Berawal Dari Kopi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 7 October 2017

Prudence berjalan di koridor sekolah menuju kantin. Hari ini rasanya ia ingin menikmati secangkir kopi yang akan menjernihkan pikirannya.

“Bi, kopi” Ucap Prudence dan seorang pria di sebelahnya berbarengan.
“Yah, kopinya cuma ada satu. Abi lupa beli semalem” Kata Abi menunjukan satu saset kopi.
“Yaudah buat dia aja, Bi” Kata si pria lalu pergi dan duduk di salah satu meja yang kosong. Prudence memperhatikan pria itu. Pria itu terlihat mengantuk.
“Kopinya jadi nggak?” Kata Abi membuyarkan lamunan Prudence. Prudence mengangguk. Abi membuatkan kopi untuk Prudence dan kopi siap untuk diminum.
“Bi, pinjem gelas satu, Bi. Saya mau bagi dua kopinya, buat dia” Kata Prudence sambil menunjuk pria tadi yang sedang duduk sambil menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya. Abi memberikan gelas dan Prudence membaginya. Prudence menghampiri pria itu, tapi pria itu tidak menyadari kedatangannya. Prudence menarik kursi yang ada di depan pria itu dan mendudukinnya.

“Hey” Sapa Prudence yang membuat pria itu mengeluarkan wajahnya dari tempat persembunyiannya. Pria itu tersenyum, Prudence memberikan gelas berisi setengah kopi kepadanya.
“Apa ini? Kopi?” Tanya pria tersebut.
“Ya, gue membaginya, gue rasa lu ngantuk, benar?” Kata Prudence.
“Yaa, semalem gue terlalu asik nonton film sampe gue lupa kalo hari ini gue harus sekolah”
“Good, maniac film” Ucap Prudence setengah tertawa.
“Thanks ya. Oh iya, gue Oliver, kelas 12” Kata pria yang telah diketahui Prudence namanya Oliver.
“Prudence, kelas 11”
“Lu kelas 11? Pantes gue nggak pernah liat lu di deretan kelas 12” Kata Oliver, Prudence tertawa kecil.
“Btw, ini yakin buat gue?” Tanya Oliver sambil mengangkat gelas berisi kopi yang diberikan Prudence, Prudence hanya mengangguk.
“Kok lu bisa di luar?” Tanya Prudence. Ini bukan jam istirahat atau jam pulang sekolah.
“Pertanyaan yang sama” Bukannya menjawab, Oliver malah memberi pertanyaan lagi. Prudence tersenyum menunjukan deretan giginya. “Ok. Karena lu yang nanya duluan, jadi gue jawab duluan. Gue dikeluarin gara-gara tidur di kelas, sekarang gue lagi pelajaran bahasa Inggris, Miss Ni’amah” Jawab Oliver.
“Ok, kalo gue lagi pelajaran Pak Aldi, matematika, Pak Aldinya nggak dateng” Jawab Prudence.
“Free class?” Tanya Oliver.
“Maybe” Jawab Prudence. Mereka mengobrol hingga terdengar bel pergantian jam mata pelajaran. Oliver merasa sudah tidak terlalu mengantuk dan Prudence juga merasa lebih baik dari sebelumnya.
“Sampai ketemu lagi” Kata Prudence sambil bangkit dari kursinya dan pergi setelah Olivee memberi anggukan.

“Nice girl. Peudence” Ucap Oliver. Oliver mengeluarkan hpnya dan mencaritahu lebih banyak tentang Prudence. Ada rasa yang aneh saat dirinya berbincang dengan Prudence tadi.
“Prudence Elnora Clarita, nama yang cantik, sesuai ama orangnya, biasanya yang cantik cocoknya ama yang ganteng kayak gue gini sih. Oliver Gideon Putra dan Prudene Elnora Clarita. Beh, cocok abis” Oliver bicara sendiri dengan suara pelan sambil senyum-senyum.

Pulang sekolah, Oliver melihat Prudence di halte tempat orang-orang menunggu angkutan umum. Segera Oliver menghampiri Prudence dengan motor CBR-nya.
“Den, nunggu angkot? Gue anter aja, yuk”
“Nggak usah, Liv, gue udah biasa pulang naik angkot” Prudence menolak ajakan Oliver. Oliver tetap memaksa Prudence hingga Prudence mengiyakan ajakannya.
“Good. Rumah lu di mana?” Tanya Oliver sesaat setelah Prudence menaiki motor Oliver.
“Apart Sudirman Park” Jawab Prudence.
“Lu tinggal di apart?” Tanya Oliver. Prudence hanya bergumam. Oliver menjalankan motornya menuju tempat tinggal Prudence. Setelah sampai ke tujuan, Prudence turun dari motor Oliver dan mengobrol sebentar lalu berpamitan. Oliver memanggil Prudence yang menyebabkan Prudence menghampiri Oliver kembali.

“Minta nomor telpon lu boleh nggak?” Tanya Oliver. Tanpa basa-basi, Prudence mengeluarkan hp-nya dan memberikan nomor telponnya.

Di sekolah, Oliver sudah menunggu Prudence di depan kelasnya. Dari kejauhan, Oliver melihat sosok yang dicarinya, segera ia berlari menghampriri Prudence. Mereka jalan berdua sampai ke kelas Prudence. Beberapa pasang mata memperhatikan mereka dan berbisik dengan temannya. Tapi Oliver dan Prudence don’t care dengan hal itu.

Jam istirahat, Prudence menghampiri Oliver yang sedang duduk bersama kawannya sambil bercanda. Saat mata Oliver menangkap sosok Prudence, ia berhenti bercanda dan bangkit dari duduknya lalu menghampiri Prudence. Mereka sudah berjanji untuk istirahat bersama. Semakin banyak mata yang memperhatikan mereka. Mereka mengira kalau Oliver dan Prudence adalah sepasang kekasih baru.

“Mau makan apa?” Tanya Oliver setelah mereka duduk berdua di salah satu meja di kantin.
“Apa aja” Jawab Prudence sambil memperlihatkan senyumnya.
“Bakso mau?”
“Boleh”

Oliver pergi membeli bakso dan kembali dengan membawa nampan berisi dua mangkuk bakso dan dua gelas es teh. Mereka makan sambil berbincang dan sedikit bercanda. Prudence bersikokoh untuk membayar apa yang sudah mereka makan, tapi Oliver juga bersikokoh menolak ucapan Prudence.
“Kan lu udah antre dan hidangin ini buat gue, jadi biarin gue yang bayar” Kata Prudence dangan nada memohon kepada Oliver.
“Kagak. Kan kemarin lu udah bagi kopi lu ke gue, jadi biar kali ini gue yang traktir lu” Kata Oliver membantah perkataan Prudence.
“Tapi kemarin gue nggak traktir lu, gue cuma ngebagi apa yang gue punya ke lu” Kata Prudence memelas.
“Bodo, pokoknya kalo lu bayar, jangan harap gue mau kenal lagi sama lu” Kata Oliver.
“Dih gitu, mainnya anceman, ya udahlah” Akhirnya Prudence menyerah karena merasa dapat ancaman dari sang kakak kelas, Oliver.
“Nah gitu dong, itu baru adik kelas yang baik” Kata Oliver “sekaligus calon pacar yang baik” Lanjutnya berbisik hingga Prudence tidak bisa mendengarnya.

Bel masuk pun berbunyi, Oliver mengantar Prudence ke kelasnya. Banyak siswa-siswi kelas 11 yang memperhatikan mereka. Kayla, teman sebangku Prudence menghampiri Prudence.
“Jahat lu, jadian ama Kak Oliver nggak bilang-bilang”
“Jadian? Siapa yang jadian?” Kata Prudence setengah tertawa.
“Bodo, pokoknya lu harus traktir gue” Kata Kayla pura-pura marah. Prudence hanya mengiyakan ucapan Kayla supaya temannya itu tidak terus mengganggunya.

Pulang sekolah, Prudence membelikan Kayla mi ayam dan jus jeruk sesuai permintaan Kayla. Kayla terus menggodanya, lelah rasanya Prudence menjelaskan kapada Kayla kalau mereka tidak berpacaran. Bagi Prudence, Kayla memang masih seperti anak-anak, tapi biar bagaimanapun, Kayla tetaplah temannya yang terbaik.

“Kok lu nggak makan, Den?” Tanya Kayla sambil mengunyah baksonya dan dijawab gelengan kepala oleh Prudence.
“Kenapa? Duit lu kurang ya?” Kata Kayla.
“Lu mau makan apa lagi? Duit gue masih banyak nih, maaf maaf aja nih” Kata Prudence sambil mengeluarkan uangnya dari kantong dan juga tasnya lalu menaruhnya di meja.
“Wih, boleh minta lagi dong gue” Ucap Kayla sambil mencondongkan tubuhnya ke Prudence.
“Silakan, Babe” Jawab Prudence sambil mencubit pipi gembul Kayla. Kayla yang doyan makan pun memesan satu mangkuk bakso lagi untuk dirinya. Prudence hanya tersenyum melihat kelakuan kawannya itu. Selama Kayla makan, Prudence memainkan ponselnya dan sesekali membalas pesan dari Oliver.

“Cie, lagi chat-tan sama senpai, ya?” Kata Kayla meledek Prudence sembari mencolek dagu Prudence. Prudence menyangkalnya dengan menunjukan ponselnya yang sedang menampilkan aplikasi permainan.

Selesai Prudence meneraktir Kayla, mereka berdua pulang naik angkot. Kayla mampir sebentar ke rumah Prudence untuk menonton film. Setelah itu, Prudence mengantar Kayla pulang sekalian mampir ke toko kaset. Di toko kaset, secara kebetulan Prudence berpapasan dengan Oliver.
“Prudence?”
“Hay, lu ngapain di sini?” Tanya Prudence, tersenyum.
“Kan lu sendiri yang bilang gue maniak film, nah di sini gue lagi nyari film” Jawab Oliver sambil menunjuk deretan kaset yang tersusun rapi pada tempatnya. Prudence mengangguk. Oliver mengajak Prudence untuk berburu kaset bersama dan Prudence setuju. Berhubung Prudence tadi naik taksi, jadi Oliver bisa mengantar Prudence dan berlama-lama dengan Prudence.

Di sekolah, kelas Prudence sedang olahraga, sedangkan kelas Oliver sedang tidak ada guru. Oliver menghampiri Prudence yang sedang beristirahat dan memberinya air mineral. Teman kelas Oliver dan Prudence bersorak sorai meledek mereka.

“Gimana kemarin filmnya?” Tanya Oliver tidak memperdulikan gurauan teman-temannya.
“Bagus, keren” Jawab Prudence.
“Oliver, lu udah kerjain PR IPS dari Pak Tarso belom?” Tanya teman sekelas Oliver sambil berteriak. Oliver menggeleng sambil nyengir kuda.
“Yaudah, Den, gue balik dulu ya. Mumpung jam kosong, ngerjain PR dulu” Kata Oliver bamgkit dari duduknya. Prudence memberikan acungan jari jempol dan berterima kasih untuk airnya.

Tinggal beberapa jam lagi adalah malam Minggu. Oliver mengirim pesan singkat kepada Prudence yang berisi.

Oliver: Den, ntar malem lu kemana?
Prudence: Di rumah aja, kenapa?
Oliver: Nggak jalan ama pacar?
Prudence: JOMBLO
Oliver: masa sih?
Prudence: Serius
Oliver: Kalo gitu ntar malem jalan, yuk?
Prudence: Ntar cewek lu marah
Oliver: JOMBLO
Prudence: Ok

Malam Minggu pukuk 19.15, Oliver menjemput Prudence. Mereka pergi ke kafe kopi. Prudence memesan Latte Art bergambar wajah beruang dan Oliver memesan Latte Art bergambar love. Mereka duduk berhadapan dan dibatasi oleh meja.

“Prudence?” Kata Oliver sambil mendekatkan Latte Art-nya kepada Prudence.
“Ya?” Jawab Prudence memperhatikan Latte Art Oliver dan Oliver bergantian.
“Jadi cewek gue ya?”

Cerpen Karangan: Ablehs

Cerpen Berawal Dari Kopi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Si Jutek Pengujiku

Oleh:
Matahari mulai menampakan diri dari tempat persembunyiannya, aku segera bergegas ke kamar mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke kampus, hari ini adalah hari pertama praktikum, dan untuk pertama kalinya

Penaluna

Oleh:
Aku bersandar di dinding dapur. Ini sudah hampir setengah jam tapi Mama ngga juga berhenti mengoceh. Aku muak. Aku benar-benar muak dengan semua perkataan Mama. Banyak hal yang Mama

Friendship

Oleh:
Masa SMA? Banyak orang beranggapan dimana kita menemukan jati diri. Bukan, itu adalah masa dimana kita memulai untuk mencari jati diri. Dimana kita dihadapkan dengan berbagai masalah yang mengharuskan

Emang Kebetulan

Oleh:
Namaku Yurenda Ainun Khofifah. Tapi aku lebih suka dipanggil Rere Senja. Bukannya nggak menghargai orangtua. Aku seneng aja pake nama itu. Aku kelas 2 SMP di salah satu sekolah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *