Brother Complex (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 19 August 2017

Nick sudah kehabisan kesabaran hingga tanpa pikir panjang Nick langsung menjauhkan Rey dari pelukannya dan mencengkeram kedua lengan Rey sambil berbicara dengan meninggikan suaranya “REY!! listen to me. Don’t cry. Aku mungkin tidak tahu bagaimana rasanya menjadi anak MBA! Tapi aku tau rasanya menjadi seorang anak yang diadopsi. Kau beruntung masih mengenal ayah kandungmu. Sedangkan aku!? Aku bahkan tidak tahu siapa orangtua kandungku. Tapi aku bersyukur karena mereka memberiku kasih sayang yang sama seperti kasih sayang kau dapatkan. Lagipula apa kau tidak menyadari bahwa selama ini ayahmu sangat menyayangimu? Dia tidak pernah berlaku kasar kepadamu bukan? Juga mama. Mama sangat menyayangimu seperti anaknya sendiri. Mama tidak bisa memiliki keturunan sehingga dia menganggapmu seperti anak kandungnya. Bukankah itu sudah lebih dari cukup Rey? HA?!!” setelah perkataan Nick yang panjang lebar itu. Rey terhenyak. Dia menyadari betapa beruntungnya dia tidak dibunuh sewaktu masih berbentuk janin. Dia kembali meneteskan air mata dan tangisnya semakin keras. “huaaa.. Nick.. hikss.. kenapa kau membentakku? Suaramu terlalu keras Nick. Aku terkejut. Dasar bodoh. Aku terkejut” aku ingin sekali menjitak kepala gadis bodoh ini. Desis Nick dalam hatinya.

Setelah beberapa menit menangis Rey akhirnya diam dan duduk di sisi ranjangnya disamping Nick. “sudah lebih baik Rey?” “emm” Rey hanya bergumam. “kau sudah memikirkan yang kukatakan tadi?” “emm” lagi lagi Rey hanya bergumam. Huft… Nick menghela nafas menghadapi gadis ini. “aku harap kau memikirkannya baik baik Rey. Tadi itu cukup menguras tenagaku. Aku tidak pernah bicara penjang lebar seperti itu. Karena itu melelahkan. Itu pertama kalinya aku berbicara keras dan panjang lebar. Dan kau beruntung sebagai orang pertama yang mendengarkan aku berbicara seperti itu.” “lalu itu apa? Kau baru saja berbicara panjang lebar lagi kepadaku” kata Rey dengan polosnya. Dan Nick dengan bodohnya baru saja menyadari hal itu.

Kemudian Rey berdiri dan menepuk bahu Nick seraya berkata “lain kali berpikir sebelum kau berbicara panjang lebar. Ok. Berjuang lah Nick. Aku akan membantumu. Dengan doa” kemudian dia beranjak keluar dari kamarnya. Sedangkan Nick sekarang wajahnya melongo dengan mulut menganga. Setelah pintu ditutup, tidak berapa lama mereka berdua tersadar “keluar dari kamarku!” bentak Rey kepadanya. “dasar gadis bodoh. Kenapa kau keluar dari kamarmu sendiri. Ahh sudahlah. Aku akan keluar”
Kemudian Nick beranjak keluar dari kamar Rey dan Rey menutup pintunya.

Keesokan harinya…
“aku berangkat.” Kata Rey singkat dan berjalan keluar pintu tanpa menunggu jawaban dari kedua orangtuanya. “dia masih marah kepada kita. Aku seharusnya mengatakan hal ini kepadanya dari dulu. Maafkan aku Emely” bahu Emely bergetar menahan isak tangisnya. Austin memeluk erat istrinya dan mengusap bahunya dengan lembut untuk menenangkannya. Dia merasa sangat bersalah sekarang. Dia sudah membohongi Rey tentang kisah hidupnya.

Rey pov’s
Aku sebenarnya tidak tega memperlakukan ayah dan mama seperti itu. Aku tidak sanggup untuk tidak memeluk mereka berdua di pagi hari. Namun aku harus bagaimana? Aku membutuhkan waktu untuk memahami semua kenyataan yang baru diberi tahu oleh ayah semalam. Jika mengingatnya lagi aku ingin menangis. Aku ternyata anak yang terlahir karena MBA. Dan Nick. Aku tidak menyangka bahwa pria cab*l itu adalah kakak tiriku.

Semalam dia bertingkah laku aneh. Dia memelukku dan menenangkan aku. Padahal siang kemarin dia bertingkah cab*l kepadaku. Ah… entahlah. Aku masih belum bisa menerima semua yang terjadi kepadaku.

“hey adikkku” kata Nick sok akrab kepadaku. Dan dia masuk keruanganku tanpa mengetuk pintu. Aku sedikit terlonjak karena terkejut akibat ulahnya itu.
“mau apa kau ke sini!?” aku bertanya dengan sedikit meninggikan suaraku. “aku hanya ingin menjengukmu. Aku baru tahu jika aku memiliki seorang adik tiri yang cantik sepertimu”
Cih.. sialan. Rutukku. Kemudian aku berteriak “KELUAR DARI RUANGANKU NICK!!” Nick terlonjak dan mengelus-elus dadanya. “suaramu terlalu nyaring Rey. Untung saja jantungku masih di sini. Kalau lepas bagaimana? Ha?!!” kali ini dia yang sedikit menaikkan volume suaranya. “KELUAR SEKARANG” teriakku lagi. “hem.. sungguh kau begitu tega. Aku baru sampai dan kau menyuruhku pergi. Ohh.. kau sangat jahat” katanya dengan nada yang mendramatisir. Itu aneh. Kau tahu.. wajahnya yang terlihat dingin dipadukan dengan nada bicara yang mendramatisir. Sungguh perpaduan yang aneh bukan? Menjijikkan

Huft… aku menghela nafas “baiklah. Ada apa?” aku sedikit melihat Nick menyeringai kemudian berkata “aku akan segera pindah dan tinggal bersama mama dan ayah di rumah. Tentunya denganmu juga” “HA? APA!!?” sungguh ini lebih mengejutkan lagi. Bagaimana mungkin kami akan tinggal bersama? Mempunyai seorang kakak tiri yang aneh begini saja aku sudah muak. Ditambah lagi kami akan tinggal satu rumah. What the hell!? Apa yang akan terjadi jika kami sampai tinggal satu rumah? “kenapa kau pindah? Kenapa tidak tinggal di apartemenmu sendiri?” “mengapa aku harus tinggal sendiri? Sedangkan aku memiliki kedua orangtuaku dan baru saja mempunyai adik yang cantik.” “cih.. jangan mengada-ada..!” “aku tidak mengada-ada Rey. Kau memang cantik. Andai saja kau bukan adikku mungkin aku akan segera melamar..m..u.” Nick terdiam. Aku pun terdiam.. apa yang baru dikatakannya tadi.. begitu membuatku terkejut. Aku tidak menyangka Nick akan berkata seperti itu.

Nick pov’s
“Nick..” “aku harus pergi” dengan terburu-buru aku keluar dari ruangan Rey dan berjalan tergesa-gesa. Sh*t!!! mengapa aku sampai berbicara seperti itu tadi? Aku benar-benar tidak sadar akan berbicara seperti itu. Hati, otak dan mulutku seperti tidak bisa bekerja sama. Oh sh*t!! holy sh*t!!

Aku segera masuk ke ruanganku dan duduk dibangkuku. Benar-benar memalukan. Aku sempat melihat wajah Rey memerah dan terkejut. Semakin membuatnya terlihat manis. Tapi bagaimanapun Rey tetaplah adikku, yaahh walaupun hanya adik tiri. Namun secara hukum kami tetaplah saudara. Aku ingin sekali mengutuk keadaan ini yang membuatku tersiksa harus menahan perasaanku sendiri. Dan tadi aku harus berubah drastis dari imageku yang dingin dan kelam menjadi seorang yang bertingkah berlebihan. Seperti seseorang yang sedang bersyair. Aku hanya bermaksud untuk memperbaiki suasana hatinya untuk membuat dia melupakan sejenak masalahnya. Tapi apa yang terjadi? Dia malah menatapku dengan tatapan ingin muntah. Dan aku juga merasakan hal yang sama. Aku juga merasa ingin muntah ssaat mengetahui bahwa aku bisa menjadi menjijikkan seperti itu.
Oh demi Tuhan.. aku hanya ingin membuatnya melupakan sejenak masalah yang sedang dihadapinya. Tapi entahlah.. entah itu berhasil atau tidak. Yang jelas aku sudah berusaha

Sore harinya…
Hari ini aku resmi pindah ke rumah ayah dan mama dan tentunya juga adikku yang manis. Aku sudah sampai di rumah dengan beberapa baju yang aku bawa dan sisanya besok akan diantar oleh orang suruhanku. Kamarku berada tepat di sebelah kamar Rey. Ini bukan permintaanku atau orangtuaku terlebih Rey. Itu lebih tidak mungkin. Itu karena hanya memang ini kamar yang tersisa. Kamar lainnya khusus untuk tamu dan 1 kamar khusus untuk asisten rumah tangga ini. Sepertinya aku pulang lebih dulu sebelum Rey. Aku tidak melihatnya di rumah begitu aku sampai tadi. Aku segera memasuki kamarku dan langsung mandi. Setelah selesai aku segera eluar dari kamar. Dan saat aku baru saja membuka pintu, aku melihat Rey berjalan menaiki tangga dan berhenti ketika melihatku. Aku ingin tertawa melihat ekspresi terkejutnya. Matanya melebar dan mulutnya ternganga dengan jari telunjuknya mengarah kearahku. Pff.. ini konyol. “terus membuka mulutmu seperti itu dan kau akan menangkap seekor lalat” kataku dan dia segera menutup mulutnya hingga tanpa sengaja menggigit bibirnya sendiri. “ahh.. shhh” aku ingin tertawa tapi aku takut akan dipukul olehnya seperti yang dialami oleh ayah tempo hari. Dia memegang bibirnya dan masih meringis. Entah kenapa aku merasa seperti ada yang terbangun dari diriku saat melihat bibirnya yang merah. Aku segera mendekatinya dan mencekal tangannya. “sini. Biar aku yang meniupnya” aku kemudian meniup bibirnya yang secara tak langsung kami sudah bertukar nafas. Aku merasa dia tidak menolak dan melawan.

Author pov’s
Rey terkesiap ketika merasakan hembusan nafas Nick. I.. ini.. apa..? batinnya. Rey masih belum bisa bergerak. Entah apa yang membuatnya tidak bisa bergerak. Padahal Nick sama sekali tidak menahannya. Nick hanya memegang tangannya. Tapi ini sulit dijelaskan.
“Ni..Nick.. su..sudah. te..terima kasih.” Rey gugup. Nick menahan senyumnya. Dia tidak ingin menggoda Rey untuk saat ini. Dia masih ingin lebih lama berdekat-dekatan dengan Rey.
“baiklah. Bagaimana? Sudah lebih baik?” “su.. sudah.. ehhemm.. maksudku sudah. Terimakasih. Emm.. kapan kau sampai?” Rey mencoba mengurangi aura ketegangan di antara mereka. “aku sampai tadi sore. Dan barang-barangku akan sampai dalam 2 hari. Aku akan resmi tinggal di sini mulai lusa.” “Resmi? Haha.. kau terdengar konyol Nick. Memangnya kau menyewa di sini? Dasar aneh. Ahh.. sudahlah. Aku harus segera ke kamar dan mandi. Bye” belum sempat membuka pintu Nick sudah menarik tangannya lagi. “eh. Ada apa?” “kenapa sangat lama sampai kerumah? “”aku hanya menyelesaikan pekerjaanku dikantor. Hanya sedikit” “kau tidak sedang menghindari ayah dan mamakan?” Deg.. jantung Rey tertohok. Nick bertanya tepat sasaran. Dia memang sedang menghindari kedua orangtuanya. “Nick.. please. Let me go. Don’t ask me. You don’t know what I feel. Let me go” “Rey. Don’t be like this. Mom feel so sad. And dad feel too. Apa kau tidak bisa merasakan kesedihan mereka berdua? Mereka secara tak langsung sudah mendapatkan hukuman yang tanpa sadar sudah kau berikan kepada mereka berdua. Enough. Go to your room. And thinking about it. You can come to me if you can’t find the answer. Ok?” “ok. I’ll go now.”

Rey pun pergi kekamarnya dan segera menutup pintunya. Kemudian bersandar dibalik pintu. “Nick benar. Aku tidak seharusnya menghukum ayah dan mama. Aku seharusnya berterimakasih kepada mereka berdua. Mereka sudah merawatku. Mama menyayangiku seperti anak kandungnya sendiri, padahal bisa saja mama membenciku karena aku bukan anak kandungnya. Tapi bagaimana caranya aku harus berbicara dengan ayah dan mama? Ahhkk.. ini membuatku pusing” melempar tasnya kekasur dia segera mandi dan bersiap-siap. Kemudian dia keluar dari kamarnya.

Baru saja dia akan mengetuk pintu kamar Nick, pintunya sudah terbuka dan menampakkan sosok Nick yang memakai kaus putih polos dan celana panjang piyama. Dengan rambut yang acak-acakan menampilkan sosok yang dingin namun tampan. Rey menggeleng-gelengkan kepalanya dan segera mendorong Nick kembali masuk ke kamarnya dengan dia juga masuk. “ehh.. hey hey..!! apa yang kau lakukan?” Rey masih mendorong tubuh Nick hingga menabrak kasur dan membuat mereka berdua terjerembab kekasur dengan tubuh Rey diatas tubuh Nick. “auuuhhh.. kau berat. Menyingkir dari atas tubuhku Rey!” Rey segera bangkit dan memukuli Nick dengan bantal. “apa katamu!? aku berat. Dasar jahat. Rasakan ini!!” bug bug.. berkali kali Nick menghindari pukulan dari Rey. Namun entah bagaimana pukulan bantal dari Rey selalu mengenainya. “baiklah baiklah. Aku minta maaf. Sudah sudah. Apa yang kau lakukan di kamarku?” akhirnya Rey menghentikan serangannya terhadap Nick. “aku bingung harus bagaimana. Aku ingin berbicara dengan ayah dan mama. Tapi aku bingung.” “lalu.. kenapa kau datang kepadaku?” Nick berbicara dengan nada jahil. “ha? Bukankah kau yang tadi berkata aku dapat meminta bantuanmu. Kau ingin kena pukulan lagi? Ha?” Rey sudah bersiap-siap dengan bantalnya. “hahaha.. maaf maaf. Aku hanya bercanda. Baiklah. Aku akan membantumu. Tidak sulit untuk mengatakannya kepada ayah dan mama. Masalahnya sudah selesai sekarang, tidak ada lagi yang perlu ditangisi bukan? Kalau begitu ayo. Aku akan membantumu berbicara dengan ayah dan mama.”

Mereka berdua pun keluar dari kamar Nick dan segera ke ruang tengah untuk bertemu dengan kedua orangtua mereka.
Setibanya di sana Rey menghentikan langkah kakinya di tangga, dia ragu. Nick yang melihatnya segera menarik tangan Rey dan mengajaknya bertemu dengan kedua orangtuanya. Ayah dan mamanya sedang menonton. “ayah.. mama.. Rey ingin berbicara kepada kalian berdua.” Rey terkejut karena Nick langsung berkata seperti itu kepada orangtuanya. Bantuan macam apa ini? batin rey kesal. “oh Rey. Kemari sayang.” Rey lalu berjalan ke arah ayah dan ibunya, lalu duduk di antara mereka berdua. Sedangkan Nick, duduk di sofa yang berada di hadapan Rey dan orangtuanya. Rey melirik ke arah Nick untuk meminta bantuan. Nick menganggukkan kepala untuk menyemangati Rey. Huft… Rey menghela nafas dan mulai berbicara. “ayah.. mama.. aku minta maaf. Aku sadar aku jahat karena sudah marah kepada kalian berdua. Aku tidak seharusnya marah. Aku harusnya bersyukur karena sudah memiliki orangtua yang sangat baik kepadaku. Aku minta maaf” Rey menundukkan kepalanya dan menahan air matanya yang akan tumpah. “Rey.. sudahlah nak. Seharusnya ayah dan ibu yang meminta maaf karena sudah menyembunyikan kebenaran selama ini. kami tidak seharusnya membohongimu selama ini. “”hiks.. hiks.. ayah.. mama.. huaaa.. hikss hikss.. aku menyayangi kalian berdua. Huaaa..aaa” Rey menangis dengan kencang dan itu membuat Nick menganga. Dia ingin tertawa melihat tingkah laku adik barunya ini. dasar gadis aneh. Batinnya.

Austin segera merengkuh Rey keadalam pelukannya dan juga istrinya. “sudah.. semua sudah berlalu Rey. Sekarang kita akan baik-baik saja.” Kemudian Rey mengangkat wajahnya dan menganggukkan kepalanya. Austin dan Emely mencium kening Rey dan tersenyum bahagia. “emm.. Nick. Terima kasih.” Katanya Rey kepada Nick. “ya.. itu tidak masalah. Tapi aku heran.. bagaimana kau bisa menangis sekencang itu? Hampir saja jantungku melompat dari rongganya mendengar kau yang menangis tiba-tiba dengan begitu kerasnya.” “Nick. Jangan membuatku marah” “hey, siapa yang membuatmu marah? Itu kenyataan. Dan apa itu? Aku seperti melihat ingus membanjiri hidungmu. Hahahaha” Nick menertawakan Rey. Sedangkan Rey sudah berjalan ke arah sofa yang diduduki Nick dengan bantal sofa di tangannya. Bug bug. Yahh.. begitulah bunyi bantal yang mendarat dengan mulus di tubuh Nick. “rasakan ini. rasakan. Kau sudah kuperingatkan tadi.!!” “aduh.. aww.. auuu. Maaf Rey maaf. Iya aku minta maaf. Hentikan.” Akhirnya Rey menghentikan pukulannya. Kedua orangtua mereka tertawa melihat tinghkah laku mereka berdua.

Cerpen Karangan: Derisma Paulina
Facebook: Derisma Paulina Haloho

Cerpen Brother Complex (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Bersemi Di Sebuah Tour

Oleh:
Pagi hari ini mendung, Tapi aku harus tetap berangkat ke sekolah takut hujan turun dan baju sekolah basah. Kenalkan gue Grasiela Putri. Aku biasa berangkat ke sekolah dengan motor,

Cinta Bisu Untuk Si Tampan (Part 1)

Oleh:
Cinta. Berbicara tentang cinta tak ada habisnya. Setiap orang memiliki arti yang berbeda-beda mengenai cinta. Ada yang bilang cinta adalah anugerah. Ada yang bilang cinta adalah malapetaka. Namun, adakah

Surga On Stage (Part 1)

Oleh:
Musim semi yang selalu aku rasakan saat bersamanya, kini perlahan berganti, saat aku tahu Hokaido tidaklah nyata. Satu persatu rekaman video aku putar. Perasaanku seperti ombak yang pasang surut.

Salah Ngasih Bikin Jatuh Hati

Oleh:
Pagi yang cerah memberi mentari sinar yang menyengat. sinar mentari yang membuatmu bersinar di tengah lapangan. tawamu seakan menghusir kesepian yang kurasa. namun kau hanya kutatap dari luar jendela

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *