Dari Dunia Mimpi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 9 September 2017

Seorang perempuan cantik berusia sekitar 17 tahun tengah melenggak-lenggok di atas sebuah panggung yang cukup besar nan megah. Rambut tergerai, make up yang bisa dibilang sempurna, memakai gaun cokelat muda, lengkap dengan sepatu high heels yang berwarna senada. Ia begitu pintar mengolah gaya di panggung tersebut, menarik seluruh pasang mata untuk berpusat padanya.

Saat ia tengah berjalan untuk kembali ke belakang, tiba-tiba saja high heelsnya patah, membuatnya terjatuh di atas panggung. Malu, malu sekali, hanya itu yang dapat menggambarkan apa yang tengah ia rasakan. Ketika ia sedikit mengalami kesulitan untuk bangun, sebuah uluran tangan kanan menyapanya. Ia menerima uluran itu. Rupanya, seorang lelaki tampan berjas. Perempuan itu menatap lelaki tersebut.
“Thanks” ucap sang perempuan. Lelaki itu pun tersenyum.
“Andra.” ucap lelaki tersebut sambil mengajak bersalaman.

Belum sempat perempuan itu menyebutkan namanya, tiba-tiba… Terdengar suara aneh berbisik di telinga.
“Stel! Stellya! Bangun!! Lo tuh dari tadi tidur. Ini jam pelajaran udah habis.” ucap seseorang tepat di telinga perempuan yang diketahui bernama Stellya. Ia adalah Sasa, teman sebangku Stellya. Tampak Stellya yang sedari tadi menaruh kepalanya di atas meja lengkap dengan buku berwarna hijau yang menutupinya, kini mulai mengangkat kepalanya dari atas meja. Kelas begitu sepi, bel istirahat rupanya telah berbunyi. Kejadian bahwa ia melenggak-lenggok di atas panggung, lalu bertemu seorang lelaki yang ia anggap pahlawannya, hanyalah mimpi belaka dalam tidur siangnya di ruang kelas saat jam pelajaran tengah berlangsung. Benar-benar. Murid yang sangat-sangat teladan.

Jalan raya lumayan ramai dipadati kendaraan. Tampak Stellya yang baru saja pulang dari sekolah akan menyeberangi jalan raya tersebut untuk berjalan menuju rumahnya. Sebuah sepeda motor melaju dengan kecepatan lumayan tinggi. Jika biasanya di film-film hanya diam di tempat, meneriakkan kata “Aaa…!!!” sekencang-kencangnya dengan membuka mulut selebar-lebarnya, Stellya hanya menoleh terkejut saat mendengar bel klakson motor tersebut tanpa berkata apa-apa. Tak kurang dari 20 detik, ia didorong oleh seseorang hingga menyebabkan tubuhnya terjatuh di trotoar.

Saat Stellya membuka matanya…
“Lo enggak apa-apa?” seseorang yang menolongnya menanyakan keadaannya. Namun Stellya masih terdiam.
“Andra?” ucap Stellya lirih.
“Eh, enggak apa-apa kok, thanks ya.” lanjut Stellya. Pertemuan yang singkat itu pun mengakibatkan terjadinya sebuah perkenalan.

Sejak saat itu, Stellya dan Andra semakin dekat. Mereka sering tidak sengaja bertemu ketika pulang sekolah. Meskipun mereka tidak berada dalam sekolah yang sama, tetapi jalan menuju rumah mereka satu arah. Terkadang bertemu di angkot, bus, atau trotoar jalan raya.

Kejadian berawal saat Stellya mulai kembali merasakan kesendirian. Sama seperti saat Andra belum muncul dalam hidupnya. Sudah hampir 2 bulan ia tak bertemu Andra. Entah ke mana perginya. Stellya selalu berharap bahwa ia akan bertemu Andra setelah pulang sekolah. Tetapi harapannya selalu nihil. Sama sekali tak didapati seorang Andra berada di tempat biasa mereka bertemu. Bodoh, ia tak tahu alamat rumah Andra. Yang ia tahu, hanya sekolahnya.

Stellya mencari informasi melalui tempat di mana Andra bersekolah. Tak didapatinya informasi yang jelas. Yang ia dapat, hanya informasi mengenai alamat rumahnya.

Tok.. Tok.. Tok.. Stellya mendatangi rumahnya. Ke luarlah seorang wanita berusia 40 tahunan. Mamanya rupanya. Ia menyuruh Stellya masuk dan membawanya ke kamar Andra. Stellya terdiam, seakan mata tak bisa berkedip, tetesan air bening mengalir dari matanya, menyaksikan Andra terbaring lemas di atas ranjang kamarnya dengan begitu pucat, meski Andra tampak masih bisa membuka mata dan menoleh ke arahnya. Andra berusaha tersenyum. Stellya mendekat.

“Kamu kenapa?” tanya Stellya.
“Aku enggak apa-apa kok. Kamu jangan nangis! Nanti cantiknya hilang. Aku cuma cape aja sama penyakit ini.” ucap Andra dengan begitu lirih dan terbata. Andra menghusap air mata Stellya.
“Sebelum aku pergi jauh, ada sesuatu yang pengen aku omongin sama kamu. Aku tahu ini bukan saat yang tepat, tapi aku enggak mau menyesal karena terlambat bilang sama kamu. Aku cinta kamu Stel.” lanjut Andra.
“Aku juga cinta sama kamu Ndra.” jawab Stellya. Andra tersenyum. Tangan yang tadinya memegang pipi Stellya untuk menghusap air matanya, kini terjatuh lemas. Mata terpejam. Stellya panik, tangis pun semakin pecah, tatkala mendapati Andra tak lagi bernafas. Stellya menangis histeris, begitupun dengan mama Andra yang berdiri di belakang dinding kamar Andra.

Cerpen Karangan: Ria Puspita Dewi
Facebook: Elfa Puspita

Cerpen Dari Dunia Mimpi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Pertama Kupu Kupu

Oleh:
Dari celah jendela kelas yang terbuka. Aku melihat kupu-kupu putih menyelinap dan dengan bebasnya disaat jam pelajaran berlangsung terbang kesana kemari menyusuri dinding kelas. Aku melihat kupu-kupu itu sedang

Mr Right And Mrs Always Right

Oleh:
Tuti tetap ngeyel kalau aku memang berselingkuh. Aku bukannya tidak pernah mencoba menjelaskan yang sebenarnya. Berkali-kali dijelaskanpun, rasanya sia-sia. Dia tetap menganggapku berkhianat. Ini bermula siang tadi Tuti melihatku

Pedang Neraka

Oleh:
Namaku Alex umurku 18 tahun. Aku kecanduan bermain game vain glory. Aku juga sudah termasuk orang yang bisa dibilang “Profesional” dalam bermain vain glory. Aku adalah anak yang nakal

Demam Korea

Oleh:
“Yun, nanti pulang sekolah anter aku ke toko buku ya” kata Regina, Sahabatku yang sedang menyantap satu piring bakso di kantin saat istirahat “males ah, pasti mau beli buku

Flashdisk

Oleh:
Seperti biasa jam weaker berbunyi pukul 4 pagi. Andra pun bangun dan langsung ke kamar mandi berwudhu lalu sholat subuh. Setelah itu ia berolahraga agar badannya tetap fit, kerena

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *