Suci Ariani

Kumpulan cerpen karangan "Suci Ariani" , Total diketemukan sebanyak 6 cerita pendek

Untuk mencari cerita pendek (Cerpen) berdasarkan kata kunci tertentu, Kamu bisa gunakan Kotak pencarian di bawah ini!

Setapak Dulu

Cerpen Kiriman: | Lolos Moderasi Pada: 29 March 2017
Langit masih bersarang mendung, berubah kelam raksasa bak selimut tebal di atas sana. Aku duduk di cafe kecil pinggir jalan. Jendela kaca besar Tampilkan rerintik yang mulai hinggap, dan dimensi khas pandangan luar jendela. — “Cindrella, kau meninggalkan sepatu » Baca lanjutan ceritanya...

Alun Alun Jingga

Cerpen Kiriman: | Lolos Moderasi Pada: 1 February 2017
Aku memerangi dingin pisau yang menjelajahi tubuhku meski sempat berfikir menyerah akan lebih menenangkan, tapi tidak karena kau menggenggam tanganku di ujung cahaya, bukan ruang operasi juga bukan jas putih yang kau kenakan dan aku tak dikelilingi temanmu sebagai » Baca lanjutan ceritanya...

Tulus Samar

Cerpen Kiriman: | Lolos Moderasi Pada: 19 August 2016
Kali ini embun menyergap hebat dengan ribuan pasukan yang halangi pandangan luar jendela kamar. Ciptakan tetes demi tetes dari kaca transparan tepat di depan mata. Seperti kita. Mungkin tetes itu adalah aku dan pemandangan yang terhalang embun adalah kau, » Baca lanjutan ceritanya...

Memories

Cerpen Kiriman: | Lolos Moderasi Pada: 15 August 2016
Kususuri setapak jalan kecil yang lenggang ini. Tak ada yang berubah dari tempat ini. Sedikit pun tidak. Matahari mulai naik, kupercepat lari kecilku. Entah apa yang membuat kakiku melangkah sampai sejauh ini. Hingga sebuah pohon besar rindang benar-benar menghentikan » Baca lanjutan ceritanya...

Wonderful Rain

Cerpen Kiriman: | Lolos Moderasi Pada: 11 March 2016
Ku tatap sepasang bola mata indah di hadapanku, walau tak bergerak namun tetap indah. Terima kasih Tuhan kau hadirkan dia dalam hidupku. Detak mesin waktu memecah keheningan, ku tatap sejenak hingga spontanku sambar mantel cokelat di ujung ruangan itu. » Baca lanjutan ceritanya...

Fog

Cerpen Kiriman: | Lolos Moderasi Pada: 11 March 2016
“Kau merasa nyaman tinggal di sini?” “Tentu tidak,” “Tapi aku selalu di sini,” “Bawalah aku ke luar dari tempat ini,” “Tentu saja, tapi tidak sekarang,” Sepasang kornea indah itu menatapnya lekat namun tetap sayu. “Apa kau akan menungguku?” “Apa » Baca lanjutan ceritanya...