Why Do I Love You

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 26 December 2017

Anas masih berbaring di atas kasurnya. Sambil menikmati musik dengan earphone yang terpasang di telinga. Alunan sebuah lagu berjudul “MY EVERYTHING” yang dipopulerkan oleh salah satu personil Super Junior, yaitu Lee Donghae ini mengingatkan Anas pada seseorang. Seseorang yang dikaguminya sejak semester awal di kelas IX. Tapi apakah dia sudah mengetahui bahwa Anas menyukainya? Mungkin saja belum.

Gadis manis itu membuka halaman selanjutnya pada buku yang sedang dia baca. Apalagi kalau bukan sebuah novel?. Ya, dia suka sekali membaca novel.

“Woi? Anas, sudah nemuin lagunya belum?” Sahabat Anas yang bernama Laras itu masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Kemudian Laras duduk di sampingnya dan dalam hitungan detik earphone itu terlepas.
“Iya aku denger. Masalah lagu, udah tenang aja. Kalo sama aku mah semuanya pasti cepet beres”
“Iya, deh percaya. Eh, lagi baca novel nih. Pasti romance lagi. Ya kan…?”
Anas diam, tidak menghiraukan Laras.

Laras mengerucutkan bibir. “Aduh, sayang sekali yah. Padahalkan Adela udah punya cewek”
“Apaan sih?.. Pergi sana!” Anas kembali memasang earphonenya.

Malam ini hujan turun. Rintik airnya meluncur dengan cepat, berlomba-lomba turun ke bumi. Cukup deras memang, tapi itu tidak menganggu Anas untuk latihan.
Anas mencoba memainkan lagu yang telah dipilihnya untuk ujian praktek seni musik yang akan datang dua hari lagi. “RISALAH HATI” judul lagu itu. Gadis itu mulai memainkannya dengan gitar. Suara merdu dan petikan gitarnya saling bekerja sama. Menghasilkan perpaduan nada yang sempurna.

Anas menarik nafas saat sampai di bagian reff. Aroma tanah basah sampai tercium oleh hidungnya.
Lirik lagu itu sangat menyentuh. Dan gadis itu berharap, dengan membawakan lagu ini, dia dapat membuat hati seseorang yang dikaguminya itu terbuka. Bukan berarti dia menjadi perusak hubungan orang lain. Tapi lewat lagu ini, Anas ingin Adela mengerti bahwa gadis itu mengaguminya dengan arti dan pengertian yang berbeda.

“Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku meski kau tak cinta… kepadaku. Beri sedikit waktu, biar cinta datang karena telah terbiasa”
“Ehem.. cie, cie. Ternyata itu lagunya. Pasti lagu itu bisa mencapainya”
Aku mendengus kesal. Lagi-lagi Laras datang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

“Tapi, bagus kok. Keren banget lho”
“Thanks” Anas hanya tersenyum kecut.

Hari ini, ujian praktek seni music dijadwalkan. Kali ini ada Mr. Philips dan Mrs. Fransiska yang menguji. Anas sangat penasaran dengan apa yang akan Adela tampilkan nanti.
Peserta pertama bernama Aisya tampil membawakan lagu berjudul “MERINDUKANMU” dengan alat musiknya piano. Penampilan Aisya berhasil menyita perhatian peserta lainnya, termasuk Anas.

Saat nama Adela dipanggil, pipi Anas merah padam. Anas tidak percaya, permainan piano yang dibawakan Adela itu sangat mengagumkan. Instrumen dari lagu berjudul “MY HEART WILL GO ON” yang diciptakannya sangat indah. Jari-jarinya dengan lembut menyentuh tuts piano tanpa cacat.

Anas menghembuskan nafas dalam-dalam.
Sekujur tubuhnya terasa panas dingin. Dahinya telah berkeringat. Kakinya masih terlihat bergetar saat gadis itu sudah duduk di depan peserta lain, dengan gitar yang dipangku olehnya.

“Hm… sebelumnya, aku mau mengucapkan satu hal. Bahwa lagu ini khusus kupersembahkan untuk seseorang dan aku berharap dia terbuka hatinya melalui lagu ini. Selamat meyaksikan”
Sengaja mata Anas terus menatap Adela lebih dalam, tidak peduli dengan peserta lain yang melihatnya dengan tatapan curiga.
“Kumohon Tuhan, semoga lagu ini dapat mencapainya”

Seluruh peserta ujian, termasuk Adela terkejut saat mendengar permainan gitar yang dibawakan oleh Tasya berhenti diparuh jalan. Ada apa?
Anas tidak dapat lagi membendung air matanya. Saat sampai dibagian reff, matanya mulai memanas, tidak sanggup melanjutkan liriknya. Anas terlalu sungguh-sungguh memainkannya atau memang dia memainkannya dengan segenap hatinya?

“Anas kenapa?”
“Ada apa dengannya? Kenapa permainannya berhenti?”
Mrs. Fransiska segera menenangkan keadaan. “Sudah, tolong diam. Anas ada apa?”
Anas menggeleng sambil terus menghapus air mata yang menetes. Gadis itu berdiri dan melangkah menuju sosok pria bernama Adela itu.

Sampai di depan pria itu, Anas terisak. Air matanya jatuh semakin deras. Adela hanya diam, entah apa yang harus dilakukannya. Dan orang-orang diruangan itu memandangnya terharu karena terbawa suasana.

Anas memberanikan diri untuk berdiri lebih dekat di depan Adela. Gadis itu menundukkan kepala menyembunyikan air matanya yang mengalir. Mereka berdua terdiam, hanya terdengar desah nafas dan isak tangis.

Adela masih berdiri terpaku dan hanya bisa memandang pundak gadis yang sedang menunduk itu. Apa yang sebaiknya pria itu lakukan, dia sama sekali tidak tahu.

“Ah, dasar bodoh. Pasti pria ini juga bingung mengapa aku berdiri seperti ini di depannya. Sebaiknya…,” ucap Anas dalam hati. Perlahan Anas menengadah ke atas dan berusaha menemukan harapan itu di mata Adela.
Mereka berdua terdiam sesaat, mata mereka telah bertemu dan perlahan saling menerawang lebih dalam. Adela dapat merasakan keteduhan dari mata gadis itu. Anas pun merasakan ada sebuah harapan untuknya, itu tergambar jelas di mata Adela.

Sekarang, entah apa yang harus Anas lakukan. Gadis itu tiba-tiba saja melupakan semua kata-kata yang sengaja dirangkai untuk mengungkapkan perasaannya pada pria itu.

Satu menit…
Dua menit…

Adela mengalihkan pandangan, menyadarkan Anas pada ingatan itu bahwa dia harus segera mengungkapkannya. Apapun yang terjadi dia harus tetap mengatakan yang sebenarnya. Anas tidak bisa menyimpan perasaan itu terlalu lama lagi.

“Perasaan ini apa namanya yah? Kau tahu apa namanya?” ucap Anas sedikit berbasa-basi dengan air mata yang masih menetes di pipi.
“Maafkan aku jika aku mencintaimu…,” lanjutnya.

Bahu Adela naik, terlihat sekali jika dia terkejut. Semua orang di ruangan itu juga terkejut, ada juga yang terlihat mengeluarkan air mata. Beberapa jarak dari Adela berdiri, ada seseorang di sana, gadis yang kini menjadi kekasih Adela juga menangis.

“Jika kamu tidak melarang, bolehkah aku mencintaimu selama aku bisa mencintaimu?”
Adela masih diam. Tapi terlihat di tepian matanya yang kian memerah.

“Terima kasih karena kamu telah mengisi hatiku”

Nafas Adela tercekat, ulu hatinya terasa seperti tertusuk samurai. Matanya pun mulai memanas. Adela menengadah ke atas, berusaha agar air mata itu tidak terjatuh. Namun, seberapa keras dia mencoba membendung air mata itu, mereka tetap terjatuh dan perlahan membasahi pipinya.

“Apa? Ternyata kamu juga mencintaiku. Andai kamu tahu, saat itu aku juga mencintaimu…,” ucap Adela dalam hati mengakui perasaannya.

Adela masih terpaku di tempatnya berdiri, sementara tangan kirinya memegang dadanya sendiri untuk menahan rasa sakit itu. “Anas tunggu…!!!”

Pria itu memutar tubuhnya dan berusaha mengejar Anas yang sudah berlari menjauh darinya tanpa menghiraukan panggilan pria itu. Tapi, saat Adela telah mengambil langkah yang kedua, kekasihnya mencegah langkahnya. Justru Laras yang sudah jauh untuk mengejar Anas.

Di hari terakhir pelaksanaan ujian praktek, tentunya setelah kejadian saat ujian praktek seni musik itu, Adela terus memikirkan tentang Anas. Apalagi, sampai Anas tidak hadir saat pelaksanaan Ujian Nasional. Tidak ada kabar sama sekali tentang keberadaan Anas. Adela tidak berani bertanya pada orang-orang yang dekat dengan Anas, termasuk Laras sahabat gadis itu. Hingga saat acara pelepasan anak kelas IX, dimana acara itu sangat penting dan diwajibkan, Anas tetap tidak hadir. Dan pada saat itu juga Adela meyakinkan diri bertanya pada Laras.

Apapun yang terjadi aku harus tahu di mana Anas selama ini, pikir Adela.

Adela menemui Laras yang berada di taman sekolah. Sekejap, pria itu langsung mengetahui perubahan sikap Laras yang hendak pergi saat melihat Adela mengarah kepadanya.

“Tunggu! Jangan lakukan itu, aku mohon. Aku tahu kamu pasti membenciku, tapi kali ini aku mohon jelaskan padaku tentang keberadaan Anas sekarang.”
“Sekarang dia sudah tenang di Surga,” ucap Laras dengan suara bergetar.
“Apa maksudmu? Tolong jelaskan…”
Adela mengambil jarak mendekati Laras agar bisa mendengar semua penjelasannya.
Seperti tidak mendapat oksigen, nafas Adela tercekat saat mendengar penjelasan Laras bahwa Anas meninggal karena kecelakaan setelah kejadian itu.

Anas berlari menjauh dari pria itu dan meninggalkan ruangan ujian praktek. Hati dan pikirannya sangat kacau. Dia terus berlari tidak menghiraukan Laras yang lelah mengejarnya. Saat itu, jalanan dipenuhi oleh suara klakson karena Anas tidak memperhatikan sekitarnya. Anas terus berlari, meski dia hampir saja tertabrak. Dengan tenaga yang masih tersisa, Laras berteriak-teriak memanggil Anas saat sebuah mobil melaju kencang ke arah gadis itu. Dan begitu cepat peristiwa itu terjadi. Anas tergeletak tak sadarkan diri.

Laras melanjutkan. “Sebelum Tasya menghembuskan nafas terakhirnya. Dia memintaku untuk memberikan ini padamu”
“Apa?”
“Di dalamnya ada sebuah video. Aku ingat waktu itu, Tasya menyuruhku untuk merekamnya saat dia sedang menyanyi sebuah lagu untukmu. Lagu ini dibuat oleh Tasya sendiri. Lagu ini terinspirasi olehmu. Sebaiknya, kamu putar segera video ini”
Adela menerima sebuah kamera yang berisi video seperti yang dikatakan oleh Laras. Pria itu menarik nafas panjang, lalu mengeluarkannya perlahan sebelum memutar video itu.

Sebutir air mata jatuh di pelupuk mata Adela saat video itu selesai diputar. Tiba saatnya Adela memberitahu yang sebenarnya pada Laras.

“Haruskah aku menceritakan yang sebenarnya pada kamu?” tanya Adela pada Laras.
“Tentu saja. Ceritakanlah…”

Pria itu menarik nafas panjang lagi, lalu mulai berbicara.
“Sepertinya memang begitu. Jadi, waktu itu… Entah kapan tepatnya, aku bertemu Anas untuk pertama kalinya. Yang aku tahu saat awal semester kelas IX, aku merasakan perasaan yang belum pernah aku rasakan. Aku terus memikirkan tentang Anas. Aku merasa sejak ada Anas, hari-hariku menjadi lebih berwarna dan berkilauan”

Laras memperhatikan penuh penjelasan itu dan mencerna setiap kata-katanya.

“Aku juga tidak tahu… Perasaan itu, apa namanya yah? Tapi ku rasa, itu perasaan cinta. Dan saat itu juga, aku melihat kedekatan Anas dengan pria itu. Aku merasa tidak ada harapan lagi untukku. Hari demi hari berlalu, aku masih berusaha mengabaikan perasaan itu, tapi itu malah membuatku tersiksa. Mungkin, karena aku terlalu takut untuk mengakui perasaanku pada Anas. Akhirnya, aku mencoba cara lain. Aku ingin melupakan perasaan itu. Aku memilih dia dan bukan Anas untuk menjadi kekasihku. Tapi, saat aku baru tahu bahwa Anas juga merasakan perasaan yang sama seperti, aku malah tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Saat itu, aku ingin sekali mengejarnya, tapi dia menghalangi langkahku…”

Laras melongo tidak percaya. “Jadi selama ini…”
“Betul. Aku juga minta maaf. Karena ternyata, aku juga mencintainya.”
Laras membisu. “Dan cinta kalian juga ternyata sama-sama tumbuh sejak semester awal kelas IX. Benar, Anas yang mengatakan padaku jika dia menyimpan rasa disaat yang sama sepertimu,” ucap Laras setengah terkejut.
Adela memasang senyum penyesalan namun dia berusaha untuk tegar.

“Oh, iya. Anas tidak bilang padamu tentang judul lagu ini?” tanya Adela.
“Kalau aku tidak salah, Anas memberi judul lagu ini dengan ‘WHY DO I LOVE YOU’…”

Cerpen Karangan: Anastasia Kinanti Putri
Blog: conanshortstory2.blogspot.com
Anastasia Kinanti Putri
SMA BRUDERAN PURWOREJO

Cerpen Why Do I Love You merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Rain

Oleh:
“Kamu gak pulang Sin?” kata Rama. “Iya tapi aku baru nungguin Pak Tarno buat jemput aku.” kataku. “Bareng aku aja yuk.” kata Rama. “Tapi Ram?” kataku. “Ayo keburu deras

Seindah Pelangi

Oleh:
Pernah nggak kamu marah sama cowok kamu, saat dia membatalkan acara malam minggu? Bukannya parno. Cuma kesel aja, Owi membatalkan semuanya. Padahal aku udah dandan mati-matian! Kesel, kesel. Duh,

Kembali

Oleh:
Setiap kali Fuji melewati perempatan jalan itu, selalu ada bayangan seorang gadis disana. Gadis yang membuatnya jatuh cinta, gadis yang membuatnya mengacuhkan gadis-gadis cantik lain. Dan gadis itu pula

Happines With Love

Oleh:
Pagi ini seperti biasa aku bangun pagi untuk sekolah ku tercinta. Tapi sepertinya pagi ini perut gua mules-mules dan aku malas sekali untuk sekolah. So, aku keluarkan lah akting

Pengagum Misterius

Oleh:
Embun masih menempel di dedaunan, mentari pagi mulai menampakkan dirinya. Seperti biasa, Dinda menuju halte bus yang tak seberapa jauh dari rumahnya. Untuk menuju halte bus, Dinda harus menempuh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Why Do I Love You”

  1. wanditata says:

    I love it

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *