Penantian Tak Berharga

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 13 May 2017

Cinta telah mengubah semua menjadi lebih berwarna. Dengan semangat yang selalu tertanam dalam hatiku dan perasaan yang selalu indah saat ku menatapnya. Itulah perasaanku yang telah kupendam sendiri tanpa diketahui olehnya. Cinta dalam diam itulah diriku sekarang, jujur ku tak yakin tuk bisa mengungkapkannya. Abi itulah namanya nama yang selama ini kukenang dalam redupan indah anganku yang mulai berseri karena cinta. Dan untuk pertama kalinya ku bisa merasakan jatuh cinta yang terdalam kepada seseorang.

“Rania” panggil seseorang dari seberang. Rupanya Abi, hatiku pun berdegup kencang, menatap wajahnya.
“Nih buku kamu, makasih ya” ucapnya sambil menyodorkan buku yang kupinjamkan siang tadi. Ku menerimanya dengan getaran yang berbeda, hatiku tersentak saat tiba tiba ia pergi dan mengedipkan sebelah matanya. Hatiku semakin bergetar, apa ini, apakah ini cinta. Kejadian itu selalu terbayang dalam anganku. Saat ku berada di kelas, di rumah, ataupun saat ku bermimpi.

Keesokan harinya ku bertemu kembali dengannya di kelas, ya aku berada di kelas yang sama oleh nya. Ia kembali memberiku semacam kode, ia menatapku tajam, aku mulai tersipu malu, dan ku mencoba tuk membalas tatapan itu, namun guruku menegurnya. “Abi, kenapa kau tidak memerhatikan saya, apa Rania membuatmu cinta sehingga kau terus menatapnya?” ucap Bu Ani. Teman sekelasnya pun mengolok-olok aku dan Abi, isi kelas menjadi ramai, pipiku memerah, hanya karena tatapan dia. “Abi Rania silahkan kalian ke luar dan jangan masuk kelas sampai jam pelajaran saya selesai” kata Bu Ani. Aku dan Abi pun keluar kelas, entah mimpi apa aku semalam aku bisa berdua dengannya di bawah terik mentari siang ini.

“Kenapa kau membuatku untuk tidak mengikuti pelajar, kau tau kan ujian semakin dekat, dan jika aku tidak mengikuti pelajaran maka aku tertinggal dan nilai ujianku bisa hancur” ucapku sebal. “Bagiku, aku lebih suka di sini daripada memperhatikan pelajaran yang membosankan itu” jawabnya singkat, tetapi itu membuatku ke-geer-an setengah mati, apa yang kupikirkan, apakah dia senang saat berdua bersamaku, apa dia juga memiliki perasaan yang sama? Hatiku mulai bertanya-tanya. “Lantas mengapa kau terus menatapku saat pelajaran berlangsung?” tanyaku tiba-tiba, apa yang sedang aku pikirkan, mengapa pertanyaan ini dengan sendirinya terbuang dari bibirku. Abi tidak menjawab apapun, tapi ia malah tersenyum menatap mataku. Aku semakin bergetar, hatiku kembali berdegup kencang. Apa arti semua ini, senyumannya, tatapannya, kenapa hatiku seperti ini.

Ujian akhir sekolah sudah berlalu, senyuman di luar kelas itu pun juga sudah berlalu, kini hari menjadi hari yang terindah bagiku, ya, hari ini adalah hari ulang tahunku, semua teman sekelasku memberi kejutan yang menyenangkan, termasuk dia. Mereka juga memberikan hadiah untukku. Dan di jam istirahat ke dua, aku membuka semua hadiah yang diberikan teman sekelasku, semua telah terbuka tetapi masih ada satu hadiah yang berbungkus rapi dan membentuk sebuah hati, aku tidak tau siapa yang memberikannya dan waktu aku membukanya, secarik kertas merah mudah terjatuh, aku pun membaca isi kertas itu, dan ternyata…

Dear: Rania
Happy sweet seventeen, semoga kamu tetap menjadi penyinar dalam kehidupanku, dan menjadi pelangi di setiap hari- hariku, sungguh senyum yang kamu pancarkan selalu berbeda dari perempuan lain. Aku berharap kita kan selalu bersama.
Abi

Hatiku membeku, apa ini apakah Ini sebuah tanda cinta darinya atau apa?. Itu kado darinya. Kado berisi liontin itu kusimpan rapi di dalam sebuah kotak cintanya.

Kini masa-masa sekelas dengannya telah hilang, aku lulus dari sekolah, sekarang aku dan Abi berpisah, kami melanjutkan ke universitas yang berbeda. Dan aku menantinya, penantian dalam cintaku menujunya, dan hari semakin cepat berlalu, bulan berganti dengan tahun, 4 tahun berlalu, namun penantian itu belum juga tercapai, hingga ulang tahunku yang ke 21, aku mencoba nekat untuk pergi ke rumahnya, namun semua telah berubah, rumahnya telah menjadi peninggalan orang yang tak kukenali, ia telah pindah ke Australia, lantas apa arti dari semua ini, kedipan matanya, senyumannya, dan liontin itu, apa arti semua itu, rupanya penantian ini telah berhenti sampai di sini. Dan semua menjadi tak berarti, Penantian yang tak berharga bagiku.

Cerpen Karangan: Thalia Anzalita
Facebook: Thalia Ramadhani

Cerpen Penantian Tak Berharga merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pertemuan Singkat

Oleh:
Seorang gadis yang mengaharapkan kebahagian dan kebebasan seperti gadis-gadis yang lain. Renzy.. itu nama sang gadis yang rindu akan kebebasan seperti gadis yang lain, dia sering di panggil zyzy..

Perpisahan Mengajarkanku Arti Hadirmu

Oleh:
“Mengapa waktu berjalan begitu cepat? Dapatkah masa-masa indah itu terulang kembali? mengapa kamu begitu cepat menjauh dariku? Mengapa kamu pergi tanpa memberi kesempatan bagiku untuk menyampaikan penyesalanku karena tidak

Pangeran Impian dan Cincin Lumba-lumba

Oleh:
Kalau aku mendengar cerita cinta teman-temanku, aku pasti akan merasa iri. Mereka bisa jatuh cinta kepada siapa saja. Bisa saling bergandengan tangan dengan kekasih mereka. Bisa pacaran, kemudian putus

Pelukan Terakhirku

Oleh:
Matahari bersinar cerah pagi ini. Aku langsung bergegas menuju ruang makan karena ibuku sudah lama memanggilku. Aku pun duduk di sebelah Ibuku. “Kana, kenapa kamu lama sekali..?” tanya Ibu,

Payung Untuk Lael

Oleh:
Aku berdiri di depan jendela kaca. Pandanganku menerabas ke luar. Terdampar pada pinus-pinus di pucuk bukit yang perlahan ditelan kabut. Bintik air bertebaran seperti serbuk. Apa mungkin akan hujan?

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *