10 Tahun Lalu (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 17 March 2016

Aku mulai merapikan berkas-berkas di meja kerjaku, hari ini aku pulang cepat. Aku ada janji dengan Willy untuk bertemu di suatu cafe sore ini, katanya ada yang ingin dia bicarakan.

“Van, cepet banget mau pulang?” Tanya Coky, teman sekantorku.
“Iya Ky, aku ada janji nih sama Willy…” Kataku tanpa menoleh ke arahnya.
“Cieeee.” dia meledekku, aku hanya tersenyum. Oia Coky adalah satu-satunya teman kantor yang paling akrab denganku, jadi tidak heran jika dia tahu semua tentang hubunganku dan Willy.

Cafe Delima, jam 4 sore aku melihat sosok yang ku cintai sedang gelisah menantiku di pojokan cafe, matanya berulang kali melirik alroji. “Hai sayang..” Sapaku ketika sudah tepat di hadapannya, lelaki berkemeja biru itu mendesah pelan. Wajahnya terlihat pucat.
“Kamu sakit?” Tanyaku khawatir.
“Engga kok..”
“Tumben ngajak aku ketemu, mau ngomong apa?” Aku menatapnya lekat, hatiku dag-dig-dug tidak karuan. Jangan-jangan dia akan melamarku, tebakku ah..
Wajahnya terlihat kusut, mata sipitnya terlihat sendu.

“Kamu kenapa?” Aku mulai takut.
“Van..” Dia menggenggam jemariku dengan lembut, matanya menatapku tajam.
“Kamu sudah dewasa, artinya kmu bisa menerima setiap keadaan dengan lapang dada..” Katanya pelan.
Aku tidak mengerti makna ucapannya. “Jodoh Tuhan yang mengatur, kita hanya menjalani, tidak akan pernah mampu melawannya..” Lanjutnya lagi. Aku semakin tidak mengerti. “Kamu ngomong apaan sih Wil, langsung ke intinya aja deh..” Aku mulai penasaran.

“Ada wanita yang sekarang dekat denganku, dia mencintaiku…”
“Lalu?”
“Aku juga mencintainya..” Willy tertunduk.
“Lalu aku…” Dadaku sesak, air mata menggenang di pelupuk mataku.
“Maafkan aku Van, rasa ini datang tanpa sanggup aku cegah. Izinkan aku menjalani dengan dia, tapi aku mohon jangan tinggalkan aku..” Pintanya.
“Egois!” Tak sanggup ku bendung air mataku,.” mana bisa cinta kamu bagi untuk dua orang wanita, siapa wanita itu?” Aku mulai mengontrol emosiku.
“Jadi kamu meninggalkanku..”
“Kamu yang mengkhiantiku, aku sangat pantas pergi darimu..” Dadaku bergemuruh, jika saja mampu meledak seluruh kota jakarta pasti luluh lantak diterjang emosiku.

“Dia masih kuliah, baru semester 1.” lanjut Willy.
“Kenapa kamu jahat sekali? Melukai aku yang berharap banyak padamu! 4 tahun kita jalani hubungan ini, kalau aku tahu sia-sia aku tidak sudi mengenalmu!” Air mataku tumpah, aku terisak. Willy mengusap air mataku, segera ku tepis tangannya. “Tidak usah sentuh aku lagi, pergilah Wil dengan wanita itu.. silakan. Aku cukup sakit hati dan semoga wanita yang beruntung itu tidak merasakan sakit seperti aku!”
“Van, aku bisa jelaskan..” Lirihnya.
“Apa lagi?” Aku menahan isakku.

“Aku ikhlas kok, silakan jalani dengan dia.” Aku mulai menenangkan hatiku.
“Aku percaya Tuhan menyiapkan lelaki terbaik untuk hidupku, silakan.. pergilah, aku tidak sanggup lagi menahanmu…”
“Maafkan aku..” Willy terisak, aku memberikan beberapa lembar tissue.
“Kenapa menangis? Yang terluka itu aku!” Aku bangkit, aku sudah muak dengan semua ini aku ingin pulang menenggelamkan wajahku di bantal dan menangis sepuasnya.
“Kita bisa menjadi teman kan?” Aku tidak mengangguk tapi berlalu dengan cepat meninggalkan tempat itu.

Sudah hampir sebulan aku putus dengan Willy, dan dia mungkin sudah berbahagia dengan wanita pilihannya. Aku masih sedikit galau, waktu 4 tahun bukanlah hal yang singkat, ada banyak kenangan kami lewati di sana. Coky lah yang selama ini selalu mensupportku.

“Van, besok kan weekend.. entar malem ikut gue mau?” Tanya Coky serius.
“Ke mana?” tanyaku tanpa memandangnya sedikit pun dan mataku tetap terpaku pada monitor komputer.
“Dugem.” jawab Coky lagi, aku menatapnya.
“Kok ngajakin dugem.” kataku lagi.
“Lo pasti masih galau, gue pengen lo happy.. lagian kan cuma dugem doang, apa yang salah..” Katanya lagi.
Oia Coky itu bekerja paruh waktu juga sebagi DJ, jadi dia sudah hafal situasi malam ibukota.
“Boleh.” jawabku sambil tersenyum manis.
Dia bersorak kegirangan, “jam 9 malem gue jemput.” katanya sambil berlalu aku hanya tersenyum.

Aku bukanlah seorang clubbers, tapi setidaknya sebagai seseorang yang tumbuh di kota sebesar ini aku pernah dugem, tidak munafik. Aku mematut wajahku di depan cermin, dress warna peach terlihat cocok membalut tubuh langsingku. Aku tersenyum puas manakala bunyi klakson. Mobil Coky memanggilku berkali-kali. Malam ini Coky berjanji akan mengajakku happy-happy. Dia membawaku ke sebuah Club malam, dan teman-temannya sudah menantinya. Semua terlihat asyik menikmati malamnya, kecuali seorang cowok yang sibuk memainkan gadgetnya di pojokan sofa. Tampaknya hanya dia yang tidak mempedulikanku, bahkan ketika aku ajak berkenalan pun dia seperti acuh tak acuh.

“Coky, itu siapa sih belagu banget,” bisikku pada Coky.
“Temen gue, ganteng ya.” Coky nyengir.
“Belagu..” Jawabku lagi. Semua terbawa alunan musik yang dimainkan dj, begitu pun aku. Hingga sosok bertubuh jangkung itu menghampiriku dan tersenyum jlebbb senyumnya terasa menusuk jantungku. Dia tidak banyak bertanya, ketika kami pulang dia meminta nomor teleponku.

Minggu pagi, aku malas-malasan beranjak dari tempat tidurku saat ada sebuah nomor asing meneleponku, ehh cuma miss call. Lalu ada sms, “Hai ini aku yang semalam temannya Coky, yang badannya tinggi..”
“Oh iya, kenapa?” balasku.
“Gak apa-apa, minta pin bb-nya dong.” Aku langsung membalas dan memberinya pin bbmku.

2 jam kemudian, invited bbm atas nama. “Vitto Savetyan” muncul di layar ponselku aku mengeryitkan dahiku, ahh mungkin cowok tadi. Dan setelah itu kita bbman awalnya aku biasa saja tapi setelah hampir satu bulan aku bbman tampaknya aku teringat sesuatu, tapi apa? aku berpikir keras. Saat melihat matanya, senyumnya, tubuh jangkungnya, suaranya, serta Namanya!! Mungkinkah dia Vito SMP-ku? Vito cinta pertamaku itu?

Aku menepis pikiranku jauh-jauh ahh mngkin hanya kebetulan namanya sama lagian aku juga lupa wajah Vito SMP-ku. Entah siapa yang mulai kedekatan ini, kami semakin dekat. Rasa yang tumbuh di hati begitu hebatnya, terutama di hatiku. Entah mengapa, rasanya ada satu hal yang kutemukan dalam dirinya, yaa rasa nyaman! Bahkan saat ini dia yang berprofesi polisi tidak canggung memanggilku sayang. Hingga rasa cinta dan penasaran di hatiku sedemikian besarnya.

“Aa boleh aku tanya sesuatu..” Bbmku suatu sore, karena memang sejak pertemuan malam itu aku tidak pernah ketemu lagi, karena kota kami berbeda.
“Iya de nanya apa?”
“Aa sama aku ini serius atau main-main..”
“Aa gak pernah main-main de, walaupun Aa kenal kamu di tempat seperti itu, tapi gak tahu kenapa Aa ngerasa sudah lama kenal kamu, Aa nyaman sama kamu. Yah namanya juga perasaan.” balasnya yang langsung ku baca dengan mata berbinar. “Vany sayang sama Aa…”
“Aa juga sayang sama kamu, tapi apa kamu bertahan kan Aa sama kamu jauh..”
“Jarak bukan masalah asalkan aku menunggu orang yang tepat A, ”
“Minggu besok kita ketemu ya sayang..” Balasnya lagi.

Entahlah, aku sedikit merasa aneh kenapa dengan mudahnya menerima dia, lelaki belagu, cuek yang ku temui malam itu. Sedang aku pernah berjanji untuk tidak jatuh cinta lagi setelah Willy mengoyak hatiku dengan pengkhianatan. Ahh benar kata dia, namanya juga perasaan. Hari ini kami bertemu, dia terlihat sangat tampan dari yang ku lihat malam itu. Dan senyumnya oh Tuhan gula-gula pun kalah manis dibandingkan senyuman dia. Dia orang yang lucu, mampu membuat suasana sore itu menjadi hangat.. sehangat tatapannya. Hingga aku benar-benar menemukan sesuatu yang selama ini ku cari, meski belum begitu yakin saat dia tersenyum padaku.

Aku teringat akan satu senyuman yang pernah ku temui 10 tahun lalu, senyum manis yang ternyata bukan ditujukkan padaku, tapi gadis berkerudung yang menyapanya. “Pagi, Vito.” yaa Vito! Vito SMP-ku! Aku yakin jika dia adalah Vito SMP-ku, dari usia, tatapan matanya, sikap juteknya. Tubuh jangkungnya. Arrgghh.. Darahku berdesir hebat membayangkan jika ini adalah benar Vitoku. Vito yang bertahun ku kagumi, Jika benar berarti Tuhan memang sangat menyayangiku. Aku terus menatapnya tanpa berkedip, ada getaran hebat di sekujur tubuhku, getaran yang ku rasakan saat pertama kalinya dia tersenyum manis, kepadaku. Di kantin dengan rintik hujan siang itu, 10 tahun lalu.

“Hei sayang, kenapa kok ngelihat Aa segitunya, Aa ganteng yaa? hehehe.” katanya dengan percaya diri. Aku masih terdiam dengan irama jantung yang tidak beraturan. Ku telan ludahku, lidahku kelu. Pelupuk mataku mulai membayang aarrgghh kenapa ini. Kenapa sebegitu lebaynya perasaanku yang belum tentu benar menerka-nerka bahwa dia adalah Vito SMP-ku. Aku mencoba menguasai degup jantungku seiring keluarnya pertanyaan demi pertanyaan dari bibirku. Aku mulai memancingnya dengan berbagai pertanyaan, dia menjawab tanpa curiga bahkan sesekali tergelak saat ada hal lucu yang dia ingat terlebih saat cerita masa SMP-nya.

“Dulu ada adik kelas suka sama Aa. Anaknya itu kurus, tinggi, gak cantik sih tapi lumayan manis lah. Seringkali Aa diledekin temen di kelas, risih banget rasannya..” Ujar dia sambil tersenyum sendiri. Jleb! Dadaku deg-degan, ya Tuhaann apakah itu aku? karena aku ingat, dia sempat menertawaiku dengan angkuhnya saat tahu aku menyimpan rasa padanya, anak kecil! Begitu sebutannya kala itu. Atau ada gadis lain yang juga mencintainya seperti aku? Atau justru dia adalah Vito versi lain yang kisahnya mirip Vito SMP-ku? Entahlah…

“Terus sikap Aa ke dia gimana?” Tanyaku, penasaran sekaligus berharap.
Ya.. bahwa yang dia maksud adalah aku, setidaknya agar luka hatiku sembuh seketika karena perlakuannya menertawaiku 10 tahun lalu.
“Ya Aa jutek, dia masih anak kecil jadi waktu itu Aa omelin, malu rasanya diledekin temen-temen, terlebih dia bukan tipe Aa banget.” katanya menggebu-gebu.
“Kalau sakarang Aa ketemu dia lagi apa Aa akan suka sama dia?” Vito mengernyitkan dahinya, ya ekspresi itu aku benar-benar ingat. Ekspresi ketika pertama kali aku temui dan aku tanya. “Anak baru juga ya.” semuanya masih terekam jelas di memori otakku. Aku semakin yakin bahwa dia adalah Vitoku. Vito SMP-ku.

“Ya gak bakalan lah sayang. Fisikly aja dia bukan tipe Aa, Aa itu sukanya sama kamu.” katanya tersenyum manis sambil mencubit hidungku. “Aa masih ingat nama cewek itu?” Tanyaku lagi Vito terdiam sesaat matanya menatap ke atas, mengingat-ngingat sesuatu.
“Vani kalau gak salah Vani.” ekspresi wajahnya berubah. Ada kaget, bingung, semua bercampur jadi satu, menciptakan guratan-guratan aneh di wajah tampannya.
“Kalau dia itu aku gimana A?” Vito kembali mengeryitkan dahinya sedikit bingung, lalu tertawa terbahak-bahak. Air mataku menitik, dia terlihat kaget dan kembali bingung.

“Cewek SMP yang Aa maksud itu aku A, Jesslyn Vania. Yang memendam perasaannya bertahun-tahun, yang mencari cari Aa smpai kembali dipertemukan..” Aku terisak, sungguh perasaan ini bercampur antara haru, bahagia, kesal, marah! Dan aku yakin cewek yang dia maksud adalah aku! Benar-benar aku! Vito masih bingung.
“Aku gak percaya…” Lirihnya. Aku mengusap air mataku pelan, menatap wajahnya yang masih tampak bingung, dan aku mulai menceritakan kronologis pertemuan SMP kami, hingga raut wajahnya yang semula kebingungan, tampak meredup dengan genangan air mata, oh apa dia akan marah? Terharu? Kaget?

“Maafin Aa de, ternyata waktu memberikan jawaban yang tepat, meski harus menunggu lama dan jalan cerita yang sama sekali gak pernah kita duga, you’re my destiny, Aa terlanjur jatuh hati sama kamu..” Dia memelukku hangat, sangat hangat. Aku hanya terisak di dadanya. Janji Tuhan itu nyata. Kata-kata. “Indah pada waktunya.” itu benar-benar ada dan hari itulah pertemuan yang akhirnya membawaku pada sebuah kisah cinta. Aku percaya, Tuhan mempertemukan seseorang, memisahkanya bukan tanpa alasan. Hanya agar keduanya saling memperbaiki diri dan mencari. Ya itulah cinta.

SELESAI

Cerpen Karangan: Stevanie Nathanael

Cerpen 10 Tahun Lalu (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Datang Terlambat

Oleh:
Pagi yang cerah, burung bersaut sautan seperti saling memberi isyarat namun pagi ini tidak secerah hatiku, aku masih saja meringkuk diatas kasurnya padahal mama sudah mengetuk ngetuk pintu kamar.

Bersamamu

Oleh:
Inilah hari lain bagiku yang super normal. Aku hanya duduk sambil tertawa dengan Josh, sahabat paling istimewa bagiku. Tiap hari dia selalu menemaniku duduk di kursi rodaku. Sepotong roti

Bisik Hati Kiara

Oleh:
Aku menatap bayangan cantik dalam cermin di hadapanku. Tidak pernah terfikir bahwa hasilnya akan secantik ini. Gaun biru panjang semata kaki ini tampak serasi dengan make up sederhana yang

Pertemuan Tertunda

Oleh:
Seperti biasa tepatnya malam minggu, aku menghabiskan waktu bermain di layar monitor, sebagian para remaja menghabiskan waktu malam minggunya dengan mengupdate status di jejaringan sosial seperti facebook dan twitter,

How To Love

Oleh:
Perasaan cinta yang masih kupendam tentunya sulit untuk aku lupakan selama ini sayang. Apa kabarmu hari ini? semoga kau tetap bahagia dengan keadaanmu saat ini, aku yakin. Hai ini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “10 Tahun Lalu (Part 3)”

  1. Maisun Mumtazah says:

    jln ceritanya bagus bngtt…
    happy ending lgi
    semngat nulisx

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *