Untuk Kebahagiaan Mu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 28 January 2016

“Baiklah, baik aku berhenti, Dion!” Pekik Ivea dalam tangisnya. Semuanya sudah jelas, keadaannya rumit. Dion yang frustasi hanya termangu. Memandang Ive dengan tatapan memelas. Semua ini salahnya! Dia yang membuang namun dengan naifnya meminta Dion kembali padanya. Dion membencinya! Ya, Dion membenci gadis yang pernah membuangnya demi lelaki lain. Namun di sisi lain, ada sayatan pedih yang membuat luka lama itu menganga lagi. “Kamu yang tak tahu malu bukan? Begitukah sifatmu? gadis macam apa kamu?” Umpat seorang gadis yang berdiri di samping Dion.

Ive hanya membeku. Tatapannya kosong. Ia tak kuasa mendengar tudingan Andrea padanya. Untuk menjawab pun semuanya sia-sia. Gadis itu terlalu mempercayai Dion. Kekasih Dion, satu tahun lebih tua dari Ive. Sebut saja dia Andrea, gadis cantik nan anggun namun begitu bengis. Gadis yang menganggap Ive adalah serangga penghancur kebahagiaannya. Dion dan gadisnya meninggalkan Ive yang tertunduk malu di seberang jalan malam itu. Hujan menenggelamkannya dalam kabut pilu dan tumpahan tangis yang mengerikan. Ive merasakan nyeri yang luar biasa dalam batinnya. Dion, lelaki yang amat dicintainya meninggalkan Ive seorang diri demi gadis itu.

Hampir tengah malam. Ive memasuki rumahnya dengan gontai, tubuhnya basah diguyur hujan. Matanya sembab. Hatinya hancur. Semuanya memang salahnya sendiri. Ive yang beranggapan jika meninggalkan adalah yang terbaik. Berpaling adalah hal yang mudah namun nyatanya itu terlalu sulit! Ive sangat mencintai Dion.

Ive merebahkan tubuh mungilnya yang letih di atas sofa kesayangannya. Dicarinya posisi ternyaman. Ive meringkuk di sana dan mencoba mencari ketenangan. Air matanya perlahan jatuh. Tangisnya pecah seketika. Terlintas lagi setiap ungkapan-ungkapan manis dari Dion. Setiap kenyamanan yang pernah Dion beri untuk dirinya ternyata hanya bualan. Bodohnya Ive tak menyadari semuanya. Ia hanya terjebak pada kenyataan pahit yang semu. Ive tahu ini konyol, ia meninggalkan cintanya demi Ive. Lelaki yang mati-matian berusaha dihilangkan dari lubuk hatinya.

Ive menyakiti orang lain yang begitu tulus menyayanginya demi Dion, cinta yang dipikirnya masih melekat dengan erat di sana. Beberapa bulan lalu sebelum annivarsary ke-24 bulan hubungan Dion dan Ive. Seorang lelaki yang jauh lebih muda dari Ive, membuat suatu kesan istimewa yang tak pernah Ive duga. Ive jatuh hati begitu mengenal lelaki itu hingga sebuah kesalahan menenggelamkannya. Hubungannya berantakan sejak Ive dekat dengan Anan. Dion yang Ive kira tak tahu apa-apa nyatanya tahu lebih banyak.

“Kenapa? Apa maksudmu dengan semua ini? Siapa dia, Ive?” Dion membelalak penuh geram pada gadisnya.
“Apa maksudmu? Siapa yang kamu maksud?” Suara Ive merendah. Dion menyeringai dalam amarahnya. Nampak seperti orang kesetanan yang siap meludahkan peluru mematikan dari mulutnya. “Kau bodoh? Pura-pura bodoh? Haah.. Hebat!” Dion mendengus kesal. “Aku benar-benar tak mengerti. Apa maksudmu sebenarnya?”

“Silahkan saja berlagak bodoh seperti itu, kejar saja dia! Tak usah pikirkan aku!” Bentak Dion. Ive membelalak bingung di hadapan Dion. Pikirannya kacau. Semuanya nyata adalah kebenaran yang berusaha Ive sembunyikan. Tapi ini kekanakan, memalukan untuk lelaki seusianya. Ive yang saat itu merasa amat bersalah hanya bisa mengelak dengan penuh beban di hadapan Dion. “Maafkan aku, Dion… aku benar-benar merasa tidak berdaya dengan semua ini. Aku tahu aku salah, tapi hati ini terlalu egois untuk menolak.” Ungkap Ive.

Dion terdiam mendengar ucapan Ive, dipandangnya baik-baik gadis itu. Masih sama, dia gadis yang begitu Dion kasihi. Namun hatinya benar-benar terluka dengan sikap Ive, mati-matian Dion memperjuangkan gadis kebanggaannya itu. Sekarang apa? Ive justru mengecewakannya. “Sudah, cukup, Ivea. Aku tak mau mendengar hal itu lagi, sakit Ive..” Dion menahan kemarahannya. Kesedihan membalut hatinya, suaranya bergetar mengatakan semua yang ia tahu. Hanya harapan yang menjadi tempat berlabuhnya.

Setelah kejadian itu berakhir, Ivea dan Dion tak pernah lagi dipertemukan. Hanya beberapa kali, dalam kilatan waktu yang menyesakkan. Semua yang terjadi di antara dua mereka, saling terpisah dalam batas waktu. Namun tak ada yang berbeda dari Ive. Ive menjalani setiap harinya dengan anggapan yang begitu damai. Ia bisa berjalan sendiri bahkan tanpa Dion, ia bisa memulai harinya dengan jauh lebih baik bersama Anan. Lelaki yang begitu istimewa di matanya. Lelaki yang dianggap sebagai penggati. Namun, Ivea merasa hatinya tak pernah beranjak dari Dion. Ivea bahkan selalu bertanya-tanya dalam hatinya. Benarkah? Benarkah ia mencintai Anan?

Pernah suatu kali, saat tiba-tiba Dion berjaan tepat di depan mata Ive. Darahnya masih berdesir hebat, jantungnya masih berpacu dengan cepat hanya dengan melihat sosok lelaki itu. Ive mengabaikannya. Ive selalu meyakinkan dirinya jika semuanya salah, dia sudah berjalan sendiri dengan lelaki lain. Lelaki yang begitu menyayanginya. Tapi kenapa? Kenapa rasa itu tak pernah pergi? Kenapa kecemburuan ini bahkan tak pernah menghilang? Ivea terus meyakinkan hatinya. Ia berusaha menjalani semuanya dengan sebahagia mungkin, tanpa tahu ada seseorang yang begitu terluka melihat setiap canda yang ada antara Ivea dan Anan.

Sekarang saat Ivea sadar akan semua kebodohannya, ia memutuskan mengakhiri perasaan sesaatnya. Ivea sadar jika semua yang ia jalani adalah obsesi. Hatinya masih untuk Dion, tetap untuk Dion dan semakin untuk Dion. Ivea bahkan berharap jika semuanya akan kembali seperti dulu. Seperti apa yang Ive dan Dion jalani beberapa Tahun lalu. Berhari-hari Ivea menangisi kepedihannya. Meratapi setiap malam dengan linangan air mata yang membuatnya muak. Kantung matanya yang terlalu lelah menangis. Pikirannya yang entah lari ke mana. Susah tidur setiap malam. Hanya untuk Dion? Tidak! Ive menyesali setiap rasa yang mengalir dalam benaknya. Mengutuknya setiap detik dan berharap jika ini hanya mimpi buruk.

Nyatanya, ini realita yang menggelikan. Ive berusaha memulai hidupnya lagi dengan senyuman. Menghardik jika semua yang terjadi adalah karena kebodohannya sendiri. Mengosongkan bebannya dengan kegiatan-kegiatan baru. Dan. Duduk manis dengan kebisuan bersama sahabatnya, Syana. “Benar ini yang kamu mau, Ive? yakin kamu tak akan menyesalinya?” Syana mencoba mencari keyakinan dari diri Ivea.
“Aku mencintainya, Sya.. kamu tahu itu, aku hanya tak ingin menunjukkan kepalsuan lagi pada mereka.”
“Tapi, Anan menyayangimu.. Sedangkan Dion? Begitukah kamu mempercayai jika dia masih sangat mencintaimu?” Syana mencoba untuk meyakinkan Ivea lagi. “Entahlah, aku tidak begitu yakin, Syana.” Suara Ivea merendah, tampak begitu serak.

Syana tahu benar, Ive adalah gadis yang baik. Ia tak akan begitu saja berani meninggalkan seseorang hanya demi kebahagiaannya. Syana tahu, Ive dan Anan sepakat mengakhiri hubungan mereka karena mereka ingin mengejar mimpi-mimpi mereka lebih dulu. Namun, Syana tidak tahu kenapa gadis ini begitu kokoh berdiri di tengah harapannya yang kian menyiksa. Ive hanya mencintai lelaki yang sudah terlalu banyak menyakitinya.

“Kamu tahu, akan ada banyak jalan yang Tuhan rencanakan untuk kita, Ive. Rencana Tuhan akan selalu jauh lebih baik dari yang kita harapkan.. dan aku yakin Tuhan telah merencanakan sesuatu yang luar biasa untukmu nanti.” Syana menatap Ivea dengan sayang, Syana menguatkannya. “Aku juga meyakininya, Syana.. Tapi, benarkah begitu? Aku menunggunya, berharap dia hadir di hidupku lagi seperti dulu..”

Syana tersenyum hangat pada Ivea, gadis yang begitu tulus. Gadis yang biasa lebih dewasa dari yang lain, sekarang mengeluh di hadapannya. Gadis yang begitu rapuh namun masih sama kokohnya walaupun dihantam sakit luar biasa ribuan kali. “Kamu harus belajar merelakan, Ive.. merelakan yang bukan untukmu, merelakan dia bahagia besama orang lain. Dan belajar ikut merasakan kebahagiaannya..” Syana bergumam.

Ivea membisu, memaknai setiap kata yang dilontarkan sahabatnya. Mungkin benar, jika yang terbaik adalah merelakan Dion bahagia meskipun tanpa dirinya. Ia berpikir puluhan kali tentang itu. Sekarang harus apa lagi? Ivea menarik napasnya dalam-dalam. “Aku berhenti, Syana. Aku akan melepaskannya perlahan dan tidak akan mengingat semuanya.. Aku akan berjalan sendiri untuk impianku!” Ivea memantapkan hatinya. Seolah tiap bait yang terucap dari bibirnya juga menyeret baban hatinya ke luar. Perasaannya membaik setelah perbincangan itu.

Ivea melanjutkan harinya dengan penuh keyakinan yang mendalam sejak semuanya berakhir. Ia memilih untuk mengejar semua mimpinya dan melupakan semua kisah yang pernah terjadi antara dirinya dan Dion. Semua yang terjadi padanya ketika itu mengajarkan banyak hal yang sangat berarti. Ivea menyadari satu hal yang pasti jika cara terbaik dalam mencintai adalah membiarkan seseorang yang kita cintai bersama dengan pilihannya. Merelakan akan jauh lebih bijak, karena Tuhan selalu memberi yang jauh lebih baik dari apa yang kita minta. Tentang siapa yang akan kembali, semuanya tidak pernah Ivea pikirkan lagi. Jika Tuhan mau, Ive dan Dion tak akan pernah terpisah lagi. Ive yakin apa yang Tuhan beri untuknya akan kembali padanya. Diam dan Tunggulah!

Cerpen Karangan: Ismatul Laila
Facebook: Http://facebook.com/Izma Laila

Cerpen Untuk Kebahagiaan Mu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tidak Sebaik Yang Kamu Kira

Oleh:
Gina, seorang gadis yang selalu ceria. perangainya santun, sikapnya lemah lembut, selalu hangat pada setiap orang, dan memiliki senyum yang manis. Aku mengenalnya karena dia teman sekelasku. Keramahannya membuat

Kata Kata Terakhir Untuk Ibu

Oleh:
Adzan maghrib berkumandang dari masjid dekat rumahku, menggelegar mengajak umat muslim menegakkan ibadah untuk mengingat Sang Pencipta. Ayah dan kakakku bersegera mengambil wudhu dan mengikatkan sarung untuk menutup aurat.

Love? Just Be Patient (Part 2)

Oleh:
Rain datang ke rumahku, membawa parcel buah, aku sedang menghibur diri di depan rumah melihat bunga-bunga. “Hi! Rain!” aku setengah terkejut. “Nona sudah terlihat membaik.” Rain membuka pembicaraan. “Iya

Ku Pilih Sahabat di Banding Dia

Oleh:
Pagi yang cerah menyapa. Burung yang indah kian bersiul, layaknya sedang membisikkan suatu kiasan kata. Geby, seorang gadis penghuni kota ‘Bandung’ terbangun karena sang mentari begitu menyorotnya. “Huaah… Ngantuk

Perjuangan Cinta

Oleh:
Gadis itu berjalan pelan-pelan tidak tergesa-gesa, saat menuju ke sekolah, saat itu masih pukul 06.45. ia adalah gadis yang cantik, baik, disiplin, tepat waktu. Gadis itu bernama Siska. Ia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *