Sebuah Firasat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 30 June 2014

Masih ku ingat selalu saat dia menggenggam tanganku, memelukku erat erat seakan tak mau terlepas dariku. Saat itu kami resmi menjadi sepasang kekasih. Sikapnya yang lembut namun tegas, dan begitu kharismatik menurut teman temanku, kami memang sangatlah cocok.

Kejadian tiga bulan lalu mungkin adalah peristiwa paling berkesan di hatiku. Saat dia menembakku di pinggir danau yang jernih. Takkan kulupakan semua itu. Kami sering bersepeda bersama mengelilingi jalan pedesaan yang belum tercemar oleh polusi dan setiap malam minggu sering kami habiskan bersama. “Kamu janji kan setia sama aku Vin?” “Aku janji Kan!” katanya saat itu dengan mantap.

Namun ada apa dengan sekarang. Aku memutuskan dia, Kevin. Dia mungkin tak tau perasaanku saat itu. Dia menduakanku karena dia seorang gamers. Sulit dipercayai, dia meninggalkanku gara gara game suram itu. Dia lebih mencintai gamenya daripada diriku.

Perlahan lahan dia mulai menjauhiku. Sekarang sudah seperti kami berdua tak saling mengenal satu sama lain. Game itu telah menutup mata dan hatinya. Mungkin ia sudah tak punya rasa untukku.

Hari hari kujalani sendiri, tanpanya. Aku akan membuktikan jika aku mampu tanpa kehadiran sesosok Kevin. Hari pertama masuk sekolah setelah liburan dibagikan daftar kelas. Aku sekelas dengan Kevin. Apa aku ditakdirkan untuk tidak melupakannya. Setiap hari dapat kulihat dengan jelas wajahnya, masih seperti setahun yang lalu, belum banyak perubahan. Ku akui, kami memang masih baru menginjak masa remaja. Dan apa yang timbul di hati kami mungkin lazim disebut cinta monyet. Namun aku menyangkal pernyataan itu, mungkin rasa ini terlalu dalam dan tak bisa hanya disebut cinta monyet.

Telah lama aku berusaha melupakan kenangan kami, dan itu hampir berhasil. Namun mengapa Engkau hadirkan dia kembali di dekatku ya Tuhan? Apa mungkin karena Kevin itu first love-ku jadinya memang sulit sekali melupakannya.

Setiap harinya di kelas dia hanya memandangiku sinis, namun aku sering memergokinya sering curi curi pandang ke arahku. Bukan hanya aku, namun teman temanku juga menyadari tingkahnya itu. Mungkinkah dia masih mencintaiku? Aku sudah tak berharap lagi padanya. Namun dalam relung hatiku yang paling dalam, aku masih merasakan gejolak cinta yang menyala, sulit untuk dipadamkan. Entahlah, aku sendiri masih bingung mengenai perasaanku.

Suatu hari dia tak masuk sekolah, aku mengkhawatirkannya. Ya aku merindukan gelak tawanya yang khas dan senyum manis yang melekat di bibirnya dulu. Dia sedang sakit. Aku berharap itu hanya sakit biasa. Keesokan harinya dia sudah masuk sekolah seperti biasanya. Aku senang melihatnya bisa tertawa dengan temannya. Mungkin setiap harinya aku membuat fake smile, dan mereka mengira aku orang yang murah senyum.

Aku juga merasa lelah dengan senyum kebohonganku ini. Aku tak tahan. Sungguh tidak nyaman bila setiap harinya terlarut oleh kebohongan ini. Karena sangat sedihnya, sampai sampai aku tak bisa mencurahkan rasa hatiku kepada siapapun. Tidak dengan orangtuaku, tidak pula dengan sahabatku, Lintang. Aku begitu bodoh memendam semua ini. Aku masih menyimpan rasa untuk first loveku, Kevin.

Akhir akhir ini Kevin sering tak masuk sekolah. Kenapa dia? Mungkin dia sering membolos, pikirku. Membolos demi game pikirku. Dia bermain game tak kenal waktu, pagi siang sore malam tak pernah absen dari game kesukaannya.

Malam hari itu perasaanku tak enak, aku memikirkan sesuatu yang tidak tidak. Aku takut sesuatu terjadi pada Kevin. Aku sulit sekali untuk tidur. Kupejamkan mataku dan akhirnya tertidur. Aku merasakan tidur ini tak biasa. Aku ingin bangun namun sulit, begitu pula aku mencoba berteriak. Seperti ada yang mencegahku. Kupaksakan mengangkat kepalaku dengan sekuat tenaga, akhirnya aku bisa bangun. Sulit sekali rasanya. Leherku bercucuran keringat. Begitu juga dahiku. Kulihat jam dinding menujukkan pukul 11.30. Sebelumnya, aku memimpikan sebuah kafan, perasaanku makin tak enak. Pertama aku bangun, pikiranku langsung tertuju pada Kevin. Semoga dia baik baik saja, tolong lindungi dia ya Allah.

Tadi pagi pukul 4, Kevin mengirim sms selamat pagi untukku. Tak seperti biasanya. Bahkan dia kembali menyertakan sebutan ‘sayang’ di belakangnya. Aku pun membalasnya sambil senyum senyum sendiri. Pagi ini aku berangkat sekolah tanpa pikiran cemas. Pikiranku yang tadi telah hilang karena Kevin baik baik saja pikirku. Sampai di sekolah, banyak teman teman berkerumun. Aku mendatangi kerumunan itu. “Ada apa sih?” Tanyaku sangat penasaran. “Jadi kamu belum tau sedikitpun? Harusnya kamu masuk daftar orang orang yang pertama tau berita ini!” Bentak Lintang. “Iiyaa! Kevin tadi malam meninggal pukul 11.30.” “Aapaaa?” Jawabku seolah tak percaya dan aku langsung tak sadarkan diri, mungkin kejadian tadi malam itu adalah sebuah firasat, ternyata kafan itu untuk Kevin.

Setelah aku sadarkan diri, aku menangis sejadi jadinya, teman teman menenangkanku. Aku menceritakan mimpiku pada Lintang. Dia terheran heran dengan firasatku yang sangat kuat, dia malah mengatakan kalau mungkin Kevin masih sangat mencintaiku. Kevin meninggal pukul 11.30, jadi siapa yang mengirim sms selamat pagi, pada pukul 4 tadi?
Aku dan Lintang datang ke rumah Kevin, ramai sekali orang melayat. Ibu, ayah, adik dan kakaknya menangis seusai pemakaman Kevin. Adik Kevin rupanya yang mengirim sms pukul 4, itu adalah amanat dari Kevin. Aku menangis lagi, Lintang menyeka air mataku. “Kania kan ini?” Ujar wanita yang tak lain adalah ibu Kevin. “Kevin sering cerita tentang kamu, katanya kamu pintar, baik, ramah, lucu. Kevin menyukai kamu.” Deg.. jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. “Iya saya Kania bu.” “Ini ada surat dari Kevin buat kamu tolong mebacanya nanti di rumah saja ya.”

Setelah aku menerima surat itu, aku langsung berpamitan pada keluarga Kevin dan bergegas pulang ke rumah untuk segera membaca surat itu.

Sesampai di rumah, kubaca perlahan surat itu..

Untuk Kania
Mungkin saat kau buka amplop surat itu aku sudah pergi ninggalin kamu.
Maaf aku enggak pamit kamu dulu.
Aku sudah dijemput oleh Malaikat untuk pergi ke surga, dan dipersilahkan menaiki kendaraan ke surga.
Kamu jangan nangis dong. Aku tau sekarang kamu lagi nangis. Jelek lho kalau nangis, senyum dong biar tambah cantik.
Tenang Kan, aku sudah tenang di sini.
Kalau kamu mau inget aku, kamu pergi saja ke danau itu, tatap saja airnya.
Aku tak pernah hilang. Aku juga akan seperti langit
Yang bisa mengawasi dari atas sini.

Kevin

Air mataku mengalir deras saat membacanya. Aku tak tau Kevin mengidap penyakit apa selama ini, dan aku tak akan mencari tau. Karena itu hanya menambah kepedihanku saja. Kevin, Aku tak akan melupakanmu… sayang.

THE END

Cerpen Karangan: Lena Sutanti
Blog: lena-sutanti.blogspot.com

Nama: Lena Sutanti
FB: https://www.facebook.com/lena.sutanti
Blog: lena-sutanti.blogspot.com
TTL: 10-10-1999
Add fb, kunjungi blogku.

Cerpen Sebuah Firasat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


12 Days to Move On

Oleh:
Aku yang tak menginginkan perpisahan, salahkah jika aku mencoba untuk mempertahankan? Aku yang begitu menyayangimu, salahkah jika aku kembali mempertanyakan apa alasan dari perpisahan ini? Aku hampir tak mengerti

Setahun Lalu (Part 2)

Oleh:
Pagi harinya, setelah bangun tidur Sisi memutuskan untuk mendengarkan chanel Radio kesukaannya. Ya, chanel Radio yang mengutip tentang ‘Salam Rindu untuk seseorang’. Dan ketika itu, penyiar radio tersebut memutarkan

Give Me a Reason (Part 2)

Oleh:
Lama kami hanya dalam posisi yang sama. Hingga Unhy melepas pelukannya. Dia tersenyum dan memegang pundakku. “Gimana? Udah mendingan?” Tanyanya, menyodorkan tisu untuk menghapus sisa air mataku. aku mengangguk,

Tangis di Ufuk Barat

Oleh:
Matahari perlahan terbenam di ufuk barat. Suara azan bersamaan dengan itu bergema di seluruh penjuru dunia. Seorang wanita berkepala empat menaiki tangga menuju lantai tiga rumahnya. Dari tangga lantai

Malaikat

Oleh:
Ini adalah kisah cintaku dimana aku bertemu dengan seorang malaikat yang tidak bersayap, tidak bercahaya, dan tidak dari dunia lain tapi malaikat ini adalah malaikat yang menyerupai manusia, sikapnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *