira.

Melangkah ia mendekati mira dengan pisau yang masih di tangannya. Entah mengapa saat mira menyadari dirinya sudah diambang kemataian, kesadarannya perlahan hilang. Lelaki itu kembali tertawa puas melihat wanita di depannya kini sudah tak sadarkan diri. Bagus, ternyata menghabisi nyawamu tak sesulit yang aku pikirkan. Diputuskannya ikatan yang menempel di tangan lalu kaki mira satu persatu. Sebentar ia melirik tubuh mira dari rambut hingga ujung kaki, tak ada sehelai benangpun.
Kemuadian segera ia menaiki tubuh mira kasar. Dalam posisinya sekarang ia mencoba mengambil ancang-ancang dengan mengangkat kedua tangan yang terselip pisau di sana.

Dan…

“Bukkk!!!”
Sebuah balok kayu besar secepat kilat menubruk kepala lelaki itu keras hingga ia terlempar jatuh dari tempat tidur.

“Ibu..!!!” teriak eni menghampiri mira.
“Astaghfirullah.. Mira..” sontak seorang lelaki yang datang bersama eni beristighfar kaget saat melihat kondisi mira yang tel*njang. Segera ia menyuruh eni untuk menutupinya dengan seprei. Lalu berhamburan menuju lelaki itu sebelum ia tersadar lalu mengikatnya.

Mira tiba-tiba melongo, menatap lelaki itu dalam-dalam, “hasyim..?”
“Iya mira, akulah hasyim suamimu yang sebenarnya, dia ini habsi kembaranku, seminggu setelah kita menikah aku dijebloskan ke penjara karena kesalahpahaman saja, harusnya dia yang masuk penjara, tapi aku tak cukup bukti untuk meyakinkan polisi, namun sekarang semuanya sudah terungkap, mantan istri habsilah yang menceritakan semuanya sekaligus membebaskanku dari penjara.”

Sejak saat itu, kembalinya hasyim membuat kehidupan mira kembali bahagia. Begitu juga Eni, meskipun ayah tiri, tapi dia sekarang sungguh telah menganggap hasyim sebagai ayah kandungnya.

Cerpen Karangan: Owi Ahmad
Blog: owyachmadz.blogspot.co.id

Cerpen Suamiku Palsu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Laboratorium Sekolah

Oleh:
Angga langsung menghunuskan pedangnya saat Ia mengetahui kalau peluru revolvernya habis. Dengan cekatan, dia langsung mengayunkan pedang itu ke leher para monster menjijikkan dan menebasnya dengan cepat. Tidak berguna,

Death Note

Oleh:
Hidup sungguh tak berguna. Bagiku, hidup tak lebih dari sampah. Kau setuju denganku? Silahkan saja kalau kau memiliki pendapat yang berbeda. Namun aku memiliki alasan kuat, kenapa aku mengutuk

Sekarang Aku Tahu Maksudmu

Oleh:
Jam 21.00. Sudah kesepuluh kalinya aku melihat gadis itu di sini. Di halte bus ini. Ya, gadis semampai, dengan rambut bergelombang pirang itu. Bukan apa-apa sih. Tapi selama sepuluh

Masa Yang Aneh (Part 2)

Oleh:
“Sepertinya di sana ada magab yang berbeda dari yang lain.” Tanya Arga “Iya, dia disebut sebagai pemuntah. Karena dia bisa memuntahkan cairan hitam yang mematikan dan juga bisa meludahinya

Inception

Oleh:
Grek… Grek… Grek… Suara tandu roda yang ku dengar begitu terdengar keras, ku lihat langit-langit seperti berjalan. Orang di sekitar menatapku dengan iba sambil menggiringku ke suatu tempat, salah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Suamiku Palsu”

  1. Dinbel says:

    Kerenssssssss, gooods job untuk pengarang. Di tunggu cerita selanjutnya yaaaa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *