Novel Perasaan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga
Lolos moderasi pada: 18 May 2016

Prok.. Prokk.. Prokk. Suara tepukan tangan dari banyak orang itu masih terngiang di telingaku. Hari ini, di lapangan upacara, semua mata tertuju padaku. Namaku disebut-sebut oleh Kepala Sekolah saat menyampaikan amanat kepada para siswa pada upacara senin pagi tadi. Aku berhasil meraih medali perak dalam Olimpiade Sains Nasional Tingkat SMA, tahun ini.

“Kamu hebat Rara, selamat ya!” Itulah kata yang diucapkan teman-teman dan guru-guruku di sekolah. Aku hanya tersenyum saat mereka mengatakannya, aku tak pernah berniat menyombongkan diri sedikit pun. Aku akui memang, dalam dunia akademik, prestasiku cukup membanggakan. Namun, dalam urusan asmara, aku kalah oleh teman-temanku. Teman-temanku sudah mempunyai seseorang yang bisa membuat hidup mereka lebih ‘berbeda’. Pacar, maksudku. ‘Aku juga ingin seperti mereka.’ gumamku. Entah kenapa aku masih ‘sendiri’. Mungkin karena sikap cuekku yang menyebalkan membuat teman laki-laki enggan mendekatiku. Aku berjalan ke luar kelas. Kelas XI IPS 1, ya itulah kelasku. Aku bermaksud untuk pulang, karena memang ini sudah waktunya pulang.

“Selamat ya, Ra!” Ucap seseorang dari belakang.
Aku pun menoleh, melihat ke arah sumber suara. Ternyata Arka. “Iya. Makasih, Ar!” Jawabku sedikit gugup.
Arka Fauzan, dia adalah teman SMP-ku dulu. Dia berperawakan tinggi, tubuhnya berisi, dan berkulit sawo matang. Dia mempunyai mata yang tajam, dan hidung yang mancung. Jujur, aku menyukai anggota tubuhnya yang terakhir ku sebutkan. Jujur, aku juga pernah mengagumi Arka ketika masih SMP.
“Pulang sama siapa nih?” Tanya Arka sambil berjalan di sampingku.
“Sama Adit.” Jawabku datar.

Aku biasa pulang dengan Aditya Bagas, biasa dipanggil Adit. Adit adalah sahabatku sejak kecil. Aku sudah menganggapnya sebagai saudara sendiri. Aku dan Adit selalu berangkat sekolah dan pulang dari sekolah bersama-sama. Adit adalah anak dari sahabat Ibuku, Tante Linda namanya. Oleh karena itu, Adit menjadi orang kepercayaan Ibu, untuk menjagaku. Maksudku, menjaga layaknya seorang kakak pada adiknya. Maklumlah, Ayah dan Ibuku pembisnis yang super sibuk, jadi mereka perlu orang kepercayaan untuk bisa menjagaku. Oh ya, kelas Adit yaitu kelas XI IPS 2, dia satu kelas dengan Arka. “Aku pulang duluan ya!” Ucapku pada Arka, saat melihat Adit sudah siap menyalakan motornya. Arka mengangguk, lalu tersenyum manis. Manis sekali. Aku langsung naik ke atas motor matic berwarna biru milik Adit, dengan duduk menyempong di belakang Adit. Motor biru milik Adit pun melaju kencang meninggalkan Arka sendirian di depan gerbang.

“Gebetan baru ya?” Tanya Adit sambil tertawa meledek.
“Haha.. Apaan sih Dit? Dia kan temen SMP kita!” sahutku sambil mencubit pelan perut Adit.
Adit sontak protes, katanya geli.
“Adit, aku mau ke toko buku dulu,” Rengekku pada Adit.
“Beli novel lagi?” Tanyanya sambil terus mengendarai motornya dengan kecepatan sedang.
“Iya. Katanya ada novel baru dari penulis favoritku baru aja terbit,” Tuturku menjelaskan.
“Hmm baiklah.” Sahut Adit.

Singkat cerita. Hari ini adalah hari ulang tahunku. Aku mengenakan gaun berwarna broken white, lalu rambut panjangku dibiarkan terurai. Aku merasa seperti seorang putri hari ini. Putri yang kesepian di tengah keramaian seperti ini. Bagaimana tidak kesepian? Orangtuaku saja bahkan tak hadir dalam pesta yang cukup meriah ini, ya pesta ulang tahunku. Pesta meriah ini dibuat oleh Tante Linda dan Adit, mereka sangat baik kepadaku. “Happy birthday.. Happy birthday.. Happy birthday Rara.” Semua teman-temanku yang hadir di pesta malam itu menyanyikan lagu selamat ulang tahun untukku.

Kini, tiba saatnya meniup lilin, lalu make a wish -membuat harapan. Aku membuat 2 harapan. Pertama, aku ingin orangtuaku bisa hadir di pestaku malam ini. Meski tak mungkin. Kedua, aku ingin seseorang menyatakan perasaannya padaku malam ini. Dan, saat aku memikirkan harapan yang kedua, aku tiba-tiba saja teringat pada Arka yang akhir-akhir ini bersikap baik padaku. Setelah meniup lilin, teman-temanku bersorak lagi.

“Ayo potong kuenya!” Tante Linda memberikan pisau agar aku cepat-cepat memotong kuenya. Namun, tiba-tiba Arka menahan tanganku.
“Rara, tunggu dulu. Aku ingin menyatakan perasaanku padamu. Aku mencintaimu. Would you be my girlfriend?” Ucap Arka penuh penekanan.
“Jika jawabannya iya, berikan potongan kue pertama itu padaku!” Tutur Arka.
Ini seperti mimpi! Oh Tuhan, Kau mengabulkan harapan keduaku.

3 bulan sudah aku dan Arka berpacaran. Hubungan kami baik-baik saja. Namun, hubunganku dan Adit menjadi renggang. Semua itu berawal saat Adit mengatakan kalau Arka hanya ingin mempermainkanku saja, Adit juga bilang kalau Arka melakukan taruhan dengan teman-temannya. Jika Arka bisa menjadi pacarku, maka teman-temannya memberi Arka hadiah. Untuk yang pertama kalinya, aku tak percaya pada perkataan Adit, ya perkataan tentang Arka. Namun, seminggu setelah 3 bulan perayaan hari jadianku dan Arka, aku pun mengetahui semuanya.

“Rara, aku mau jujur sama kamu. Sebenarnya apa yang dikatakan Adit itu benar, pada awalnya,” Tutur Arka saat mengajakku bertemu di taman.
“Maksud kamu apa, Ar?” Tanyaku tak mengerti.
“Awalnya, aku memang mengadakan taruhan dengan teman-temanku, karena mereka pikir aku tidak akan bisa menyentuh hati perempuan cuek seperti kamu. Aku juga pernah bilang sama teman-temanku, kalau aku akan memutuskan kamu dalam seminggu tapi ternyata, aku tak bisa. Aku terlanjur benar-benar mencintaimu. Maaf jika kejujuranku menyakiti hatimu, Ra. Tentang hubungan kita sekarang, terserah kamu. Yang jelas aku benar-benar sayang kamu sekarang.” Ucap Adit sambil memegang erat tanganku, seolah aku akan meninggalkannya pergi.

Aku tertunduk. Berpikir sejenak. Aku kecewa pada awalnya. Tapi, aku tak bisa membohongi perasaanku, sendiri. Aku mencintai pria di sampingku ini.
“Kamu serius? Apa kamu serius sayang sama aku?” Ucapku sambil menatap matanya.
Dia mengangguk, kemudian memelukku. “Satu hal lagi yang harus kamu ketahui, ini tentang Adit. Aku tahu, dia mencintaimu.” Tutur Arka.
Aku terlonjak kaget mendengarnya.

“Dari mana kamu tahu?” Tanyaku heran.
“Aku pernah melihatnya menulis sesuatu di halaman terakhir sebuah novel. Lalu, dia membungkus novel itu ke dalam kotak yang dilapisi kertas kado. Apa kado dari Adit itu novel?” Aku mengangguk. “Tapi bisa saja kan kado itu juga diberikan untuk orang lain?” Ucapku.
“Apa kau pernah membaca novel dari Adit itu?” Tanya Arka. Aku menggeleng.
“Aku sudah punya novel itu, jadi ku rasa aku tidak perlu membaca novel pemberian Adit itu.” Ucapku.
“Selain itu, aku merasa sikap Adit berbeda padamu. Aku tahu gerak-gerik seorang laki-laki yang mencintai perempuan.” Arka menjelaskan.

Aku berdiri di samping Adit, menatapnya lekat-lekat. Sedangkan dia hanya tertunduk, tak berani menatapku.
“Aku sudah tahu semuanya, Adit,” ucapku yang masih memegang novel pemberiannya di tanganku. Aku membuka halaman terakhir novel itu. Di bawah profil penulis novel tersebut, ada seuntai kata-kata. Seuntai perasaan yang dicurahkan Adit kepadaku 3 bulan yang lalu. Bodohnya, aku baru tahu sekarang.
“Ini tulisan kamu, kan?” Tanyaku.
Adit mengangguk.

“Lalu?” Adit bertanya padaku.
“Maaf. Aku sudah terlanjur mencintai Arka. Maafkan aku. Tetaplah menjadi sahabat terbaikku,” ucapku sambil menunduk. Aku berusaha berkata jujur, meski aku tahu pada akhirnya Adit akan terluka.
Adit tersenyum perih, lalu berkata, “Gak apa-apa. Aku tahu, hati tak bisa dibohongi. Aku tahu kamu cinta Arka. Aku senang bisa jadi sahabatmu, Ra,” ucap Adit.
Kemudian aku memeluk Adit. “Kita masih sahabat kan?” Tanyaku.
“Iya.” sahut Adit sambil mengacak-acak poni rambutku.

SELESAI

Cerpen Karangan: Mira Sri Nuraini
Facebook: Mira Sri Nuraini
Mira Sri Nuraini, seorang gadis yang berasal Kota Angin. Seorang gadis yang ingin terus berkarya.

Cerpen Novel Perasaan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dilema

Oleh:
Entahlah aku merasa Dia, Revano cowok yang menurut beberapa mahasiswa sangat keren, pintar dan sejuta pujian selalu dihujamkan padanya selalu memperhatikan aku. Aku hanya berfikir bahwa aku hanya ke

Gadis Pilu Dan Pekat Malam

Oleh:
“Sampai saat ini, aku masih belum berani menceritakan apa yang kurasakan kepada orang lain. Semenjak itu aku harus menahan diriku untuk jatuh cinta karena sejuta trauma semakin menghantuiku. Aku

Merajut Kepingan Hati

Oleh:
Sudah tiga jam lebih Fani menunggu kedatangan fina di serambi samping rumahnya sambil mendengarkan musik dari ipad nano yang baru ia beli satu minggu yang lalu. Fani sangat cemas

Hujan, Anime dan Cinta (Part 1)

Oleh:
Rintik-rintik hujan dan suara halilintar membangunkan melody dari tidur lelapnya. Perlahan dia membuka matanya dan memalingkan pandangan ke jendela kamarnya. “Argh.. hujan turun lagi,” desahnya perlahan. Sejenak dia teringat

Tentang Ego dan Rasa

Oleh:
“Makasih, ya, Bas. Hati-hati…,” ucap Salma sambil menepuk pelan bahu Baskara. Laki-laki bertubuh jangkung dengan warna kulit sawo matang itu membalas dengan senyum. Senyum yang selama tiga tahun belakangan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Novel Perasaan”

  1. amilya sukasah says:

    Cerpennya bagus,Oh iya mau correct sedikit nih, itu pemenang lomba olimpiade Sains, terus kenapa kelasnya XI IPS 1 ya? Di IPS kan gada pelajaran sains?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *