Kedai Coklat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 22 September 2017

Seperti biasa setiap pagi Lyssa mengantar coklat pesanan pelanggan menggunakan sepedanya.
Dengan semangat Lyssa mengayuh sepedanya tak peduli terik matahari menyorot wajahnya. Sesekali ia mengelap dahinya yang bercucuran keringat, tapi itu semua tak membuat Lyssa mengeluh. Ia justru semakin semangat mengantar coklat pesanan pelanggannya itu.

Kring kring kring
Bel itu sebagai pertanda bahwa Lyssa si pengantar coklat telah tiba.
“eh kak Lyssa, kakak pasti nganter coklat pesanan aku ya” ucap gadis kecil yang sudah menjadi langganan Lyssa
“iya dek, ini satu paket coklat. Untuk adek yang cantik” Lyssa menyerahkan satu paket coklat yang dibungkus kotak berbentuk hati.
“makasih kak Lyssa, aku suka sama coklat buatan kakak, enak dan manis” ucap gadis kecil tersebut sambil menunjukkan giginya
“nanti kalau adek mau coklat lagi, kak Lyssa buatin yang paling enak buat adek” ucap Lyssa
“emang coklat buatan kak Lyssa yang paling top deh. Nggak ada tandingannya” ucap gadis kecil itu sambil mengacungkan jempolnya
“ah, adek bisa aja. Ya udah kak Lyssa lanjut kirim coklat lagi ya takut kesiangan” setelah berpamitan Lyssa langsung mengayuh sepedanya dan mengirim coklat pesanan pelanggannya.

Semua sedang sibuk membuat coklat, ada yang sedang mengaduk coklat panas, ada juga yang sedang mengemasi coklat dalam wadah.
“Via… Coklatnya diaduk jangan ditinggal mulu” teriak Agni yang sedang membentuk coklat menjadi bulatan-bulatan kecil
“iya iya bentar” Via berlari dan kembali mengaduk coklat dalam panci.
“Lyssa mana ya? Kok belum kembali?” tanya Ara sambil mengemasi coklat ke dalam wadah.
“entah, mungkin masih mengantar coklat” jawab Keke yang sedang mengisi coklat dengan selai nanas.

Lyssa telah tiba di kedai coklat, ia berjalan dengan gontai. Agni dan Via yang melihat Lyssa, langsung menghampirinya.
“hai pemilik coklat, baru datang ya? Dari mana saja kau?, kau tau tidak kami merasa kelelahan hari ini. Banyak sekali pengunjung yang datang” cerocos Via saat Lyssa baru saja duduk di salah satu kursi yang ada di sana.
“hush kau ini, Lyssa baru saja datang. Pasti dia kelelahan saat ini. Jangan menyerocos saja mulutmu itu. Biarkan saja dia beristirahat dahulu” Ara sangat geram dengan tingkah Via, dari dulu ia tak pernah berubah cerewet sekali.
“Lyss? Kamu nggak papa?” tanya Keke saat melihat Lyssa seperti sedang memikirkan sesuatu.
“iya, aku nggak papa” jawab Lyssa sambil tersenyum tipis
“kau serius?” Via menatap Lyssa sambil menaikkan sebelah alisnya
“aku serius Via” ucap Lyssa
“aku hanya lelah saja”
“sudah, aku tidak mau membahas itu sekarang lebih baik kalian kembali bekerja” suruh Lyssa kepada ke empat sahabatnya itu. Via, Keke dan Ara hanya mengangguk patuh, sedangkan Agni ia langsung beranjak dari sana.

Lyssa merebahkan tubuhnya di atas kasur. Mengurus kedai coklat hari ini cukup membuatnya kelelahan.
Lyssa tak mau ambil pusing dengan pikirannya saat ini. Dia memilih untuk berendam di air hangat menghilangkan rasa penatnya setelah seharian bekerja.

Iyel sedang menikmati pemandangan di balkon kamarnya. Matanya tak lepas dari bunga sakura yang kini mulai jatuh menghiasi setiap jalan kota Jepang.
“Yel” panggil Sindu, kakaknya
“Ya” Iyel menoleh ke arah Sindu
“besok kau harus sudah kembali ke Indonesia” ucap Sindu sambil membuka katalog yang tergeletak di meja.
“ck, secepat itu? Aku tak mau aku sudah terlanjur menyukai Jepang” ucap Iyel yang kini kembali memandang gugurnya bunga sakura.
“kau harus kembali ke Indonesia Yel” ucap Sindu
“ta…”
“tidak ada tapi-tapian. Pokoknya besok kau sudah harus kembali ke Indonesia. Sekarang kemasi pakaianmu” Sindu memotong ucapan Iyel.
Dengan wajah kesal, Iyel mengambil kopernya dari dalam lemari dan mulai mengemasi pakaiannya.

Awan gelap itu kini sedikit memutih. Sisa air hujan masih terlihat membasahi taman belakang rumah Lyssa. Sedetik kemudian muncul lengkungan warna warni yang melukis langit dengan indah. Lyssa menatap langit dengan pandangan yang sulit tuk diartikan. Ia memandang pelangi dengan tatapan tak suka. Lysaa tak punya alasan mengapa ia membenci pelangi. Yang dia tahu pelangi sudah merenggut kebahagiaanya dulu.
“pelangi” lirih Lyssa ia menatap pelangi itu dengan pandangan nanar. Matanya tak lepas dari pelangi yang semakin lama warnanya semakin memudar itu. Seiring dengan memudarnya warna pelangi. Memori Lyssa memutar kejadian yang sangat ingin ia lupakan.

Siang ini penampilan Lyssa sangatlah cantik, meski hanya memakai kaos bergaris hitam putih dan celana jins berwarna biru muda. Ditambah rambutnya yang sedikit ikal dibagian bawahnya dengan sentuhan pita di rambutnya menambah kecantikannya.
Lyssa sedang menunggu kekasihnya Rio, kemarin Rio berjanji akan menemuinya di danau buatan dekat rumahnya.
Sesekali Lyssa melirik jam tangan silvernya yang melingkar indah di pergelangan tangan kirinya.

“Rio mana sih? Lama banget” pikir Lyssa.
“hai Lyss” sapa seorang cowok berkulit hitam manis.
“Rio” Lyssa terlihat bahagia melihat kekasihnya sudah tiba.
Tunggu, ternyata Rio tidak sendiri sekarang. Ia sedang menggandeng seorang gadis cantik.
“Yo dia siapa?” tanya Lyssa sambil menunjuk gadis yang digandeng Rio.
“oh dia? Dia Vana kekasih baruku” jawab Rio enteng, ia seakan tak memiliki beban saat mengenalkan Vana sebagai kekasih barunya.
“apa? Kekasih baru kau bilang? Tapi kenapa Yo? Kenapa kau melakukan ini kepadaku?” tanya Lyssa tak percaya.
“kenapa kau bilang? Kau tahu aku sudah bosan denganmu. Dan kurasa aku sudah tidak cocok denganmu lagi, jadi lebih baik kita akhiri saja hubungan kita” ucap Rio kemudian ia pergi bersama Vana, kekasih barunya.
Lyssa seakan tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi, ia menepuk-nepuk pipinya berharap semua ini hanyalah mimpi.

Lyssa menatap langit, terlihat pelangi yang menghias langit meski tidak sedang turun hujan sekarang.
“pelangi, kenapa dia meninggalkanku?”
“kenapa dia seperti ini padaku?”
“apa salahku dengannya pelangi?”
Lyssa menatap pelangi yang mulai memudar sambil tersenyum. Bukan senyum bahagia melainkan tersenyum miris mengingat apa yang baru saja terjadi pada dirinya.

Iyel menarik kopernya, kini lelaki jangkung ini baru saja sampai di negara asalnya. Mana lagi kalau bukan Indonesia. Sedari tadi Iyel menyari taksi, tapi ia tak kunjung menemukannya.
Terik matahari secara langsung menyorot wajahnya, dengan langkah tak tentu Iyel melangkah mengikuti kata hatinya.

“Lyssa Cholave” gumam Iyel saat berhenti di depan kedai coklat.
“makan coklat enak juga kayaknya” Iyel melangkah memasuki kedai coklat tersebut.
Iyel mengambil duduk di meja bernomor 07, kedai coklat saat ini cukup ramai dengan mayoritas anak muda sebagai pengunjungnya.

“selamat siang, anda mau pesan apa?” tanya salah satu pelayan
“boleh aku melihat daftar menunya?” pinta Iyel
“oh tentu saja, ini” pelayan tersebut meletakkan menu di atas meja Iyel.
“aku pesan 1 coklat nano nano dan 2 coklat marshmallow ” ucap Iyel setelah melihat daftar menu.
“baik tunggu sebentar ya” ucap pelayan tersebut, kemudian berlalu meninggalkan Iyel.

10 menit kemudian.
“pesanan datang” ucap seorang pelayan
Iyel yang sedari tadi menunduk memainkan hp mendongakkan kepalanya saat mendengar suara dari pelayan.
“Lyssa?” ucap Iyel
“Iyel?” ucap Lyssa
Iyel adalah teman Lyssa waktu smp dulu, dan saat kenaikan kelas dari kelas 8 ke kelas 9 Iyel harus ikut kakaknya Sindu ke Jepang.

“jadi sekarang kau bekerja di sini? Kenapa tidak kuliah?” tanya Iyel
“mungkin lebih tepatnya aku pemilik kedai coklat ini. Kenapa aku tidak kuliah? Kau tahu sendiri lah bagaimana keadaanku saat ini. Aku hanya seorang anak yatim piatu” ucap Lyssa.
“ohh jadi kau pemilik kedai ini. Jadi hari ini aku bisa memakan coklat sepuasnya dengan gratis” canda Iyel.
“boleh saja, asal kau harus membayar dua kali lipat untuk pembelian berikutnya” ucap Lyssa.
“tidak jadi kalau seperti itu” kata Iyel lesu.
Lyssa dan Iyel sedang bernostalgia saat ini, mereka saling bercerita pengalaman mereka saat SMA. Sesekali mereka juga mengingat masa SMP mereka berdua.

Iyel baru saja pulang dari kedai coklat Lyssa, kini ia duduk di ayunan yang ada di taman belakang rumahnya.
Iyel mengangkat kepalanya menghadap langit, seutas senyum terukir di bibirnya.
“entah kenapa aku merasa bahagia bila melihatmu Lyssa?”
“apa aku menyukaimu?”
“ah tidak tidak, jangan mengada-ada Yel”
Iyel berjalan memasuki rumah menuju kamarnya yang berada di lantai 2.

Lyssa menggeliat pelan saat sinar mentari menerobos masuk melalui jendela kamarnya, memaksa mata indah itu agar terbuka. Lyssa mengerjapkan matanya beberapa kali membiasakan cahaya yang ada di kamarnya saat ini.
“selamat pagi dunia” ucap Lyssa sambil tersenyum lebar saat membuka jendela kamarnya.
Tanpa sengaja mata Lyssa melihat sebuah kotak yang berada di taman belakang rumahnya.
Lyssa menuruni anak tangga menuju taman belakang, untuk mengambil kotak tersebut. Lyssa membawa kotak itu ke dalam rumah, kemudian membukanya di ruang tamu.
‘tunggu pembalasan ku Lyssa’
Lyssa hanya memandang kertas itu dengan malas, ia sungguh tak tahu apa maksud dari semua itu.
“ck, apa-apaan ini? Apa pengirimnya sudah kehilangan akal?” gerutu Lyssa.
Ia menyobek kertas itu menjadi beberapa bagian kemudian membuangnya asal. Kemudian Lyssa kembali ke kamarnya.

Sudah 2 bulan teror itu masih menghantui Lyssa, jujur saja ia tak tahu maksud dari si peneror dan apa tujuannya.
Lyssa sedang memotong coklat batangan, tapi pikirannya tak fokus pada pekerjaannya saat ini.
“aaawww” rintih Lyssa saat tanpa sengaja tiga jarinya teriris pisau.
“Lyssa kau tidak papa?” tanya Ara sambil melihat jari Lyssa yang terlula.
“Via ambilkan kotak obat sekarang” suruh Keke.
“sudah aku tidak apa-apa” ucap Lyssa sambil menahan perih.
“tidak Lyssa lukamu harus diobati agar tidak infeksi” ucap Ara.
“ini kotak obatnya” ucap Via yang telah kembali sambil membawa kotak obat.
Dengan telaten Ara mengobati luka Lyssa. Lyssa terlihat menahan sakit saat Ara meneteskan obat merah ke jarinya.

“Lyssa kenapa?” tanya Agni yang tiba-tiba muncul.
“dia teriris pisau” jawab Via.
“oh hanya teriris pisau” kata Agni Cuek
“apa yang kau bilang? Hanya? Mana rasa kasihanmu Agni?” kesal Keke yang melihat Agni sepertinya tidak peduli dengan Lyssa.
“Rasa kasihan kau bilang? Untuk apa aku harus kasihan dengannya” ucap Agni menatap Lyssa tajam.
“dia sahabatmu Ag, sahabat ingat itu” ucap Via.
“hahahaha sahabat? Sahabat macam apa yang tega membunuh kakak sahabatnya sendiri?” ucap Agni tertawa hambar.
“maksudmu?” tanya Lyssa.

flash back on
Seorang gadis terlihat sedang terduduk di dekat gundukan tanah merah yang masih basah menandakan bahwa tanah itu masih baru.
Gadis itu mengusap lembut batu nisan yang tertancap disana. Nama kakanya jelas terukir indah di sana.
‘Devana Weline’

“Ag” panggil seorang cowok dari belakang.
Agni, gadis tersebut menoleh.
“apa yang terjadi kak? Kenapa kak Vana pergi ninggalin aku?” tanya Agni sambil terisak.
“ini semua karena ulah sahabatmu itu?” ucap Rio tajam.
“siapa?” tanya Agni.
“siapa lagi kalau bukan Lyssa” ucap Rio.
“bagaimana bisa?” ucap Agni bingung.

Lyssa hanya menundukkan kepalanya dalam saat Agni mulai bercerita. Jujur ia tak pernah membunuh Vana kakaknya.
“kau tahu Lyssa kau seorang pembunuh” ucap Agni setelah mengusap air matanya.
“aku tidak membunuh kakakmu Agni” lirih Lyssa.
“hahaha tidak membunuh kau bilang? Mungkin kau tidak membunuhnya dengan tanganmu. Tapi secara tidak langsung kau sudah membunuhnya. Kalau saja waktu itu kau menolak lamaran pekerjaan kakakku dengan baik-baik mungkin ia masih asa disini bersamaku sekarang”
“tapi Ag kau tahu sendiri bukan kakak mu sudah merebut Rio dariku. Dia sudah merusak hubunganku dengan Rio”
“apa? Kakakku merusak hubunganmu dengan Rio? Hahaahah asal kau tahu Lyssa kau yang merusak hubungan kakakku dengan Rio kau yang merusaknya” Agni mengambil nafas sebelum mmelanjutkan ucapannya.
“kau tahu sebelum Rio berhubungan denganmu, dia sudah terlebih dahulu berhubungan dengan kakakku. Dan kau tahu Lyssa dia menjadikanmu kekasih bukan karena sayang, tapi karena dia mendapatkan taruhan dari beberapa temannya”
“Ag, cukup Ag jangan seperti ini kasihan Lyssa” lerai Ara.
“cukup kau bilang? Tidak ada kata cukup untuk apa yang sudah di lakukannya kepada kakakku” ucap Agni sambil menunjuk Lyssa.
“sekarang apa yang kau mau Agni?” Lyssa yang sedari tadi hanya duduk kini berdiri sambil memandang Agni.
“aku mau…” Agni membisiki Lyssa.
Lyssa yang mendengar bisikan Agni, memandang Agni tak percaya.

Lyssa berlari ke rumah Iyel, menurutnya hanya Iyel yang bisa membantunya saat ini.
“Iyeell, Iyeell” teriak Lyssa, ia langsung masuk kedalam rumah Iyel tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu.
“Lyssa! Apa kau tidak memiliki so…” ucapan Iyel terhenti saat Lyssa tiba-tiba memeluknya dengan erat sambil terisak.
“Lyssa kau kenapa?” tanya Iyel.
“hiks ak aku bukan pembunuh Yel. Aku bukan pembunuh” isak Lyssa ia masih memeluk Iyel dengan erat.
“apa yang terjadi? Ceritalah” tanya Iyel ia mendudukkan Lyssa di Sofa.
Lyssa menghapus air matanya, ia mengambil nafas panjang sebelum ia bercerita.
Lyssa menceritakan semuanya pada Iyel, dimana Agni menuduhnya sebagai pembunuh.

“sudah biarkan saja, tidak usah terlalu dipikirkan” ucap Iyel sambil menepuk pelan kepala Lyssaa.
“tapi Yel, Agni meminta separuh dari kedai coklatku” ucap Lyssa.
“ya sudah beri saja, jika itu yang dia mau” kata Iyel.

Lyssa sudah menyerah kan seluruh kedai coklatnya pada Agni. Ia sudah menandatangani surat pemindah kekuasaan. Semua? Kenapa semuanya? Bukannya Agni hanya meminta separuh pada saat itu? Kenapa sekarang jadi keseluruhan?
Ya, tapi itu awalnya. Dan saat Agni memberi Lyssa surat pemindah kekuasaan di sana tertulis jelas kalau isi surat itu meminta keseluruhan dari kedai coklat ini.
“semua? Kau bilang hanya separuhnya?”
“itu kan kemarin. Kemarin dan sekarang itu berbeda Lyssa. Aku boleh kan merubah keputusan semauku”
Lyssa menandatangani surat pemindah kekusaan itu. Sekarang kedai coklat ini berpindah tangan ke Agni.

Lyssa sedang berada di bukit bersama Iyel. Entah ada angin apa sehingga Iyel mengajaknya ke bukit.
“10 detik lagi” gumam Iyel
“10, 9, 8, 7” Iyel mulai berhitung.
“untuk apa kau berhitung?” tanya Lyssa
“sudah diam saja kau” ucap Iyel ia kembali berhitung.
Lyssa hanya mengerucutkan bibirnya sebal.
“3, 2, 1”
“Lyss lihat ke arah langit Sekarang” suruh Iyel semangat.
Dengan malas Lyssa mendongakkan kepalanya ke langit. Senja terlihat indah melukis langit sore.

“senja? Biasa aja” kata Lyssa cuek.
“ck, dasar gadis aneh. Senja seindah itu kau bilang biasa” decak Iyel.
“memang biasa saja” ucap Lyssa.
Iyel memutar badannya menghadap Lyssa, kemudian ia memegang tangan Lyssa. Lyssa tersentak kaget saat Iyel memegang tangannya.

“dengan senja sebagai saksinya, apa kau mau menjadi bagian dari hidupku? Apa kau mau menemani setiap langkahku? Apa kau mau mengisi kekosongan hatiku?” tanya Iyel sambil menatap mata Lyssa.
“dengan senja sebagai saksinya, apa kau yakin akan menerimaku dengan setulus hatimu? Apa kau yakin tidak akan pernah menyakiti ku? Apa kau yakin akan selalu membuatku bahagia?” kini giliran Lyssa yang bertanya.
“aku yakin dan aku berjanji” ucap Iyel
“aku mau menjadi bagian dari hidupmu” ucap Lyssa sambil tersenyum.
“dengan senja sebagai saksinya. Aku akan menjagamu, takkan pernah kubiarkan kau menangis. Dengan senja sebagai saksinya kita akan selalu bersama” ucap Iyel dan Lyssa bersamaan dengan senja yang mulai digantikan dengan malam.

Cerpen Karangan: Sharfah

Cerpen Kedai Coklat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Status Adik Kakak (Part 2)

Oleh:
Hari ini, matahari sudah berhasil masuk ke dalam sela-sela jendela kamarku. Liburan sekolah masih tersisa seminggu lagi. Dan itu tandanya masih banyak waktu untukku bersenang-senang dengan Kak Bintang. Hem

Senja Terakhir

Oleh:
Terkadang, aku merasa menjadi bukan diriku. Apalah artinya jika senyatanya hidup adalah topeng palsu di balik tubuh yang hilang akan sukmanya. Ketika nafas yang ku hirup hanyalah sebuah teori

Play Boy vs Play Girl

Oleh:
Semua pasang mata menatap satu laki-laki yang dikenal player itu. Laki-laki yang sedang menggandeng, lebih tepatnya merangkul seorang wanita berparas wajah yang cantik. Andrew Putra Senaryo. Yap, itu nama

Love Story Anak Indigo

Oleh:
Sewaktu aku duduk di kelas 2 suatu SMPN di kota bandung. Aku mengenal seorang cewek bernama Alin, dia itu cantik dan tau apa yang sedang aku rasakan beda dengan

Cinta dan Gengsi

Oleh:
Siang hari yang sedikit panas di Pasar Badung, Denpasar.. Sebuah mobil jazz silver metalic memasuki area parkir. Seorang ibu keluar dari mobil sambil membawa tas belanjaan. “Arka, ayo ikut!”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *