Mata Teduh

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 23 February 2015

Senyum simpul merekah saat ku lihat mata teduh itu. Perasaan apakah ini, sungguh aneh terasa. Seolah rasa bahagia merengkuhku saat ku lihat mata teduh itu. Entah mengapa aku menyukai mata teduh itu. Jangan tanyakan padaku kawan, karena aku sendiri pun tak tau.

“Dor, jangan ngelamun. Ngelamun sambil tertawa-tertawa sendiri lagi”
“Apaan sih Ita, ganggu aja sih kamu” kataku sebal.
“Loh jangan sebel gitu dong, ntar pipi bakpaumu tambah besar loh dan gigi kelincimu tambah besar juga kalo cemberut gitu”
“Biarin, yang penting aku tetep imut ye”
“Widih imut? Pede banget kamu Tia”

Aku rasa perasaanku ini sungguh sangat aneh, ingin ku kubur perasaan ini. Namun setiap aku coba menepati janji hatiku, semakin susah aku lupakan. Saat aku sudah dapat lupakan, semua usaha itu sia-sia, karena saat aku menatap mata teduh itu semuanya luluh.

“Eh, ngelamunin apaan si?”
“Ngelamunin wisuda besok…”
“Jangan bohong kamu Tia, pasti kamu lagi mikirin seseorang ya kan?”
“Rahasia”

Oh Tuhan, waktu terasa berhenti berputar saat aku lihat mata teduh itu, sungguh mententramkan hati. Hanya melihatnya dari kejauhan saja sudah membuat hatiku bergetar apa lagi saat dia menyapa ku, sungguh tubuh ini kaku dan kata-kata seolah menguap di udara.

“Apakah kau mau makan es bersamaku?”
“Ten…tu saja mau”
“Sebentar, kamu tunggu di sini ya. Ingat, jangan pergi kemana-mana”
Dan aku hanya mengangguk. Senang sekali kawan, mata teduh mengajakku makan es krim bersama. Aku suka sekali makan es krim.
“Kau suka yang rasa coklat kan”
“Suka, aku suka semua rasa es krim. Te…terimakasih ya”
“Justru aku yang berterimakasih, karena kau Gigi Kelinci, kamu sudah memberikan arti rasa di hati ini. Suatu saat nanti setiap hari akan ku belikan kau es krim”
“Bangun Tiaaaaa”
“Mata teduh-mata teduh, jangan pergi” aku mengigau.
“Mata teduh apaan sih, bangun Tia”
Teman satu kamar kost ku ini menyebalkan sekali. Dan ternyata aku baru menyadarinya, bahwa kejadian itu hanya mimpi bukan nyata.
“Nak ayo bangun”
“Ibu… Ayah…” suara lembut itulah yang sempurna membangunkanku dari mimpi indah itu.
“Ibu dan Ayah sudah sampai sini, maaf Tia bangun kesiangan”
“Ayo nak, lekas bersiap. Kamu sholat shubuh dulu ya terus bersiap-siap, nanti jam 7 kan kamu mau diwisuda”
“Siap Ibu Komandan… siap Ayah Komandan”

Aku sangat bahagia, di sepotong kehidupan ini. Aku telah lulus kawan, aku sangat suka dengan anak kecil. Aku bahagia menjadi seorang guru SD.
Kabar baik si mata teduh lulus dengan IPK cumlaude, duduk di jajaran terdepan. Aku duduk di samping mata teduh. Ingin sekali aku menyapanya, ingin aku menanyakan ‘apa kabar’ namun sekuat aku mencoba, sekuat itu pula rasa takut itu muncul. Akhirnya aku hanya diam membisu seribu bahasa. Sesekali aku menoleh, melihat wajahnya, melihat mata teduh itu. Hanya sepersekian detik, namun aneh rasanya sungguh menentramkan hati. Tak ku sadari ia pun menoleh dan tersenyum padaku, mungkin ia menyadari sejak tadi aku mencuri-curi pandang padanya.

Acara wisuda selesai. Aku membawa sejuta harapan baru. harapan ingin menjadi guru yang baik, yang sungguh ingin mengajari dan mendidik siswa dengan hati yang tulus.

Aku mendapat panggilan kerja di tempat kelahiranku, besok aku bersama orangtuaku akan segera pulang ke kampung halamanku di Sulawesi.
“Semua barang-barangmu sudah dirapikan semua kan nak?
“Sudah ibu, sudah siap semua. Senang bisa pulang kampung”
“Ibu juga sangat senang, nak”
Suara langkah kaki terdengar, semakin lama semakin terasa deru suaranya.
“Tia… Tia” kata Ita.
“Ada apa”?
“Ada yang ingin bertemu denganmu, ayok ke depan”
“Tapi, tapi…”
“Sudah nak, biar ibu yang merapikan pakaianmu, lebih baik kau temui seseorang itu, sepertinya ada hal yang penting”
“Baik bu”

Aku hanya bisa tertunduk malu. Hei kawan. Itu si mata teduhku. Dia bagaimana bisa ada di hadapanku, bagaimana dia ingin menemuiku. Bukankah selama ini aku tak pernah berani menyapanya. Tak pernah berani menanyakan apa kabar, walaupun aku sangat ingin menanyakannya.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam” kataku dengan suara lirih bergetar.

Perasaanku semakin rumit. Ita malah tega sekali meninggalkan kami berdua. Hanya berdua di taman depan kos-kostan ku.
Akhirnya aku beranikan diri untuk menayakan padanya dua kata itu “apa kabar”
“Apa kabar?”
“Baik, bagaimana kabarmu?”
“A…aku juga baik, ada urusan apa kau ke sini?”
“Aku ingin makan es krim bersamamu, kata Ita… kau suka sekali makan es krim”
“I,iiya” kataku gugup.

Oh Tuhan, mata teduh ada di sampingku. Duduk bersamaku. Ini mimpi atau nyata. Aku cubit kulitku dan aduh terasa sakit. Ini nyata bukan mimpi.

“Aku bawakan es krim rasa coklat, kau suka?”
“Aku suka, semua rasa es krim aku suka”
“Baguslah kalau begitu, besok kau pulang kampung?”
“Iya, aku dapat panggilan kerja di sana, dan kau?”
“Aku juga”
“Es krim nya enak” kataku.
“Syukurlah”
“Bagaimana kau bisa…”
Mata teduh menyelip pertanyaanku.
“Bagaimana mungkin aku bisa di sini, bisa di hadapanmu bukan? Semua itu karena Gigi Kelincimu yang sungguh imut”
“Apa?”
“Tentu saja bukan, aku punya alasan lain, namun tak dapat ku jelaskan sekarang, aku tak akan membuat anggrek tumbuh di waktu dan tempat yang salah”.
“Terimakasih untuk es krim nya”
“Sama-sama, aku pulang dulu ya”
“Iya”
“Assalamu’alaikum, gigi kelinci”
“Wa’alaikum salam”
Hari ini aku tersenyum indah untuknya, untuk mata teduh.

2 tahun kemudian.

Selamat pagi anak-anak…
“Wah, pagi-pagi sudah makan es krim bersama, ada acara apa ini. Bukankah tak ada yang ulang tahun hari ini?”
“Memang tidak”
Suara itu, suara yang ku kenal. Mata teduh. Dia ada di hadapanku kembali. Detik ini. Di sepotong kehidupanku ini.
“Bagaimana bisa…?”
“Tak ada yang tak mungkin bila Tuhan elah menakdirkan, aku ke sini ingin melamarmu. Apakah kau mau menerimanya”

“Terima… terima… terima…” suara anak-anak terdengar merdu di telingaku. Menyerukan kata yang sungguh ingin aku ucapkan.
Dan aku menerimanya…
Terimakasih Tuhan… atas potongan kehidupan yang indah ini. Gigi Kelinci selalu suka mata teduh.

Cerpen Karangan: Rahmi
Facebook: Adhe Amii
Aku hobby menulis.

Cerpen Mata Teduh merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Escape

Oleh:
Aku tak tau berapa lama bisa bertahan dalam keadaan ambigu ini. Setiap keputusan menimbulkan luka, setiap tatapan menyiratkan rasa bersalah. Sudah hampir sepuluh bulan, tatapku pada kalender di atas

Inikah Sakit Hati?

Oleh:
Hari yang cerah. Matahari muncul menggantikan posisi sang bulan dan bintang. Hari pertama sekolah. Hari pembagian kelas. Tentunya bukan di kelas VII lagi karena aku sudah dinyatakan naik ke

Siapa Dia?

Oleh:
Sesak nafasku sesaat melihat seseorang sedang menggenggam tangannya dengan erat, berambut ikal panjang, tinggi semampai, cara berjalannya bagaikan macan lapar saja. Hanya berdua di taman dekat rumahku, tempatku dan

Solena

Oleh:
“Dia lewat!” Teriak Jeje sembari mengguncang-guncangkan lenganku. Aku menoleh ke arah yang sama dengan Jeje. Mataku terpaku pada sosok yang telah kudambakan selama ini. Dintar. Ya, Dintar lah nama

Di Antara Kita

Oleh:
Saat mataku terbuka mentari sudah membumbung tinggi di angkasa. Menghias pagi bersama kicauan burung. Satu.. Dua.. Tiga.. Tess.. Air mata menetes dari ujung mataku. Entah apa yang membuatku menangis

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *