Forgive of Love

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 16 February 2016

Di ruangan itu hanya terasa kesesakan dalam dada, gejolak demi gejolak terus memunculkan emosi. Dia? Mengesalkan! Aku tahu dia salah, aku tahu dia sudah minta maaf, tapi aku tak mau tahu! Yang penting ia harus terus menyesali kesalahannya, sampai dada ini mendingin, entah kapan. Yang pasti aku yang menentukannya. Wah! Betapa egoisnya hatiku. Lelaki bertubuh gagah itu kini meringkuk menyerah melihat responku. Matanya menatap lemas terhadapku. Maaf, maaf, dan maaf berkali-kali diucap pada bibirnya, namun tetap aku menengadah tak peduli padanya, sampai ia sujud. Tak peduli saat itu malam telah larut, hujan pun turun dengan derasnya.

“Sayang, maafkan aku. Aku akui aku salah karena telah mengecewakanmu. Aku salah. Aku minta maaf. Aku tidak akan mengulanginya.”
“Hah? Tidak akan? Jaminan apa yang berani kau berikan, hah?”
“Ya aku akan berusaha tetap menemanimu meskipun…”
“Sudah! Sudah! Tak usah membual! Aku tak butuh bualan!”
“Tapi, aku tak bisa menemanimu karena aku sangat lelah hari ini. Aku banyak aktivitas. Dan aku juga mulai sakit.”
“Ya, ya, ya, ya sudah! Istirahat saja kalau cape!”
“Bagaimana mungkin aku bisa beristirahat dengan keadaan kita sedang tidak berdamai?”

Menghela napas, aku berkata, “Mau kamu apa? Tadi meninggalkanku dengan alasan ketiduran, karena kecapean. Sekarang? Disuruh istirahat, tidak mau. Astaga! Kau ini!”
“Aku sudah berusaha melawan ngantuk, menahan sakit, tapi kau begini kan. Baiklah terserah saja mau memaafkan atau tidak. Aku sudah berkali-kali memohon maaf tapi… Tak ada gunanya bagimu,”
“Wah! Kamu ini! Sepasrah itu kah kau padaku?”
“Aku tidak pasrah kok,”
“Lantas?”
“Aku sudah lelah.”

“Kalau lelah? Mau ini diakhiri saja?”
“Maumu gimana?”
“Ah, kamu! Hapus saja namaku bila begini responmu!”
“Tidak, aku tidak akan menghapus namamu,”
“Ah, omong kosongmu!”
“Terserah,”
“Sudah! Aku mau tidur! Aku cape berurusan denganmu! Sana tidur! Biar tidak cape lagi! Malas berantem!”
“Ya.”

Malam itu, aku tak mampu memejamkan mata untuk beristirahat. Masih terbayang dia, dia dan dia. Masih terasa pedas dan nyeri di dada mengingat dia. Aku jadi mempertanyakan keseriusan dia mencintaiku. Namun, aku berusaha memendamnya meskipun harus melinangkan air mata. Memeluk bantal sambil menghapus air mata sesekali. Aku menghela napas, perlahan memejamkan mata, berusaha ku tenangkan dan ku redakan segala amarah. Ya, aku mampu.

Dalam ketenangan, aku merenungkan. Lelah? Mungkin benar dia lelah. Harus beraktivitas di sekolah dan di luar sekolah demi profesinya. Bukan karena ia tak meluangkan waktu bagiku, atau melupakanku yang menunggunya, hanya saja ia terpaksa diseret dalam waktu yang bertabrakan untuk menyelesaikan kewajibannya, bukan kehendaknya. Mungkin ia menjadi lelah dan lelah butuh istirahat. Jika saja sampai ia ketiduran, pastinya sebelum itu dia sudah lelah namun memaksa dirinya tetap menyempatkan waktu berkomunikasi denganku.

Namun, karena aku marah-marah, aku membentak-bentaknya, rasa lelah, sedih dan kesal menjadi satu, menjadikannya lemah, dan akhirnya sakit. Ia pergi bukan tanpa alasan yang jelas atau tanpa alasan sedikit pun. Ia sudah menjelaskannya panjang lebar alasannya. Tapi, aku tak peduli padanya. Sekarang, aku menunjuk pada diriku. Melihat diriku sendiri. Aku terlalu egois padanya, membuat ia menjadi sakit. Sejahat itukah aku? Bergegas aku bangun dari baringku, mencuci mukaku dan menghidupkan ponselku. Sedikit takut, sambil menghela napas panjang aku memberanikan diri mengawali obrolan.

“Hei, kau sudah tidur?”
“Belum. Ada apa?”
“Kau terlihat tak enak badan.”
“Memang.”
“Am… Apakah aku menganggumu?”
“Tidak.”
“Oh, baguslah. Aku hanya ingin berkata sesuatu padamu,”
“Apa?”
“Aku minta maaf telah memarahimu, membentak-bentakmu, tak memaafkanmu, menyakitimu, padahal kau adalah kekasihku sendiri. Maafkan aku.”
“Jadi, kau memaafkan kesalahanku?”
“Tentu saja. Tapi, maafkan aku juga.”

Dia menghela napas, sedikit tersenyum dalam wajah pucat pasinya. “Terima kasih, Sayang. Kau tidak salah. Aku yang salah. Dan aku akan berusaha yang terbaik untukmu. Terima kasih ya, kau membuatku lebih baik. Aku tak bisa terlelap meskipun lelah jika tak ada kau di sampingku, menemaniku, dari jauh,” Aku menitikkan air mata, sembari tersenyum penuh haru, mengingat apa yang telah terjadi. “Iya sayang, aku akan berusaha tidak egois lagi. Dan berusaha memahamimu.” Selepas itu, malam pun nyenyak. Hati pun tenang dan kegundahan sudah lenyap dalam dada.

Esok hari, seperti biasa aku bangun pagi-pagi memutuskan untuk jogging seorang diri, kebetulan hari ini hari libur sekolahku. Membuka pintu, ada yang menghalangi pintuku terbuka, sesuatu ada di luar, keras sepertinya. Mengintip sedikit keheranan, ku lihat wajahnya menongol sambil tersenyum membawa bunga mawar merah. “Selamat pagi mawarku yang cantik!” Terkagum tak menyangka, menahan kesenangan yang luar biasa baru kali ini ku rasakan.

“Ini bunga mawar untuk kekasihku tercinta,” katanya sambil menyodorkan bunga mawar dalam tangkainya terlihat secarik kertas kecil yang menuliskan, “Thanks for forgiving me, my love! I love you.” Lagi-lagi aku harus menitikkan air mata karena dibuat haru olehnya, ia tertawa dan mengusap air mata sambil memeluk erat tubuhku. Menenangkanku. Kami pun jogging bersama menikmati sunset di pantai yang tak jauh dari rumah.

Sungguh, cinta itu luar biasa indah. Dan cinta memang tak pernah lepas dari luka, bahkan dari orang yang paling kita sayangi. Tapi, ketika kita dilukai, itu adalah ujian bagi hati kita. Apakah kita benar-benar mencintainya? Mencintai setulus hati dan siap menghadapi suka duka bersama? Jika ya, mengapa masih sulit memaafkan kala dilukai? Bukankah yang namanya cinta, pasti sayang, dan bisa memaafkan? Jangan mementingkan keegoisan, dan mulai memaafkan walau dilukai. Itulah cinta yang sesungguhnya.

Cerpen Karangan: Jessica Desideria Tanya
Facebook: Jessica Desideria Tanya
Nama saya Jessica Desideria Tanya, dari SMA Negeri 6 Surakarta.

Cerpen Forgive of Love merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My Boss

Oleh:
Aku mengelap meja dengan cepat. Piring dan gelas kotor berpindah ke atas kereta dorong. Semua tissue dan remah-remah bersih dengan tuntas. Aku beralih ke meja seberang. Kurapikan semua piring

Bukan Untuk Satu Alasan

Oleh:
Cerita yang belum berujung kebahagiaan, tak akan terlupakan sepanjang jalan khayalan masih dibangun. Penyelesaian masalah ray mulai terlihat hasil yang telah dicapai selama ini, terbentuknya sikap ray yang tidak

Akhirnya Aku Menggapaimu

Oleh:
Saat itu sedang musim bunga sakura, sehingga setiap jalan yang aku lewati, pohon bunga sakura semuanya berbunga. Waktu itu aku pergi ke sekolah, akan tetapi aku berhenti di perempatan

Helenathan

Oleh:
“Kamu kenapa, Sayang?” pertanyaan Nathan membuat Helen tersadar akan lamunannya. Helen tersenyum manis. “Enggak, kok. Aku gak papa,” “Serius?” tanya Nathan khawatir. “Iyaa,” jawab Helen. Semua murid yang mendengar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *