Am I Yours

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 25 January 2016

Hari sudah beringsut syuruq, deburan ombak berlomba-lomba silih berganti di ruang-ruang sunyi pasir pasir basah digenangi hujan yang jemu surut, diselingi angin musim desember yang sedikit-sedikit membawa aroma dingin. Subuh yang aduhai, Haris baru saja hendak bangkit dari simpuhnya, ketika Nayala tiba-tiba berbicara-bicara sendiri dalam lelap, gerahamnya bergeretak, entah kalimat apa yang seperti dilumat-lumatnya lambat, sejak semalam Haris belum sempat berbincang-bincang dengan Nayala, memandangi perempuan itu yang masih mengigau, Haris memaklumi rasa lelah yang menggerogoti sendi-sendi perempuan mungil itu. Biarlah, Haris tak berniat membangunkannya, igaunya kian tak jelas, dasar perempuan pengigau, perempuan yang selalu membuatnya risau.

Haris beringsut menaiki dipan, pelan sekali, takut kalau-kalau setiap geriknya membuat Nayala terbangun, Haris menatap dalam, digesernya tangan mungil Nayala yang terkulai lemah di sisi dipan, lalu beralih pada wajah perempuan cengeng itu, Haris menatap Nayala begitu lama, ia berusaha menahan matanya yang berkaca-kaca agar tak meleleh. “maafkan untuk setiap waktu yang kau habiskan menungguku, Nay.. terima kasih sudah menjadi perempuan tangguh dan penyabar, kau pasti kuat sepertiku.” Tak sesenti pun mulut Haris berkomat-kamit, kalimat itu diucapkannya di dalam hati, monolog.

Haris merebahkan badan, kali ini ia mengambil posisi tepat di sisi kanan Nayala, dari sudut pandang ini, Haris bisa menatap wajah perempuan itu lekat-lekat, memperhatikan rambutnya yang tergerai bergelombang, bahkan dari posisi ini ia bisa melihat rambut-rambut halus di daun telinga perempuan itu, sedikit-sedikit Haris memperkecil sentimeter jarak antara mereka berdua, hampir saja hidungnya menyentuh sisi daun telinga yang dari tadi berhasil menghipnotis nalurinya. Haris tampak gugup, menyadari dirinya yang tengah sekarat di ambang gelisah, Haris bermaksud membangunkan Nayala, bahkan dengan niat hanya sekedar mengajak Nayala berbincang-bincang. Menghilangkan gugup. Niat itu segera ditepisnya kuat-kuat, “tak boleh.. kasihan Nayala. Baru ini ia tertidur lelap setelah kesibukan panjang sepekan ini, biarlah, aku akan menunggunya terbangun sendiri.” sebutnya membatin, kemudian tersenyum sendiri.

Tubuhnya yang tinggi kekar ditariknya menjauhi Nayala, kali ini tak sedekat tadi, dan tak pula terlalu berjarak. Sedang asyik memandangi perempuan yang masih sesekali mengigau itu, tiba-tiba perhatian Haris tertuju pada benda yang terselip di balik bantal Nayala, warna biru menyembul di sana, serupa kotak-kotak, tapi tak begitu jelas dalam pandangannya, Haris merogoh kacamata yang diletakkannya di atas meja, kemudian mengamati, benar benda itu serupa kotak, bersisi dan berwarna biru muda.

Ditariknya lambat-lambat dari balik bantal, masih dengan maksud agar perempuan di depannya tak terbangun, benar benda itu berbidang kotak-kotak, di sudut kanannya tertulis Buku harian Nayala, dengan tulisan halus kasar. Haris menggeser badannya dalam posisi duduk bersender pada kepala dipan, di tangannya telah ada benda yang dari tadi menarik perhatiannya, bahkan berhasil membuatnya berpaling dari wajah ayu Nayala, Haris begitu bergetar memegang buku itu, ada perasaan yang buncah dan menyesak.

“Kau harus membukanya, Ris.. bukankah Nayala gadis yang gemar menulis, kau akan mengungkap rahasia besar, apa saja yang biasa di tulis Nayala di waktu senggangnya, apakah ada secuil saja tentang kau, hah? ayo buktikan!” kali ini hati nurani Haris menghasut. Haris tak mau tinggal diam, kali ini rasa keingintahuannya melebihi apa pun, benar Haris ingin membuktikan sejauh apa pengaruh dirinya terhadap tulisan-tulisan yang berseliweran di imajinasi Nayala, walaupun begitu Haris sadar betul bahwa dia harus siap sakit hati, boleh jadi ada nama orang lain di dalamnya. “Aku harus membacanya!” dengan penuh keraguan Haris menetapkan hati.

Tangan Haris bergetar, ditahannya kuat-kuat setiap ada dorongan yang berkata jangan, bagaimana pun buku harian itu sudah di tangannya, tak ada salahnya hanya sekedar membolak-baliknya, sekedar membaca isinya, dan mengetahui imajinasi Nayala darinya, dan seharusnya ini bukan sekedar. Haris menarik napas panjang, dibukanya lembaran pertama, di sana tertulis nama lengkap perempuan itu, Nayala Queene Syawir, nama yang indah. Seperti namanya, Nayala benar-benar bak Queen, ratu di dalam hati ayahnya, ayah yang membesarkannya dengan penuh perjuangan, dan kini semua tanggungjawab dilimpahkan kepada Haris, satu-satunya lelaki junjungan setelah ayah.

Lembar kedua telah tersingkap, tulisan biasa, celotehan gadis muda yang entah alasan apa membuatnya gemar menulis, terus ke lembar ketiga, keempat, dan ada yang menyentak ulu hati pemuda berperawakan tinggi besar itu, tiba-tiba nyalinya ciut menyadari ada nama yang selama ini menjadi musuh, nama yang menghantui hari-harinya, ada puisi cinta di sana, haram jaddah untuk Haris menyebut nama Lelaki seperti itu. Dalam relung sunyi/ Dunia berpura-pura lupa, menelusup pada nadi/ Diterjang detak tak berirama/ Untukmu Rendra, selamatkan aku dari/ Dosa-dosa fana/ Aku harus membuka kain/ Membuka segala yang lama tak tersingkap/ lalu berlabuh pada kaki ibu, kepatuhan/ Rendra selamatkan aku/kekasih//

Serrrrr.. darah terasa naik menuju ubun-ubun Haris, menekan-nekan kuat di tepat di tengah, seketika pundaknya berat, suara deru AC yang di stel minimum tak lagi bersahabat, hembusan angin subuh yang mulai menipis membuat Haris kalap, ingin ditebasnya sampai habis setiap kisah lalu perempuannya, ia tak rela ada nama lain di setiap selubung rindu Nayala. “bukankah hanya aku satu-satunya yang kau jadikan tempat pulang Nay? dan kau tak dapat menemukan jalan lain kecuali aku, berpaling pun tidak.” Haris lirih mengucapkannya, dilemparnya pandang ke sisi dipan, perempuan yang benar-benar ia cintai masih pulas di sana, barangkali sedang memimpikan lelaki yang dieramnya rapi dimasa lalu, Rendra.

Aku menemukan jalan pulang, yang pada matamu aku tak dapat berpaling, hanya saja sayang matamu belum berpulang kepadaku, sebentar lagi, aku akan menjadi satu-satunya tempat untuk kau pulang, sebentar lagi.. -Nayala Queene Sy. Haris terus merapal kalimat azimat yang selalu ia ulangi setiap rindu menusuk datang, melebihi zikir. Barangkali Tuhan sedang cemburu, kemudian menguji nyalinya, menyadari ada nama lain yang memenuhi imajinasi wanita yang sangat ia cintai, melebihi apa pun. “Bagaimana mungkin kau berkhianat Nay, bukankah kau perempuan yang menjunjung peradatan timur yang kaku, menjadikan aku junjungan di setiap perkara, titahku adalah titah Dewa. Ahh.. perempuanku, aku telah gagal, bahkan di hari pertama pernikahan kita.”

Lagi-lagi nurani Haris menyesak. Selain lelaki yang sangat peka dengan hal-hal menyangkut perasaan, Haris adalah lelaki logis yang selalu punya pertimbangan matang di setiap perkara yang ia hadapi. Sakit hati yang menusuk-nusuk ditelannya bulat-bulat, dan bertekad, “aku harus membangunkan Nayala, aku butuh penjelasan.” ucapnya lirih.
Haris melempar buku harian yang hampir basah oleh peluh yang mengucur di tangan, dari wajahnya nampak jelas usaha keras menahan emosi, Haris memang lelaki yang tempramen, marah adalah konsekuensi logis ketika hatinya sedang terusik, dan kali ini masih tentang masa lalu, bayang-bayang masa lalu yang membuat Nayala diseret-seret sekenanya dari genggaman. “Aku tak rela,.” ucapnya seraya bangkit.

Tap.. Tap.. Tap..

Derap langkah bolak-balik terdengar di permukaan ubin, rambatan mentari yang menyembul di timur satu-satu masuk melalui ventilasi, Haris masih saja mondar-mandir, ada pergolakan tajam di sudut hatinya, nuraninya mengutuk, mengutuk diri, mengutuk nasib, mengutuk keadaan. Ini kali pertama Haris merasakan cemburu yang teramat besar, tapi nalurinya masih terus mengusik, semacam sugesti yang mendorong, mustahil perempuan seperti Nayala mengkhianatinya, entah ini karena cinta atau memang hati yang bicara, Haris mulai geram. Diputarnya langkah menuju dipan, lalu duduk di sudut tepat di sebelah Nayala.

Selagi mata perempuan itu terpejam, Haris menikmati setiap detail wajah perempuan itu baik-baik. Wajah seputih susu yang setengahnya terbenam dalam kerutan bantal. Tapi tentu masih memikat. Mengusik sisi romantisme Haris, seketika amarahnya redam. Ia menggigit bibir. Ingatan mengembalikkan kisah satu hari yang lalu, saat sorot tajam perempuan itu berkaca-kaca menatapnya dalam. Kemudian mata itu berderai setelah kedua laki-laki kecintaannya berjabat tangan di depan penghulu.

“Nay, aku Suamimu.” sebut Haris dengan suara berat. Kamar itu masih sunyi, hanya ada deru napas Haris dan igau Nayala yang sekali-kali menyalip, hari sudah mulai terang, cahaya dari jendela menyelinap malas, Haris mengecup pipi Nayala lambat, emosinya mulai redam, entah ilmu apa yang dipakai perempuan yang masih pulas di depannya ini, Haris memejamkan mata, rasa perih dipilinnya kuat-kuat, seketika mengingat nama lelaki itu.

Haris menyibak rambut Nayala yang menutup separuh wajahnya, seperti gerakan slow motion, Nayala menyadari itu, setengah sadar tangan Nayala menggapai-gapai mencari sesuatu, Haris menangkapnya, Nayala membuka matanya, dan melempar seutas senyum. “Morning Sunshine.” sapa Haris diiringi dengan senyum. Perempuan itu tak menjawab, ia hanya menggeser tubuhnya menuju pangkuan Haris, kemudian bergelayut manja.

“Sudah mau siang, bangunlah.. bersihkan badan. Kita akan menikmati suasana sejuk di luar bukan?” Haris membujuk Nayala yang masih menggulung di pangkuannya, Nayala mendongakkan kepala, menyorot tajam pada mata Haris, lalu mereka saling bertukar senyum. “Oh Tuhan, senyum itu, senyum lelaki yang selalu aku rindukan, sedikit-sedikit ujung gigi yang menyembul di tepi bibirnya, perempuan mana yang tak terseret oleh magnetnya, sekali kau dipikatnya kau akan terpesona, dan yang kedua kali kau akan tergila-gila.” kali ini nurani Nayala yang sibuk bicara sendiri. Senyumnya menawan, sorot matanya tajam, sanggup menusuk hati Nayala hingga ke dalam.

Haris tak henti mengamati perempuan mungil di depannya, perempuan itu bangun, sebelum berdiri tegak ia mengecup cepat pipi Haris, dan meninggalkan senyum. “Aku bisa gila kau buat Nay, bagaimana mungkin kita baru bertemu sekarang?” suara Haris membuntuti tiap langkah Nayala yang mulai menjauhinya.
Nayala tergelak, “aku yang lebih gila, senyummu bahaya, ris.”
“kau yang lebih bahaya, andai saja kau merindukan orang lain selain aku, aku akan terjun saja ke sana.” Haris menunjuk sembarangan.

“terjun? ke bathup maksudmu? Haha, bedua? Ayoo.” Nayala meledek. Nayala tengah asyik mengaduk-ngaduk kopi yang baru disedunya, Haris masih memandang dari tempat ia duduk semula, kemudian mengambil buku harian yang dilemparnya tadi, lalu memilih duduk di sudut kanan tempat tidur, dari posisi ini pun Haris masih leluasa memandangi Nayala. Dibukanya sembarang lembaran pada buku biru yang dikutuknya habis-habis sedari tadi.

“seperti kopi yang kau seduh setiap sore, hatiku tak keruan kau aduk-aduk, sendok macam apa yang kau tanam di hulu hati, hingga aku tak bisa lepas dari tatapanmu, dari pikat senyummu. Aahh.. mungkin aku tengah gila, bisa jadi aku lupa dengan namaku sendiri, lupa dengan luka-luka lalu, dan lupa dengan segala hal selain kamu, masih ingat tentang pertemuan kita yang dahulu, kau memakai baju kuning ketika itu.. aku tak lepas dari sorot matamu, ada satu rahasia yang belum ku sebut, senyummu memikat, seketika aku tak bisa lepas. Tetaplah begitu, lelakiku Harisyudi.” Mulut Haris bergetar, kali ini ia menemukan yang ia cari, entahlah.. ada namanya di sana, Haris masih melempar pandang pada perempuan yang masih menyuguhkan punggungnya. Kembali ia membalik kertas lembaran-lembaran itu.

“Derai-derai tawa, kita mau ke mana, mau apa. Jika yang kau suguhkan ternyata cinta?” dari Nayala, untukmu Harisyudi. “Bapak habibie menyebut pada Bu Ainun, masa lalu saya adalah milik saya, masa lalu kamu adalah milik kamu, tapi masa depan adalah milik kita.” menyadari aku yang sering cemburu pada perempuanmu yang lalu, bolehkan aku pinta? “lupakan masalalumu, tak sedikit pun ruang ku sisakan untuk itu, karena hanya aku satu-satunya yang memenuhimu, hatimu.. permintaan yang memaksa bukan? Biarlah, aku padamu, Ris.”

Berkali-kali Haris disentaknya kuat-kuat oleh kalimat-kalimat magis Nayala. Ada perasaan sesak di dada, Haris menyadari betul watak kekasihnya, kekasih yang dipilihnya jadi istri. Derap langkah mendekati Haris yang tengah terpana membaca untaian-untaian kata dari buku Harian Nayala, perempuan itu berdiri tepat di depan Haris, menyodorkan secangkir kopi, kepulan asap memenuhi sesudut rongga hidung. Nayala menggulung ke atas rambutnya yang bergelombang. Kemudian melempar senyum, Haris menggigit bibirnya, lalu meraih tangan Nayala, didekapnya kuat tubuh mungil itu, kali ini kopi tak penting lagi, masih dengan tabiatnya, Nayala bergelayut manja. Kopi tumpah, setumpah perasaan mereka yang buncah.

Cerpen Karangan: Rahma Syukriah Sy
Blog: rahmasyukriahsy.tumblr.com
Rahma Syukriah Sy, penyuka puisi dan lawan jenis 😛 cuma punya satu pesbuk dan twitter yang sampai sekarang masih aku rahasiakan passwordnya.

Cerpen Am I Yours merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dandelion Darimu

Oleh:
Seperti dandelion yang telah putih menua kau pergi meninggalkanku seorang diri. Seperti dandelion yang ringan terbang bersama angin kau melangkah sesuka hati tanpa bertanya arah terlebih dahulu. Seperti dandelion

In My Heart In My Dream

Oleh:
Alkisah tentang kehidupan siswa SMA Kurosaki, di sekolah tersebut ada seorang gadis kelas 1-C yang dikagumi oleh siswa pria karena wajahnya yang cantik dan bentuk tubuhnya yang proporsional dan

Kejahilanmu Membuatku Rindu

Oleh:
Nama gue Lilis Susanti. Gue adalah siswa kelas IX disalah satu sekolah di jakarta. Kebiasaan gue setiap hari adalah membaca buku. Gue sangat suka menyanyi. Pagi ini gue berangkat

Kisah Cintaku Yang Tidak Bisa Bersatu

Oleh:
Sekitar 10 Tahun yang lalu pada Tahun 2007, saat itu aku adalah Gadis yang penuh Obsesi, dimana aku memimpikan memiliki pasangan yang sangat sempurna dan saat itu aku sedang

Cinta Pertama

Oleh:
Pertemuan pertama yang awalnya cuman menemani sahabat, berubah menjadi sebuah hubungan yang aneh. Semua berawal dari hubungan kakak adik, dan berubah menjadi sebuah perasaan cinta, yang terpendam selama bertahun-tahun.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *